NovelToon NovelToon
Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepolosan Yang Menyembuhkan

​Mobil Noval berhenti tepat di depan gerbang sebuah TK bernuansa ceria. Tak butuh waktu lama, sosok kecil Arka berlari keluar dari area kelas sembari menggendong tas punggungnya. Binar bahagia memancar dari mata bocah itu saat melihat ibunya berdiri menunggunya dengan senyum terkembang.

​"Mama!" seru Arka riang, memeluk erat pinggang Nindya.

​Nindya berlutut, memeluk dan mencium lembut pipi putranya. "Hai Pangeran Mama... Gimana sekolahnya hari ini?"

​"Seru, Ma! Eh, ada Om Noval juga!" Arka melambaikan tangan kecilnya pada Noval yang berdiri di samping mobil sembari tersenyum hangat.

​"Hai, Arka. Hari ini Om ikut jemput karena ada kejutan buat Arka," ujar Noval ramah sembari mengusap rambut Arka.

​Dari sekolah Arka, mereka bertiga melaju menuju rumah yang selama ini ditempati Nindya bersama Haris. Suasana rumah terasa begitu sepi dan dingin saat Nindya memutar kunci pintu utama. Tak ada lagi rasa cemas atau ganjalan di dadanya saat melangkah masuk.

​Dengan sigap dan dibantu oleh Noval, Nindya mulai mengemas barang-barangnya dan barang Arka. Ia hanya mengambil pakaian, dokumen penting, serta benda-benda yang memiliki nilai kenangan manis murni bersama anaknya. Semua barang, perhiasan, maupun pemberian dari Haris ia tinggalkan begitu saja di dalam lemari. Nindya tidak ingin membawa sedikit pun remah-remah masa lalu yang beracun ke dalam kehidupan barunya.

​"Sudah semuanya, Nin?" tanya Noval sembari memindahkan dua koper besar ke dalam bagasi mobil.

​Nindya menatap ke sekeliling sudut rumah itu untuk terakhir kalinya. Tidak ada tangisan, hanya sebuah helaan napas lega. "Sudah, Val. Tidak ada lagi yang perlu kubawa dari tempat ini."

​Nindya memutar kunci dan meletakkannya di atas meja konsol di dekat pintu, lalu menguncinya rapat dari luar. Ia resmi melangkah pergi.

​Noval kemudian mengantar Nindya dan Arka menuju sebuah kompleks apartemen modern yang sangat nyaman. Apartemen ini menjadi pilihan sempurna bagi Nindya: lokasinya hanya berjarak lima menit dari toko emas tempatnya bekerja, dan sangat dekat dengan sekolah Arka.

​Saat pintu unit apartemen di lantai enam itu terbuka, aroma ruangan yang segar dan pemandangan jendela yang memperlihatkan pemandangan kota langsung menyambut mereka. Unit itu sudah berperabot lengkap, bersih, dan memancarkan suasana yang sangat hangat.

​"Wah! Rumah barunya bagus banget, Ma!" seru Arka kegirangan, langsung berlari kecil mengitari ruang tengah yang luas.

​Nindya tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya di dekat jendela sembari memperhatikan Arka yang tampak sangat gembira. Noval berjalan mendekat, berdiri di samping Nindya sembari ikut menatap Arka.

​"Bagaimana, Nin? Kamu suka tempatnya?" tanya Noval lembut.

​Nindya menoleh pada Noval dengan mata berbinar penuh rasa syukur. "Sangat suka, Noval. Tempat ini terasa sangat tenang... benar-benar sebuah awal yang baru untukku dan Arka."

​"Ini baru permulaan dari semua hal baik yang pantas kamu dapatkan, Nindya," balas Noval tulus.

​Malam itu, di bawah naungan atap tempat tinggal barunya yang aman dan penuh kedamaian, Nindya menyadari satu hal: keberaniannya untuk melepaskan pengkhianatan Haris telah membawanya pada kebebasan dan kebahagiaan sejati yang selama ini ia impikan.

​Suasana malam di unit apartemen baru itu begitu tenang. Lampu-lampu kota membiaskan cahaya hangat melalui jendela kaca besar di ruang tengah. Setelah Noval berpamitan pulang untuk memberikan ruang bagi Nindya dan Arka berbenah, Nindya duduk di tepi ranjang sembari merapikan pakaian Arka ke dalam lemari.

​Tiba-tiba, jemari kecil Arka menarik pelan ujung baju Nindya. Bocah itu mendongak dengan mata bulatnya yang jernih, memancarkan rasa penasaran polos khas anak-anak.

​"Maaa... kenapa Papa tidak ada di sini? Apa kita cuma akan tinggal berdua saja?" tanya Arka pelan.

​Langkah Nindya seketika terhenti. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Meski hatinya telah mantap berpisah dari Haris, pertanyaan polos dari buah hatinya tetap memberi getaran kecil di dalam dadanya. Nindya berlutut di hadapan Arka, menggenggam kedua tangan mungil putranya dan menatap matanya dalam-dalam. Ia tidak ingin menanamkan kebencian, namun ia juga tidak boleh lagi memberi harapan palsu.

​Nindya mengelus lembut pipi Arka, menyunggingkan senyum paling hangat yang ia miliki.

​"Papa... sudah tidak tinggal bersama kita lagi, Sayang," jawab Nindya dengan suara yang ditata sehalus mungkin. "Tapi Arka tidak perlu sedih, ya? Mama akan selalu ada buat Arka. Dan sebagai gantinya... nanti Arka bisa bermain sama Om Noval kalau Om Noval lagi libur kerja."

​Mendengar nama Noval disebut, binar di mata Arka seketika menyala terang. Kepolosan anak kecil itu terpancar tanpa beban.

​"Horeeee!" seru Arka riang, melompat kecil di atas karpet. "Asyik! Lagian... Papa juga selama ini tidak pernah menemani Arka bermain, Ma. Papa selalu sibuk atau marah-marah."

​Ucapan jujur dan polos yang keluar dari bibir mungil Arka seketika memukul dada Nindya—bukan dengan rasa sakit, melainkan dengan pencerahan yang amat luar biasa. Air mata haru hampir saja menetes di sudut matanya.

​Selama ini, Haris selalu bersikeras bahwa keberadaannya sangat dibutuhkan oleh Arka. Namun kenyataannya, kehadiran Haris di rumah hanyalah bayangan dingin yang tak pernah benar-benar memberikan kasih sayang seorang ayah. Kehadiran tanpa kepedulian ternyata dirasakan betul oleh kepolosan Arka.

​Nindya menarik Arka ke dalam pelukannya, memeluk tubuh hangat itu dengan rasa syukur yang membuncah. Segala keraguan atau rasa bersalah yang sempat tersisa di dalam dirinya mendadak sirna tak berbekas.

​"Iya, Sayang... Sekarang ada Mama dan Om Noval yang akan selalu ada buat Arka," bisik Nindya lembut di telinga putranya.

​"Janji ya, Ma? Besok kita main Lego bareng Om Noval!" sahut Arka semangat dari balik pelukan ibunya.

​"Janji, Pangeran Mama," jawab Nindya sembari tersenyum lebar.

​Malam itu, di dalam kamar yang bersih dan hangat, Nindya menyelimuti Arka yang perlahan mulai tertidur pulas akibat kelelahan beraktivitas seharian. Nindya mengecup dahi putranya lama. Kalimat polos Arka tadi menjadi stempel penutup bahwa keputusannya meninggalkan Haris adalah tindakan paling benar yang pernah ia ambil dalam hidupnya. Masa depan Arka yang cerah dan penuh kasih sayang baru saja dimulai.

1
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Aduuh masih tidak punya malu mengharap Nindya kembali.Dalsm mimpi saja tidak akan, Haris.Kamu mengadu tentang Siska pada Nindya tidak malu diketawain dan disyukurin
sunaryati jarum
Ingin hati mau melihat Arka putranya namun kelelahan hat dan fisiknya membuatnya tidur.
sunaryati jarum
Kehancuran hidupmu yang terpampang jelas,akibat kamu tidak setia Haris.
sunaryati jarum
Bab sebelumnya bawa mobil dari taman ke kontrakan kok sekarang cari taksi.Sunnguh karma yang.ksmu terima tunai,Haris.
sunaryati jarum
Masih beruntung kamu menyesal dan sadar akan semua kesalahanmu,hingga Masi ada waktu untuk memperbaiki diri,walau sudah terlambat
sunaryati jarum
Jika niat Haris baik jangan terlalu kejam zRin,dan kamu Haris ingat Arin masih trauma akan perbuatanmu,dia tidak percaya padamu,Ris.Itulsh konsekuensi atas pengkhianatan kamu dalam rumah tanggamu.
sunaryati jarum
Haris itu ayahnya mungkin ingin memperbaiki kesalahannya,jika tidak berbuat buruk, berikan waktu Haris untuk menemui Arka putranya tapi dengan izinmu, bukan diam- diam seperti ini
sunaryati jarum
Otw bahagia Nindya dan Arka
sunaryati jarum
Nah terima dan jalani serta perbaiki diri
sunaryati jarum
Simpan penyesalanmu,anakmu saja tanpa diajari , merasakan bahwa kamu tidak pernah hadir memberi kasih sayang dan perhatian
sunaryati jarum
Nikmati buah kesombongan dan pengkhianan yang kau lakukan ,Haris.Jangan- jangan dalam kandungan Siska bukan benih Haris.👋👋👋🤣🤣🤣
Ade Chubi
syukurin
sunaryati jarum
Bagus Nindya Haris jika datang membujuk tinggal ingatkan semua kesalahannya.
Datu Zahra
katanya gundik kecelakaan, kaki terkilir parah, masa ya udha jalan². cepet amat sembuh
Alia Chans
kasihan banget ya jadi Nindy😣
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Semangat dengan status dan kehidupan barumu
sunaryati jarum
Nikmati kehidupan yang telah kamu pilih Haris.Itulah jika kebaikan kau balas dengan pengkhiatan,kau dan Siska tidak akan pernah menemukan kebahagiaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!