NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:57.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Menu Terserah

Rafka menggeleng dengan wajah agak pucat, shock karena guncangan mendadak tadi. "Enggak, Pa ... Rafka ditahan sama Tante Kei."

Satria kembali menghadap ke depan, membetulkan posisi duduknya yang tegap seolah-olah tidak baru saja terjadi kepanikan massal di dalam mobilnya. "Maaf. Tadi ada sepeda motor yang tiba-tiba memotong jalur dari sebelah kiri. Kakak terpaksa mengambil tindakan rem darurat."

Mendengar alasan yang terdengar sangat defensif dan formal itu, jiwa barbar Keisha yang sempat ciut langsung meroket kembali ke permukaan karena rasa kesal yang membumbung tinggi.

"Aduh, Kak Satria! Hati-hati dong bawa mobilnya! Ini nyawa manusia loh, bukan manekin uji coba tabrakan!" cerocos Keisha dengan nada absurdnya yang tinggi sembari mengelus dadanya sendiri untuk menenangkan jantungnya. "Keisha ini belum lulus kuliah, belum kerja, belum ngerasain kawin juga! Masa tiba-tiba metong di jalan gara-gara rem mendadak? Mana metongnya estetik banget lagi di dalam mobil!"

Satria hanya berdeham pendek merespons omelan panjang lebar dari adik iparnya. Ehem. Pria itu sama sekali tidak menoleh lagi atau meminta maaf secara khusus pada Keisha. Wajahnya tetap datar seperti papan pengumuman markas, lalu dengan tenang ia kembali menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah sisa jalanan menuju mal seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Keisha mendengus kencang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sebal sembari bersandar di kursi belakang. "Dasar Mayor es balok! Kaku banget jadi orang, minta maaf kek, minimal nanya aku jantungan apa enggak!" gerutu Keisha dalam hati dengan gemas.

***

Begitu mobil memasuki area parkir bawah tanah pusat perbelanjaan dan mesin dimatikan, atmosfer menegangkan itu perlahan mencair. Terutama bagi Rafka. Begitu keluar dari pintu mobil, ketakutannya akibat insiden rem mendadak tadi langsung menguap begitu saja, digantikan oleh binar kebahagiaan khas anak kecil yang melihat gemerlap lampu mal.

"Horeee! Cari mainan baru!" seru Rafka riang, melompat-lompat kecil di samping Keisha setelah mereka turun dari pintu belakang.

"Kuy, Jagoan! Kita serbu toko mainannya sampai bangkrut!" sahut Keisha tak kalah heboh, melupakan kekesalannya pada Satria dalam sekejap. Sifat kekanak-kanakan Keisha memang selalu klop jika digabungkan dengan Rafka.

Mereka bertiga berjalan beriringan memasuki area dalam mal menuju lantai atas tempat toko mainan anak berada. Rafka berjalan di tengah, sebelah tangan kanannya menggenggam erat tangan besar Satria yang kaku, sementara tangan kirinya menggandeng jemari Keisha yang hangat.

"Tante Kei, nanti kita beli robot yang bisa terbang ya!" ucap Rafka mendongak menatap Keisha.

"Siap kapten! Nanti kita cari yang bisa terbang sampai ke planet Pluto sekalian," jawab Keisha asal, membuat Rafka tertawa cekikikan mendengarnya. Keisha ikut tertawa lepas, menampilkan senyum lebarnya yang apa adanya tanpa jaim sedikit pun. Rambut panjangnya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang riang, sangat kontras dengan perban plester besar yang masih menempel di lututnya akibat insiden got tadi siang.

Di sebelah mereka, Satria berjalan dengan langkah tegap, pandangannya lurus ke depan dengan wibawa seorang perwira yang tak tergoyahkan. Namun, di balik sikap diam dan kakunya, sepasang mata tajam milik Satria diam-diam bergerak ke samping.

Melalui sudut matanya, Satria memperhatikan wajah riang adik iparnya itu yang sedang sibuk membuat lelucon konyol bersama anaknya. Satria menatap bagaimana tawa Keisha begitu lepas, bagaimana matanya menyipit jenaka, dan bagaimana gadis barbar itu sama sekali tidak jaim meski di tempat umum.

Ada rasa hangat yang aneh dan menggelitik perlahan merayap di sudut hati Satria yang sudah lima tahun membeku. Detak jantungnya yang biasanya teratur sesuai ritme disiplin militer, mendadak berdegup sedikit lebih cepat dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Namun, begitu Keisha secara tidak sengaja menoleh ke arahnya, Satria dengan kecepatan kilat langsung membuang muka, kembali memasang ekspresi dingin dan datarnya seolah-olah ia tidak pernah melirik gadis itu sama sekali.

Keisha yang sempat menangkap basah gerakan kepala Satria yang membuang muka langsung mengerutkan dahi heran. "Lah, itu si Kanebo Kering ngelihatin aku ya? Kenapa mukanya malah makin galak begitu? Aneh banget," batin Keisha merasa geregetan sendiri dengan tingkah misterius kakak iparnya yang kadang perhatian, tapi lebih sering sedingin es kutub utara.

Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam di dalam toko mainan, Rafka keluar dengan wajah super ceria sembari memeluk sebuah kotak besar berisi robot dinosaurus yang bisa mengeluarkan suara dan lampu. Satria berjalan di sampingnya, membawa kantong belanjaan berlogo toko tersebut dengan tangan kanannya yang kokoh.

Baru saja mereka melangkah beberapa meter menyusuri koridor mal yang ramai, Rafka mendadak menghentikan langkahnya. Tangan mungilnya yang bebas langsung memegangi perutnya sendiri, lalu mendongak menatap sang ayah dengan wajah memelas.

"Papa ... perut Rafka sudah bunyi kukuruyuk. Lapar," keluh bocah lima tahun itu dengan nada manja.

Satria menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah kanan—tepat ke arah Keisha yang sedang sibuk merapikan tali tas ransel kecilnya. "Kamu mau makan apa, Keisha?" tanya Satria. Suaranya rendah, terdengar sangat jelas di antara keriuhan pengunjung mal.

Keisha yang mendadak ditanya langsung mengerjap. Sebenarnya, perutnya masih terasa cukup kenyang. "Eh? Aku terserah aja, Kak. Tadi di kafe kan udah ngemil kentang goreng sama roti bakar banyak banget sama anak-anak. Tanya Rafka aja, dia yang lapar."

Satria kembali menunduk menatap anaknya. "Rafka mau makan apa?"

"Mau ayam goreng garing yang ada kentangnya, Pa! Yang logonya kakek-kakek pakai kacamata!" seru Rafka bersemangat, merujuk pada restoran cepat saji terkenal yang kebetulan gerainya berada tak jauh di depan mereka.

"Baik," jawab Satria pendek.

Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam restoran yang didominasi warna merah tersebut. Beruntung, suasana tidak terlalu antre panjang meski bertepatan dengan jam makan malam. Begitu sampai di depan papan menu besar di dekat kasir, Satria kembali membalikkan tubuhnya menghadap Keisha.

"Kamu benar-benar tidak mau makan nasi?" tanya Satria lagi. Matanya yang hitam pekat menatap lurus ke dalam manik mata Keisha. "Atau mau es krim? Burger?"

Keisha menggaruk alisnya yang tidak gatal, merasa agak heran dengan sikap kakak iparnya sore ini. Sejak kejadian di kafe, Satria seolah selalu menanyakan apa yang dia inginkan terlebih dahulu. Biasanya, pria kaku ini akan langsung memesankan makanan secara sepihak untuknya tanpa perlu repot-repot bertanya mendetail seperti ini.

"Kenapa jadi perhatian banget begini sih? Kesambet apaan coba?" batin Keisha, merasakan ada debaran aneh yang mendadak menggelitik di dadanya. Namun, dengan sifat cuek dan absurdnya, Keisha langsung menghempaskan perasaan aneh itu jauh-jauh. "Ah, palingan Kak Satria cuma lagi enggak enak hati gara-gara insiden rem mendadak di mobil tadi."

Bersambung...

1
Puput Assyfa
pasti Inggrid gencar bgt pengen dapet satria ditambah dapat dukungan dr ibunya satria makin di atas angin
Engkar Sukarsih
nah kan dah ketauan...kalau kedatangan orang tua bang Satria,ada udang di balik bakwan 🤭🤭🤭nih
Wiek Soen
kayaknya Satria mw bilang klo sdh melamar Keisha
Wiek Soen
ternyata oh ternyata ada niat terselubung Ingrid,semoga Satria konsisten dg Keisha
Naufal Affiq
ngomong aja satria,kalau kau sudah punya pilihan calon istri,biar orang tua mu tau
Fa Yun
totalitas sekali carmuk mu Astrid
Teh Euis Tea
wahh bibit ulat bulu nih si inggrit
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut mak ghin 🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🤣🤣🤣Ingrid caper niiih
Mutaharotin Rotin
makasih 🥰🥰🥰🥰maj ghin 🙏🙏
Ruwi Yah
Ingrid tebar pesona nih,, jangan harap satria tergoda ya
Ruwi Yah
jelas banget kalau Ingrid terpesona secara satria paket komplit
iqha_24
ulat bulu carmuk
Nar Sih
jgn bersandiwara sok rajin ingrid ,hnya untuk cari perhatiaan satria ,ngk mempan
merry yuliana
beuhhh nongol dah si ulet keket ayo key libas semua
Dcy Sukma
Mo mondar-mandir kayak setrikaan ya gkan ngaruh ke pak mayor,lawong mata hatinya udah nancep ke hati Keisha seorang🤭..
🌷Vnyjkb🌷
niat mu welekkkkkk tenan cah 🤮🤮😜😜
Nar Sih
pasti ingrid tergoda dgn satria dan pasti punya rencana yg aneh,,
Nunung Elasari
spek perempuan idaman mayor adalah neng kei 🤭
Titik Subekti
wah klihatan nich uler keket mulai aksinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!