SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Penjaga Laut Kabut
Bab 18: Ujian Penjaga Laut Kabut
Lonceng kuno terus bergema dari balik kabut.
Getarannya tidak hanya mengguncang lautan, tetapi juga merambat melalui setiap simpul qi yang tersembunyi di sekitar wilayah itu. Batu-batu melayang yang membentuk Jalur Timur berpendar dengan cahaya kebiruan, sementara pusaran kabut di langit semakin membesar.
Ethan berdiri di ujung perahu kayu, tatapannya tetap tenang mengarah kepada armada kapal hitam yang perlahan mendekat.
Di sampingnya, Nadia menggenggam erat koper logam yang berisi Kompas Laut Roh cadangan. Napasnya sedikit memburu. Ia bukan petarung, tetapi cukup memahami bahwa pertempuran yang akan terjadi jauh melampaui dunia manusia biasa.
Pria tua nelayan menelan ludah.
"Aku... aku tidak pernah melihat sebanyak ini kultivator."
Ethan menjawab singkat.
"Kalau keadaan memburuk, bawa Nadia pergi."
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Aku punya caraku sendiri."
Nada suaranya datar, tetapi Nadia menangkap sesuatu yang berbeda.
Ethan sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan bahkan sebelum mereka berlayar.
Di kapal utama, Luo Xinyue mengangkat tombak peraknya.
Angin berputar di sekeliling tubuhnya.
Aura Alam Pengumpulan Qi Bintang Delapan memenuhi lautan.
Di belakangnya berdiri belasan kultivator berpakaian hitam. Mereka berasal dari Mata Emas, tetapi kini bergerak bersama Keluarga Luo.
Kerja sama yang jelas didasari kepentingan.
"Buka jalan."
Perintah Luo Xinyue terdengar dingin.
Tiga pemanah langsung melangkah ke depan.
Busur mereka bukan busur biasa.
Tali busur dibuat dari urat Binatang Roh Laut, sementara anak panahnya dipenuhi rune penyegel qi.
Mereka menarik busur secara bersamaan.
Tiga sinar hitam melesat.
Namun bukan menuju Ethan.
Melainkan menuju tiga batu melayang yang menjaga jalur masuk.
Roh Penjaga segera mengangkat tangan.
Rune-rune kuno membentuk dinding cahaya.
Dua anak panah hancur seketika.
Tetapi anak panah ketiga menembus lapisan pertama.
Ledakan keras mengguncang seluruh formasi.
Retakan kecil muncul di salah satu batu.
Roh Penjaga mengernyit.
"Mereka membawa Senjata Pemecah Formasi..."
Tatapan Ethan sedikit berubah.
Berarti pihak lawan telah melakukan persiapan jauh sebelum hari ini.
Target mereka bukan dirinya.
Melainkan Kota Langit.
"Jangan biarkan mereka menghancurkan jalur."
Suara Roh Penjaga bergema.
"Aku hanya mampu mempertahankan formasi beberapa saat."
Ethan tidak langsung bergerak.
Ia memperhatikan posisi kapal, arah angin, jarak antar batu, hingga ritme serangan pemanah.
Luo Xinyue juga memperhatikannya.
"Kenapa dia diam?"
Salah seorang bawahannya bertanya.
Wanita itu menggeleng.
"Orang seperti dia tidak pernah diam tanpa alasan."
Benar saja.
Beberapa detik kemudian Ethan melangkah.
Bukan menuju musuh.
Melainkan ke batu melayang paling dekat.
Tangannya menyentuh rune kuno.
Qi tipis mengalir.
Rune yang semula retak perlahan berubah arah.
Roh Penjaga membelalak.
"Dia... mengubah formasi?"
Padahal hanya Penjaga Jalur yang memahami susunan rune tersebut.
Ledakan berikutnya terjadi.
Namun kali ini berbeda.
Saat anak panah menghantam batu kedua, cahaya dari seluruh batu melayang justru saling terhubung.
Serangan itu dipantulkan ke langit.
Luo Xinyue menyipitkan mata.
"Dia membalik aliran formasi."
Pemimpin Mata Emas yang berdiri di sampingnya mengepalkan tangan.
"Tidak mungkin."
"Itu Formasi Laut Kabut."
"Tekniknya sudah hilang ribuan tahun."
Luo Xinyue menatap Ethan semakin serius.
Pria muda itu bahkan belum mencapai Alam Pendirian Fondasi.
Namun pengalaman bertarungnya jauh melampaui semua orang di sini.
Ia mulai memahami mengapa organisasi sebesar Mata Emas begitu mengincarnya.
"Serang dari tiga sisi!"
teriak salah satu komandan.
Empat kultivator melompat dari kapal.
Mereka berlari di atas permukaan laut menggunakan qi.
Pedang mereka memancarkan cahaya merah.
Begitu mencapai batu pertama, mereka langsung menyerbu Ethan.
Ethan tidak mencabut senjata.
Ia hanya bergeser setengah langkah.
Pedang pertama melintas di depan wajahnya.
Pedang kedua menghantam batu.
Pada saat yang sama Ethan menyentuh pergelangan tangan penyerang ketiga.
Dorongan kecil.
Sangat kecil.
Namun cukup membuat arah tebasannya berubah.
Pedangnya justru mengenai rekannya sendiri.
"Kau!"
Mereka kehilangan ritme.
Ethan memanfaatkan celah itu.
Dua pukulan telapak tangan mengenai titik meridian bahu.
Krak!
Pedang terlepas.
Ia tidak mengejar.
Sebaliknya, Ethan mundur.
Empat penyerang kini justru saling menghalangi.
Luo Xinyue menghela napas pelan.
"Dia memanfaatkan kelemahan koordinasi."
"Semua gerakannya bertujuan memecah formasi lawan."
Pertempuran semakin sengit.
Roh Penjaga terus mempertahankan Jalur Timur.
Namun retakan pada batu semakin banyak.
Sementara itu, Kompas Laut Roh di tangan Ethan mulai bergetar hebat.
Jarumnya berputar tanpa henti.
Tiba-tiba...
Deng...
Suara lain terdengar dari balik kabut.
Lebih berat.
Lebih tua.
Seluruh orang di lautan menoleh.
Kabut perlahan terbuka.
Sebuah mercusuar batu raksasa muncul.
Bangunan itu tidak tercatat di peta mana pun.
Api biru menyala di puncaknya.
Pria tua nelayan gemetar.
"Itu..."
"Mercusuar Roh..."
"Ayahku pernah menceritakannya."
Roh Penjaga langsung membungkuk.
"Penjaga Kedua telah bangun."
Pintu mercusuar terbuka perlahan.
Seorang wanita tua keluar sambil membawa tongkat kayu hitam.
Rambutnya seputih salju.
Namun matanya memancarkan cahaya emas.
Tatapannya menyapu seluruh lautan.
"Sudah berapa lama..."
"...aku tertidur?"
Tak seorang pun menjawab.
Tatapannya akhirnya berhenti pada Ethan.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian wanita tua itu tersenyum tipis.
"Qi Kaisar."
"Sudah kuduga..."
"...kau akhirnya datang."
Luo Xinyue segera melangkah maju.
"Wahai Senior."
"Kami datang mencari Kota Langit."
"Tolong buka jalannya."
Wanita tua itu bahkan tidak meliriknya.
"Siapa kau?"
"Luo Xinyue."
"Keluarga Luo."
"Hm."
"Itu tidak berarti apa pun bagiku."
Wajah Luo Xinyue sedikit berubah.
Belum pernah ada orang yang mengabaikan nama besar keluarganya seperti itu.
Wanita tua tersebut mengangkat tongkatnya.
"Aturan Kota Langit tidak pernah berubah."
"Barang siapa ingin masuk..."
"...harus lulus ujian."
Seketika seluruh laut bergetar.
Dari bawah permukaan air muncul delapan pilar batu.
Masing-masing dihiasi naga yang melingkar.
Di tengahnya terbentuk sebuah arena bundar.
"Tidak boleh saling membunuh."
"Yang melanggar..."
"Akan dihapus oleh formasi."
Semua orang saling berpandangan.
Aturan ini justru menguntungkan Ethan.
Perbedaan kultivasi mereka cukup jauh.
Jika Luo Xinyue bebas menyerang tanpa batas, peluang Ethan akan jauh lebih kecil.
Namun dengan adanya formasi kuno...
Semua orang dipaksa bertarung sesuai aturan.
Wanita tua kembali berbicara.
"Ujian pertama."
"Rebut Sepuluh Segel Laut."
Sepuluh bola cahaya langsung muncul di atas arena.
Masing-masing bergerak sangat cepat.
"Yang memperoleh tiga segel atau lebih..."
"...berhak melanjutkan."
Kalimat itu baru selesai...
Puluhan kultivator langsung bergerak.
Arena berubah kacau.
Ethan tidak ikut berebut.
Ia justru mengamati.
Segel-segel itu tidak bergerak sembarangan.
Mereka mengikuti pola tertentu.
Spiral.
Lalu membentuk sembilan lintasan.
"Menarik..."
gumamnya.
Lima ratus tahun lalu ia pernah melihat pola serupa.
Itu bukan perlombaan kecepatan.
Melainkan teka-teki formasi.
Di sisi lain, Luo Xinyue telah merebut satu segel.
Dua bawahannya memperoleh masing-masing satu.
Mata Emas juga berhasil mengambil dua.
Mereka mulai unggul.
Nadia menggigit bibir.
"Ethan..."
"Kau tidak bergerak?"
"Tunggu."
"Apa yang ditunggu?"
"Pola terakhir."
Beberapa detik kemudian...
Semua segel tiba-tiba berhenti sesaat.
Hanya sesaat.
Namun itu cukup.
Ethan melangkah satu kali.
Tangannya bergerak cepat.
Bukan satu.
Bukan dua.
Tiga segel langsung jatuh ke telapak tangannya dalam satu gerakan.
Seluruh arena mendadak sunyi.
Roh Penjaga tersenyum.
"Dia masih mengingat Formasi Bintang Sembilan."
Luo Xinyue menatap Ethan dengan sorot mata yang semakin tajam.
Pria itu tidak lebih cepat darinya.
Tidak pula lebih kuat.
Tetapi ia selalu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Dan itulah yang paling berbahaya.
Tiba-tiba wajah wanita tua di depan mercusuar berubah.
Senyumnya menghilang.
Ia memandang jauh ke balik kabut.
"Mustahil..."
bisiknya.
Roh Penjaga segera mendekat.
"Ada apa?"
Wanita tua itu mengepalkan tongkatnya.
"Segel terdalam..."
"...baru saja retak."
Seluruh lautan mendadak berguncang hebat.
Dari dasar laut muncul raungan mengerikan yang membuat qi semua kultivator bergetar.
Raungan itu bukan berasal dari Kota Langit.
Melainkan dari sesuatu yang selama ribuan tahun dikurung jauh di bawahnya.
Sesaat kemudian, permukaan laut terbelah.
Sebuah rantai hitam sebesar batang pohon melesat keluar, lalu putus dengan suara yang mengguncang langit.
Wanita tua itu menatap Ethan dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya memperlihatkan kecemasan.
"Sudah terlambat..."
"Seseorang..."
"...telah lebih dulu memasuki penjara di bawah Kota Langit."