Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Yvaine merasa lucu, saat Vaine–si pemilik asli tubuh ini dulu diperlakukan dingin di keluarga Raguel, di mana mereka?
Saat Vaine hampir mati karena menggorok pergelangan tangannya—
Di mana mereka?
Mereka pernah datang, tak pernah peduli.
Dan sekarang mereka muncul.
Yvaine tersenyum tipis. Namun senyum itu dingin.
“Aku orangnya tidak suka bertele-tele,” katanya. “Kalau ada yang mau kalian katakan, bilang saja. Kalau tidak… silakan pergi. Kalian menghalangi jalanku.”
Ucapan itu membuat wajah keduanya berubah.
Harris semakin marah.
“Berani sekali kamu!” bentaknya. “Baru beberapa tahun di keluarga Raguel, kamu sudah lupa diri?!”
Yvaine mengangkat kepala. Menatap lurus ke matanya.
Tatapan itu begitu dingin. Seperti melihat orang mati.
Harris merinding. Tanpa sadar, ia mundur setengah langkah. Namun ia segera sadar, yang menatapnya hanyalah putrinya sendiri.
Dan itu justru membuatnya semakin marah.
“Kamu lihat apa?!” bentaknya.
Yvaine mencibir. “Aku melihat orang bodoh,” jawabnya tenang.
Kata itu terasa seperti tamparan.
“Setahuku… ibuku sudah meninggal sejak aku umur lima tahun,” lanjutnya. “Jadi aku penasaran… siapa ibuku sekarang?”
Wajah Laura langsung memucat. Tubuhnya gemetar.
“Yvaine… bagaimana kamu bisa bilang begitu?” suaranya bergetar. “Aku mungkin bukan ibu kandungmu… tapi aku tidak pernah berbuat salah padamu…”
Air matanya mulai menggenang. “Aku bahkan memperlakukanmu lebih baik daripada anakku sendiri…”
Yvaine mengernyit, ia merasa muak, sejak dulu ia selalu membenci orang seperti ini.
Berpura-pura baik, lalu bersandiwara dengan cara menangis untuk mencari simpati.
Padahal mereka penuh dengan kepalsuan.
Ia menatap Laura dengan dingin.
“Kamu tidak pernah berbuat salah?” ulangnya pelan.
Lalu ia tersenyum sinis.
“Ibuku meninggal saat aku lima tahun,” katanya. “Tapi adik tersayangku… cuma beda dua tahun dariku.”
Ia menatap tajam.
“Jadi… siapa sebenarnya yang salah di sini?”
Suasana langsung membeku.
Yvaine melanjutkan tanpa ampun. “Kamu… hanya wanita simpanan yang merusak pernikahan orang tuaku.”
Setiap kata terdengar jelas. Begitu tajam dan tanpa belas kasihan.
“Masih punya muka untuk bilang tidak bersalah?” lanjutnya dingin. “Tidak takut orang menertawakanmu?”
Wajah Laura benar-benar pucat sekarang. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi topeng lembut, yang tersisa hanya Rasa malu dan kebencian yang mulai muncul dari balik kepura-puraan.
Harris membelalak.
Wajahnya yang semula penuh amarah kini berubah pucat, seolah darahnya tersedot habis dalam sekejap. Ia menatap Yvaine dengan ekspresi tak percaya—seakan wanita di hadapannya bukan lagi putri yang dulu bisa ia kendalikan sesuka hati.
Bagaimana mungkin?
Putri yang dulu diam, patuh, dan menunduk… kini berdiri tegak di depannya, menatap tanpa rasa takut, bahkan berani melawan.
Yvaine tidak peduli sedikit pun dengan perubahan wajah itu.
Di sudut bibirnya terukir senyum tipis—senyum dingin yang lebih menyerupai ejekan.
Dalam benaknya, potongan demi potongan kenangan masa lalu kembali muncul.
Bukan kenangan miliknya…
Melainkan milik “Vaine” yang dulu.
Ia melihat kembali bagaimana wanita itu hidup dalam bayang-bayang—tertindas, dipermainkan, dan dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Ibu tirinya.
Wanita itu bukan hanya licik. Ia kejam, bermuka dua, dan lebih dari itu…
Ada bayangan gelap yang menyelimuti kematian ibu kandung Vaine—bayangan yang, semakin dipikirkan, semakin mengarah pada satu orang: Laura.
Sebenarnya, Vaine yang dulu bukan tidak tahu.
Ia sudah menyadari semuanya, namun, ia tidak punya pilihan.
Ayahnya begitu memuja Laura.
Keluarga dari pihak ibunya sudah lama memutuskan hubungan, sehingga ia menjadi sendirian. Bahkan untuk menyelidiki kebenaran pun, ia tidak memiliki kekuatan.
Setelah menikah dengan keluarga Raguel, hidupnya hanya berputar pada Tobias.
Ia jarang pulang dan jarang berhubungan dengan keluarganya.
Yvaine menarik napas pelan.
Jika mereka tidak datang hari ini—
Mungkin ia benar-benar tidak akan repot-repot menghitung semua ini.
Namun sayangnya…
Orang-orang seperti mereka tidak pernah tahu batas.
“Nak, k-kamu…”
Suara Laura bergetar, namun belum sempat ia melanjutkan—
“Berhenti memanggilku seperti itu,” potong Yvaine dingin. “Kita tidak sedekat itu.”
Kata-kata itu seperti tamparan.
Yvaine melirik wajah Laura yang kini seputih kertas. Ia tersenyum tipis.
“Kenapa? Malu karena aku mengatakan yang sebenarnya?” lanjutnya santai. “Kalau begitu… akui saja apa yang sudah kamu lakukan.”
Suaranya tetap tenang. Namun setiap kata-katanya begitu enusuk.
“Apa yang kamu maksud dengan memperlakukanku seperti anak sendiri?” lanjutnya. “Mengurungku di kamar kecil tanpa makanan? Tanpa air?”
Laura membeku.
“Memerintahkan anak-anakmu untuk memperlakukanku seperti pelayan? Memukulku… menendangku… hanya untuk melampiaskan emosi?”
“Bukankah itu semua ‘kasih sayang’ versimu?”
“A-aku… aku hanya ingin mendidikmu…” suara Laura melemah. “Atas nama ibumu…”
Ia mencoba membela diri.
Namun—
“Cukup.”
Suara Yvaine memotong tajam.
“Jangan sebut nama ibuku dari mulutmu.”
Tatapannya berubah dingin.
“Seperti yang sudah kukatakan… kamu hanya wanita simpanan yang merusak rumah tangga orang tuaku.”
“Siapa kamu… sampai berani mendidikku atas nama ibuku?”
Kata-kata itu menghantam tanpa ampun.
Wajah Laura semakin pucat.
Bibirnya bergetar, namun tak ada kata yang keluar.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆