Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Tahun Penuh Luka
Lima tahun sudah berlalu sejak hari pernikahan itu. Hari di mana Alena melangkah menuju pelaminan dengan hati berdebar, bukan karena bahagia semata, tapi karena tahu betul tidak ada satu pun wajah ramah dari keluarga suaminya yang menanti. Hendra bersikeras ingin menikahinya, meski ibunya berkali-kali menolak dengan alasan Alena hanya anak orang miskin, tidak punya apa-apa, dan tidak pantas disandingkan dengan putra kesayangannya.
" Hendra, Kamu akan menyesal,Wanita itu nggak pernah bisa memberi apa yang kamu butuhkan," ucap Ibu Sari dengan nada dingin di hari pernikahan mereka.
Hendra memeluk bahu Alena erat lalu berbisik pelan, "Jangan takut, Lena. Aku akan menjagamu. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu memihakmu."
Janji itu terdengar indah sekali, Namun lima tahun ternyata waktu yang cukup panjang untuk mengubah segalanya.
Sejak hari pertama tinggal di rumah itu, Alena tahu betul posisinya. Ia bukan menantu yang disambut, melainkan beban yang harus ditanggung. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun, menyapu halaman, mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan rumah dari ujung ke ujung. Ia melakukannya dengan ikhlas, berharap perlahan hati mertuanya akan luluh melihat ketulusannya.
Namun harapan itu selalu berakhir sia-sia.
"Masakannya kurang asin lagi Lena. Kamu ini memang nggak pernah bisa melakukan apa-apa," ujar Ibu Sari sambil mendorong piringnya menjauh dengan wajah jutek
"Maaf Bu, nanti saya tambahkan lagi," jawab Alena sambil menunduk, menahan rasa perih yang menjalar di dada.
"Sudahlah, nanti saja aku yang masak. Makanan buatan orang yang nggak tahu diri memang nggak pernah enak," sahut Dinda, adik Hendra yang baru saja turun dari kamar dengan wajah masam.
Alena hanya diam. Ia tahu betul kalau ia membantah, nanti yang marah bukan hanya mereka berdua, tapi masalah itu akan dibawa sampai Hendra pulang kerja. Ia tidak ingin suaminya pusing memikirkan urusan rumah tangga setiap hari.
Sore itu saat Hendra pulang, wajahnya tampak sangat lelah. Belum sempat ia duduk dan meletakkan tas kerjanya, Ibu Sari sudah muncul dari arah dapur dengan cepat.
"Hendra, Dinda butuh uang untuk beli buku kuliah, tapi Alena nggak mau ngasi Katanya uangnya habis," ujar Ibu Sari dengan nada mengadu seolah-olah Alena bersalah besar.
Alena terkejut dan segera membela diri. "Bu, saya nggak menolak. Tadi Ibu minta dua ratus ribu, padahal uang yang Mas berikan cuma satu juta untuk kebutuhan sebulan. Belum beli beras, belum beli sabun, belum beli kebutuhan lain..."
"Jangan cari alasan! Kamu memang sangat pelit, dasar orang miskin!" bentak Ibu Sari dengan suara tinggi.
Hendra menghela napas panjang, lalu menatap Alena dengan wajah lelah. "Berikan saja, Lena. Nanti aku cari lagi tambahannya. Jangan membuat Ibu kesal begini."
"Tapi Mas, kalau diberikan dua ratus ribu, kita makan apa minggu depan?" tanya Alena dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah,Kasi saja nanti aku atur," ujar Hendra singkat, lalu masuk ke kamar tanpa menoleh lagi.
Alena berdiri terpaku di tempatnya. Rasanya ingin sekali ia menangis sejadi-jadinya, tapi ia berusaha tahan. Ia masih ingat janji Hendra dulu, ia masih percaya bahwa suatu hari keadaan akan berubah menjadi lebih baik.
Namun hari demi hari berlalu, keadaan tak pernah berubah sedikit pun. Setiap kali hari gajian tiba, Hendra langsung memberikan seluruh gajinya yang berjumlah tiga juta rupiah kepada ibunya, baru kemudian membagikan satu juta rupiah untuk Alena belanja kebutuhan rumah sebulan. Sisa uangnya habis untuk keinginan ibunya dan uang kuliah Dinda.
Seringkali uang satu juta itu kurang di pertengahan bulan, dan saat itulah Alena harus berhemat sangat ketat. Ia sering membeli beras yang paling murah, memasak sayur sisa pasar, dan kadang hanya makan seadanya agar uang itu cukup sampai akhir bulan.
Belum lagi satu hal yang selalu menjadi bahan hinaan bagi Ibu Sari. Setelah lima tahun menikah, Alena belum juga dikaruniai anak.
"Kamu mandul ya? Sampai sekarang perutmu nggak mengandung anak," sindir Ibu Sari saat mereka sedang duduk di teras rumah.
Alena hanya menunduk menahan tangis. "Kami sudah berusaha, Bu. Dokter juga bilang kami berdua sehat-sehat saja."
"Ah, itu cuma alasan belaka. Pasti karena kamu nggak bisa ngasi keturunan. Kalau Hendra menikah dengan wanita lain, pasti sudah punya anak banyak," ujar Ibu Sari dengan nada menyindir yang tajam.
Kata-kata itu menancap begitu dalam di hati Alena. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap sabar, tetap menjadi istri yang baik, dan tetap menunggu sampai suatu saat mertuanya menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Namun ia tak tahu, berapa lama lagi kesabarannya akan mampu bertahan menghadapi semua perlakuan itu.
BANTU KEMBANGKAN NOVELNYA YA DENGAN CARA LIKE DAN KOMENT, CAPEK BIKIN NOVEL NGGAK BERKEMBANG DAN NGGAK BISA LOLOS AKHIRNYA DI HAPUS LAGI🥺🥺🥺