NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Dua Srigala

Sambungan baru berdering sekali ketika Suparti menerjang hendak merebut ponsel.

Nadhira mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ia menghindar ke balik kursi, sementara Alif memeluk pahanya begitu erat hingga langkahnya nyaris tersandung.

"Berikan sini!" Suparti menjerit.

Panggilan tersambung.

"Ya?" Suara Rayhan terdengar dari pengeras suara.

Nadhira belum sempat menjawab. Pak Darmo sudah menyambar pundaknya dari belakang.

"Matikan telepon itu!"

"Rayhan!" Nadhira berseru. "Mereka datang lagi."

Di seberang, terdengar bunyi kursi bergeser. "Anda di rumah?"

"Iya. Pak Darmo memaksa saya menikah. Dia baru menampar saya."

Pak Hartono mendadak berdiri. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketertarikan, hanya kegusaran karena urusan yang seharusnya rahasia kini didengar orang luar.

"Darmo, saya tidak mau terlibat polisi atau perkara," katanya. "Tawaran saya tarik. Kembalikan uang muka hari ini."

"Pak, jangan terburu-buru." Pak Darmo melepaskan bahu Nadhira untuk menahan calon besannya. "Anak saya cuma sedang emosi."

Mak comblang itu segera memasukkan brosur dan foto rumah ke dalam tas. Ia mengikuti Pak Hartono keluar tanpa menoleh lagi.

"Pak Hartono!" Suparti berlari sampai teras.

Kesempatan itu cukup. Nadhira menggendong Alif, membawa ponselnya, lalu bergegas menuju kamar.

"Kunci pintu," perintah Rayhan dari telepon. "Jangan keluar sampai bantuan datang."

Nadhira menutup pintu tepat ketika Pak Darmo berbalik. Kunci diputar. Sesaat kemudian gagang pintu dihentakkan dari luar.

"Nadhira! Buka!"

Ia menyandarkan tubuh pada daun pintu. Alif meringkuk di atas kasur sambil memeluk mobil merahnya. Wajah bocah itu pucat, air matanya mengalir tanpa suara.

"Berapa lama?" bisik Nadhira.

"Gilang sedang berangkat. Tetap bersama saya di telepon."

Suara Rayhan tetap datar, tetapi kepastian di setiap katanya membuat napas Nadhira sedikit lebih teratur.

Di luar, langkah kaki lain mendekat dari belakang rumah.

"Ada apa lagi pagi-pagi begini?" Suara Bu Sumini meninggi. "Darmo, kenapa kamu menggedor kamar menantuku?"

Pak Darmo tertawa sinis. "Menantumu? Hendra sudah mati. Nadhira tetap anakku. Aku berhak membawanya pulang."

"Membawa pulang atau menjualnya ke duda tua?"

Nadhira menutup mata. Rupanya Bu Sumini mendengar seluruh percakapan dari kamar belakang.

"Jaga mulutmu, Sumini."

"Aku akan jaga mulut kalau kamu tidak mengincar uang yang bukan milikmu. Saham Hendra milik keluarga Wijaya. Kalau Nadhira menikah lagi, dia harus meninggalkan semuanya, termasuk Alif."

"Alif cucuku juga!"

"Cucu dari pihak kami membawa nama Wijaya!"

Suara benda terbentur dinding. Suparti kembali dari teras dan ikut berteriak. Beberapa detik kemudian suara Agus menyusul dari pintu depan, rupanya dipanggil Bu Sumini.

Dalam sekejap, empat orang dewasa saling menuduh di ruang tamu. Tak satu pun menanyakan keadaan Nadhira atau Alif.

Rayhan mendengar semuanya melalui sambungan telepon.

"Mereka sedang bertengkar," kata Nadhira lirih.

"Biarkan. Jangan buka pintu."

Alif mengulurkan tangan kecil. Nadhira duduk di lantai dan menarik putranya ke pangkuan. Ia menekan telapak tangan ke telinga anak itu agar bentakan dari luar terdengar lebih jauh.

"Mama di sini."

"Mau pergi..."

"Iya, Nak. Kita akan pergi."

Janji itu keluar sebelum Nadhira tahu ke mana mereka bisa pergi. Namun, ia tahu satu hal. Setelah hari ini, ia tidak akan membiarkan Alif tidur lagi di balik pintu yang bisa digedor orang sesuka hati.

Keributan terus membesar sampai tetangga berkumpul di teras. Suara-suara dari luar rumah mulai menyela.

"Pak Darmo, Bu Sumini, cukup!"

"Ada anak kecil di dalam!"

"Panggil Pak RT!"

Beberapa menit kemudian, suara berat ketua RT terdengar di antara bentakan.

"Semuanya keluar ke teras. Jangan ada yang merusak pintu. Kalau ada kekerasan, saya panggil polisi."

"Ini urusan keluarga," Agus membalas.

"Kalau teriakannya didengar satu gang, ini sudah jadi urusan lingkungan."

Pak RT mengetuk pintu kamar dengan buku jarinya, jauh lebih pelan daripada Pak Darmo.

"Mbak Nadhira, saya ketua RT. Apakah Anda dan anak Anda aman di dalam?"

Nadhira menatap Alif lebih dulu. Bocah itu masih gemetar, tetapi tidak ada luka baru di tubuhnya.

"Untuk sementara aman, Pak. Saya mengunci pintu."

"Apakah Anda mau ikut Pak Darmo?"

"Tidak."

"Apakah Anda setuju menikah dengan orang yang mereka bawa?"

"Tidak. Saya sudah menolak berkali-kali. Pak Darmo menampar saya karena penolakan itu."

Gumaman para tetangga terdengar semakin keras. Pak Darmo mencoba memotong, tetapi Pak RT mengangkat suara.

"Saya sedang bertanya kepada Mbak Nadhira. Bukan kepada Bapak."

Nadhira menelan rasa perih di bibirnya. "Bu Sumini dan Agus juga memaksa saya menyerahkan saham peninggalan Mas Hendra sejak kemarin. Saya tidak menandatangani apa pun."

"Bohong!" Bu Sumini menjerit. "Saham itu milik keluarga Wijaya!"

"Lalu lima puluh juta di saku Pak Darmo milik siapa?" Agus membalas. "Kamu menjual anakmu sendiri, masih berani mengajari kami soal harta?"

Semua kepala beralih kepada Pak Darmo. Tangannya refleks menutupi saku kemeja yang menggembung.

Suparti buru-buru berkata, "Itu bantuan untuk keluarga, bukan harga Nadhira."

Seorang tetangga mendengus. "Kalau bukan harga orang, kenapa uangnya diberikan sebelum dia setuju?"

"Kami saksi dia menolak," sahut yang lain.

Pak RT mengeluarkan ponsel dan membuka grup WhatsApp lingkungan. "Saya catat sekarang. Nadhira menolak dibawa pergi, menolak pernikahan, dan menyatakan ada pemaksaan dokumen. Kalau ada yang menerobos kamar ini, saya sendiri yang akan menelepon polisi."

Untuk pertama kalinya, ancaman orang-orang di luar tidak hanya menjadi suara yang menakutkan. Ada saksi. Ada catatan. Ada seseorang yang menanyakan apa yang Nadhira inginkan dan menunggu jawabannya.

Kalimat itu disambut gumaman setuju. Keseimbangan berubah. Pak Darmo berhenti menghantam pintu, tetapi pertengkaran belum selesai. Mereka pindah ke teras, lalu ke halaman, masing-masing berlomba menceritakan versi yang membuat dirinya tampak paling benar.

Nadhira mendekati jendela tanpa membukanya. Dari celah tirai, ia melihat belasan tetangga berdiri di depan pagar. Pak Darmo menunjuk rumah sambil mengatakan Nadhira anak durhaka. Bu Sumini membalas bahwa keluarga Kusuma hanya datang karena mencium uang warisan. Suparti menuduh keluarga Wijaya menyiksa Nadhira. Agus balik mengungkit amplop dari Pak Hartono.

Kebusukan kedua keluarga terbuka tanpa perlu Nadhira menjelaskan apa pun.

"Rayhan," panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia melihat layar. Sambungan telah berakhir dua menit lalu, mungkin setelah Rayhan yakin keributan berpindah ke luar. Sebuah pesan baru masuk.

`Gilang hampir sampai.`

Nadhira menunjukkan layar kepada Alif meski bocah itu belum bisa membaca. "Om yang kemarin mau datang."

Alif mencengkeram bajunya. "Om sapu?"

Untuk pertama kalinya sejak pagi, sudut bibir Nadhira bergerak tipis. "Iya, Om yang menyapu kaca."

Dari gerbang terdengar klakson pendek.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, diikuti kendaraan kedua. Gilang turun dari kursi depan. Hari ini ia tidak membawa bingkisan. Dua pria berbadan tegap keluar dari mobil belakang, lalu berdiri di kanan dan kirinya.

Tetangga membuka jalan.

Gilang merapikan manset kemeja, menoleh kepada seorang perempuan berkacamata yang baru turun sambil membawa tas dokumen, lalu berjalan menuju gerbang.

"Saya datang bersama dua petugas keamanan dan seorang pengacara," katanya. "Sekarang, siapa yang tadi memukul Bu Nadhira?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!