Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang terbagi.
Ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja bergetar beberapa kali membuat pemiliknya melirik.
Cintaku❤️
Mas, cepat pulang ya. Aku masak makanan kesukaan kamu.
Ponsel itu kembali terkunci tanpa dibalas oleh Adrian.
"Istri kamu ya?" bisik seorang wanita. Tangan wanita itu sejak tadi melingkar di pinggangnya dan tidak berniat di lepaskan. "Kamu memikirkan istrimu?"
"Dia nggak tau apa-apa tentang hubungan kita," ucap Adrian pelan. Menyingkirkan tangan Safira dan menyambar jasnya di sandaran kursi.
"Justru lebih bagus Sayang." Dan wanita itu tersenyum. Mendaratkan kecupan singkat di bibir dan mengantar kekasihnya hingga di depan pintu apartemen.
Adrian tiba di rumahnya tepat waktu dan disambut oleh senyuman hangat istrinya. Senyuman yang selalu dia dapatkan setiap hari, anehnya hatinya masih bisa berpaling untuk wanita lain.
Meski setiap kali berduaan, dia merasa bersalah tetapi enggang mengakhiri.
"Mas mau langsung makan dulu atau mandi?" Alya merangkul lengan suaminya.
"Mandi dulu Sayang." Adrian mendaratkan kecupan di kening Alya. "Oh iya tadi kamu pulang sama siapa? Kok nggak telpon mas?" Berjalan beriringan ke kamar. Tangan Adrian melingkar mesra di pinggang ramping Alya yang mengenakan baju tidur berbahan satin.
"Dijemput sama Adrina."
"Syukur deh."
Saat Adrian ke kamar mandi, Alya dengan sigap menyiapkan baju rumahan untuk suaminya. Meletakkan di bibir ranjang kemudian ke meja makan menunggu Adrian menyusul.
"Beruntung sekali diriku memiliki suami, ipar dan mertua yang baik," gumam Alya mengingat selama ini apa yang dia takutkan tidak terjadi meski kehidupan mereka cukup berbeda.
Dan gumaman itu jelas di dengar oleh Adrian yang berdiri di belakang Alya. Beruntung? Apakah Alya akan memaafkan dirinya setelah tahu dia selingkuh?
"Mas yang beruntung memilikimu Alya Zahira."
"Kalau begitu kita sama-sama beruntung." Alya tersenyum saat Adrian menyentuh rambutnya dan mengelus pelan.
"Tapi ... kapan kiranya mas mengajariku menyetir atau setidaknya membiarkan aku belajar menyetir? Masa apa-apa telpon mas dulu sih." Bibir Alya melengkung ke bawah. Suaminya terlalu posesif sampai tidak membiarkan dia berkendara sendiri. Jika Adrian tidak bisa menjemput, maka Adrina-adik iparnya yang akan datang bahkan bisa sampai mama mertua yang turun tangan. Benar-benar menyusahkan bukan?
"Nggak akan pernah."
"Posesif."
"Sama istri sendiri nggak masalah sayangku." Dan wajah cemberut Alya berubah sumbringan karena Adrian menguyel-uyel pipinya.
Makan malam berlalu dengan hangat meski hanya berdua saja. Terasa sepi tanpa kehadiran sosok anak kecil. Tapi mau bagaimana lagi mereka belum diberikan kepercayaan itu.
***
"Aku bisa naik taksi Mas. Takutnya mas malah telat lagi," ujar Alya yang baru selesai siap-siap untuk berangkat kerja seperti suaminya.
Dia pekerja lepas, tidak terikat oleh apapun dan bebas menentukan siapa yang boleh memakai jasanya. Alya adalah perias pengantin panggilan dan tidak pernah sepi job. Bahkan sering kali dia menolak klien secara halus jika dirasa lelah.
"Nggak apa-apa Sayang. Lagian siapa yang mau berani pecat mas coba?"
"Iya deh iya." Dan akhirnya Alya masuk ke mobil suaminya. Duduk dengan tenang, dan sebelah tangan digenggam oleh Adrian. Bahkan suaminya itu mengecup telapak tangan Alya berulang kali.
"Makin manis saja mas, aku lihat-lihat." Alya mengulum senyum.
"Untukmu apapun Alyaku."
Pipi Alya bersemu merah. Pernikahan mereka hampir 2 tahun, tetapi sikap Adrian masih seperti saat mereka pacaran. Manis dan hangat.
Alya melambaikan tangannya setelah berhasil turun dari mobil demi mengantar kepergian sang suami. Ia berjalan tergesa memasuki gedung tempat resepsi pengantin diadakan.
Senyumnya melebar melihat seorang wanita. Dia melambaikan tangan. "Safira ...." panggilnya antusias dan berlari kecil. "Kita ketemu lagi," lanjutnya dan berjalan beriringan.
"Sudah aku duga pasti kamu perias utamanya." Safira tertawa kecil. "Sedangkan aku? Lihatkan aku hanya pelengkapmu saja."
"Jangan bilang begitu. Semua perias sama saja. Dan aku senang bertemu kamu lagi. Kapan-kapan kita bisa berbagi tehnik make up."
"Terimakasih senior." Safira menunduk dan dibalas tawa oleh Alya.
Keduanya berpisah setelah memasuki gedung sebab memiliki klien berbeda meski diacara yang sama.
"Mbak sudah sarapan belum?" tanya asisten Alya bernama Sena. Asisten yang ditunjuk langsung oleh Adrian untuk menemani Alya dan mengatur jadwalnya.
"Sudah sama mas Adrian. Kamu kalau belum sarapan, cari aja dulu di depan. Biar aku yang handel sementara," sahut Alya yang sudah bersama pengantin dan menata alat make upnya.
"Baik Mbak."
Sebelum benar-benar memulai, Alya banyak bicara dengan kliennya dan semuanya hal random agar tidak canggung saat sesi merias. Inilah salah satu kenapa Alya sering menjadi incaran para pengantin. Selain tangannya seolah memiliki sihir, dia juga pandai membaurkan diri pada siapapun.
Berjam-jam lamanya sesi rias selesai, dan seperti biasanya Alya akan duduk di tidak jauh dari pengantin untuk memastikan make upnya baik-baik saja sampai pesta selesai.
Di sampingnya ada Sena juga Safira dan mereka terlibat banyak pembicaraan.
"Kamu nggak bisa nyetir ya? Aku lihat-lihat selalu diantar jemput atau naik taksi," celetuk Safira.
"Benar, aku nggak bisa."
"Kenapa nggak belajar? Biar bisa bebas pergi kemana-mana."
"Karena suaminya mbak Alya nggak mau," celetuk Sena.
"Oh ya? Keliatan sayang banget."
"Iya benar Mbak Fira. Mbak Alya tuh disayang banget sama suaminya. Bukan cuma suami sih, tapi kesayangan keluarga suami."
"Sena," tegur Alya karena merasa malu.
"Maaf Mbak, terlalu semangat." Sena menyengir. Andai tidak dicegah mungkin dia sudah bablas menceritakan betapa beruntung Alya menikah dengan Adrian.
Acara telah selesai, mereka memutuskan untuk pamit.
Alya sibuk dengan ponselnya karena menghubungi sang suami. Dia tidak tahu suaminya masih di kantor atau di rumah, mengingat jam pulang kantor sudah tiba beberapa jam lalu.
"Aku naik taksi saja ya mas, ada Sena kok sama aku."
"Nggak sayang, ini mas sudah dijalan. Tunggu sebentar lagi ya. Senanya jangan di suruh pulang dulu."
"Ngerepotin Senanya, nggak enak."
"Nggak kok Pak. Aman mah kalau saya," celetuk Sena dengan cengiran. Lagi pula menemani Alya tidak rugi, dia akan mendapatkan konpensasi waktu dari Adrian.
"Ikut aku saja kalau gitu Al. Aku antar pulang dengan selamat." Safira menimpali setelah Alya selesai bicara dengan suaminya.
"Makasih Fir, tapi nggak usah. Itu mobil suami aku." Alya dengan antusias menunjuk mobil putih yang perlahan-lahan menepi.
Pemilik mobil turun terburu-buru dan mengitarinya demi membukakan pintu untuk istri tercinta.
"Ayo Sayang," ucapnya hanya fokus pada Alya saja.
"Tunggu dulu Mas, aku mau ngenalin seseorang sama kamu."
Kening Adrian mengerut, memutar tubuhnya dan yap dia berhadapan langsung dengan Safira yang tidak disadari keberadaanya sejak tadi.
"Teman aku, namanya Safira." Alya tersenyum, tetapi tidak dengan dua orang yang sama-sama terkejut sebab ada di tempat yang sama.
.
.
.
Hadir lagi meski kehadiranku kayaknya udah nggak ditunggu sama pembaca soalnya suka hilang-hilangan🤕.
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya