NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Dua Wajah

Pukul delapan tepat, pintu ruang rapat lantai empat puluh satu NusAir tertutup.

Kaizan duduk di kursi utama dengan setelan abu-abu gelap, jam tangan yang sehari-hari disembunyikan di bawah lengan kaus kini terlihat jelas. Layar besar di belakangnya menampilkan angka kerugian, daftar rute yang tidak efisien, dan struktur jabatan yang akan diperiksa ulang.

Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang memanggilnya Kai.

"Tiga tahun," katanya. "Selama tiga tahun, biaya operasional naik, laporan keselamatan dimanipulasi, dan promosi diberikan tanpa indikator kinerja yang bisa diaudit. Siapa yang mau menjelaskan?"

Belasan direktur dan kepala divisi saling berpandangan. Pendingin ruangan terasa terlalu dingin, tetapi seorang eksekutif di sisi kanan tetap menyeka pelipis.

"Pak Kaizan, transisi setelah akuisisi memang membutuhkan waktu."

"Akuisisi selesai sebelas bulan lalu." Kaizan menutup satu berkas. "Berapa lama lagi yang Anda butuhkan untuk berhenti menyebut kelalaian sebagai transisi?"

Tak ada jawaban.

Moreno berdiri di samping layar. Dengan satu sentuhan, dia menampilkan daftar pengaduan internal yang belum ditindaklanjuti.

"Mulai hari ini, audit kepatuhan dilakukan tim eksternal," lanjut Kaizan. "Semua keputusan disipliner tiga bulan terakhir ditinjau ulang. Tidak ada penghapusan rekaman, tidak ada perubahan jadwal, dan tidak ada komunikasi dengan pelapor di luar prosedur resmi."

Seorang kepala divisi membuka map biru. "Ada satu kasus yang perlu keputusan cepat, Pak. Pilot bernama Keira Liem sedang dalam pembebastugasan. Bu Wenny mengajukan rekomendasi pemutusan hubungan kerja karena perilaku tidak profesional pada acara tahunan."

Kaizan tidak langsung mengambil map itu.

"Bukti perilaku tidak profesionalnya?"

"Dia meninggalkan acara, membuat keributan dengan seorang direksi, lalu membawa masalah ke keamanan hotel."

"Jadi korban yang meminta bantuan dianggap membuat keributan."

Pria itu menelan ludah. "Saya hanya membaca laporan yang masuk."

"Kalau begitu mulai membaca laporan dari kedua pihak."

Kaizan membuka berkas. Di halaman kedua ada tanda tangan Wenny Sutanto. Rekomendasi pemecatan diajukan kurang dari tiga jam setelah Keira dibawa ke rumah sakit.

"Bekukan rekomendasi ini. Pertahankan pembebastugasan hanya sampai pemeriksaan keselamatan dan kesehatan selesai. Setelah itu, hak terbangnya ditentukan berdasarkan bukti, bukan dendam pribadi."

"Baik, Pak Kaizan."

"Dan periksa siapa yang memberi Bu Wenny akses membuat rekomendasi untuk personel penerbangan."

Beberapa wajah berubah pucat.

Kaizan membuka halaman terakhir. "Selama peninjauan, Keira tidak boleh dihubungi langsung oleh orang yang dilaporkan. Semua komunikasi melalui HR dan tim kepatuhan. Akses ke jadwal, rekaman simulator, hasil pemeriksaan kesehatan, serta berkas pribadinya dibatasi."

Seorang direktur hukum mengangkat tangan. "Pak Kaizan, tindakan itu bisa dianggap terlalu memihak sebelum investigasi selesai."

"Membatasi kontak bukan putusan bersalah. Itu pencegahan pembalasan terhadap pelapor."

"Bagaimana dengan hak pihak terlapor?"

"Mereka mendapat kesempatan menjawab melalui proses resmi. Yang tidak mereka dapatkan adalah kesempatan mengubah bukti atau menekan korban."

Moreno menampilkan catatan akses digital di layar. Ada beberapa percobaan membuka berkas Keira setelah tengah malam.

"Cadangkan seluruh log ke server terpisah," kata Kaizan. "Kalau ada satu menit rekaman yang hilang, audit diperluas ke unit teknologi informasi."

Direktur hukum menunduk. "Dipahami."

"Satu lagi. Setelah dokter penerbangan menyatakan kondisinya pulih, lakukan evaluasi kompetensi standar. Kalau Keira gagal, catat kegagalannya. Kalau dia lulus, kembalikan hak terbangnya. Tidak ada nilai hadiah karena dia korban, dan tidak ada hukuman karena dia berani melapor."

Kali ini semua orang menjawab serempak, "Baik, Pak Kaizan."

Kaizan menutup map. "Rapat berikutnya besok pukul tujuh. Kalau ada data yang hilang sebelum itu, orang yang bertanggung jawab tidak perlu datang membawa alasan. Bawa surat pengunduran diri."

Dia berdiri. Semua orang ikut bangkit hampir bersamaan.

"Terima kasih, Pak Kaizan."

Kaizan keluar melalui koridor eksekutif bersama Moreno. Pintu lift privat terbuka tanpa perlu menekan tombol.

"Tim eksternal sudah tiba," kata Moreno. "Rekaman hotel juga sedang diminta melalui jalur resmi."

"Pastikan Keira dinilai dokter penerbangan sebelum kembali ke kokpit. Jangan biarkan siapa pun menyebut ini bantuan khusus."

Moreno meliriknya. "Padahal memang khusus."

Kaizan menatap lurus ke depan. "Ini koreksi atas proses yang rusak."

"Tentu, Bos. Sangat objektif."

Pintu lift menutup sebelum Kaizan sempat membalas.

Di lantai tujuh belas, satu jam kemudian, Keira duduk di ruang tunggu HR dengan map rumah sakit di pangkuan. Area itu terpisah enam belas lantai dari kantor operasional penerbangan dan dua puluh empat lantai dari ruang eksekutif. Karyawan biasa tidak dapat mencapai lantai empat puluh satu tanpa kartu akses khusus.

"Bu Keira, dokumen keberatan Anda sudah kami terima," kata petugas HR. "Pemeriksaan ulang sedang dilakukan. Untuk sementara, Anda tetap tidak boleh masuk area operasional."

"Berapa lama?"

"Kami belum bisa memberi tanggal. Tapi ada instruksi baru agar seluruh kasus disipliner diproses maksimal dua hari kerja."

Itu jauh lebih cepat dari prosedur biasanya.

Keira memasukkan tanda terima ke map. "Siapa yang memberi instruksi?"

Petugas itu merendahkan suara. "Manajemen baru. Pak Kaizan sedang membersihkan banyak hal."

Nama itu membuat bahu Keira tegak. "Kaizan Tanujaya ada di gedung ini?"

"Katanya begitu. Tapi beliau pakai lift privat. Kami juga belum pernah melihat wajahnya jelas."

Saat Keira keluar, pintu lift di ujung koridor terbuka sesaat. Seorang pria tinggi bersetelan abu-abu berjalan masuk bersama beberapa eksekutif. Hanya punggung dan garis rahangnya yang terlihat sebelum pintu kembali tertutup.

Keira berhenti.

Postur itu terasa akrab.

"Bu Keira?" Petugas HR memanggil dari belakang. "Tanda tangan Anda tertinggal."

Ketika Keira menoleh lagi, lift itu sudah naik.

Malamnya, aroma nasi goreng memenuhi apartemen.

Kai duduk di meja makan dengan kaus hitam murah dan rambut sedikit berantakan. Setelan tajam, ruang rapat, dan lift privat seolah tidak pernah ada.

Keira meletakkan dua piring, lalu melihat kantong belanja di samping kulkas. "Kamu membeli daging impor?"

"Diskon."

"Berapa?"

"Tidak penting."

"Kamu belum punya pekerjaan. Semua harga penting."

Kai mengambil sendok. "Aku akan membayar bagianku."

"Dengan apa? Senyum?"

"Kalau senyumku cukup mahal, boleh juga."

Keira menendang kakinya di bawah meja. Kai menerima serangan itu sambil mulai makan.

"Besok aku buat daftar anggaran," kata Keira. "Makan di luar maksimal sekali seminggu. Kopi mahal tidak perlu. Langganan aplikasi yang tidak dipakai dibatalkan."

"Baik."

"Jangan jawab baik kalau nanti dilanggar."

"Baik, Bu Pemilik Rumah."

Keira hendak memarahinya lagi, tetapi ponselnya berbunyi. Surel dari NusAir memberi tahu bahwa keberatannya sedang diproses dengan prioritas dan keputusan akan keluar esok pagi.

Matanya langsung cerah.

"Ada kabar bagus?" tanya Kai.

"Mungkin." Keira duduk di seberangnya. "Manajemen baru membekukan semua keputusan disipliner. Katanya Pak Kaizan sedang membersihkan perusahaan."

Kai mengunyah dengan tenang. "Kedengarannya dia tahu pekerjaannya."

"Tentu saja."

"Kamu bahkan belum pernah melihatnya bekerja."

"Aku hampir melihatnya hari ini." Keira menopang dagu, mengingat sosok di ujung koridor. "Cuma dari belakang."

Sendok Kai berhenti setengah jalan.

Keira menyipitkan mata kepadanya.

"Aneh," gumamnya. "Punggung Pak Kaizan mirip sekali denganmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!