Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Badai Tiga Penjuru
Malam itu, langit Jakarta seolah ikut menekan dada Ardi yang terasa sesak. Di dalam penthouse mewah yang mendadak terasa seperti penjara pengingat utang, Ardi duduk merenung dengan rambut acak-acakan. Kamar yang biasa dipenuhi tawa manja kini hening. Tyas keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai, wajahnya pucat pasi, sementara tangannya memegang sebuah benda kecil berwarna putih.
"Mas..." panggil Tyas dengan suara bergetar. Dia menyodorkan sebuah testpack ke hadapan Ardi. Dua garis merah tegas tertera di sana. "Aku... aku hamil, Mas. Anak kamu."
Ardi tertegun. Di waktu normal, kabar ini mungkin akan membuatnya melompat gembira sebagai bukti kehebatannya atas Sarah yang belum memberinya keturunan. Namun malam ini, melihat dua garis merah itu justru membuat ulu hatinya seperti dihantam gada besi. Anak di saat dia berada di ambang kehancuran total adalah sebuah petaka baru.
"Mas, kok diam saja? Kamu senang, kan?" Tyas mulai menuntut, menyandarkan kepalanya di bahu Ardi yang mendadak kaku. "Kamu harus cepat urus perceraian dengan sarah, Mas. Aku enggak mau anak kita lahir tanpa status pernikahan yang jelas."
Belum sempat Ardi mencerna badai pertama, ponsel di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Lampiran dokumen di dalamnya langsung membuat jantung Ardi melompat. Itu adalah foto dokumen resmi gugatan cerai dari Sarah yang telah didaftarkan ke Pengadilan Agama, lengkap dengan tuntutan pembagian harta gono-gini yang dikunci rapat agar Ardi tidak bisa menyentuh sepeser pun kekayaan Sarah.
Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat dari Sarah tertulis: “Selamat atas replika surga yang kamu bangun, Ardi. Nikmati malam terakhirmu, karena besok fajar akan menjemput realita.”
Tangan Ardi gemetar hebat hingga ponselnya jatuh ke atas karpet beludru. Tyas yang melihat reaksi aneh Ardi langsung memungut ponsel tersebut dan membaca pesannya. Namun, fokus Tyas teralih pada rincian berkas denda puluhan miliar yang sempat terbuka di layar.
Tyas membaca baris demi baris dokumen dengan napas yang memburu. Wajah cantiknya mendadak pias, kehilangan rona. "Mas... denda ini... besok jatuh tempo? Dan kamu enggak punya uangnya?" Suara Tyas bergetar hebat, bukan karena mengkhawatirkan Ardi, melainkan memikirkan nasib dirinya sendiri. Dia menatap sekeliling penthouse mewah yang baru mereka tempati dengan pandangan ngeri, menyadari bahwa surga yang baru dicicipinya ternyata berdiri di atas bom waktu.
Keesokan paginya, bom waktu itu resmi meledak.
Ardi bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya dengan rapi saat melangkah masuk ke kantor PT Reksa Tama. Wajahnya kusut karena tidak tidur semalaman. Namun, pemandangan di lobi kantornya justru jauh lebih mengerikan dari bayangan terburuknya.
Pintu kaca besar kantornya dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap dengan seragam pengamanan resmi. Di tengah ruangan, dikelilingi oleh para staf Reksa Tama yang berbisik panik, berdiri sekelompok orang berpakaian dinas hukum. Di barisan paling depan, berdiri si pria klimis yang datang seminggu lalu, didampingi seorang pria matang berwajah tegas yang membawa map kulit mahal. Pria berwajah tegas itu adalah Rendra.
"Selamat pagi, Pak Ardi," sapa pria klimis itu dengan senyuman formal yang kini terasa seperti ejekan. "Tepat pukul sepuluh pagi ini, batas waktu penundaan Anda resmi berakhir. Dan sesuai dengan kesepakatan tertulis yang Anda tanda tangani, kami datang untuk mengeksekusi hak kami."
"Apa-apaan ini?! Ini kantor saya! Siapa kalian berani membawa orang-orang ini ke sini?!" teriak Ardi, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesombongannya meski lututnya terasa lemas.
Pria berwajah tegas di sebelah pria klimis itu melangkah maju. Dia mengancingkan jasnya dengan tenang sebelum mengulurkan sebuah kartu nama yang langsung ditolak oleh Ardi dengan tatapan berang.
"Perkenalkan, saya Rendra Utama, kuasa hukum dari Ibu Sarah Amelia," ucap pria itu dengan nada suara yang berat dan penuh wibawa. "Dan di tangan saya ini adalah Surat Sita Eksekusi Aset dari PT Cahaya Abadi Investama. Karena Anda gagal melunasi total kewajiban sebesar tiga puluh tiga miliar rupiah hari ini, maka per detik ini, seluruh aset PT Reksa Tama, termasuk bangunan ini, tanah, kas perusahaan, hingga seluruh saham milik Anda, resmi beralih kepemilikan."
Mendengar nama Sarah disebut bersamaan dengan penyitaan kantornya, kepala Ardi serasa dihantam godam. "Sarah?! Pengacara Sarah?! Tidak mungkin! Ini penipuan! Pasal itu jebakan!"
Ardi merangsek maju, hendak merebut kertas yang dipegang Rendra, namun dua petugas berbadan tegap langsung menahan tubuhnya dengan kasar hingga Ardi terdorong dan jatuh terduduk di lantai marmer kantornya sendiri.
Rendra menatap Ardi dari ketinggian dengan pandangan dingin tanpa simpati. Dia mengeluarkan selembar surat lain dari map kulitnya, lalu menjatuhkannya tepat di depan lutut Ardi yang gemetar.
"Ini surat panggilan sidang pertama dari Pengadilan Agama atas gugatan cerai yang diajukan oleh klien saya, Sarah. Dan perlu Anda ketahui, PT Cahaya Abadi Investama adalah perusahaan konsorsium di bawah payung bisnis keluarga besar Sarah," bisik Rendra, memastikan suaranya cukup jelas didengar oleh Ardi yang kini hancur lebur. "Semua ini adalah hadiah dari Sarah untuk kebebasan manis yang Anda banggakan. Beliau hanya ingin memastikan Anda jatuh tanpa punya apa-apa lagi."
Ardi menatap kertas gugatan cerai di lantai dengan mata kosong, sementara para stafnya mulai panik mengemas barang-barang mereka sendiri. Kehancurannya telah datang, mutlak, dan dirancang dengan sangat rapi oleh istri yang selama ini dia remehkan.