Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak dari Dalam
Pagi kedua sejak surat gugatan tanah itu tiba, Arya terbangun bukan oleh alarm ponselnya, melainkan oleh suara berisik dari arah dapur—suara panci yang diaduk terlalu keras, tanda bahwa ibunya sedang gelisah tanpa mau menunjukkannya secara langsung.
"Bu?" Arya melongok dari balik tirai kamar, mendapati Bu Aminah berdiri di depan kompor dengan mata yang sedikit sembab, mengaduk sayur asem yang sebenarnya sudah matang sejak lima menit lalu.
"Eh, Arya. Nggak ada apa-apa kok," jawab Bu Aminah cepat, buru-buru mengelap tangannya ke celemek. "Cuma... semalem Ibu kepikiran terus. Bu Marni, tetangga ujung gang yang jualan gorengan itu, tadi malem ke sini. Katanya ada orang yang samperin dia, nawarin uang lumayan gede kalau dia mau pindah duluan tanpa nunggu keputusan sidang."
Arya berhenti di ambang pintu, alisnya bertaut tajam. "Nawarin uang? Berapa, Bu?"
"Katanya lima puluh juta. Buat Bu Marni yang tiap hari cuma dapet untung dua puluh ribu dari jualan gorengan, itu duit segunung, Le," Bu Aminah menghela napas panjang, menaruh sendok sayur di atas talenan dengan gerakan pelan. "Dia nangis pas cerita ke Ibu. Bilang dia bingung, antara mau setia sama warga sini atau nyelametin masa depan cucunya yang masih kecil-kecil."
Arya merasakan dadanya sesak. "Jadi ini yang dimaksud sistem semalem soal 'tekanan yang lebih terselubung'. Mereka nggak lagi ngancem terang-terangan. Mereka mecah belah kita dari dalam, nyasar orang yang paling lemah secara ekonomi."
God-Phone di saku celana piyamanya bergetar pelan, seolah menegaskan kecurigaannya.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: TAKTIK BARU TERDETEKSI!]
[Analisis: Setelah upaya intimidasi terbuka gagal dan direkam sebagai bukti, jaringan Hendarto Pratama beralih ke strategi "pembelian senyap"—mendekati warga secara individual dengan tawaran kompensasi tunai di luar proses hukum resmi, menargetkan keluarga dengan kondisi ekonomi paling rentan. Tujuan taktik ini bukan untuk menyelesaikan sengketa secara sah, melainkan untuk memecah solidaritas komunitas dan menciptakan preseden "warga bersedia pindah secara sukarela" yang bisa dipakai melemahkan posisi hukum kolektif.]
[Peringatan: Jika lebih dari tiga kepala keluarga menerima tawaran dan menandatangani surat pelepasan hak secara individual, argumen hukum "penghunian turun-temurun secara kolektif" yang sedang dibangun tim legal bisa melemah signifikan.]
[Saran Sistem: Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan kekuatan gaib. Ini murni soal kepercayaan dan solidaritas manusia. Sistem tidak bisa memaksa orang untuk setia.]
Arya mematikan layar itu, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak sistem Godjek masuk ke hidupnya, ia merasa betapa terbatasnya kekuatan absurd yang selama ini menjadi andalannya. Tidak ada skill yang bisa membuat orang tetap percaya satu sama lain saat rasa lapar dan ketakutan sudah mendesak ke ubun-ubun.
Selepas subuh, Arya berjalan menyusuri gang menuju ujung Tambora, menemukan Bu Marni sedang duduk lesu di depan gerobak gorengannya yang belum juga ia buka. Wanita paruh baya itu menunduk, matanya bengkak, dan di tangannya tergenggam sebuah amplop cokelat yang sama jenisnya dengan yang pernah dilempar ke kaki Arya dua hari lalu.
"Bu Marni," sapa Arya lembut, duduk di bangku kayu kecil di samping gerobak itu.
Bu Marni tersentak, buru-buru menyembunyikan amplop itu di balik selimut yang menutupi pahanya. "A-Arya... eh, maaf, Ibu belum masak apa-apa nih. Gorengannya belum jadi."
"Nggak apa-apa, Bu. Saya bukan mau beli gorengan," Arya tersenyum tipis, menatap wanita itu dengan pandangan yang penuh pengertian, bukan penghakiman. "Saya cuma mau ngobrol. Ibu Aminah cerita semalem, Ibu lagi bingung soal tawaran yang dikasih orang kemarin."
Bu Marni menutup wajahnya dengan kedua tangan, isakannya pecah begitu saja. "Maafin Ibu, Arya. Ibu bukan mau ngkhianatin kalian semua. Tapi cucu Ibu, si Dimas, dia sakit-sakitan terus dari kecil. Biaya rumah sakitnya udah numpuk. Lima puluh juta itu... buat orang kaya kayak keluarga Pratama mungkin cuma recehan, tapi buat Ibu, itu bisa nyelametin nyawa cucu Ibu."
Arya terdiam sejenak, membiarkan tangis Bu Marni mereda sedikit sebelum ia bicara. Ia teringat kata-kata Pak Surya beberapa hari lalu—bahwa harga diri dan hati nurani jangan pernah dijual, tapi ia juga tahu, tidak semua orang punya kemewahan untuk memilih idealisme di atas kebutuhan mendesak keluarga mereka.
"Bu," ujar Arya pelan, "saya nggak akan maksa Ibu buat nolak tawaran itu. Ibu paling ngerti kebutuhan keluarga Ibu sendiri. Tapi sebelum Ibu tanda tangan apa pun, saya cuma minta satu hal—kasih saya waktu dua hari. Biar tim pengacara yang lagi bantu kita cari cara supaya biaya rumah sakit Dimas bisa dibantu tanpa Ibu harus jual hak atas rumah Ibu sendiri."
Bu Marni mendongak, matanya penuh keraguan namun juga secercah harapan. "Beneran bisa, Arya? Ibu udah putus asa banget rasanya."
"Saya nggak janji seratus persen, Bu. Tapi saya janji bakal berusaha semaksimal mungkin," jawab Arya jujur, tidak ingin memberikan harapan kosong yang bisa menghancurkan kepercayaan Bu Marni lebih parah lagi kalau ternyata gagal. "Yang penting sekarang, jangan tanda tangan dulu. Kasih saya waktu."
Bu Marni mengangguk pelan, memasukkan kembali amplop itu ke dalam tasnya tanpa membukanya. "Ya udah, Ibu tunggu, Arya. Tapi... tolong ya, jangan lama-lama."
Siang harinya, tim legal Citra kembali datang, kali ini disertai oleh seorang pria tua berjas cokelat lusuh yang membawa tongkat kayu, wajahnya dipenuhi kerutan namun matanya tajam dan penuh wibawa akademis. Alya Nindita berjalan di sampingnya, memperkenalkannya dengan hormat begitu mereka tiba di shelter kaca pangkalan.
"Mas Arya, Pak Bimo," ujar Alya, "ini Profesor Hartono Wibisono, guru besar hukum agraria di kampus papa saya. Beliau sudah menangani puluhan kasus sengketa lahan adat selama tiga puluh tahun terakhir. Papa yang minta beliau langsung turun tangan begitu saya cerita soal kasus ini."
Profesor Hartono mengangguk sopan, duduk di kursi yang disediakan dengan gerakan pelan khas orang tua yang sudah terbiasa dihormati. "Nona Alya sudah cerita banyak soal situasi di sini. Saya sudah baca salinan sertifikat yang diklaim Pratama Land Development semalam." Ia mengeluarkan kacamata bacanya, menatap Pak Bimo dengan tatapan serius. "Nama notaris yang tertera, Bambang Wirasena, itu bukan nama asing bagi saya."
Pak Bimo mengerutkan kening, tertarik. "Bapak kenal beliau?"
"Bukan kenal secara pribadi, tapi saya pernah jadi saksi ahli dalam kasus serupa tiga tahun lalu di Jakarta Utara," jawab Profesor Hartono, suaranya berat dan penuh pengalaman. "Waktu itu ada sengketa lahan pergudangan yang digusur atas nama perusahaan properti, menggunakan sertifikat dengan nama notaris yang sama. Kasus itu akhirnya dihentikan pengadilan karena ditemukan kejanggalan serupa—nomor registrasi yang tidak sesuai dengan tanggal transaksi. Tapi anehnya, kasus itu tidak pernah dilanjutkan ke ranah pidana. Notarisnya menghilang begitu saja sebelum sempat diperiksa."
Ruangan itu mendadak hening. Arya, yang duduk di sudut sambil mendengarkan, merasakan bulu kuduknya berdiri. "Menghilang, Prof? Maksudnya kabur?"
"Tidak ada yang tahu pasti," Profesor Hartono menggeleng pelan. "Kantornya tutup mendadak, izin praktiknya dicabut secara administratif tanpa proses yang jelas, dan sejak itu tidak ada kabar. Saya sempat menduga ada pihak yang melindunginya agar tidak buka mulut di persidangan."
Sinta, paralegal muda yang sejak kemarin sibuk memverifikasi dokumen, tiba-tiba mengangkat tangan. "Pak Bimo, saya baru saja mencoba menghubungi kantor notaris Bambang Wirasena yang tercantum di sertifikat Pratama untuk permintaan verifikasi resmi. Nomornya sudah tidak aktif. Dan alamat kantornya..." Ia menunjukkan layar laptopnya, menampilkan hasil pencarian peta digital. "Sudah berubah jadi ruko kosong yang disewakan sejak enam bulan lalu."
Kabar itu menghantam seluruh ruangan seperti pukulan telak. Bang Jay, yang duduk di kursi kulit sambil menyeruput kopinya, hampir tersedak. "Jadi orang yang bikin sertifikat buat ngeklaim tanah kita ini... udah ngilang duluan sebelum kita sempet nanya-nanya?"
"Kemungkinan besar begitu," Pak Bimo mengangguk berat, wajahnya serius. "Ini pola yang sangat mencurigakan. Seolah-olah seseorang tahu lebih dulu bahwa kami akan mencoba melacak notaris ini, dan sengaja menghilangkan jejak sebelum kami bergerak."
Arya merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. "Ada yang bocorin informasi kita ke pihak Pratama. Tapi siapa? Selain kita yang di sini, cuma Citra sama timnya yang tau soal rencana verifikasi ini."
God-Phone di sakunya bergetar lembut, seolah membaca kecurigaannya.
TING-TONG!
[PERINGATAN SISTEM: KEMUNGKINAN KEBOCORAN INFORMASI TERDETEKSI.]
[Analisis: Menghilangnya jejak Notaris Bambang Wirasena tepat sebelum tim legal melakukan verifikasi resmi menunjukkan pola kebocoran informasi internal. Sistem tidak dapat mengidentifikasi sumber kebocoran secara pasti—ini di luar jangkauan kemampuan deteksi sistem, karena melibatkan jaringan manusia yang kompleks, bukan ancaman gaib.]
[Saran: Berhati-hatilah dalam membagikan informasi strategi hukum, bahkan kepada pihak yang tampaknya sekutu. Tidak semua kebocoran berasal dari niat jahat—bisa jadi kelalaian, bisa jadi pengkhianatan.]
Arya menatap layar itu dengan rahang mengeras, namun ia memilih untuk tidak langsung mencurigai siapa pun di ruangan itu. Ia tahu, kecurigaan yang tidak berdasar justru bisa merusak solidaritas yang sedang mereka bangun susah payah.
"Prof," Arya akhirnya bersuara, mencoba mengalihkan fokus ruangan kembali ke hal yang bisa mereka kendalikan. "Kalau notarisnya udah menghilang, apa itu artinya sertifikat Pratama otomatis batal?"
Profesor Hartono menggeleng pelan. "Tidak sesederhana itu, Nak. Menghilangnya notaris justru mempersulit proses verifikasi resmi, karena kita butuh testimoni langsung darinya untuk membuktikan pemalsuan di pengadilan. Tapi ini juga bisa jadi senjata kita—kejanggalan administratif ditambah menghilangnya pihak yang seharusnya bertanggung jawab, itu pola yang sangat mencurigakan di mata hakim mana pun. Kita perlu melaporkan kasus ini bukan hanya sebagai sengketa perdata, tapi juga meminta penyelidikan pidana terhadap dugaan pemalsuan dokumen."
"Itu akan makan waktu lebih lama, Prof," Pak Bimo menimpali, wajahnya khawatir. "Sementara batas waktu yang diberikan Pratama cuma tujuh hari. Sekarang sudah masuk hari ketiga."
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak, sebelum Alya, yang sejak tadi diam mendengarkan dengan serius, akhirnya angkat bicara. "Kalau begitu, kita perlu jalur paralel. Selain melaporkan dugaan pidana, kita juga perlu mengajukan permohonan penundaan eksekusi ke pengadilan, dengan alasan sedang ada proses hukum lain yang berjalan. Setahu saya dari kuliah hukum kesehatan yang pernah saya ambil sebagai mata kuliah pilihan, ada mekanisme semacam itu untuk kasus-kasus yang berpotensi merugikan banyak pihak jika dieksekusi tergesa-gesa."
Profesor Hartono menatap Alya dengan kekaguman yang tulus. "Nona ini benar. Permohonan penundaan eksekusi berdasarkan proses hukum paralel—itu langkah yang sangat tepat. Pak Bimo, saya sarankan kita ajukan ini besok pagi sesegera mungkin."
Pak Bimo mengangguk, mencatat cepat di tabletnya. "Baik, Prof. Akan saya koordinasikan dengan tim di kantor malam ini juga."
Menjelang sore, setelah rombongan pengacara dan Profesor Hartono berpamitan untuk kembali ke kantor mereka masing-masing, Arya duduk sendirian di bangku kayu depan warkop Mbak Sri, pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran soal Bu Marni dan kemungkinan kebocoran informasi yang mengkhawatirkan.
"Ngelamun aja dari tadi," Mbak Sri menegur sambil meletakkan segelas es teh manis di depan Arya, duduk di bangku seberangnya dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. "Ada yang bisa Mbak bantu, Ya? Selain nyediain minuman gratis maksudnya."
Arya tersenyum kecil, menghargai usaha Mbak Sri mencairkan suasana. "Mbak Sri kenal Bu Marni yang jualan gorengan di ujung gang, kan?"
"Kenal banget. Kasian dia, Ya. Suaminya udah lama ninggal, sekarang harus ngurus cucu sendirian karena anaknya kerja jadi TKW di luar negeri," Mbak Sri menghela napas, wajahnya menunjukkan simpati yang tulus. "Kenapa emangnya?"
Arya menceritakan secara singkat soal tawaran yang diterima Bu Marni, tanpa membocorkan detail terlalu banyak. Mbak Sri mendengarkan dengan seksama, keningnya berkerut dalam.
"Ya Ampun... jadi mereka mulai maen di bawah tanah sekarang," gumam Mbak Sri pelan. "Nyasar orang yang paling susah. Licik banget."
"Makanya, Mbak," Arya menatap Mbak Sri dengan serius. "Saya mau minta tolong. Kalau Mbak denger ada warga lain yang didatengin kayak Bu Marni, tolong kabarin saya secepatnya. Kita perlu tau siapa aja yang lagi digoda, biar bisa dibantu sebelum mereka kepepet dan akhirnya tanda tangan."
Mbak Sri mengangguk mantap, matanya berbinar dengan tekad baru. "Serahin ke Mbak, Ya. Warkop ini kan pusat informasi Tambora. Nggak ada yang bisa lewat tanpa Mbak tau."
Arya tersenyum tipis mendengar itu, meski di dalam hatinya masih ada kekhawatiran yang mengganjal—kekhawatiran bahwa kebocoran informasi soal notaris yang menghilang itu mungkin datang dari lingkaran yang jauh lebih dekat dari yang ia bayangkan.
Malam harinya, di ruang tamu sempit rumah petaknya, Arya duduk bersama Pak Surya yang sedang membersihkan sangkar burung perkututnya dengan gerakan pelan dan penuh perhatian, seolah rutinitas sederhana itu adalah caranya menenangkan pikiran di tengah badai yang sedang menerpa keluarga mereka.
"Bapak denger soal Bu Marni," ujar Pak Surya tanpa menoleh, suaranya berat namun tenang. "Susah ya, Le, kalau musuh kita udah nggak lagi nyerang dari depan, tapi nyelinap dari celah-celah yang paling rapuh."
"Iya, Pak," Arya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding tripleks yang dingin. "Saya takut, kalau ini terus dibiarkan, bakal ada lagi warga lain yang kepepet dan akhirnya jual hak mereka. Terus posisi hukum kita bisa lemah."
Pak Surya berhenti sejenak, menatap anaknya dengan mata tuanya yang penuh kebijaksanaan. "Le, Bapak nggak bisa kasih solusi hukum kayak pengacara-pengacara pinter itu. Tapi Bapak tau satu hal—orang yang kepepet itu bukan orang jahat, cuma orang yang lagi ketakutan. Kalau kamu mau mereka tetep setia, jangan cuma minta mereka nolak duit. Kamu harus kasih mereka jalan keluar yang nyata dari ketakutan mereka."
Kata-kata sederhana itu menghantam Arya lebih dalam dari yang ia duga. Ia teringat janjinya pada Bu Marni—janji untuk mencari cara membantu biaya rumah sakit Dimas tanpa harus mengorbankan hak atas rumahnya. Janji itu kini terasa jauh lebih berat, namun juga jauh lebih penting dari sekadar mempertahankan tanah.
"Bapak bener," bisik Arya, matanya menerawang jauh ke luar jendela kecil kamarnya, ke arah langit Tambora yang mulai gelap dipenuhi bintang samar. "Saya harus cari cara nyata buat bantu mereka, bukan cuma minta mereka bertahan."
God-Phone di sampingnya berkedip pelan, menampilkan sebuah notifikasi baru yang tidak biasa—bukan peringatan ancaman, melainkan sebuah kemungkinan solusi.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: KEMUNGKINAN JALAN KELUAR TERDETEKSI.]
[Analisis: Nona Nadia Anastasia memiliki yayasan sosial yang menangani program bantuan kesehatan bagi keluarga prasejahtera, termasuk kerja sama dengan beberapa rumah sakit swasta di Jakarta. Program ini belum pernah Anda manfaatkan untuk komunitas Tambora secara langsung.]
[Catatan: Sistem hanya menyediakan informasi. Keputusan untuk meminta bantuan, dan bagaimana cara memintanya dengan tulus tanpa mengeksploitasi kebaikan orang lain, sepenuhnya ada di tangan Anda.]
Arya menatap layar itu lama, sebuah rencana mulai terbentuk perlahan di kepalanya. Ia teringat Nadia, yang beberapa waktu lalu pernah bercerita tentang yayasan seninya yang juga merambah program sosial untuk anak-anak kurang mampu. Mungkin, di tengah kekacauan sengketa tanah ini, ada jalan lain untuk menyelamatkan Bu Marni dan keluarga lain yang mungkin bernasib sama—jalan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan hukum, tapi juga kehangatan manusia yang selama ini menjadi kekuatan sesungguhnya dari komunitas Tambora.
Namun, sebelum ia sempat menyusun kata-kata untuk menghubungi Nadia, sebuah pesan masuk ke ponsel regulernya—bukan dari God-Phone, melainkan dari nomor Bang Jay yang selama ini menjadi kontak dengan huruf kapital tegas di layarnya.
"Ya, buruan ke warkop. Ada Pak Haji Karto—yang jual mie ayam itu. Dia juga didatengin orang tadi malem. Sama kayak Bu Marni."
Arya membaca pesan itu dengan dada yang kembali sesak. Ternyata, taktik pembelian senyap itu bukan hanya menyasar satu keluarga—ini adalah serangan sistematis yang sedang menyebar diam-diam ke seluruh penjuru Tambora, jauh lebih cepat dari yang bisa mereka antisipasi.
Ia bangkit dari duduknya, menyambar jaket premiumnya yang tergantung di paku dinding, dan melangkah keluar dengan tekad yang semakin membara di dadanya. Malam ini, pertarungan sesungguhnya bukan lagi soal dokumen dan sertifikat di meja pengadilan—melainkan soal seberapa kuat ikatan yang telah dibangun bertahun-tahun di gang sempit ini bisa bertahan dari godaan yang menyerang titik paling rapuh dari setiap manusia: ketakutan akan masa depan yang tidak pasti.