Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10. Rapat Neraka.
Ruang Rapat Utama Morgan"s Kitchen. Jam 10.00 WIB. Meja oval 20 kursi penuh terisi. Semua pemegang saham dan direksi duduk dengan tenang.
Morgan di ujung dan Miracle di sebelahnya. Jarak 1 kursi sengaja di kosongkan, tidak masalah, bukankah mereka sudah cerai? pikir Morgan.
Dulu Miracle gampang di raih, di manfaatkan, tapi sekarang dia cosplay menjadi wanita dingin penuh strategi. Selama lima tahun ia hidup bersama, ternyata Morgan buta akan kelebihan dari mantan istrinya.
Suasana terasa berat, semua menunggu Miracle bicara, dia investor utama yang bisa merubah A menjadi B. Semua tahu itu, tapi Morgan belum menyadari sampai sejauh itu. Dia mengira Miracle sukses karena dibantu oleh orang tuanya dari Wijaya Group.
Mereka mulai bisik-bisik, mempertanyakan keberadaan Miracle saat ini, karena Morgan CEO Morgan's Kitchen.
"Itu beneran mantan istrinya?"
"Denger-denger yang menyelamatkan Morgan's Kitchen dia..."
"Hebat, aku baru tahu orangnya, padahal sering dengar gosip kalau Investor yang paling dicari dan ditakuti saat ini adalah CEO M.W Group...."
"Mungkin dia CEO M.W ..."
"Aku rasanya pernah melihat dia diperjamuan keluarga Wijaya, konglomerat terkaya nomer tiga se-Asia. Jangan-jangan dia putri tunggal Rendra Wijaya yang kabur dengan pemuda miskin...."
Morgan mengetuk meja dengan tekanan.
"Harap tenang rapat dimulai."
Dia lalu berdiri dan presentasi 15 menit. Grafik turun. Hutang. Rencana penyelamatan. Dan bantuan dari Investor.
Dia merasa seperti menginjak bara api. Suara Morgan cukup tenang. Tapi sikap dan keringat di pelipisnya nggak bisa bohong. Dia pasti nervous membongkar kebobrokan perusahaannya.
Ia sendiri merasa kaget, karena selama ini Miracle yang mengelola management perusahaan, setelah cerai pindah tangan ke pak Akha. Disini baru kelihatan ketimpangan
Pas selesai, dia melirik Miracle.
"Ada tambahan dari Nyonya M.W?" ucapnya dengan wajah memerah, dia merasa rendah diri berhadapan dengan Miracle. Insecure.
Miracle berdiri pelan. Ia terlihat cantik dan anggun. Saat ini ia memakai Blazer hitam. Anting mutiara. Nggak ada senyum terukir di bibir, pandangannya dingin.
"Selamat pagi semua." suaranya mantul ke seluruh ruangan.
"Nama saya Miracle Wijaya. 30% saham Morgan's Kitchen sekarang atas nama saya."
Ruangan mendadak senyap. Hanya suara nafas terdengar tanpa makna.
"Tiga bulan ke depan saya akan audit semua divisi. Divisi yang merugi 2x berturut-turut... akan saya tutup."
Dia jeda. Matanya mengejar dan menyapu satu-satu orang yang berada disitu.
"Saya tidak menerima sogokan dari siapapun, ingat ini bisnis bukan ajang mencari prestige yang membuat mabuk jabatan."
Pak Arka, paman Arini, langsung batuk-batuk "Nyonya, perusahaan ini keluarga..."
"Dan keluarga yang bikin rugi, keluarga yang masuk dan duduk serta ikut menjabat, tanpa punya latar belakang SDM yang jelas. Akar permasalahannya ada disitu." potong Miracle dingin.
"Itu yang pertama saya beresin." sambunya lagi. Tangan Morgan mengepal di bawah meja, dia kesal dan merasa direndahkan.
Hening.
Miracle lanjut membuka map tanpa peduli dengan bisik-bisik peserta.
"Proyek Tower B akan dihentikan. Anggarannya saya alihkan ke R&D. Mulai minggu depan, semua kontrak di atas lima miliar (5M) harus tanda tangan saya." ucap Miracle tegas.
Dia menutup map. Lalu menatap Morgan dengan tajam, tanpa senyum.
"Karena Morgan's Kitchen bukan punya satu orang saja. Perusahaan ini juga punya saya."
Duk.
Itu bukan palu, Itu harga diri Morgan yang jatuh. Semua terdiam takut di audit.
Rapat bubar. Semua keluar buru-buru. Tadi di dalam terasa tercekik, Miracle seakan momok yang menakutkan. Tinggal mereka, Morgan berdiri.
"Kamu sengaja mempermalukan aku di depan semua orang?"
"Saya cuma menjalankan tugas yang benar sesuai aturan, apa kamu keberatan, Tuan CEO."
"Minggu depan saya mau laporan keuangan lima tahun kebelakang. Di meja saya. Jam delapan pagi." ucap Miracle merapikan kursinya. Dia berdiri dan berjalan ke pintu.
"Berhenti, sikapmu tidak ada yang jual, selalu dingin." ucap Morgan menatap Miracle dari belakang.
Miracle menoleh. Senyum tipis mengudara. Tanpa jiwa, dingin. Morgan terpaku lesu.
"Jangan telat. Kantor ini... kantor saya juga sekarang."
Klik. Pintu ketutup. Morgan masih di sana. Sendiri. Ia membanting map. Tadi empat puluh pasang mata meliatnya dipermalukan istri sendiri. Brengsek!
Di luar ruangan, Miracle bersandar di dinding selama 3 detik. Nafasnya berantakan. Dada berdebar dan tangannya gemetar. Namun pas Komariah datang dia langsung berdiri tegak. Sikapnya Dingin lagi. Kaku.
"Sudah selesai rapatnya, kita kembali ke kantor." ajak Komariah.
"Sudah...mari kita berangkat."
Satu persatu dan aku akan ambil semuanya, termasuk harga dirimu, Morgan! bathin Miracle.
Morgan keluar dengan wajah kusut, langsung menuju mobil Alphard, sisa terakhir hartanya. Pukul. 11.24 WIB. Perutnya sudah lapar, tadi pagi tidak sarapan.
Semenjak cerai dan perusahannya hancur, tidak ada pelayan, ibu, saudara dan Arini pun jarang datang. Uang membuat mereka baik dan menjilat. Hanya Miracle terbaik, saat susah dia tidak mengeluh, sekarang ia baru sadar dan sangat menyesal.
Di luar hujan sangat deras. Ingin ngopi tapi ia urungkan, karena makan lebih utama. Ia harus ngirit supaya bisa beli bensin mobil. Kembali ke nol, dulu ada Miracle di samping selalu menyemangatinya, sekarang wanita itu seperti Vampire yang siap mengisap darahnya.
Semakin deras hujan, perutnya semakin keroncongan. Wiper mobil jalan menyapu air hujan, tapi Morgan nggak liat jalan. Tangan masih gemetar, bukan karena rapat tapi karena kalimat terakhir Miracle.
"Kantor ini... kantor saya juga."
Br*ngsek! wanita itu sengaja mempermalukannya.
Hape di dashboard terus mengirim notif. Dua puluh tujuh chat group kantor, semua bahas "Nyonya M.W" tidak ada yang bahas dia.
Morgan banting setir ke pinggir. Dadanya sesak. Ia berteriak menyesali nasibnya.
"Kenapa... kenapa harus kamu, Mi?" bisiknya.
Suara pecah.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dia menangis di mobil. Bukan karena bangkrut. Tapi karena wanita yang dulu dia peluk pas demam, sekarang duduk satu meter dari dia, tiap hari... dan ia benci itu.
Morgan mengeluarkan kotak bekal dari jok belakang. Ternyata sudah mau basi. Tapi dia tetep buka. Nasi sudah keras. Sambalnya kering. Dia makan satu suap. Pahit. Asin.
"Enak banget masakan kamu..."
Tangisnya pecah lagi. Dia banting kotak itu.
"ANJING! KENAPA BALIK KALAU MAU NYIKSA AKU KAYAK GINI?!" teriakannya tidak terdengar, hujan nutupin suaranya.
Pukul. 01.00, pagi dia baru sampai di rumah. Matanya sepet, Nggak tidur. Cuma duduk di ruang kerja. Nemenin foto lama.
Keesokan harinya, tepat pukul. 07.55 WIB.
morgan masuk duluan. Ditangannya ada map tebal. Lima tahun laporan keuangan. Ini pertama kali ia menguras otak dan tenaga supaya bisa menyiapkan laporan keuangan.
Karena akhir-akhir ini ia sering begadang, membuat mata panda jelas terlihat. Sifat sombongnya lenyap saat bertemu CEO lain. Pakaiannya saja terlihat kurang matching dan dasi berantakan.
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....