"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002: Pesta Keluarga Kusuma
Besok malam itu datang bersama hujan tipis dan lampu-lampu mahal Hotel Mulia Senayan.
Kiara Hartono turun dari Alphard hitam di depan lobi utama. Gaun hitamnya sederhana, bahunya tertutup blazer tipis, rambutnya disanggul rendah. Ia tidak terlihat seperti perempuan yang datang untuk merayakan ulang tahun seseorang. Ia terlihat seperti CEO yang dipaksa menghadiri rapat beracun.
Bimo Hartono turun di sisi lain, memasang senyum yang terlalu cepat.
"Kiara, jangan bikin suasana kaku," katanya sambil membenarkan kancing jas. "Rendra itu pewaris tunggal PT Kusuma Group. Kalau hubungan kita dengan Kusuma baik, posisi Hartono juga aman."
Ratna Hartono menatap putrinya dari ujung kepala sampai kaki. "Malam ini kamu senyum. Jangan pasang wajah seperti sedang dipaksa."
"Memangnya saya tidak dipaksa?" tanya Kiara.
Ratna mendesis pelan. "Jangan mulai."
Bimo segera menengahi. "Papa dan Mama cuma mengantar. Setelah itu kami ada urusan dengan Bu Agung. Rendra sudah menunggu di ballroom."
Kiara berhenti di bawah cahaya lobi. "Jadi kalian benar-benar meninggalkan saya di sini?"
"Kamu bukan anak kecil," jawab Bimo. "Dan kamu sudah tidak perlu memikirkan Arga."
Nama itu jatuh di antara mereka.
Kiara menggenggam clutch-nya lebih erat. Sehari lalu, Arga keluar dari Rumah Anggrek membawa ransel tua. Sehari lalu, ia tidak menahan laki-laki itu. Sekarang keluarganya mengantarnya ke pesta laki-laki lain seolah dua tahun pernikahan hanya noda kecil di kertas keluarga Hartono.
"Belum ada putusan pengadilan," kata Kiara.
Ratna memutar mata. "Lagi-lagi itu. Yang penting semua orang tahu kalian sudah selesai."
Di pintu ballroom, seorang pria berjas putih menyambut mereka dengan senyum lebar.
Rendra Kusuma.
Usianya awal tiga puluhan, wajah rapi, jam tangan mahal, dan kepercayaan diri yang terlalu sering dibiarkan menang. Di belakangnya berdiri dua pria bertubuh besar dengan setelan gelap. Bukan pengawal resmi hotel. Orang pribadi.
"Kiara," Rendra berkata, suaranya hangat seperti iklan. "Akhirnya datang juga."
Ia menoleh kepada Bimo dan Ratna. "Pak Bimo, Bu Ratna, terima kasih sudah mengantar."
Bimo tertawa kecil. "Kami serahkan Kiara sebentar ke Mas Rendra. Mohon dijaga."
Kalimat itu membuat perut Kiara mengeras.
Rendra menangkap perubahan di wajahnya, tetapi hanya tersenyum lebih dalam. "Tentu. Saya akan jaga dengan sangat baik."
Lima menit kemudian, Bimo dan Ratna sudah pergi.
Ballroom Hotel Mulia Senayan berkilau. Lampu kristal menggantung di atas meja bundar. Musik jazz mengalir pelan. Orang-orang dari lingkar bisnis Jakarta berdiri dalam kelompok kecil, saling menyapa dengan gelas tinggi di tangan. Nama Kusuma malam itu membuat semua orang tersenyum lebih patuh.
Rendra membawa Kiara ke meja utama.
"Saya dengar urusanmu dengan menantu numpang itu sudah selesai," katanya.
Kiara meletakkan clutch di atas meja. "Itu urusan pribadi saya."
"Pribadi?" Rendra tertawa pelan. "Kiara, semua orang di ruangan ini tahu siapa dia. Laki-laki tanpa pekerjaan, tinggal di rumah mertua, hidup dari uang istri. Jujur saja, saya tidak mengerti kenapa kamu tahan dua tahun."
Kiara menatapnya dingin. "Kalau tujuanmu malam ini menghina seseorang yang tidak ada di ruangan ini, saya pulang."
Ia hendak berdiri, tetapi Rendra mengangkat tangan.
"Maaf. Saya hanya bicara apa adanya." Senyumnya tidak hilang. "Duduklah. Setidaknya minum dulu. Malam ini ulang tahun saya."
Seorang pelayan datang membawa nampan. Rendra mengambil segelas sampanye, lalu mengambil botol air mineral berlabel hotel untuk Kiara.
"Saya tahu kamu tidak suka minum alkohol saat acara bisnis," katanya. "Air mineral saja."
Kiara tidak langsung menyentuhnya.
Rendra tertawa. "Kamu curiga pada saya?"
"Saya terbiasa curiga pada pria yang terlalu yakin semua orang harus menerima niat baiknya."
Untuk sesaat, mata Rendra mengeras.
Lalu ia kembali tersenyum.
"Kamu menarik, Kiara. Itu sebabnya saya menyukaimu."
Di sisi ballroom, salah satu pria Rendra memberi isyarat kecil kepada pelayan. Gerakannya nyaris tidak terlihat. Botol air mineral yang semula berada di nampan berganti dengan botol lain saat pelayan berbalik melewati dekorasi bunga.
Di lantai dua hotel, di ruang kontrol servis yang lampunya dibuat redup, seorang teknisi shift malam menerima amplop tipis dari pria berkemeja hitam.
"CCTV koridor suite lantai dua belas delay tiga menit," kata pria itu datar.
Teknisi menelan ludah. "Ini melanggar SOP."
"SOP tetap jalan. Hanya maintenance log. Tiga menit."
Pria berkemeja hitam itu bukan staf hotel. Ia bagian dari tim Gacrux.
Sementara itu, di parkiran basement, dua orang lain sudah memotret pelayan yang menukar botol. Satu sampel air cadangan masuk ke kantong bukti kecil tanpa menarik perhatian siapa pun.
Arga Pratama tidak datang ke pesta.
Tetapi matanya sudah berada di sana.
Di ballroom, Kiara akhirnya membuka tutup botol.
Ia minum dua teguk.
Rendra memperhatikan gerakan tenggorokannya dengan sabar.
Sepuluh menit kemudian, suara di sekitar Kiara mulai memanjang. Lampu kristal yang semula jelas berubah menjadi lingkaran kabur. Ia menekan pelipis, mencoba berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Rendra bertanya.
Nada suaranya terlalu siap.
Kiara mundur setengah langkah. "Saya mau pulang."
"Kamu pucat. Mungkin terlalu lelah." Rendra memberi isyarat kepada dua pengawalnya. "Saya sudah siapkan suite untuk istirahat sebentar."
"Tidak."
Kiara berbalik, tetapi lututnya melemah. Ia menahan tubuh pada tepi meja. Beberapa tamu melihat, namun hanya saling menatap. Tidak ada yang ingin mencampuri urusan pewaris Kusuma Group.
Rendra mendekat dan menurunkan suara. "Jangan keras kepala. Tidak ada yang akan menolongmu di sini kalau saya bilang kamu mabuk."
Kiara menampar tangannya ketika ia mencoba memegang siku.
Tamparan itu tidak keras. Tetapi cukup untuk membuat wajah Rendra berubah.
"Bawa dia," katanya dingin.
Dua pengawal bergerak.
Di tengah kabut yang makin tebal, Kiara meraba ponsel di clutch-nya. Jarinya gemetar. Layar ponsel menyala. Daftar kontak terakhir terbuka karena kebiasaan.
Nomor paling atas masih tersimpan dengan satu nama.
Suamiku.
Ia sendiri lupa kapan terakhir kali menggantinya.
Panggilan tersambung.
Di dalam lift menuju suite lantai dua belas, Kiara menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya pecah, hampir tidak menjadi kata.
"Suamiku... jemput aku."
Di Villa Puncak, Arga sedang berdiri di depan meja kerja ketika ponsel tuanya bergetar.
Ia melihat nama di layar.
Suamiku.
Untuk satu detik, seluruh ruangan terasa diam.
Lalu suara Kiara masuk, lemah, basah oleh ketakutan yang ia paksa telan.
"Jemput aku..."
Mata Arga berubah.
Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan.
Hanya sesuatu yang dingin turun ke wajahnya, seperti pintu baja yang menutup dari dalam.
"Lokasi."
Di ujung panggilan, hanya terdengar suara lift, napas berat, dan tawa laki-laki yang terlalu dekat.
Arga menekan tombol lain.
"Gacrux."
"Bos, kami sudah bergerak. Target menuju suite dua belas nol delapan. Bukti botol sudah diamankan. Kamera koridor masuk mode maintenance dalam tiga menit."
"Sebelas menit."
"Dipahami."
Arga mengambil jaketnya.
Sebelas menit kemudian, pintu suite 1208 terbuka dari luar.
Kuncinya sudah tidak berguna.
Rendra berdiri di dekat sofa, satu tangan menggenggam pergelangan Kiara. Kiara setengah sadar, tubuhnya merosot, tetapi matanya masih berusaha tetap terbuka. Dua pengawal sudah terkapar di lantai koridor, masing-masing memegang leher dan perut, tidak ada yang sempat berteriak.
Rendra menoleh.
Untuk sesaat ia tidak mengenali pria berjaket lama di ambang pintu.
Lalu ia tersenyum sinis. "Oh. Si menantu numpang."
Arga masuk.
Langkahnya tidak cepat. Justru terlalu tenang.
"Lepaskan dia."
Rendra tertawa, tetapi tawanya berhenti ketika Arga sudah berada di depannya.
Tidak ada gerakan besar.
Hanya tangan Arga meraih pergelangan Rendra, memutar setengah lingkaran, lalu menekan ke arah yang salah.
KRAK.
Suara itu pendek.
Rendra jatuh berlutut dengan teriakan yang membuat suite itu bergetar.
"Tanganku! Tanganku!"
Arga tidak menatap wajahnya. Ia menangkap tubuh Kiara sebelum perempuan itu jatuh, melepas jasnya, lalu menutup bahu Kiara dengan gerakan hati-hati.
Kiara membuka mata sedikit. Fokusnya pecah, tetapi ia mengenali suara itu.
"Arga..."
"Aku di sini."
Tiga kata itu membuat tubuhnya berhenti melawan.
Di lorong suite, beberapa tamu keluar dari kamar lain. Ada yang mengangkat ponsel, tetapi layar mereka hanya menangkap punggung Arga, wajah Kiara yang tertutup jas, dan Rendra yang berlutut sambil memegang tangan kanannya.
Tidak ada yang berani menghalangi.
Nama Kusuma besar, tetapi rasa takut yang dibawa Arga malam itu lebih sunyi dan lebih dekat.
Di lift, Kiara menggigil. Arga menahan kepalanya di bahunya agar tidak terbentur dinding. Gacrux muncul sebentar di pintu lift servis, menyerahkan kantong bukti kecil.
"Botol, gelas, rekaman pelayan, semua aman."
"Simpan."
"Rendra?"
Arga melihat angka lantai turun satu per satu. "Dia masih bisa meniup lilin dengan tangan kiri."
Gacrux tidak tersenyum. "Dipahami."
Pukul lewat tengah malam, mobil hitam berhenti di depan Rumah Anggrek.
Arga menggendong Kiara melewati pintu utama. Pelayan yang berjaga hampir menjatuhkan nampan ketika melihat keadaan nona rumahnya. Ratna tidak ada. Bimo tidak ada. Rumah besar itu, seperti biasa, sangat pandai kosong pada saat paling penting.
Arga membawa Kiara ke kamarnya.
Ia tidak menyalakan semua lampu. Hanya lampu meja. Ia mengambil air hangat, membantu Kiara minum sedikit demi sedikit, lalu memeriksa napas dan denyut nadinya dengan dua jari. Stabil. Pengaruh obat itu membuat kesadarannya jatuh, tetapi tanda vitalnya belum menunjukkan bahaya langsung.
Kiara setengah membuka mata.
"Jangan pergi," bisiknya.
Tangan Arga berhenti di tepi selimut.
Satu detik.
Dua detik.
"Tidur dulu," katanya pelan. "Aku tunggu sampai kamu aman."
Ia duduk di kursi dekat ranjang sampai napas Kiara menjadi teratur.
Pukul tiga lewat enam menit, ponselnya bergetar.
Bimo Hartono.
Arga menerima panggilan di balkon kamar Kiara.
Suara Bimo meledak sebelum ia bicara. "Apa yang kamu lakukan? Kamu melukai anak tunggal Kusuma! Kamu tahu akibatnya untuk keluarga Hartono?"
Arga menatap halaman gelap Rumah Anggrek.
"Putri Anda hampir diculik dari hotel."
"Jangan memutarbalikkan fakta! Rendra bilang kamu menyerang dia tanpa alasan. Keluarga Kusuma murka. Hartono bisa tamat!"
Arga menutup mata sebentar.
Di kamar belakangnya, Kiara tidur dengan wajah pucat. Di telepon, ayahnya lebih takut pada Kusuma daripada pada apa yang terjadi kepada putrinya sendiri.
"Pak Bimo," kata Arga, "jaga Kiara."
"Kamu dengar Papa atau tidak? Kamu harus minta maaf. Besok pagi kamu datang ke Kusuma dan berlutut kalau perlu."
Arga menurunkan ponsel dari telinganya.
Lalu mematikan panggilan.
Beberapa jam kemudian, sebelum matahari naik, pesan itu sudah beredar di grup-grup bisnis Jakarta.
Kusuma senior memberi ultimatum.
"Dalam 48 jam, Hartono harus menyerahkan orang itu, atau angkat kaki dari Jakarta."