"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 Napas Setelah Air
Tiga jam setelah jatuh ke kolam, Angie mulai batuk tanpa bisa berhenti.
Ia sedang duduk di samping ranjang Guai ketika rasa perih menjalar dari tenggorokan ke dada. Batuk pertama terdengar ringan. Batuk berikutnya membuat tubuhnya membungkuk dan napasnya berbunyi kasar.
Hansen langsung menekan tombol panggil perawat.
"Saya baik-baik saja," kata Angie di sela batuk.
"Kau baru saja mengatakan itu sebelum dokter menemukan kaca di kakimu."
"Guai akan bangun kalau berisik."
"Lebih baik dia bangun daripada kau pingsan di sampingnya."
Perawat masuk membawa alat pengukur oksigen. Angka pada jari Angie berhenti di sembilan puluh dua, lalu turun ke sembilan puluh satu.
"Bu Angie perlu diperiksa sekarang," katanya.
"Saya tidak mau meninggalkan Guai."
"Saya di sini," kata Hansen. "Lina juga sudah dalam perjalanan."
Angie masih menggeleng. Napas pendek membuat wajahnya memucat.
Hansen berjongkok di depannya. "Ngie, kau sempat tenggelam. Air bisa masuk ke saluran napas meski kau sadar setelah naik. Membiarkannya bukan bentuk pengorbanan untuk Guai."
"Kalau dia mencari saya?"
"Saya akan membawanya ke pintu ruang periksa kalau dokter mengizinkan."
Barulah Angie membiarkan perawat mendorong kursi rodanya ke unit radiologi.
Pemeriksaan menunjukkan iritasi ringan pada saluran napas setelah menghirup air kolam. Tidak ada gambaran cedera paru berat, tetapi dokter memasang oksigen aliran rendah, memberikan selimut hangat, dan meminta Angie ikut diobservasi sampai saturasinya stabil tanpa bantuan.
"Tidak ada istilah bahwa pasien sudah aman hanya karena sempat batuk mengeluarkan air," jelas dokter. "Gejala yang muncul sekarang harus dipantau. Kalau sesak bertambah, nyeri dada, demam, atau kesadaran menurun, kami bertindak lebih lanjut."
Hansen mencatat setiap gejala di ponselnya.
"Anda tidak perlu menulis semuanya," kata Angie dari ranjang pemeriksaan.
"Saya perlu."
"Dokter sudah menulisnya."
"Saya tidak mempercayai ingatan saya ketika sedang marah."
"Anda marah kepada siapa?"
"Kepada semua orang yang membuatmu merasa harus terus berdiri meski tubuhmu meminta berhenti. Termasuk dirimu sendiri."
Angie memalingkan wajah, tetapi tangan Hansen tetap di tepi ranjang tanpa menyentuhnya. Ia menunggu sampai Angie sendiri menggeser jemari mendekat. Baru setelah itu ia menggenggamnya.
"Saat masuk air, saya hanya berpikir kepala Guai tidak boleh tenggelam," bisik Angie. "Saya tidak ingat bagaimana rasanya naik."
"Saya ingat."
"Apa?"
Rahang Hansen mengeras. "Saya melihat kalian jatuh dan untuk satu detik saya tidak bisa mendengar apa pun. Saya tidak tahu apakah saya akan mencapai kalian."
"Tapi Anda mencapai kami."
"Satu detik itu tetap terlalu lama."
Angie meremas tangannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Hansen sebagai orang yang selalu mampu mengendalikan keadaan. Ia melihat ketakutan yang masih tinggal di balik wajah tenangnya.
"Kami selamat," katanya. "Anda juga tidak boleh menghukum diri sendiri dengan kemungkinan yang tidak terjadi."
Hansen mengenali kalimatnya sendiri dan mengembuskan napas pendek. "Kau memakai perkataan saya untuk melawan saya."
"Berarti perkataan itu cukup bagus."
Pintu ruang periksa terbuka dan Meilin masuk masih mengenakan gaun pesta, meski selendang tebal menutupi bahunya. Riasannya telah pudar. Ia membawa sandal datar milik Angie yang tertinggal di mobil.
"Dokter bilang kau menghirup air," katanya.
"Hanya iritasi ringan."
"Jangan meniruku. Aku sudah terlalu sering menyebut masalah besar sebagai hal kecil."
Meilin meletakkan sandal di dekat ranjang, lalu menatap Hansen. "Aku ingin bicara dengan Angie."
"Saya tetap di sini."
"Biarkan dia memutuskan."
Angie menyentuh tangan Hansen. "Tidak apa-apa."
Setelah Hansen berjalan ke dekat pintu, Meilin duduk. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang plester di kaki Angie.
"Aku yang meminta kalian membiarkan Celine menggendong Guai," katanya. "Aku ingin semua orang melihat dan menghentikan gosip. Kalau aku tidak ikut menekanmu..."
"Nyonya tidak tahu dia akan melakukan itu."
"Aku tahu dia berkali-kali mengabaikan kebutuhan Guai, tapi tetap memberinya kesempatan demi wajah keluarga."
Angie tidak buru-buru menghibur. "Saya juga menyerahkan Guai karena takut dianggap merebut anak. Kami berdua mengabaikan rasa tidak nyaman untuk memenuhi penilaian orang lain."
Meilin mengangkat mata, mungkin tidak menyangka Angie akan menjawab sejujur itu.
"Apa kau menyalahkanku?"
"Saya marah pada keputusan itu. Tetapi yang menutup wajah Guai tetap Celine."
"Kau bisa saja mengatakan semua ini di depan polisi."
"Kalau mereka bertanya, saya akan mengatakan yang sebenarnya."
Meilin mengangguk perlahan. "Bagus. Jangan melindungi nama Liem dengan berbohong. Bahkan jika kesaksianmu membuatku terlihat buruk."
"Saya tidak ingin menjatuhkan siapa pun."
"Kebenaran bukan menjatuhkan. Orang jatuh karena perbuatannya sendiri."
Hansen kembali mendekat. "Ibu akhirnya memahami itu."
Meilin tidak membalas sindiran. Ia hanya berkata, "Tim hukum keluarga akan membantu perlindungan korban, bukan membela Celine. Aku sudah memberi instruksi."
"Terima kasih," kata Angie.
"Jangan berterima kasih dulu. Aku masih harus memperbaiki banyak hal."
Sebelum pergi ke ruang Guai, Meilin berhenti di samping Hansen. "Kau memilih perempuan yang berani mengatakan kesalahan kita di depan wajah kita."
"Itu salah satu alasannya."
"Jangan membuatnya menyesal berdiri di sisimu."
"Saya lebih takut dia tidak mau berdiri di sana lagi."
Angie mendengar jawaban itu. Detak monitor di sampingnya tiba-tiba terasa lebih keras.
Di lantai lain rumah sakit, Celine diperiksa dokter umum atas permintaan pengacaranya. Polisi berdiri di luar pintu. Ia tidak diborgol selama pemeriksaan, tetapi tidak diizinkan meninggalkan area.
"Aku mengalami serangan panik," katanya kepada dokter. "Aku tidak sadar tanganku menutup wajah Guai."
Dokter menatap catatan tanda vital. "Serangan panik dapat menyebabkan sesak, gemetar, dan rasa kehilangan kendali. Penilaian mengenai tindakan Anda menjadi urusan pemeriksaan psikiatri dan penyidik. Saya tidak bisa menyimpulkan bahwa Anda tidak sadar hanya dari pengakuan."
"Tapi aku ibunya."
"Saya merawat kondisi medis Anda, bukan menentukan hubungan keluarga."
Ketika dokter keluar, Margaret masuk bersama pengacara.
Celine segera bangkit. "Bawa aku pulang."
"Duduk," kata Margaret.
"Polisi punya pesan suara Mama."
"Hanya potongan notifikasi. Mereka belum membuktikan suara siapa pun."
"Nama pengirimnya Mama."
"Ada jutaan orang menyimpan nomor dengan nama itu."
Celine menatap perban di tangan Margaret. "Mama menyuruhku menghilangkan saputangan."
Pengacara berdeham. "Jangan membahas materi perkara tanpa perlindungan kerahasiaan yang jelas."
Margaret mendekat hingga hanya Celine yang mendengar. "Kau seharusnya membuang benda itu sebelum mereka mengambilnya."
"Aku ditahan dua petugas."
"Karena kau panik dan melakukan semuanya di depan puluhan kamera."
"Mama yang menyuruhku mempertahankan Guai."
"Aku tidak pernah menyuruhmu membuatnya berhenti bernapas."
"Jadi sekarang semua salahku?"
"Kalau kau ingin keluar dari sini, berhenti bertanya dan ikuti pengacara."
Celine menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa darah. Ia kembali duduk, sadar bahwa Margaret sedang membangun jarak antara perintah dan tindakan. Kalau perlu satu orang dikorbankan, orang itu pasti dirinya.
Penyidik kemudian masuk dan menjelaskan bahwa bukti awal cukup untuk melanjutkan pemeriksaan dugaan kekerasan terhadap anak. Pengacara mengajukan penangguhan dengan alasan kesehatan, tetapi keputusan tidak diberikan malam itu. Celine tetap berada dalam pengawasan polisi di rumah sakit, lalu akan dipindahkan sesuai hasil pemeriksaan.
"Hak saya sebagai wali Guai bagaimana?" tanyanya.
"Status perdata tidak kami putuskan malam ini," jawab penyidik. "Namun berdasarkan risiko keselamatan dan permintaan ayah anak, Anda dilarang menghubungi atau mendekati korban selama penyidikan awal."
Margaret tidak memprotes larangan itu. Ia hanya bertanya dokumen apa yang diperlukan untuk meninjau kembali pembatasan tersebut.
Setelah penyidik keluar, Celine menatap ibunya. "Mama akan mengurus hakku, kan?"
"Tentu. Selama statusmu sebagai wali masih tercatat, kita masih punya pintu masuk."
"Mereka melarangku mendekat."
"Larangan sementara bukan pencabutan hak."
"Apa Mama ingin mengambil Guai lagi setelah semua ini?"
Margaret merapikan selimut di kaki Celine seolah sedang menunjukkan kasih sayang kepada pengacara di balik kaca. "Guai adalah satu-satunya pengikat yang masih bisa memaksa keluarga Liem bernegosiasi."
"Dia hampir mati."
"Tapi belum mati. Sekarang berhenti bicara sebelum kau mengatakan sesuatu yang benar-benar merugikan kita."
Celine memejamkan mata. Bagi Margaret, hidup Guai tetap hanya angka dalam sebuah transaksi.
Menjelang dini hari, saturasi Angie kembali normal tanpa oksigen. Ia diizinkan pindah ke kamar pendamping yang terhubung dengan ruang observasi Guai. Lina sudah datang membawa pakaian, popok, dan seluruh catatan kesehatan bayi.
"Tuan Kecil baru menyusu sedikit dan tidak muntah," lapor Lina. "Sekarang tidur."
Angie mengusap kepala Guai. "Terima kasih sudah datang."
"Bu Angie seharusnya berbaring juga."
"Kalian semua bekerja sama mengatur saya."
"Karena Bu Angie tidak pernah menurut kalau menyangkut diri sendiri," jawab Lina, meniru nada Hansen.
Hansen hampir tersenyum. Ia membantu Angie berbaring di sofa panjang tanpa menyentuh luka kakinya, lalu menarik kursi ke antara sofa dan ranjang bayi.
"Anda tidak tidur?" tanya Angie.
"Nanti."
"Kalau Anda jatuh sakit, siapa yang mengatur kami?"
"Pak Hasan. Dia jauh lebih menakutkan."
Untuk beberapa menit, ketegangan mencair. Angie menutup mata, masih memegang ujung selimut Guai.
Di luar ruang observasi, seorang perempuan berseragam petugas transportasi pasien berhenti di depan papan jadwal. Kartu identitasnya terlihat sah, tetapi foto di kartu tidak sama dengan wajahnya.
Ia pernah bekerja sebagai pelayan harian di hotel pada acara besar. Margaret membayar utangnya sebulan lalu dan menyimpan fotokopi identitasnya. Malam ini, ia masuk ke rumah sakit menggunakan seragam pinjaman serta kartu yang dilapisi foto baru.
Di meja perawat, ia mendengar jadwal pemeriksaan radiologi Guai pukul delapan pagi. Ia lalu mencuri formulir pemindahan kosong dari troli administrasi dan menyalin tanda tangan petugas pada lembar sebelumnya.
"Keluarga pasien meminta pemeriksaan lebih awal," katanya kepada petugas malam.
"Tidak ada perubahan di sistem," jawab petugas.
"Saya akan kembali setelah dokter memasukkan perintah."
Ia tersenyum, berjalan menjauh, lalu membuang sarung tangan yang menyimpan bekas tinta tanda tangan ke tempat sampah berbeda.
Ia memotret nomor kamar Guai, lalu mengirim pesan singkat.
`Pasien stabil. Jalur pemindahan siap besok pagi.`
Balasan datang dari nomor tanpa nama.
`Ambil anaknya. Biarkan semua orang menyalahkan Angie.`