NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : Jebakan Rapat Besar

Suasana di dalam ruang rapat utama lantai dua belas gedung perkantoran Sudirman terasa sangat dingin dan menegangkan. Di ujung meja oval berbahan kayu jati mewah, Direktur Utama perusahaan, Aryo Sukoco,eh maksudnya sang Direktur Utama yang bernama Pak Baskoro,sudah duduk dengan wajah yang kaku, melipat kedua tangannya di dada. Di sisi kanan dan kiri meja, seluruh jajaran manajer senior dan kepala divisi duduk dengan dokumen tebal di hadapan mereka.

Dedi duduk di kursi tengah dengan tubuh yang mendadak mengeluarkan keringat dingin. Sejak melangkah masuk ke dalam ruang rapat sepuluh menit lalu, ia merasakan ada hantaman rasa pening yang luar biasa hebat menyerang bagian ubun-ubun kepalanya. Pandangan matanya sempat mengabur ganda, dan telinganya berdenging sangat nyaring. Sisa gelombang hawa negatif yang dirapalkan oleh Ki Demang semalam rupanya sedang bekerja aktif, mencoba merusak sistem saraf pusatnya agar ia kembali linglung dan kehilangan kendali emosi di depan jajaran direksi.

Dari sudut meja seberang, Taufik menyunggingkan seulas senyum sinis yang sangat tipis. Pria necis itu perlahan bangkit berdiri, membuka laptopnya yang terhubung langsung ke layar proyektor besar di dinding ruang rapat.

"Selamat pagi Pak Baskoro dan rekan-rekan direksi sekalian," buka Taufik dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan, memancarkan aura percaya diri yang manipulatif. "Sebelum kita membahas agenda perluasan proyek bulan depan, saya merasa ada hal yang jauh lebih krusial yang harus segera kita selesaikan hari ini. Ini terkait dengan integritas dan nama baik divisi administrasi kita."

Taufik menekan tombol next pada remot kontrolnya, menampilkan sebuah lembar tabel grafik keuangan yang dipenuhi oleh angka-angka berwarna merah menyala. "Seminggu ini, saya melakukan audit internal secara mandiri. Dan saya menemukan adanya selisih dana operasional sebesar dua ratus juta rupiah pada proyek Sudirman tahap dua. Dan sayangnya, seluruh nota pencairan dana siluman ini ditandatangani langsung oleh Kepala Divisi kita sendiri, yaitu Pak Dedi."

Suasana ruang rapat seketika berubah riuh rendah. Seluruh pasang mata di dalam ruangan tersebut serentak menoleh, menatap tajam ke arah posisi duduk Dedi dengan pandangan mata penuh tuduhan, kekecewaan, dan rasa jijik Taufik bener-bener telah mengeksekusi rencana jebakan fitnahnya dengan sangat rapi dan matang.

Pak Baskoro, sang Direktur Utama, langsung menggebrak meja dengan pelan namun sanggup mengunci keheningan ruangan. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah Dedi. "Pak Dedi! Jelaskan kepada saya sekarang juga! Apa maksud dari laporan selisih dana yang disampaikan oleh Taufik ini?!"

Dedi tertegun. Di dalam kepalanya, suara kuda gaib dan bisikan-bisikan jahat dari sisa energi Jaran Goyang seolah mendesaknya untuk berteriak histeris, mengamuk membalas tuduhan Taufik, atau langsung jatuh pingsan karena tidak kuat menahan tekanan mental yang masif.

Namun, tepat saat batinnya berada di ambang batas keretakan, Dedi teringat kembali pada untaian wejangan dari Bagus di ruangan khusus tempo hari. “Jangan balas gelombang panas mereka menggunakan hawa nafsu yang sama panasnya, Pak. Pasrahkan seutuhnya ke dalam perlindungan Allah setelah Bapak berusaha jujur...”

Dedi menarik napas pendek dengan sangat dalam, lalu mengembuskannya perlahan dari hidung. Di dalam aliran darahnya, getaran energi ketenangan yang dikunci oleh Bagus semalam seketika aktif secara otomatis, bertindak sebagai tameng pelindung yang melarutkan sisa rasa pening di kepalanya. Kepasrahan batinnya membuat Dedi mendadak merasa sangat tenang, dingin, dan kokoh laksana batu karang di tengah hantaman badai.

Dedi perlahan bangkit berdiri dari kursi kerjanya dengan gerakan tubuh yang sangat tegap, bersahaja, dan memancarkan aura wibawa alami yang luar biasa bersih. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah ketakutan atau ekspresi linglung yang diharapkan oleh Taufik.

"Pak Baskoro yang saya hormati, dan rekan-rekan sekalian," ucap Dedi, nada suaranya terdengar sangat dalam, berat, lurus, dan berwibawa tegap tanpa ada getaran gugup sedikit pun. "Tuduhan selisih dana yang disampaikan oleh Taufik baru saja bener-bener tidak berdasar dan merupakan sebuah kekeliruan administrasi yang sangat fatal."

Dedi merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah lampu diska flashdisk kecil, lalu menyerahkannya kepada petugas operator ruangan untuk ditayangkan di layar utama.

"Laporan yang dipegang oleh Taufik adalah draf mentah laporan keuangan tiga bulan lalu yang belum direvisi. Sedangkan laporan keuangan asli yang sudah sah, yang lolos audit eksternal per tanggal kemarin sore, ada di hadapan Bapak saat ini," lanjut Dedi dengan sangat tenang, membalikkan halaman dokumen tebal miliknya dengan jari yang kokoh. "Selisih dua ratus juta itu murni dana taktis operasional yang sudah disetujui oleh dewan komisaris, dan seluruh rincian kuitansi halalnya tercatat rapi di lembar halaman nomor empat. Tidak ada dana siluman, dan tidak ada korupsi."

Seketika itu juga, layar proyektor menampilkan rincian data mutasi rekening perusahaan yang sangat bersih, rapi, dan terperinci tanpa ada celah cacat sedikit pun.

Melihat tayangan data asli tersebut, wajah Taufik yang semula necis mendadak berubah menjadi pucat pasi seketika. Kedua lutut kakinya bergetar lemas, dan keringat dingin langsung membanjiri kerah kemejanya. Rencana jebakan politik kantor yang ia susun matang bersama dukun pemilik Jaran Goyang bener-bener hancur lebur berantakan, berbalik arah menghantam dirinya sendiri karena ia telah melakukan kecerobohan menggunakan data palsu di depan Direktur Utama.

Pak Baskoro membaca lembar halaman dokumen asli pemberian Dedi dengan saksama, lalu mengangguk-angguk puas. Pandangan mata beliau beralih menatap tajam ke arah Taufik yang sudah berdiri gemetar di sudut meja.

"Taufik! Kamu sengaja membawa draf laporan palsu ke dalam rapat ini hanya untuk menjatuhkan rekan kerjamu sendiri?!" bentak Pak Baskoro dengan suara menggelegar penuh kemarahan. "Keluar dari ruangan ini sekarang juga! Selesaikan masalah fitnahmu ini di ruang HRD, atau saya sendiri yang akan membawa kasus ini ke jalur hukum!"

Tanpa bisa membantah barang satu kata pun, Taufik langsung mengemasi laptopnya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu melangkah keluar dari ruang rapat dengan kepala menunduk dalam menahan rasa malu yang luar biasa besar di depan seluruh manajer senior.

Dedi kembali duduk di kursinya dengan hati yang sangat damai, melangitkan rasa syukur yang teramat dalam kepada Tuhan. Diamnya yang berwibawa dan keteguhan batinnya telah berhasil membalikkan jebakan rapat besar menjadi sebuah kemenangan karisma yang mutlak siang itu di dalam kantor.

“Ketika dirimu dikepung oleh jaring fitnah dan tipu daya kelicikan manusia, jangan pernah kau hadapi dengan amarah yang meledak-ledak. Tegakkan ketenangan batinmu, pasrahkan kebenaranmu di hadapan Sang Pemilik takdir, karena setiap jebakan hitam yang dipasang dengan dengki akan selalu hancur lebur berbalik arah menghantam sang pemiliknya sendiri.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!