Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Takhta, Keadilan, dan Pernikahan Kerajaan
Tiga hari telah berlalu sejak Derek berhasil merebut kembali takhta Kerajaan Timur. Istana yang sebelumnya sunyi dan penuh ketegangan kini mulai bernapas kembali. Para pelayan membersihkan aula-aula yang sudah lama tidak terawat, dan bendera kerajaan yang baru dipasang di setiap sudut istana. Rakyat mulai berdatangan ke istana untuk memberikan penghormatan kepada raja baru mereka.
Derek duduk di ruang takhta, ditemani oleh Viona, Neil, dan Pangeran Barrington. Di hadapan mereka, Kanselir Vardan dan dua anggota Dewan Raja lainnya berdiri dengan tangan terikat. Mereka telah ditahan sejak hari Derek memasuki istana.
"Kanselir Vardan," Derek memulai, suaranya tenang tetapi tegas. "Kau telah dituduh melakukan pengkhianatan terhadap mahkota, pembunuhan terhadap Ratu Elara—ibuku—dan percobaan pembunuhan terhadapku. Selain itu, kau juga dituduh memprovokasi perang antara Kerajaan Timur dan Barat yang telah menyebabkan ribuan nyawa melayang. Apakah kau ingin membela diri?"
Kanselir Vardan menatap Derek dengan tatapan penuh kebencian. "Aku tidak perlu membela diri. Kau tidak memiliki bukti yang cukup untuk menghukumku. Dokumen-dokumen itu bisa saja palsu. Dan Sera adalah pengkhianat yang tidak bisa dipercaya."
Derek tersenyum tipis. "Kau pikir aku tidak memiliki bukti lain? Aku telah mengirim orang-orangku ke seluruh kerajaan untuk mengumpulkan saksi. Ada lebih dari dua puluh orang yang siap bersaksi tentang pertemuannya denganmu pada malam ibuku meninggal. Ada juga surat-surat yang kau kirim kepada pasukan bayaran yang kau gunakan untuk menyerang rombongan Viona. Aku sudah memegang semuanya."
Kanselir Vardan terdiam. Wajahnya perlahan memucat.
"Dan ada satu hal lagi," kata Derek, bangkit dari takhtanya. Ia berjalan mendekati Kanselir Vardan. "Aku juga menemukan catatan rahasia di kamarmu—catatan yang mencatat semua pembunuhan yang telah kau lakukan selama dua puluh tahun terakhir. Kau benar-benar menulis semuanya, Kanselir. Aku tidak tahu apakah itu karena kau sombong, atau karena kau ingin menyimpan kenangan."
Kanselir Vardan menunduk. Tubuhnya mulai bergetar. "Aku... aku tidak bisa membantah itu."
"Kau tidak bisa." Derek menatap Kanselir Vardan dengan tatapan dingin. "Karena itulah, aku memutuskan bahwa kau akan diadili secara terbuka di hadapan rakyat. Dan setelah itu, kau akan dihukum sesuai dengan kejahatanmu. Tidak ada lagi kekuasaan, tidak ada lagi perlindungan. Kau akan menerima keadilan yang pantas kau terima."
Kanselir Vardan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menerima nasibnya.
Derek memerintahkan para penjaga untuk membawa Kanselir Vardan dan kedua rekannya ke penjara bawah tanah, menunggu pengadilan publik yang akan diadakan dalam minggu ini.
Setelah mereka pergi, Viona mendekati Derek dan meraih tangannya. "Kau melakukannya dengan baik, Derek. Kau tidak membiarkan emosimu menguasai dirimu."
"Karena ibuku mengajariku bahwa seorang raja harus adil, bukan hanya marah," jawab Derek. "Jika aku membunuhnya sekarang, aku menjadi sama seperti dia."
Neil yang berdiri di dekat jendela mendekat. "Jadi, apa langkah selanjutnya, Derek? Kau sudah menguasai istana, dan Dewan Raja sudah ditangkap. Tapi masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan."
"Aku tahu." Derek menghela napas. "Pertama, aku harus mengirim utusan ke Kerajaan Barat untuk bertemu dengan ayah Viona. Aku harus memastikan bahwa perang benar-benar berakhir dan bahwa hubungan kedua kerajaan pulih kembali."
"Aku akan pergi sendiri," kata Viona. "Aku ingin bertemu dengan ayahku dan menjelaskan semuanya secara langsung. Aku juga ingin membawakannya kabar baik bahwa kau telah menjadi raja."
Derek menatap Viona. "Kau yakin? Perjalanan dari sini ke Kerajaan Barat bisa memakan waktu seminggu."
"Aku sudah melewati perjalanan yang lebih berbahaya dari ini, Derek." Viona tersenyum. "Dan aku tidak akan sendirian. Aku akan meminta beberapa pengawal setia dari istana untuk menemaniku."
Derek mengangguk. "Baiklah. Aku akan menyiapkan surat resmi yang bisa kau sampaikan kepada ayahmu. Dan aku juga akan mengirimkan hadiah sebagai tanda perdamaian."
Malam itu, Derek dan Viona duduk di taman istana, ditemani oleh cahaya bulan yang bersinar sangat terang. Suara air mancur di tengah taman menciptakan suasana yang tenang dan damai.
"Kau tahu, Viona," kata Derek, meraih tangannya. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan kembali ke istana ini. Dan aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan melakukannya dengan seseorang di sisiku."
"Takdir memang selalu mengejutkan," jawab Viona. "Tapi aku bersyukur takdir membawaku ke sungai itu. Dan aku bersyukur kau menemukanku."
Derek tersenyum. "Viona, aku ingin memberitahumu sesuatu. Setelah semua ini selesai—setelah perang benar-benar berakhir dan kerajaan kembali tenang—aku ingin mengadakan pernikahan yang sesungguhnya. Bukan pernikahan paksa di depan desa, bukan pernikahan adat yang hanya formalitas. Aku ingin pernikahan kerajaan yang sesungguhnya. Dengan gaun putih, dengan mahkota, dan dengan seluruh kerajaan sebagai saksi."
Viona menatap Derek dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau sungguh ingin itu?"
"Aku menginginkannya lebih dari apa pun," jawab Derek. "Karena kau layak mendapatkan lebih dari sekadar cincin anyaman di desa. Kau layak mendapatkan segalanya."
Viona memeluk Derek erat. "Aku tidak butuh gaun putih atau mahkota, Derek. Aku hanya butuh kau."
"Tapi aku ingin memberikannya padamu," bisik Derek. "Karena aku mencintaimu, Viona. Dan aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kau adalah ratuku."
Mereka berciuman di bawah cahaya bulan, dan untuk pertama kalinya, Derek merasakan kedamaian yang sesungguhnya—kedamaian yang tidak hanya datang dari takhta, tetapi dari cinta yang telah ia temukan.
Beberapa hari kemudian, Viona berangkat menuju Kerajaan Barat dengan rombongan kecil. Derek berdiri di gerbang istana, menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk.
"Jangan khawatir, Derek," kata Neil yang berdiri di sampingnya. "Viona kuat. Dia akan kembali."
"Aku tahu," jawab Derek. "Tapi aku sudah terbiasa memilikinya di sampingku. Rasanya aneh saat dia pergi."
Neil tersenyum. "Itu karena kau mencintainya. Dan kau tidak perlu malu mengakuinya."
Derek tertawa kecil. "Kau benar. Aku mencintainya. Dan aku akan menunggunya kembali."
Seminggu kemudian, Viona kembali dengan kabar gembira. Ayahnya telah menerima permintaan perdamaian dan setuju untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Timur. Perang telah berakhir secara resmi.
Dan beberapa bulan kemudian, di sebuah upacara yang megah di hadapan rakyat Kerajaan Timur dan Barat, Derek dan Viona mengucapkan janji pernikahan mereka untuk kedua kalinya—kali ini dengan gaun putih, mahkota emas, dan ribuan saksi. Neil menjadi pendamping Derek, dan Sera menjadi pendamping Viona. Pangeran Barrington menikahkan mereka di hadapan raja-raja dan bangsawan dari dua kerajaan.
Saat Derek memasangkan cincin emas baru di jari Viona—cincin yang diukir dengan lambang dua kerajaan—ia berbisik, "Aku akan mencintaimu selamanya, Viona."
Viona tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Dan aku akan mencintaimu selamanya, Derek."
Mereka berciuman di tengah sorak-sorai rakyat, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang kedua kerajaan, perdamaian yang abadi akhirnya tercapai—berkat cinta dua insan yang takdirnya telah dipertemukan oleh badai, dan disatukan oleh keabadian.