Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
Suara bentakan itu menggema di dalam kamar hotel mewah yang dipenuhi aroma alkohol dan asap rokok.
Di sudut ruangan, Alyssa terduduk di lantai dengan kedua tangan terikat. Napasnya memburu. Air mata membasahi pipinya, tetapi sorot matanya tetap menyala, menolak menyerah.
Di hadapannya berdiri Mariska, ibu tirinya.
Perempuan itu mengenakan gaun mahal yang baru dibelinya beberapa hari lalu. Tas bermerek tergantung di lengannya, sementara perhiasan emas menghiasi leher dan pergelangan tangannya.
Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya.
"Tenang saja, Tuan," ucap Mariska sambil tersenyum licik. "Alyssa memang keras kepala. Tapi sebentar lagi dia akan menurut."
Pria bertubuh tambun yang sejak tadi duduk di sofa mengembuskan asap rokok ke udara.
"Aku tidak suka menunggu."
Mariska segera mengangguk.
"Tidak akan lama."
Ia mendekati Alyssa, lalu mencengkeram dagunya begitu keras hingga gadis itu meringis.
"Dengar baik-baik!" bisiknya tajam. "Kalau kau berani membuatku kehilangan uang malam ini, jangan harap bisa pulang."
Alyssa menatap perempuan itu penuh kebencian.
"Ibu bukan manusia."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
"Kau berani melawanku?"
"Ayah pasti tidak akan pernah memaafkan Ibu."
Kalimat itu membuat wajah Mariska berubah gelap.
"Jangan sebut nama ayahmu!"
"Beliau pasti menyesal pernah menikahi wanita sepertimu."
PLAK!
Tamparan kedua membuat sudut bibir Alyssa berdarah.
Mariska menarik napas kasar.
"Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan!"
Alyssa tertawa lirih.
"Membesarkanku?"
"Selama ini aku yang mendapatkan beasiswa. Aku yang bekerja sambilan. Aku yang membayar listrik rumah. Aku yang membeli obat saat Ibu sakit."
Tatapan Mariska mulai goyah.
Namun hanya sesaat.
"Diam!"
Ia menarik rambut Alyssa hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
Pria-pria di ruangan hanya tertawa melihat pemandangan tersebut.
"Sudahlah."
Pria tambun itu berdiri.
"Serahkan saja dia."
Dua anak buah langsung melangkah mendekat.
Mereka mulai membuka tali yang mengikat tangan Alyssa.
Salah satu pria hendak mencengkeram lengannya.
Namun...
Brak!
Alyssa menghantamkan kepalanya ke hidung pria itu.
"Aaaargh!"
Pria tersebut langsung terjatuh sambil memegangi wajahnya.
Belum sempat yang lain bereaksi...
Alyssa menendang lutut pria kedua sekuat tenaga.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkannya.
Ia berlari.
"Kejar dia!"
Teriakan memenuhi ruangan.
Alyssa membuka pintu kamar lalu berlari keluar tanpa menoleh sedikit pun.
Lorong hotel yang panjang terasa seperti tidak ada ujungnya.
Napasnya semakin berat.
Air mata terus mengalir.
Namun ia tidak boleh berhenti.
Di belakangnya terdengar suara langkah kaki.
"Menyebar!"
"Dia belum jauh!"
"Jangan sampai lolos!"
Alyssa menoleh sekilas.
Empat pria sedang mengejarnya.
Ia membelok ke lorong lain.
Lalu ke lorong berikutnya.
Tangannya gemetar saat mencoba membuka beberapa pintu kamar.
Terkunci.
Terkunci.
Masih terkunci.
"Tolong..."
Bisiknya hampir putus asa.
Saat itulah...
Klik.
Sebuah pintu terbuka begitu saja ketika gagangnya ditekan.
Tanpa berpikir panjang, Alyssa segera masuk lalu menguncinya kembali.
Dadanya naik turun.
Ia bersandar di balik pintu sambil menutup mulut agar suara napasnya tidak terdengar.
Ruangan itu sangat sunyi.
Begitu sunyi hingga suara detak jam terdengar jelas.
Perlahan...
Alyssa mengangkat kepala.
Dan seketika tubuhnya membeku.
Seorang pria berdiri beberapa meter di depannya.
Tinggi.
Berjas hitam.
Dasi yang sedikit longgar.
Tatapan tajam sedingin musim dingin.
Wajahnya tampan, tetapi tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi.
Aura pria itu begitu kuat hingga membuat seluruh ruangan terasa menyesakkan.
"Siapa kau?"
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun cukup membuat Alyssa bergidik.
"A... aku..."
Belum sempat menjelaskan...
BRAK! BRAK! BRAK!
Gedoran keras mengguncang pintu.
"Pak!"
"Kami sedang mengejar seorang wanita!"
"Dia masuk ke arah sini!"
Tubuh Alyssa langsung gemetar.
Refleks, ia mundur beberapa langkah hingga berada di belakang pria misterius itu.
Tanpa sadar, kedua tangannya menggenggam ujung jas pria tersebut.
Matanya dipenuhi ketakutan.
"Tolong..."
Suara itu nyaris tak terdengar.
Pria misterius menoleh sedikit.
Tatapannya jatuh pada jemari Alyssa yang gemetar mencengkeram kain jasnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ada seseorang yang berani menyentuhnya.
Namun ia tidak segera melepaskan tangan Alyssa.
Gedoran kembali terdengar.
"Pak! Tolong buka pintunya!"
Pria itu berjalan mendekati pintu.
Alyssa panik.
Ia segera mengikuti.
Jarak mereka kini begitu dekat.
"Tolong jangan buka..."
bisik Alyssa dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mohon..."
Pria itu berhenti.
Sorot matanya menatap lurus ke arah gagang pintu.
Di luar...
Suara para pengejar mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau tidak dibuka, kami dobrak!"
Alyssa refleks memeluk lengan pria itu.
Bukan karena mengenalnya.
Bukan karena percaya.
Melainkan karena hanya pria asing itulah satu-satunya harapan yang masih dimilikinya.
Tangannya gemetar hebat.
Seluruh tubuhnya juga bergetar.
Pria misterius itu menoleh perlahan.
Tatapannya bertemu mata Alyssa.
Tak ada rayuan.
Tak ada romantisme.
Yang ia lihat hanyalah seorang perempuan yang benar-benar ketakutan.
Untuk beberapa detik...
Tidak ada satu pun yang berbicara.
Lalu...
Pria itu mengangkat telunjuknya.
"Diam."
Hanya satu kata.
Namun Alyssa langsung mengangguk.
Pria itu membuka sedikit pintu.
Hanya beberapa sentimeter.
"Ada apa?"
Suaranya tetap datar.
Di luar berdiri empat pria bertubuh besar.
"Mohon maaf mengganggu, Pak."
"Kami sedang mencari seorang perempuan."
Pria itu mengangkat sebelah alis.
"Lalu?"
"Dia pencuri."
Tatapan Alyssa melebar.
Mereka berbohong.
Pria misterius tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Apa kalian melihatnya masuk ke kamar saya?"
"Tidak."
"Lalu atas dasar apa kalian mengganggu saya?"
Keempat pria saling berpandangan.
Mereka tampak ragu.
Salah satu dari mereka mencoba mengintip ke dalam.
Namun...
Pria itu bergeser sedikit.
Tubuhnya yang tinggi langsung menutupi seluruh pandangan.
Tatapannya berubah jauh lebih dingin.
"Saya tidak suka privasi saya diganggu."
Nada suaranya masih tenang.
Tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.
Pria-pria itu mulai berkeringat.
Entah mengapa...
Mereka merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak boleh dibuat marah.
"Maaf, Pak."
"Kami hanya menjalankan perintah."
"Kalau begitu jalankan di tempat lain."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun mengandung tekanan yang sulit dijelaskan.
Akhirnya mereka mundur.
"Baik, Pak."
Langkah kaki mereka perlahan menjauh.
Alyssa masih menahan napas.
Pria misterius belum menutup pintu.
Ia menunggu beberapa detik lagi.
Barulah pintu dikunci kembali.
Ruangan kembali sunyi.
Alyssa mengembuskan napas panjang.
Lututnya mendadak lemas.
Tubuhnya hampir jatuh.
Namun sebelum menyentuh lantai...
Sebuah tangan menahan bahunya.
"Hati-hati."
Itu adalah kalimat pertama yang terdengar sedikit lebih lembut dari pria tersebut.
Alyssa menatapnya penuh rasa syukur.
"Terima kasih..."
Pria itu segera melepaskan tangannya.
"Kau belum aman."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Alyssa berdiri.
"Maksud Anda?"
"Mereka belum pergi."
Alyssa langsung memucat.
Pria itu berjalan menuju jendela besar yang menghadap area parkir hotel.
Tanpa banyak bicara, ia membuka sedikit tirai.
Di bawah sana...
Empat mobil hitam masih terparkir.
Beberapa pria berdiri sambil berbicara melalui telepon.
Mereka jelas sedang menunggu.
Jantung Alyssa kembali berdebar kencang.
Ia sadar...
Pelariannya belum berakhir.
Justru mungkin...
Inilah awal dari mimpi buruk yang jauh lebih besar.
Sementara itu, pria misterius itu menatap ke arah mobil-mobil tersebut tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Sorot matanya berubah tajam.
Seolah sedang mengenali siapa sebenarnya orang-orang yang mengejar perempuan asing yang kini berada di dalam kamarnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...
"Hallo para pembaca yang cantik tampan dan budiman, kalau suka ceritanya silahkan komentar yaa !! Agar semangat ku semakin membara melanjutkan ceritanya. Terimaaagajiii" MHKaylid_