NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah aku hamil?

Malam itu, suasana di kediaman terasa sangat sunyi. Hanya suara angin malam yang berhembus melewati pohon‑pohon besar di halaman, sesekali disertai suara detak jam dinding yang terasa begitu jelas di setiap sudut ruangan.

Annisa baru saja selesai membereskan dapur dan memastikan semua pintu serta jendela terkunci rapi. Ia hendak berjalan menuju kamar istirahatnya, ketika tiba‑tiba suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Chensi berdiri di ambang pintu lorong, wajahnya tampak lelah, matanya sayu seolah sedang memikul beban yang berat.

“Annisa,” panggilnya dengan nada rendah.

Gadis itu segera berhenti melangkah, menunduk dalam dengan hati yang mulai berdebar kencang. “Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”

“Malam ini, temani aku di ruang kerja. Duduklah saja di sudut sana, tidak perlu melakukan apa‑apa,” ucap Chensi secara langsung.

Seketika darah di tubuh Annisa terasa mengalir lebih cepat. Wajahnya memucat, dan ingatan tentang malam kelam itu seketika melintas jelas di kepalanya—rasa tak berdaya, rasa sakit, dan rasa malu yang mendalam. Tangan di balik punggungnya tergenggam erat, berusaha menahan getaran yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Tu… Tuan,” jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar, “Maafkan saya, tapi… biasanya Tuan ditemani oleh Li Wei atau pelayan lain. Mengapa malam ini justru memanggil saya?”

Chensi melangkah mendekat, namun berhenti pada jarak yang cukup jauh agar tidak membuatnya semakin tertekan. Ia melihat jelas ketakutan yang tergambar di wajah gadis itu, dan hal itu membuatnya menghela napas panjang.

“Li Wei sedang mengurus urusan penting di luar kota malam ini. Dan aku tidak ingin ditemani orang lain,” jawabnya jujur, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut dan meyakinkan, “Dengarkan aku baik‑baik, Annisa. Aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Aku tahu ingatan malam itu masih menghantuimu, dan aku tidak berhak meminta kau melupakannya begitu saja.”

Ia berhenti sejenak, menatap mata Annisa yang menatapnya dengan penuh kewaspadaan.

“Tapi malam ini sungguh berbeda. Aku hanya butuh seseorang yang ada di dekatku, bukan untuk melukaimu, bukan untuk menyentuhmu, dan bukan untuk memaksamu melakukan apa pun. Kau boleh duduk di kursi paling jauh, menghadap ke arah lain, atau bahkan membaca buku jika kau mau. Aku hanya butuh kehadiranmu untuk menenangkan pikiranku yang kacau ini.”

Annisa tetap ragu. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap lelaki itu dengan pandangan penuh pertanyaan. “Tapi mengapa harus saya, Tuan? Saya hanyalah pelayan yang masih terasa asing bagi Tuan. Pasti ada orang lain yang lebih pantas dan lebih mengerti keinginan Tuan.”

“Karena kau tidak akan berbicara banyak, tidak akan menanya‑nanya, dan tidak akan berusaha memanfaatkan keadaanku untuk keuntungan sendiri,” jawab Chensi tegas. “Orang lain yang ada di sini hanya melihatku sebagai majikan yang harus ditakuti atau didekati demi harta. Tapi kau… kau melihatku apa adanya, baik kebaikanku maupun keburukanku, dan kau tetap menjaga jarak. Itu justru yang aku butuhkan saat ini.”

Ia melangkah sedikit mendekat lagi, namun segera berhenti ketika melihat bahu Annisa sedikit menegang.

“Kau takut aku akan mengulangi perbuatan itu lagi, bukan?” tanyanya lirih.

Annisa menunduk, tidak mampu menjawabnya secara langsung, namun diamnya sudah menjadi jawaban yang jelas.

Chensi mengangguk paham, lalu mengangkat kedua tangannya setinggi bahu sebagai tanda pasrah dan janji.

“Aku mengerti ketakutanmu. Oleh karena itu, aku berjanji dengan kata‑kataku sendiri: selama malam ini, selama kau menemaniku, aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun, tidak akan mendekatimu melebihi jarak yang kau rasa aman, dan tidak akan mengucapkan kata‑kata yang membuatmu tersinggung atau takut. Jika pada satu titik kau merasa tidak nyaman, kau boleh langsung pergi tanpa perlu meminta izin.”

Keheningan melingkupi mereka berdua. Annisa mendengarkan setiap kata yang diucapkan Chensi, merasakan ketulusan yang jarang ia temukan dari lelaki itu. Di satu sisi, rasa takut masih membayangi, namun di sisi lain, ia melihat kesungguhan di mata Chensi—tatapan yang tidak lagi dipenuhi hasrat atau amarah, melainkan rasa lelah dan kesepian yang mendalam.

Setelah berpikir cukup lama dan mempertimbangkan segala kemungkinan, Annisa akhirnya mengangguk perlahan.

“Baiklah, Tuan. Saya akan menemani Tuan. Tapi ingatlah janji Tuan tadi… jika saya merasa tidak nyaman, saya akan pergi seketika.”

Chensi menghela napas lega, senyum tipis terukir di bibirnya. “Tentu saja. Terima kasih, Annisa. Mari kita masuk.”

Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja yang luas dan remang‑remang. Chensi duduk di kursi besar di belakang meja kerjanya, sementara Annisa memilih kursi yang paling jauh, di sudut ruangan yang terang oleh cahaya lampu kecil. Ia duduk tegak, tangannya diletakkan di atas pangkuan, siap untuk pergi kapan saja jika ada tanda bahaya muncul.

Namun sepanjang malam itu, Chensi benar‑benar menepati janjinya. Ia hanya duduk membaca berkas‑berkas tebal, sesekali meminum teh, dan sesekali menghela napas panjang. Tidak ada gerakan mencurigakan, tidak ada tatapan yang menyengat, dan tidak ada kata‑kata yang menimbulkan rasa takut.

Di tengah keheningan itu, Annisa perlahan mulai menyadari sesuatu: di balik kekuasaan dan kekejaman yang dimiliki Chensi, ternyata lelaki itu juga memiliki sisi yang kesepian dan tertekan. Ia mulai memahami sedikit alasan mengapa Chensi justru membutuhkan kehadirannya malam itu.

Malam makin larut, keheningan di ruang kerja terasa makin dalam. Cahaya lampu yang redup hanya menerangi sebagian ruangan, menciptakan suasana yang tenang dan damai. Chensi masih duduk di belakang meja, sesekali membalik halaman berkas, namun pikirannya sering kali melayang ke arah sudut ruangan tempat Annisa duduk.

Gadis itu awalnya duduk tegak, berusaha tetap terjaga, namun setelah beberapa jam kelelahan mulai menguasai tubuhnya. Matanya yang sering terpejam sebentar akhirnya tak mampu lagi terbuka. Kepalanya perlahan menyandar ke sisi sofa, napasnya menjadi teratur dan lembut—tanda ia sudah terlelap dalam tidur yang lelap.

Chensi meletakkan pena di tangannya, lalu menatap sosok itu dengan pandangan yang makin lembut. Senyum tipis yang jarang terlihat pun terukir di bibirnya. Ia berdiri perlahan, melangkah dengan langkah sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara.

Begitu berdiri tepat di depan sofa, ia menunduk mengamati wajah Annisa yang terlihat tenang tanpa beban saat tidur. Rasa takut, kekhawatiran, dan ketegangan yang sering tergambar di wajahnya kini hilang, menyisakan kelembutan alami yang membuat jantung Chensi berdebar tak menentu.

“Betapa tenangnya dia… seperti tidak memiliki beban apa pun,” pikirnya dalam hati. “Selama ini dia selalu terlihat waspada, seolah siap menghadapi bahaya kapan saja. Baru saat tidur dia bisa menjadi dirinya sendiri.”

Chensi tergoda untuk menyentuh pipi gadis itu, namun ia segera menahan tangannya. Ia ingat janjinya malam itu—tidak akan menyentuhnya tanpa izin, tidak akan membuatnya takut. Namun melihat posisi tidurnya yang kurang nyaman, ia merasa tidak tega membiarkannya begini semalaman.

Setelah berpikir sejenak, Chensi melingkarkan lengannya dengan hati‑hati, mengangkat tubuh Annisa secara perlahan. Gadis itu terasa ringan dan lembut di gendongannya, hanya sedikit mengerutkan dahi sesaat sebelum kembali terlelap.

Dengan langkah yang tetap berhati‑hati, Chensi membawa Annisa masuk ke dalam kamar tidur yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya. Ia membentangkan selimut lembut di atas tempat tidur besarnya, lalu membaringkan tubuh Annisa dengan sangat hati‑hati. Ia menarik selimut itu hingga menutupi bahu gadis itu, memastikan ia terasa hangat dan nyaman.

Saat berdiri di samping tempat tidur itu, Chensi sendiri tertegun. Selama ini, tidak ada satu pun wanita yang pernah diizinkan tidur di ranjangnya—tempat yang ia anggap paling pribadi dan suci. Bahkan Ailin pun hanya sesekali datang dan tidak pernah beristirahat di sana semalaman. Namun hari ini, tanpa ragu, ia membiarkan Annisa berbaring di tempat itu.

“Apa yang sedang aku lakukan?” gumamnya pelan, menatap wajah Annisa lagi. “Dia hanyalah pelayan, gadis asing yang datang dari negeri jauh. Tapi kenapa rasanya begitu alami membiarkannya ada di sini?”

Ia menggelengkan kepala, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Karena tidak ingin mengganggu kenyamanan Annisa, dan juga tidak ingin membuatnya terkejut jika terbangun, Chensi memutuskan untuk tidak tidur di sampingnya. Ia berjalan menuju sofa panjang yang ada di sudut kamar, lalu merebahkan tubuhnya di sana.

Selimut tipis yang ada di sana ia gunakan untuk menutupi dirinya. Sebelum mematikan lampu utama, ia masih menoleh sekali lagi ke arah tempat tidur, memastikan Annisa tidur dengan tenang.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Chensi tidur bukan di ranjangnya sendiri, melainkan di sofa—hanya demi menjaga kenyamanan gadis yang telah mengubah banyak hal dalam hatinya tanpa ia sadari. Dan di sepanjang malam itu, ia terbangun beberapa kali, hanya untuk memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada Annisa.

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela. Annisa perlahan membuka matanya, merasa tubuhnya terasa lebih segar dan nyaman. Namun begitu ia menyadari tempat ia berbaring, matanya terbelalak kaget.

Ini bukan kamar pelayan, bukan juga sofa di ruang kerja. Ia terbaring di atas tempat tidur yang luas dan empuk, dengan selimut lembut yang menutupi tubuhnya.

Seketika ia duduk dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. “Di mana aku? Kenapa aku bisa tidur di sini?”

Saat ia menoleh ke sudut ruangan, matanya bertemu dengan sosok Chensi yang baru saja terbangun dari tidurnya di sofa. Lelaki itu duduk sambil mengusap lehernya yang terasa sedikit kaku karena tidur di tempat yang tidak biasa, namun wajahnya terlihat tenang.

“Kau sudah bangun?” tanya Chensi dengan suara yang masih serak.

Annisa segera turun dari tempat tidur, menunduk dalam dengan wajah memerah karena malu dan bingung. “Tuan! Maafkan saya! Saya tidak tahu bagaimana bisa tertidur di sini… Apakah Tuan… Apakah Tuan memindahkan saya ke sini?”

Chensi berdiri, lalu berjalan mendekat dengan tenang. “Kau tertidur pulas di sofa, dan aku tidak tega membangunkanmu. Jadi aku membawamu ke tempat tidur agar tidurmu lebih nyaman.”

“Tapi… ini ranjang Tuan sendiri! Bagaimana bisa saya tidur di sini? Lalu… Tuan tidur di mana semalam?” tanya Annisa dengan nada khawatir, matanya melirik ke arah sofa yang terlihat masih berantakan.

Chensi mengikuti pandangannya, lalu tersenyum tipis. “Di sofa itu. Aku tidur di sana semalaman. Tidak masalah, aku sudah terbiasa tidur di mana saja.”

Mendengar jawaban itu, hati Annisa terasa berdebar campur aduk. Ia merasa sangat bersalah—seorang majikan yang berkuasa dan kaya raya justru rela tidur di sofa hanya agar ia bisa tidur nyenyak di ranjangnya. Sikap perhatian yang melebihi batas antara majikan dan pelayan ini semakin membuatnya bingung membedakan mana kewajiban dan mana perasaan yang sebenarnya.

“Tuan… seharusnya saya yang tidur di sofa, bukan Tuan. Saya merasa sangat tidak pantas menerima perlakuan sebaik ini,” ucapnya dengan nada sungkan.

Chensi menatap matanya, lalu berkata dengan nada tegas namun lembut: “Ingat, Annisa. Selama kau berada di sini, kau adalah tanggung jawabku. Aku ingin kau merasa nyaman dan aman. Jangan memikirkan pantas atau tidaknya, biarkan saja hal itu menjadi urusanku.”

Saat itu juga, perut Annisa terasa berputar‑putar tiba‑tiba. Ia menutup mulutnya dengan tangan, merasa mual yang tiba‑tiba menyerang. Wajahnya seketika memucat, dan ia segera memegang pinggir meja untuk menopang tubuhnya.

Chensi langsung melangkah cepat mendekat, khawatir. “Ada apa? Apakah kau sakit?”

Annisa menggeleng perlahan, berusaha menahan rasa mual itu. “Tidak… tidak apa‑apa, Tuan. Mungkin hanya lelah saja.”

Namun di dalam hatinya, ia mulai merasa gelisah. Rasa mual ini, lemas yang sering ia rasakan, dan keterlambatan haid yang sudah dua bulan lebih tidak datang—semua itu membuatnya menyadari satu kemungkinan besar yang membuat kakinya terasa lemas dan jantungnya berdegup kencang.

“Apakah aku sedang hamil?”

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!