NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Rahasia yang Berlumpur

"Sepatu hamba hancur, Nona. Ini adalah sepatu kulit domba kualitas menengah yang hamba beli dengan sisa gaji bulan lalu. Sekarang warnanya sudah berubah menjadi cokelat kotoran sapi."

​Suara gerutuan Odette memecah kesunyian malam di jalanan sempit yang berbau garam dan ikan busuk. Pelayan kecil itu mengangkat ujung rok kain wol kasarnya tinggi-tinggi. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, berusaha menghindari kubangan lumpur hitam yang memenuhi setiap lubang di jalanan pelabuhan pesisir timur Montmirail.

​Geneviève berjalan di depannya dengan langkah yang jauh lebih stabil. Ia mengenakan jubah tenun berwarna abu-abu pudar yang sangat gatal dan tidak nyaman. Tudung jubah itu ditarik hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Sesuai aturan tidak tertulis kekaisaran, bangsawan dilarang keras terlihat berkeliaran di area kumuh tanpa pengawalan ksatria berseragam. Jika Geneviève ingin menyelidiki penjarahan aset keluarganya tanpa memicu kecurigaan faksi Putri Mahkota Camille, ia harus turun tangan langsung dalam balutan pakaian rakyat jelata.

​"Berhentilah mengeluh tentang sepatumu, Odette," ucap Geneviève pelan tanpa menoleh. "Aku akan mengganti sepatumu dengan sepuluh pasang sepatu kulit rusa terbaik dari ibu kota setelah kita mendapatkan kembali uang pelabuhan ini."

​Mendengar janji sepuluh pasang sepatu baru, Odette langsung menurunkan rok wolnya sedikit. Senyum semringah muncul di wajahnya.

​"Janji seorang putri Duke adalah hutang emas, Nona," balas Odette riang. "Hamba rela berenang di lumpur ini jika itu berarti hamba akan mendapatkan sepatu gratis. Tetapi sungguh, apakah jalanan pelabuhan utama keluarga Montmirail selalu seburuk ini? Kuda kereta sewaan kita bahkan nyaris terperosok ke dalam lubang di gerbang kota tadi."

​Langkah Geneviève terhenti sejenak. Ia menatap jalanan berbatu di bawah kakinya yang hancur berantakan. Genangan air kotor memantulkan cahaya redup dari lentera minyak yang tergantung di depan kedai minum pinggir jalan.

​Rasa frustrasi yang luar biasa pekat kembali meremas dada Geneviève.

​"Tidak seharusnya seburuk ini, Odette," jawab Geneviève dengan rahang mengeras. Ia menunjuk ke arah dermaga gelap di ujung jalan. "Dua bulan yang lalu, ayahku menandatangani persetujuan pencairan dana sebesar empat puluh ribu koin emas yang diajukan oleh Walikota pesisir ini. Dalam laporannya, uang itu digunakan untuk meratakan jalanan pelabuhan dengan batu granit baru dan membangun penerangan jalan yang layak."

​Odette membelalakkan matanya. Ia menatap sekelilingnya yang gelap gulita, kumuh, dan berbau pesing. "Empat puluh ribu koin emas? Nona, bahkan dengan empat ribu koin emas saja, kita bisa menyewa seratus kuli untuk menyusun batu jalanan ini sampai mengilap. Ke mana perginya uang puluhan ribu itu?"

​"Masuk ke dalam perut buncit sang Walikota dan mengalir ke brankas rahasia paman Putri Mahkota Camille," desis Geneviève dingin.

​Ia kembali melangkah maju, mempercepat tempo berjalannya. Semakin banyak ia melihat kondisi pelabuhan ini secara langsung, semakin ia menyadari betapa parahnya korupsi yang terjadi.

​Kapal-kapal dagang yang bersandar di dermaga terlihat kusam dan kayunya mulai melapuk. Padahal, laporan buku kas yang ia baca di rumah menyebutkan adanya biaya pemeliharaan kapal secara rutin dengan angka yang fantastis. Para pekerja pelabuhan yang duduk di depan kedai terlihat kurus dan kelelahan, memakai baju compang-camping. Wilayah pesisir yang seharusnya menjadi tambang uang bagi keluarga Montmirail kini tidak lebih dari sekadar sapi perah yang disiksa hingga nyaris mati oleh faksi kerajaan.

​"Mereka benar-benar lintah yang menjijikkan," gerutu Odette saat melihat seorang anak kecil berlari tanpa alas kaki melintasi lumpur. "Gelar bangsawan mereka sangat tinggi, mereka memakai sutra putih dan tersenyum seperti malaikat di istana, tetapi mereka membiarkan rakyat pekerja kelaparan di sini."

​"Itulah sebabnya kita ada di sini malam ini," ucap Geneviève. Ia berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit oleh dua bangunan bata merah. "Kita tidak bisa menyeret Walikota ke pengadilan kekaisaran hanya dengan mengandalkan buku kas yang ada di ibu kota. Buku itu sudah disahkan secara hukum oleh Menteri Perdagangan. Kita butuh buku catatan ganda miliknya. Buku yang mencatat aliran dana korupsi yang sebenarnya."

​"Dan Anda yakin Walikota rakus itu menyimpannya di balai kota?" tanya Odette waspada, tangannya mulai merogoh saku dalam jubah wol kasarnya, memastikan kunci inggris setianya berada di tempat yang mudah dijangkau.

​"Pejabat korup memiliki ego yang sangat besar, Odette," jawab Geneviève dengan senyum sinis. "Mereka tidak akan memercayakan catatan harta gelap mereka kepada istri atau pelayan di rumah pribadi. Mereka akan menyimpannya di tempat mereka merasa paling berkuasa. Balai kota adalah kerajaannya."

​Mereka berdua tiba di ujung gang. Tepat di seberang jalan yang sepi, berdirilah bangunan Balai Kota Pesisir Montmirail.

​Bangunan itu terlihat sangat kontras dengan kondisi pelabuhan di sekitarnya. Dindingnya terbuat dari batu pualam putih yang bersih. Pilar-pilarnya menjulang tinggi menopang atap bergaya klasik. Lampu kristal besar menyala terang di area pintu utama, dijaga oleh dua orang prajurit berseragam lengkap yang tampak mengantuk. Uang korupsi itu jelas digunakan untuk memperindah tempat kerja sang Walikota.

​"Penjagaan di pintu depan terlalu terang, Nona," bisik Odette dari balik bayangan gang. "Apakah kita harus melempar batu ke arah lain untuk mengecoh mereka?"

​"Itu taktik yang terlalu kuno. Kita gunakan pintu belakang yang biasa dipakai oleh para pelayan dapur dan tukang bersih-bersih," arahkan Geneviève.

​Mereka mengendap-endap menyusuri bagian samping bangunan, bersembunyi di balik semak belukar hias yang dipangkas rapi. Sesampainya di pintu kayu berwarna cokelat gelap di area belakang, Geneviève memberi isyarat dengan anggukan kepalanya.

​Odette maju tanpa ragu. Ia melepaskan sebuah jepit rambut kawat dari balik tudungnya. Dengan gerakan yang sangat terlatih, pelayan itu memasukkan kawat tersebut ke dalam lubang kunci.

​"Kau benar-benar serba bisa, Odette," puji Geneviève dengan suara berbisik.

​"Pelayan rumah bangsawan harus tahu cara membuka pintu terkunci, Nona," jawab Odette santai, lidahnya sedikit menjulur keluar saat ia berkonsentrasi. "Terkadang para nyonya bangsawan mengunci diri di kamar dan menangis karena suami mereka membawa selingkuhan. Kami harus bisa masuk untuk memastikan mereka tidak menelan racun serangga. Selesai."

​Terdengar bunyi klik yang sangat pelan. Pintu kayu itu terbuka sedikit.

​Mereka menyelinap masuk ke dalam lorong yang gelap dan pengap. Bau lilin yang baru saja dipadamkan menguar di udara. Geneviève memimpin jalan, mengandalkan ingatannya tentang denah standar balai kota yang pernah ia pelajari dari dokumen ayahnya. Kantor utama walikota pasti berada di lantai dua, di ruangan dengan balkon yang menghadap langsung ke arah laut.

​Langkah kaki mereka tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sepatu boot Geneviève yang terbuat dari bahan lembut meredam suara, sementara Odette memang sudah terlatih berjalan layaknya hantu di kediaman bangsawan.

​Mereka menaiki tangga spiral dari batu pualam. Tidak ada penjaga di lantai dua. Sepertinya Walikota merasa terlalu aman di wilayahnya sendiri hingga tidak menempatkan penjaga ekstra di area dalam.

​Geneviève berhenti di depan sebuah pintu kayu ganda yang sangat besar dan berlapis pernis mengilap. Ia memutar gagang pintu itu secara perlahan. Tidak terkunci. Sang Walikota rupanya sangat arogan.

​Mereka masuk dan Geneviève menutup pintu kembali dengan hati-hati.

​Ruang kerja Walikota itu luar biasa mewah. Karpet tebal berwarna merah marun menutupi seluruh lantai. Rak buku dari kayu mahoni berjejer rapi di sisi kiri dan kanan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu eboni hitam yang sangat langka.

​"Pria ini benar-benar tidak tahu malu," desis Odette. Ia menyalakan sebuah lentera minyak kecil yang ia bawa, mengatur apinya agar tidak terlalu terang. "Meja eboni ini harganya setara dengan biaya makan seluruh pekerja pelabuhan selama setahun penuh. Hamba benar-benar ingin menggores meja ini dengan pisau daging."

​"Simpan tenagamu, Odette. Mulai cari," perintah Geneviève dingin. Ia berjalan ke arah meja kerja. "Buka setiap laci. Periksa bagian bawah meja. Pejabat korup menyukai ruang rahasia."

​Geneviève mulai membuka laci-laci meja dengan cepat dan sistematis. Ia mengabaikan tumpukan kertas laporan pajak harian dan dokumen persetujuan layar. Mata telanjangnya mencari kejanggalan. Ia meraba bagian bawah laci, menekan panel kayu di sisi meja, mencari mekanisme tersembunyi. Namun ia tidak menemukan apa-apa.

​"Tidak ada di meja," lapor Geneviève.

​Odette sedang meraba-raba rak buku di sebelah kanan ruangan. Ia menarik beberapa buku tebal secara acak, berharap ada buku palsu yang berfungsi sebagai tuas rahasia seperti yang sering ia dengar dari cerita rakyat jelata.

​"Rak buku ini juga bersih, Nona. Hanya berisi buku-buku puisi kuno yang hamba yakin tidak pernah dibaca oleh pria buncit itu," jawab Odette. Pelayan itu kemudian mengarahkan lenteranya ke dinding bagian belakang ruangan, tepat di belakang kursi Walikota.

​Di sana, tergantung sebuah lukisan besar yang menampilkan sosok Walikota yang sedang berpose gagah dengan latar belakang kapal perang. Lukisan itu sangat norak dan berlebihan, membuat proporsi tubuh sang Walikota terlihat sangat dipaksakan agar tampak kekar.

​"Nona, apakah Anda ingat saat kita membersihkan kamar Anda minggu lalu?" panggil Odette dengan nada curiga.

​Geneviève menoleh dan menatap lukisan itu. Logikanya langsung menyambungkan petunjuk tersebut. Orang-orang narsis yang memiliki rahasia cenderung menggunakan pola pikir yang sama. Mereka suka menyembunyikan hal terpenting mereka di balik wajah mereka sendiri.

​"Periksa bagian belakang lukisan itu," perintah Geneviève seraya berjalan mendekat.

​Odette menyerahkan lenteranya kepada Geneviève. Dengan satu tarikan napas panjang, Odette mengayunkan tangannya dan menarik sisi kanan bingkai lukisan tersebut. Bingkai itu berayun ke depan layaknya sebuah pintu, persis seperti mekanisme yang ada di kamar Geneviève.

​Di balik lukisan norak itu, tertanam sebuah brankas besi berwarna perak kusam yang menyatu kuat dengan susunan batu bata dinding. Brankas itu memiliki piringan angka mekanis yang terlihat sangat rumit.

​"Ketemu," ucap Odette penuh kemenangan. "Tetapi ini adalah brankas putar dengan kombinasi angka dari benua utara. Hamba tidak bisa membukanya menggunakan jepit rambut kawat, Nona. Kita butuh bahan peledak atau palu godam raksasa."

​Geneviève mendekatkan lentera minyak itu ke arah brankas. Ia mengamati piringan angka tersebut dengan saksama. Kombinasi mekanis tiga tingkat. Jika ia harus mencoba setiap angka, mereka akan menghabiskan waktu berhari-hari di ruangan ini.

​"Mundur sedikit, Odette," ucap Geneviève santai.

​"Nona? Anda tahu kombinasi angkanya? Apakah Anda diam-diam belajar seni mencuri dari serikat pencuri ibu kota?" tanya Odette takjub.

​"Tidak perlu belajar ilmu pencuri jika kau berhadapan dengan orang bodoh," jawab Geneviève dingin. Ia memutar piringan pertama ke angka lima. "Pejabat yang menempatkan brankas rahasianya di balik lukisan wajahnya sendiri adalah orang yang sangat terobsesi pada dirinya sendiri."

​Geneviève memutar piringan kedua. Angka sebelas. "Orang narsis tidak memiliki memori yang baik untuk angka acak. Mereka selalu menggunakan angka yang berkaitan erat dengan ego mereka."

​Ia memutar piringan ketiga. Angka empat. "Ulang tahun sang Walikota adalah tanggal lima bulan sebelas. Dan ia diangkat menjadi walikota pada tahun keempat pemerintahan Raja saat ini. Lima, sebelas, empat."

​Terdengar bunyi dentingan besi logam berat yang saling bertaut di dalam pintu brankas tersebut. Bunyi yang sangat merdu di telinga Geneviève. Ia meraih gagang besi bundar itu dan memutarnya ke kanan. Pintu brankas yang tebal itu terbuka dengan mulus tanpa perlawanan.

​Odette menahan napasnya karena saking kagumnya. "Anda sangat mengerikan, Nona. Hamba bersumpah tidak akan pernah menyembunyikan uang koin hamba dari Anda."

​Geneviève menyerahkan lentera itu kembali kepada Odette. Tangannya merogoh ke dalam brankas gelap tersebut. Ia tidak memedulikan beberapa kantong beludru kecil yang terdengar berdenting seperti koin emas saat tersenggol. Targetnya bukanlah uang receh sang Walikota. Targetnya adalah bukti.

​Jari Geneviève menyentuh sebuah buku tebal bersampul kulit merah yang disembunyikan di bagian paling belakang brankas. Ia menariknya keluar.

​Ia membuka halaman pertama buku itu di bawah cahaya redup lentera. Matanya bergerak cepat membaca barisan tulisan tangan yang sedikit berantakan. Deretan angka yang sebenarnya. Dana yang masuk dari ibu kota dicatat secara utuh, lalu disandingkan dengan kolom pengeluaran yang sesungguhnya.

​"Pemeliharaan tiang layar, dua ratus koin perak. Keamanan gudang, lima ratus koin perak," baca Geneviève pelan. Senyum predator yang sangat mematikan terbentuk di wajah cantiknya. "Sisa dana sebesar sembilan belas ribu delapan ratus koin emas disetorkan ke rekening anonim milik Marquis de Chanteclair di serikat dagang bawah tanah."

​"Kita mendapatkan mereka, Nona," bisik Odette bersemangat. "Buku ini adalah pisau yang akan memotong leher mereka di pengadilan."

​Geneviève menutup buku kulit merah itu dan menyembunyikannya di balik jubah wolnya. Ia merasa beban finansialnya sedikit terangkat. Dengan buku ini, ia bisa memeras faksi kerajaan untuk mengembalikan seluruh uangnya, atau ia akan menghancurkan citra suci Putri Mahkota di depan seluruh rakyat kekaisaran.

​"Ayo pergi, Odette. Udara di ruangan ini membuatku mual," perintah Geneviève. Ia berbalik untuk menutup kembali pintu brankas.

​Namun, sebelum tangan Geneviève menyentuh gagang brankas, pintu ganda ruang kerja Walikota didobrak dengan sangat brutal dari arah luar.

​Bunyi kayu tebal yang berderak patah menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Pintu itu terbanting menghantam dinding dengan keras.

​Odette refleks melompat ke depan Geneviève. Pelayan itu membuang lentera minyaknya ke sudut ruangan agar padam, lalu menarik keluar kunci inggris besinya dalam satu tarikan napas. Postur tubuh Odette seketika berubah menjadi kuda-kuda bertarung khas petarung jalanan.

​Dari ambang pintu yang remang-remang, melangkah masuk empat orang pria bertubuh kekar. Mereka tidak mengenakan seragam prajurit kota maupun zirah ksatria kekaisaran. Mereka mengenakan pakaian kulit gelap berlapis pelat besi tipis, dengan berbagai macam senjata tajam yang tergantung secara sembarangan di pinggang mereka.

​Tentara bayaran ilegal. Seseorang telah menyewa pasukan pembunuh bayaran untuk menjaga ruangan ini secara diam-diam. Penjaga di lantai bawah hanyalah pajangan.

​"Yah, yah, yah. Lihat apa yang kita temukan malam ini," ucap pria paling besar yang memimpin kelompok itu. Suaranya serak dan berat, diiringi seringai menjijikkan yang memamerkan gigi kuningnya. Ia menarik sebuah pedang lebar yang berkarat dari sarungnya. "Dua ekor tikus kecil berbaju gembel yang masuk perangkap. Bos Walikota pasti akan memberi kita bonus besar jika kita memotong tangan kalian hidup-hidup."

​Geneviève mundur selangkah, memastikan buku merah itu aman di balik jubahnya. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Mereka terjebak di lantai dua, dan jendela di belakang mereka tertutup rapat.

​Odette memutar kunci inggris di tangannya dengan tatapan membunuh. "Nona, tetap berada di belakang hamba. Hamba mungkin akan sedikit merusak karpet mahal ini dengan darah kotor mereka."

​Keempat pembunuh bayaran itu tertawa meremehkan. Pria besar di depan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan melangkah maju, siap menebas leher pelayan kecil yang berani menantangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!