NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Arin akhirnya menginjakkan kaki di mes karyawan.

Cklek.

Suara pintu yang terbuka perlahan rupanya cukup untuk mengusik lelapnya Zayyan. Bocah laki-laki yang tadinya meringkuk di atas kasur busa tipis itu langsung menggeliat, lalu perlahan membuka matanya.

"Ibu... udah pulang?" sapa Zayyan dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur. Ia langsung mendudukkan diri sambil mengucek matanya.

Arin tersenyum tipis, merasa bersalah. "Eh, kebangun ya karena Ibu datang? Maaf ya, Sayang."

Zayyan menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba mengusir rasa kantuk. "Enggak kok, Bu. Zayyan emang nungguin Ibu pulang."

Arin melangkah mendekat lalu duduk di tepi kasur. Ia mengusap lembut rambut putranya yang sedikit berantakan.

"Anak pintar. Zayyan udah mandi belum?"

"Udah, Bu! Tadi sore Zayyan udah mandi sendiri," jawab bocah itu dengan nada bangga.

"Nah, karena Zayyan udah wangi, gimana kalau malam ini kita jalan-jalan keluar sebentar sekalian cari makan? Kita kan belum pernah jalan-jalan sama sekali sejak sampai di Jakarta."

Mata bulat Zayyan yang semula masih sayu langsung terbuka lebar dan berbinar cerah. "Jalan-jalan, Bu? Mau, Bu, mau banget!" jawabnya penuh semangat, langsung melompat turun dari kasur.

Arin tertawa kecil melihat tingkah lincah putranya. "Iya, tapi Ibu mandi dulu sebentar, ya. Badan Ibu rasanya lengket banget habis kerja seharian. Sembari nunggu Ibu mandi, kamu siap-siap aja dulu, ganti baju yang rapi."

"Siap, Ibu!"

Tak butuh waktu lama bagi Arin untuk membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah keluar dari area mes. Arin menggandeng erat tangan mungil Zayyan, berjalan santai menyusuri trotoar jalan raya Jakarta yang masih ramai oleh kendaraan.

Sepanjang jalan, Zayyan tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Bocah itu terus mendongak, menatap deretan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi membelah langit malam ibu kota dengan lampu-lampu yang gemerlap.

"Ibu... bangunannya tinggi-tinggi banget, ya! Kayak sampai ke langit," seru Zayyan polos dengan mulut sedikit menganga kagum.

Arin tersenyum geli melihat ekspresi putranya. "Iya. Di Jakarta memang banyak gedung tinggi seperti itu."

Zayyan menghentikan langkahnya sebentar, menunjuk salah satu gedung perkantoran megah yang berdiri gagah di seberang jalan tol. "Bu, kalau Zayyan udah besar nanti, Zayyan mau kerja di dalam sana!"

"Oh ya? Kenapa mau kerja di sana?" tanya Arin lembut.

"Biar nanti Zayyan bisa dapat uang yang banyak banget! Terus uangnya mau Zayyan kasih ke Ibu semuanya, biar Ibu gak perlu capek-capek kerja kayak sekarang lagi," ucap Zayyan dengan nada bicara yang begitu tulus dan penuh tekad.

Kalimat polos yang keluar dari mulut kecil anaknya seketika menghantam dada Arin. Ada rasa haru yang teramat sangat membuncah di dalam hatinya, hingga membuat matanya mendadak berkaca-kaca. Ia mendekap kepala Zayyan ke pinggangnya, merasa sangat bersyukur memiliki putra sewajah manis dan sepeduli ini.

"Amin... ," bisik Arin lirih, mengamini doa dan cita-cita mulia putranya.

Tepat di depan mereka, aroma harum sambal terasi dan ayam goreng yang khas mulai tercium dari sebuah warung tenda pinggir jalan.

"Nah, jagoan Ibu pasti udah lapar, kan? Yuk, kita makan ayam penyet di sana!" ajak Arin riang.

"Hah beneran bu. Ayo, Bu!" sahut Zayyan.

......................

Sementara itu, di sisi lain kota Jakarta, sebuah mobil hitam perlahan memasuki pekarangan rumah keluarga besar Regan. Mobil itu berhenti tepat di depan teras rumah bergaya modern minimalis yang sudah berdiri kokoh sejak belasan tahun lalu.

Regan mematikan mesin, lalu mengambil tas kerjanya sebelum melangkah turun dan masuk ke dalam rumah. Begitu pintu utama dibuka, aroma harum masakan rumah langsung menyambut indra penciumannya.

Di ruang keluarga, seorang wanita paruh baya yang masih tampak sangat anggun sedang duduk santai di sofa.

"Regan," panggil wanita itu, menutup majalahnya lalu tersenyum manis. Dia adalah Farah, ibu Regan.

Regan menoleh sekilas sambil menanggalkan jam tangannya. "Iya, Ma."

"Sini dulu sebentar. Mama mau ngomong sesuatu."

Regan melepas jas kerja abu-abunya lalu menggeleng pelan.

"Nanti aja ya, Ma."

"Kenapa sih? Sebentar doang."

"Laper, Ma. Mau makan dulu, belum sempat makan siang tadi," kilah Regan beralasan.

Farah mendecakkan lidah, geleng-geleng kepala. "Dasar kamu ini. Baru pulang yang dipikirin langsung makanan."

Regan hanya membalas dengan senyum tipis, lalu melenggang santai menuju ruang makan.

Tak lama berselang, pintu depan kembali terbuka. Seorang pria paruh baya berpenampilan karismatik masuk sambil melonggarkan dasinya, lalu meletakkan tas kerja di atas sofa ruang tamu.

"Regan udah pulang, Ma?" tanyanya pada sang istri.

"Udah, Pa," jawab Farah. "Tuh, lagi kelaparan di ruang makan."

Pria itu mengangguk paham. Gani, ayah Regan, kemudian ikut melangkah menyusul putranya ke ruang makan.

Regan yang sedang asyik menyendok nasi dan lauk langsung mendongak begitu menyadari kehadiran sang ayah.

"Eh, Papa baru pulang?"

"Iya, barengan kayaknya kita tadi," jawab Gani sambil menarik kursi di samping putranya lalu duduk di sana.

Belum sempat Regan melanjutkan suapan berikutnya, Farah sudah menyusul masuk ke ruang makan.

"Mama mau bicara, Papa jangan diajak ngobrol kerjaan terus."

Regan menghela napas pelan, sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Ma..."

"Mama mau bicara serius sama kamu, Regan." Farah melipat kedua tangan di dada, menatap putranya lekat-lekat.

Regan akhirnya meletakkan sendoknya ke piring. "Iya, Ma. Ada apa?"

"Kamu itu sebenarnya kapan mau nikah, sih?" tembak Farah tanpa basa-basi.

Regan langsung menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. "Astaga... bahas ini lagi, Ma?"

"Ya iyalah, lagi! Teman-teman seangkatan kamu itu rata-rata udah pada punya anak, ada yang udah mau masuk SD malah. Kamu kok masih santai-santai aja?"

Regan mengusap tengkuknya dengan ekspresi malas. "Males, Ma."

Farah langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban singkat itu. "Males itu jawaban macam apa, Regan? Gak ada sejarahnya males nikah!"

"Ya... emang belum kepikiran aja, Ma."

"Regan," suara Farah mulai melembut, berganti ke mode memberi nasihat. "Umur kamu itu udah bukan kepala dua lagi. Mama sama Papa ini juga pengin ngerasain punya cucu dari kamu. Kalau kamu begini terus, mau sampai kapan?"

Regan hanya tersenyum tipis, sangat tipis. "Nanti juga ada waktunya, Ma."

"Nanti kapan? Gak usah muter-muter deh!"

"Ya nanti."

Farah menggeleng gemas melihat ketegaran anaknya. "Kamu ini ya, kalau ditanya urusan pasangan selalu aja menghindar."

Regan terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Ya kan emang belum ketemu orang yang pas aja, Ma."

Merasa kewalahan menghadapi anaknya, Farah langsung menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi hanya menyimak. "Papa!"

"Hm? Kenapa, Ma?" sahut Gani tenang.

"Coba dong ikut ngomong sama anakmu ini. Bantuin Mama biar dia mikirin nikah."

Gani yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil tersenyum santai akhirnya membuka suara. "Udah, biarin aja. Nanti juga kalau udah waktunya pasti nikah sendiri."

Farah mendengus kesal. "Papa sih, selalu aja belain dia."

"Lah, orang nikah kan gak bisa dipaksa, Ma," bela Gani.

Farah kembali menatap Regan dengan mata menyipit curiga. "Tapi... tunggu deh. Jangan-jangan..."

Regan mengangkat sebelah alisnya, heran melihat perubahan ekspresi ibunya. "Jangan-jangan apa, Ma?"

Farah memajukan tubuhnya, lalu menurunkan volume suaranya sedikit. "Jangan-jangan kamu... sukanya sama cowok ya, Reg?"

Uhuk!

Regan yang baru saja meneguk air putih langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil karena kaget dengan pertanyaan ekstrem ibunya.

"Ma! Ngaco banget!"

Farah malah memasang wajah super serius. "Ya habisnya sampai sekarang kamu gak pernah kelihatan dekat sama cewek, apalagi bawa calon ke rumah. Wajar dong Mama curiga."

Regan langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "Astaga, Ma. Nggak lah! Regan masih normal, masih suka cewek."

"Serius kamu?" tanya Farah memastikan dengan mata menyipit ragu.

"Iya, serius, Ma."

Regan segera berdiri sambil membawa piring kotornya ke wastafel, berniat menyudahi interogasi malam ini sebelum merembet ke mana-mana. Sambil berjalan menjauh, ia menoleh ke arah ibunya dengan senyum jahil yang mendadak terbit.

"Daripada Mama pusing ngurusin Regan terus... mending Mama aja yang nikah lagi."

Kening Farah langsung berkerut dalam. "Hah? Maksud kamu apa?"

"Ya siapa tahu Mama mau ngerasain punya suami dua, kan seru," goda Regan dengan nada lempeng.

"REGAN! KURANG AJAR KAMU YA!"

Farah yang naik pitam seketika menyambar buah di meja makan yang ada di dekatnya lalu melemparkannya ke arah Regan. Regan tertawa lepas sambil dengan sigap menghindar, membuat buah itu melayang bebas mendarat di lantai.

"Ma, bercanda, Ma! Ampun!" seru Regan sambil berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.

"Kurang ajar bener ya itu anak kamu, Pa!" omel Farah sambil menghentakkan kakinya kesal.

Gani yang menyaksikan tingkah istri dan anaknya hanya bisa terkekeh geli sambil menggelengkan kepala.

"Sudah, sudah, gak usah dimasukin ke hati," ujar Gani sambil merangkul pundak istrinya.

"Kalau diterusin, bisa-bisa makan malam kita berubah jadi perang keluarga nanti."

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!