"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Mobil SUV hitam milik Ibra perlahan memasuki gerbang besar Pesantren Al-Madani. Kompleks pesantren siang itu tampak ramai oleh aktivitas santri yang bersiap menyambut salat Zuhur. Begitu mobil berhenti di depan teras ndalem, beberapa santri pengurus segera mendekat dengan takzim.
"Assalamualaikum, Gus. Mbak Bita," sapa mereka ramah.
"Waalaikumussalam," jawab Ibra dan Bita hampir bersamaan.
Ada rasa yang berbeda di dalam dada Bita saat melangkah masuk ke ndalem hari ini. Genggaman tangan Ibra di jemarinya terasa begitu kokoh, seolah menyalurkan energi dan ketenangan ekstra. Status baru mereka sebagai suami istri yang seutuhnya membuat Bita tidak lagi merasa seperti "orang asing" yang tersesat di lingkungan ini.
Di ruang tamu utama, Abi dan Umi sudah menunggu bersama Bang Yusuf dan tim hukum pesantren. Pertemuan berlangsung serius namun kondusif. Tim hukum menjelaskan bahwa berkas kasus Reno sudah dinyatakan lengkap oleh kejaksaan dan akan segera disidangkan. Pihak keluarga Reno sempat mencoba mendekati jalur belakang, namun ketegasan Al-Madani membuat mereka tidak berkutik.
"Alhamdulillah, semua berjalan sesuai koridor hukum. Jadi, Bita sudah tidak perlu cemas lagi, ya? Fokus saja mendampingi Ibra," ucap Abi hangat setelah sesi laporan selesai.
"Iya, Abi. Terimakasih atas semua bantuannya," jawab Bita tulus.
Setelah tim hukum dan Bang Yusuf pamit undur diri, suasana menjadi lebih santai. Umi meminta pelayan menyajikan teh hangat dan camilan. Namun, Bita menyadari ada gelagat yang agak tidak biasa dari Umi. Wanita sepuh itu sesekali meliriknya dengan tatapan ragu, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Umi... ada apa? Ada yang mau disampaikan, Umi?" tanya Bita peka.
Umi menghela napas pelan, lalu meletakkan cangkir tehnya. Ia menatap Bita, lalu beralih ke Ibra. "Begini, Nak... Sebenarnya, sejak dua hari lalu, ada tamu yang datang ke pesantren. Dia mengutarakan niatnya untuk berdedikasi dan mengajar di sini."
Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Mengajar? Untuk madrasah aliyah atau halakah kitab, Umi? Biasanya kalau ada pengajar baru, harus lewat seleksi pengurus yayasan dulu, kan?"
"Itu dia, Le. Masalahnya, dia ini bukan orang jauh. Dan latar belakang pendidikannya dari universitas Islam ternama di Jakarta memang sangat mumpuni untuk mengisi kelas bahasa Arab dan fiqih wanita di pondok putri," kata Umi agak serba salah. "Dia... Safira, kakak kandungmu, Bita."
DEG!
Genggaman tangan Bita pada cangkir tehnya mendadak mengencang. Jantungnya mencelos seakan melewati satu detakan. "Mbak Safira... mengajar di sini, Umi?"
Ibra yang merasakan perubahan drastis dari aura tubuh Bita langsung menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata khawatir. Ia kemudian beralih menatap Umi dengan tegas. "Bagaimana bisa Kak Safira tiba-tiba datang ke sini tanpa memberi tahu Bita terlebih dahulu?"
"Umi juga sempat menanyakan hal itu, Le," jawab Umi lembut, mencoba menenangkan. "Kata Safira, dia sengaja tidak mau mengganggu Bita yang sedang menenangkan diri di rumah pribadi setelah masalah Reno kemarin. Dia bilang, niatnya murni karena ingin mencari suasana baru, sekaligus ingin dekat dengan adiknya."
Bita merasa tenggorokannya mendadak kering. Murni mencari suasana baru? Dekat dengan adiknya?
Hanya Bita yang tahu kebenaran pahit di balik sikap manis kakaknya itu. Jauh sebelum perjodohan ini terjadi, Safira adalah orang yang paling mengagumi sosok Gus Ibra. Safira-lah yang paling rajin menghadiri kajian Ibra, Safira yang selalu mengoleksi rekaman dakwah Ibra, dan Safira jugalah yang sempat mengurung diri di kamar saat tahu bahwa Papa dan Mama justru menjodohkan Ibra dengan Bita—si anak bungsu yang dianggap gadis nakal dan pembangkang.
"Lalu... apakah Mbak Safira sudah resmi diterima, Umi?" suara Bita terdengar agak bergetar, meski ia sekuat tenaga menahannya.
Sebelum Umi sempat menjawab, terdengar suara langkah kaki anggun dari arah koridor samping ndalem.
"Assalamualaikum," sebuah suara lembut dan sangat akrab menyapa pendengaran mereka.
Semua orang menoleh. Di sana, berdiri Safira dengan pakaian gamis syar'i berwarna pastel yang sangat anggun, lengkap dengan khimar panjang yang menutup dada. Wajahnya yang cantik tampak teduh, memancarkan aura seorang ustazah muda yang sempurna.
Begitu matanya menangkap sosok Ibra yang duduk di sofa, ada kilat binar yang sangat cepat melintas di manik mata Safira—sebuah binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan dari mata jeli Bita.
"Bita! Ya ampun, kamu di sini, Dek?" Safira langsung menghambur mendekat, memeluk Bita dengan erat seolah-olah mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu. "Maaf ya, Mbak Safira gak bilang-bilang kalau mau ke sini. Mbak cuma gak mau ganggu waktu kamu sama Gus Ibra kemarin."
Bita membalas pelukan itu dengan kaku. "Mbak... Mbak kok gak cerita sama Bita kalau mau ngajar di sini?"
Safira melepas pelukannya, lalu duduk di sofa tunggal di sebelah Umi dengan posisi tubuh yang sengaja agak condong ke arah Ibra. "Iya, ini juga mendadak, Dek. Pas Mbak sowan ke Umi dan tahu ada kekosongan kelas untuk kelas intensif santriwati senior, Mbak langsung merasa ini adalah panggilan hati."
Safira kemudian menatap Ibra, menundukkan kepalanya sedikit dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Mohon bimbingannya, Gus Ibra. Sebagai pengajar baru, saya pasti masih banyak kekurangan dalam beradaptasi dengan kurikulum pesantren Al-Madani."
Ibra menampilkan ekspresi wajahnya yang paling formal dan datar—ekspresi profesional yang biasa ia gunakan di depan publik. "Pesantren ini memiliki sistem yang terbuka untuk siapa saja yang ingin mengabdi, Mbak Safira. Selama kompetensinya sesuai dan bisa mengikuti aturan pondok, para pengurus yayasan tentu akan menyambut baik."
Mendengar jawaban Ibra yang terkesan dingin dan berjarak, senyum di bibir Safira sempat berkedut tipis, namun ia buru-buru menguasai diri.
"Tentu, Gus. Saya akan mematuhi semua aturan di sini," jawab Safira manis.
Sementara itu, di samping Ibra, Bita hanya bisa diam seribu bahasa. Kebahagiaan yang baru saja ia kecap tadi pagi di rumah pribadi mereka, mendadak terasa diuji oleh kehadiran sang kakak. Bita tahu, ini bukan sekadar urusan mengajar. Ini adalah awal dari sebuah babak baru yang melibatkan kecemburuan terpendam seorang kakak kandung.
😈😤😡😡😡
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....