Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.
Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.
Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.
Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.
Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.
"Aku memilih dia." ucap Tria.
Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 7
Di kediaman Fadil, kamar Rio.
”Argh!! Bagaimana ini? Apa aku tetap pergi jemput Tria saja? Jika dia sudah di antar sama bapaknya, bagaimana?”
Rio nampak bingung, ia mondar-mandir di dalam kamar. Lelaki itu ingin bingung ingin tetap pergi menjemput Tria atau tidak!
Lelaki tampan dengan tinggi yang sempurna, bibir tipis, bermata elang, berhidung mancung dan bermanik mata hitam pekat itu terus bermondar mandir dengan tangan kiri yang mengacak pinggang dan tangan kanannya mengusap kepalanya.
Ia berdecak, ”Lebih baik aku telfon dia dulu, jika masih di rumah, aku akan pergi menjemputnya.”
Ia mengambil handphone, mencari kontak nama ”Tria manis ku” di sana. Ia menekan tombol hijau untuk memanggil kontak tersebut.
”Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sed...” Operator belum selesai berbicara, dengan kesal Rio mematikan sambungan telfonnya.
”Ah, hapenya gak aktif lagi!” ucapnya kesal.
Ia menghela nafas, mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar sambil menyandang tasnya. Dengan sedikit berlari kecil, ia menuruni anak tangga. Ia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
”Mah, Pa, Rio berangkat dulu!” ucapnya berpamitan sambil mencium punggung telapak tangan papa dan mamanya.
Iya, hati hati di jalan, Nak!" sahut Fadil dan Mina bersamaan.
”Apa kamu gak jemput Tria, Nak?” lanjut Fadil bertanya. Lebih tepatnya, ia menyuruh anaknya itu untuk pergi menjemput Tria.
”Iya, Ayah. Rio berencana pergi menjemput Tria.” sahut Rio. ”Rio berangkat Pa, Mah, assalamu 'alaikum.”
”Wa 'alaikum salam.” ucap Fadil dan Mina bersamaan menjawab salam anak satu-satunya itu.
Rio bergegas meninggalkan rumahnya. Mina dan Fadil mendengar deru mobil Rio yang telah pergi.
”Mama, apa yang sedang Mama pikirkan? Anakmu baru saja pergi, apa kamu sudah merindukannya?” ucap Fadil, ia sedang menggoda istrinya.
”Tidak, Pa.” elak Mina, ”Mama sedang memikirkan keinginan Papa yang dulu bersama almarhum Marzuki.”
Fadil nampak bingung melihat istrinya, ”Keinginan yang mana, Mah?” tanyanya penasaran.
”Itu loh, Pa! Keinginan Papa untuk menjodohkan Tria dengan anak kita, Pa! Masa Papa sudah lupa?”
Fadil mulai mengingatnya, ia memang pernah menjodohkan Tria dengan Rio sewaktu almarhum masih hidup. Tapi sayang, keinginannya itu tidak terwujud. Karena almarhum menolak perjodohan tersebut.
Bukan maksud Marzuki menolak keinginannya dulu, tetapi, almarhum tidak ingin suatu hari nanti jika kedua anaknya berseteru dan berpisah akan menggangu persahabatan mereka yang sudah lama terjalin.
Lagi pula, saat itu almarhum Marzuki mengatakan jika anaknya telah memiliki seseorang di hatinya, lebih tidak mungkin lagi untuk menerima percobaan perjodohan yang dia inginkan.
”Pa, bagaimana? Apakah bisa di lanjutkan kan niatnya sekarang?” Mina kembali bertanya saat suaminya masih terdiam.
”Ma, biarkan anak-anak yang memutuskan sendiri tentang pasangan hidupnya. Kita tidak berhak untuk mengatur pernikahan anak kita, biarkan ia memilih sendiri calon istrinya.” ucap Fadil.
”Tapi Pa, Mama sangat menyukai Tria untuk jadi anak menantu Mama. Tria cantik juga baik hati seperti almarhum ibunya dan dia cocok dengan anak kita, Pa.” Mina berusaha membujuk suaminya. ”Dan sepertinya, anak kita mencintai Tria, Pa. Tidak mungkin Tria tidak mencintai anak kita yang tampan itu.”
”Papa juga menyukai Tria, Ma. Tapi urusan ini, biarlah menjadi urusan anak-anak. Urusan asmara mereka, kita tidak usah terlalu ikut campur di dalamnya. Cukup kita memberikan arahan juga memberikan restu kita pada mereka.” Fadil menjeda ucapannya. ”Masalah Rio menyukai Tria, Papa sudah tahu itu. Jadi, tinggal tergantung bagaimana anak itu menggapai cintanya, kita cukup memberi dukungan saja.”
Mina terdiam, benar ucapan suaminya itu. Mereka sebagai orang tua hanya memberi restu saja, seperti dirinya waktu masih muda yang di berikan kepercayaan oleh orang tuanya memilih pasangan hidupnya.
”Iya, Pa. Mama do'akan supaya Tria menjadi anak mantu Mama kelak. Aamiin.” ucap Mina. Ia sangat berharap sekali kelak, Tria lah yang akan menjadi anak mantunya.
Fadil terkekeh melihat sikap istrinya, ”Aamiin,” ia ikut mengamini doa tulus Mina.
.. ..
Di kediaman Burhan.
”Mama, bagaimana penampilan ku hari ini?” tanya Yuli.
Ia sudah selesai bersiap-siap. Ia tidak pede dengan penampilannya sekarang, untuk itulah ia meminta pendapat Karmila, mamanya itu tentang penampilannya.
Karmila tersenyum, tidak biasanya anaknya itu meminta pendapatnya menyangkut penampilan karena Yuli adalah orang yang sangat percaya diri.
”Anak Mama terlihat cantik sekali!” ucap Karmila memuji. ”Pasti Rio akan terpesona saat melihat mu nanti.”
”Mama bisa saja dalam hal memuji!” sahut Yuli. Ia tersipu malu mendengar kata pujian dari mamahnya. Karmila tersenyum gemas melihat sikap malu-malu anaknya itu.
Tiin tiin tiin! Bunyi suara klakson mobil mengalihkan perhatian Yuli dan Karmila yang masih berada di ruang tamu, mereka saling pandang.
”Siapa yah yang datang bertamu pagi-pagi gini?” ucap mereka berdua bersamaan.
”Mama, apa Mama sedang berjanjian dengan teman-teman arisan Mama?” lanjut Yuli bertanya.
”Tidak, mungkin saja itu teman mu.” sahut Karmila.
Yuli menggeleng. ”Tidak ada Mah.”
”Kalau begitu, lebih baik kita pergi lihat di depan!” ajak Karmila. Yuli mengangguk.
Mereka berdua melangkah bersama ke depan untuk melihat siapa yang datang.
Rio? benak Karmila dan Yuli. Mereka kembali saling tatap.
Karmila berhenti melangkah dan berdiri bersandar pada daur pintu. Sedangkan Yuli, ia terus berjalan menghampiri Rio dengan memberikan senyum termanisnya.
”Pagi..kak Rio. Ada apa kak datang sepagi ini?” tanyanya lembut.
”Pagi! Apa Tria ada di dalam? Aku datang untuk menjemputnya. Tolong panggilkan dia!” sahut Rio dengan enggan.
Wajah Karmila dan Yuli berubah seketika. Mereka tidak menduga Rio datang untuk Tria. Karmila berbalik badan, melangkah masuk ke dalam rumah. Ia melihat Tria yang berjalan keluar rumah.
Itu dia! Aku punya ide!! benaknya.
Ia menahan langkah kaki Tria, ”Eh...eh..eh..t tunggu-tunggu! Kamu mau kemana?” tanyanya.
”Tria ingin pergi ke depan rumah, Mah.” jawab Tria. Ia kembali melangkah, namun, lagi-lagi Karmila menarik lengannya untuk menahan Tria.
”Mau ngapain ke depan?” suara Karmila terdengar ketus.
”Tria mendengar suara klakson mobil di luar. Tria ingin melihatnya, mungkin saja itu mobil temannya Tria.” Tria tetap menjawab dengan baik pertanyaan ketus Karmila.
”Ingin lihat teman? Apa itu Rio?” tanya Karmila.
”Iya, Mah.” jawab Tria.
”Oh, iya, itu memang Rio yang datang. Ia pergi lagi setelah berpesan dia tidak bisa pergi dengan mu. Ada keperluan mendadak yang membuatnya pergi terburu-buru.” ucap Karmila berbohong.
Tria memicingkan mata melihat Karmila, ”Apa benar begitu, Mah?” ia sangat mengenal Rio. Jadi, ia tidak percaya dengan ucapan Karmila.
”Apa maksud tatapan dan ucapan mu, Tria? Apa kamu mengira Mama sedang berbohong?” sahut Karmila dengan marah.
”Ti...tidak, Mah! Bukan itu maksud Tria! Baiklah, Tria percaya dengan Mama. Kalau begitu, Tria kembali ke kamar dulu.”
”Hum,” sahut Karmila dengan enggan. Ia menyeringai melihat punggung Tria yang berjalan ke kamarnya.
Dasar bodoh! Omongan begitu saja di percayai! Benar-benar bodoh! benaknya.
Karmila menoleh ke belakang, mendengar suara langkah kaki. Ia tersenyum, menunggu Yuli sampai di dekatnya.
”Apa Rio masih di depan, Nak?” tanyanya pelan.
Yuli mengangguk dengan wajah sedihnya. Ia kembali melangkah, Karmila menahannya.
”Ada apa lagi, Mah?! Jangan halangi jalan Yuli! Yuli ingin memanggil Tria. Rio sedang menunggunya di depan.” ucap Yuli, ia terlihat sangat kesal.
”Nak, ini kesempatan kamu untuk bisa jalan berduaan dengan Rio dalam satu mobil. Bikin dia bisa dekat sama Kamu dan terpikat dengan kamu.” ucap Karmila.
”Tapi, Mah. Rio datang kesini hanya untuk mencari Tria, bukan aku!!” sahut Yuli dengan ketus.
”Apa kamu tidak dengar tadi ucapan Rio? Rio datang untuk menjemput Tria. Mungkin berhubung papa kalian tidak bisa ngantar kalian, Tria menghubungi Rio untuk menjemputnya. Jadi, pergilah jalan berdua dengan Rio. Kita buat Tria tidak jadi pergi. Jadi, kamu punya kesempatan banyak untuk merayu Rio.” ucap Karmila berbisik.
Kening Yuli mengerut, ”Bagaimana jika Rio menanyakan gadis sialan itu? Apa yang harus ku jawab?” ucapnya bingung. Ia tampak malas berpikir sekarang.
Karmila menunjuk otak Yuli, ”Gunakan otak kamu!! Mama yakin otak mu sangat encer dalam hal ini! Jangan sia-siakan usaha Mama yang sudah membohongi Tria.”
Yuli menyeringai, kini ia sudah apa yang harus ia lakukan di hadapan Rio. Yuli bergegas kembali ke depan.
”Jangan lupa bawa tas mu!” ucap Karmila mengingatkan.
Yuli menghentikan langkahnya, ”Oh iya, lupa!” ucapnya. Dengan segera, ia naik ke atas mengambil koper pakaiannya. Lalu, ia turun lagi ke bawah sambil memegang tas yang ringan itu.
”Yuli berangkat, Mah.” pamitnya. Karmila mengangguk sambil tersenyum senang.
Yuli bergegas keluar, menghampiri Rio.
”Kak Rio, maaf! Tria bilang kalau dia tidak mau berangkat bareng sama kakak dan juga katanya kita berangkat duluan saja. Tidak perlu menunggunya.” ucapnya berbohong.
Rio nampak tidak percaya, ia mengenal watak dan sikap sahabatnya itu. Tidak mungkin Tria akan menolak tawarannya, jika ia sudah datang menjemput!!
”Kak Rio, jadi bagaimana? Apa kita harus menunggu lagi?” ucap Yuli lagi.
”Tidak perlu!” jawab Rio datar. Ia menatap jendela kamar Tria yang terbuka.
Mengapa dia tidak mau berangkat sama-sama dengan ku? Malah menyuruh ku jalan dengan Yuli. Apa yang di pikirkan wanita itu? benaknya.
Ia masuk ke dalam mobil.
Yuli tersenyum senang. Bagus!! Ini kesempatan ku untuk bisa merayu dia!!” benaknya.
Rio mengunci pintu mobil satunya. Ia tahu dari gerakan Yuli, gadis itu ingin duduk di depan, di sampingnya.
Yuli mencoba membuka pintu mobil depan tapi tidak bisa, mencoba lagi tetap tidak bisa. Melihat itu, Rio menurunkan sedikit kaca mobil.
”Duduk di belakang!” ucapnya tanpa memandang Yuli.
Apa? Aku di suruhnya duduk di belakang!! Pelit sekali pria ini!! benak Yuli.
Mau tidak mau, ia terpaksa menurut saja. Ia masuk dan duduk di kursi belakang dengan wajahnya yang kusut.
Rio segera menjalankan mobilnya, ia mengambil handphone, menghubungi seseorang. Telfon tersambung.
”Ya, Rio. Ada apa?” sapa seseorang dari sebrang sana.
”Kamu di mana?” tanya Rio.
”Aku masih ada di rumah nih! Lagi nungguin Risno dan Mini datang menjemput. Kenapa?”
”Nan, tunggu aku di sana, aku yang akan jemput kamu.” tut tut tut, Rio memutuskan sambungan secara sepihak.
Ia tidak ingin hanya berdua saja dengan Yuli di dalam mobil, untuk itu ia menelfon Nani untuk pergi bersamanya.
Di rumah Nani.
Nani terlihat sangat kesal sekali, ia masih ingin berbicara dengan Rio, tapi, pria itu sudah memutuskan telfonnya.
Ia juga nampak berfikir, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa tiba-tiba Rio menelfon nya hanya untuk mengajaknya jalan bersama? Lalu, gimana dengan Tria?
Ia menelfon Mini. Telfon terhubung.
”Ya, Nan. Ada apa?” tanya Mini.
”Mini, kalian sudah dimana?” Nani menjawab Mini dengan pertanyaan pula.
”Aku masih di rumah bersama Risno, sedikit lagi kami ke sana menjemput mu. Kamu tungguin aja!”
”Min, tidak perlu menjemput ku! Kalian langsung saja menuju villa. Aku, Rio barusan menelfon kalau dia dalam perjalanan menjemput ku.” sahut Nani.
”Loh, kok Rio jemput kamu? Lalu, Tria?” tanya Mini penasaran. Ia terlihat sedang berpikir. Bukankah tugas sudah di tentukan dalam pembahasan kemarin? Yang bertugas menjemput Nani, adalah Mini dan Risno. Sementara Tria, yang menjemputnya adalah Rio.
”Entahlah! Aku juga tidak tahu ada apa ini. Nanti kita tanya langsung saja pada Rio jika kita sudah berkumpul di villa.” jawab Nani.
”Oh, ok!” sahut Mini.
”Min, aku sudahi telfonnya yah! Rio sudah datang ini.” ucap Nani. Ia langsung mematikan sambungan tanpa menunggu sahutan Mini.
Ia bergegas jalan ke arah mobil Rio sambil membawa koper. Rio membuka kunci mobil depan setelah langkah Nani semakin dekat. Ia membukakan pintu mobil untuk Nani.
”Ayo masuk! Buruan!” ucapnya.
Nani mengangguk, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di depan, samping Rio. Ia bingung ketika menyadari di dalam mobil ada Yuli, kakak angkat Tria. Tapi, ia tidak berniat untuk bertanya pada Rio.
Sedangkan Yuli, ia tidak senang melihat Nani yang duduk di depan, di samping orang yang di cintai.
Kurang ajar bangat sih! Giliran Nani, ia biarkan untuk duduk di depan. benaknya.
Rio kembali menjalankan mobilnya, menuju villa. Ia memutar musik untuk menemani perjalanan mereka. Sekaligus menghilangkan sedikit rasa stres di kepalanya.