NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Kepanikan Sarah dan Lucas

"Sarah... Sarah, bangun! Demi Tuhan, lihat itu, bangunlah!" bisik Lucas dengan suara tertahan sembari mengguncang hebat bahu istrinya yang masih memejamkan mata.

Sarah mengerjap pelan, membuka sepasang matanya yang masih tampak memerah akibat kurang tidur semalaman. Begitu dia menegakkan punggung dan mengikuti arah telunjuk tangan Lucas yang bergetar, napas wanita itu seketika tertahan di tenggorokan.

Seluruh permukaan kaca jendela kamar mereka yang luas kini telah sepenuhnya tertutup oleh lapisan es tebal yang membeku dari dalam.

Lapisan es itu tidak rata, melainkan membentuk pola-pola bunga kristal geometri yang teramat indah, rumit, dan presisi. Cahaya matahari pagi yang menghantam permukaan es tersebut memantulkan pendaran spektrum warna pelangi yang berkilauan, mengubah suasana kamar tidur sederhana mereka menjadi seindah interior istana es negeri dongeng.

"Indah sekali... tapi bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi di dunia nyata?" gumam Sarah takjub di balik rasa takutnya.

Dia bangkit dari kasur, melangkah mendekat, lalu menyentuh permukaan kaca jendela. Detik itu juga, ujung jarinya mendadak mati rasa akibat sengatan dingin yang luar biasa murni.

Lucas tidak ikut terpesona. Fokus matanya segera beralih penuh kecemasan ke arah boks bayi di sudut ruangan.

Di dalam keranjang kayu itu, White masih tertidur dengan sangat tenang, mengabaikan kekacauan yang dia buat. Namun, pemandangan yang membuat bulu kuduk kedua suami istri itu merinding hebat adalah kondisi bantal kain yang menjadi alas kepala White. Bantal itu kini telah berubah sepenuhnya menjadi sebongkah balok es padat yang transparan, berkilau jernih seperti kristal murni di bawah kepala sang bayi.

"Ini... ini sudah bukan lagi sekadar trik sulap kecil atau halusinasi sensitif seperti yang kau katakan kemarin, Sarah," ucap Lucas dengan nada suara berat, wajah petaninya pucat pasi kehilangan warna darah. "Dia... bayi perempuan ini membeku dan mengubah apa pun yang disentuhnya menjadi es saat dia sedang tertidur."

Lucas mengambil langkah mundur, menatap pantulan jendela es yang kini mulai memunculkan tetesan air kecil karena suhu matahari luar mulai menghangat, namun anehnya lapisan es buatan White itu tetap keras dan tidak mencair dengan cepat layaknya es biasa.

Pria itu menyadari dengan kepasrahan yang pekat bahwa rumah kayu sederhana milik mereka yang berada di atas bukit sepi ini kini telah bertransformasi menjadi tempat paling ajaib—sekaligus tempat paling mematikan—di seluruh kota Arcania.

Lucas terduduk lemas di pinggiran tempat tidur kayu, menyapu wajahnya berulang kali untuk mengusir rasa pening yang menyerang kepalanya.

"Sarah... kita tidak bisa membiarkan fenomena ini terus berlanjut tanpa kendali. Jika suhu di dalam rumah ini terus merosot drastis setiap kali White tertidur, kita berdua bisa mati membeku di dalam tidur kita sendiri! Atau yang lebih buruk lagi... struktur kayu rumah ini akan lapuk dan hancur karena menahan beban berat dari akumulasi es."

Sarah bergerak cepat, langsung mengangkat dan mendekap erat tubuh White yang masih terlelap ke dalam pelukannya, seolah-olah dia sedang menjadi tameng hidup yang ingin melindungi bayinya dari setiap untaian kalimat logis Lucas yang terdengar menyudutkan.

"Lalu apa maumu sekarang, Lucas?! Kau ingin membuangnya kembali ke tengah hutan liar?! Ingat, Lucas, dia hanyalah seorang bayi suci yang tidak tahu apa-apa! Dia sama sekali tidak sadar bahwa dia memendam kekuatan es mengerikan ini di dalam tubuh mungilnya!" bela Sarah dengan nada emosional, sepasang matanya yang berkaca-kaca menatap tajam suaminya.

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kita harus membuang anak kita sendiri, Sarah!" suara Lucas sempat meninggi refleks karena didera rasa panik, namun dia segera merendahkan kembali volume suaranya agar tidak mengejutkan White.

"Tapi lihatlah realitas di sekelilingmu saat ini. Ini bukan sihir biasa yang ada di sirkus kota. Bagaimana jika nanti saat dia tumbuh menjadi anak-anak, dia mengalami mimpi buruk yang hebat dan secara tidak sengaja mengubah seluruh kota terpencil Arcania ini menjadi gurun es abadi? Orang-orang dari kota besar akan datang menyerbu tempat ini, Sarah. Mereka akan memburu kita, menganggap kita sebagai pengkhianat yang menyembunyikan sesosok monster pembawa kiamat!"

"Dia bukan monster!" potong Sarah dengan kalimat tajam yang memotong argumen suaminya, air matanya kini luruh membasahi pipinya. "Dia adalah White Crystal. Dia adalah putri kita sekarang, Lucas! Kau sendiri kemarin yang bersumpah di depan ranjang ini bahwa kau akan menyayangi dan menjaganya seperti darah dagingmu sendiri!"

Mendengar kalimat pengingat janji tersebut, hati Lucas yang keras sebagai pria ladang seketika luluh dan patah. Dia terdiam seribu bahasa, menatap tangis istrinya. Lucas melangkah mendekat, duduk di samping Sarah di atas kasur, lalu memberanikan diri mengulurkan jemarinya yang kasar untuk menyentuh tangan kecil White yang terasa teramat dingin—sebuah sensasi dingin abnormal yang tidak seharusnya dimiliki oleh makhluk hidup yang bernapas.

"Aku tahu, Sayang... aku tahu. Maafkan aku, aku juga sangat menyayanginya," bisik Lucas pelan, suaranya melunak penuh penyesalan. "Tapi kita harus bergerak cerdas, kita harus mencari cara untuk melatih atau mengendalikan energi ini. Kita tidak bisa selamanya menggantungkan nasib pada keberuntungan agar para tetangga ladang tidak melihat adanya bunga es raksasa di jendela kamar kita di tengah cuaca musim panas yang terik seperti ini."

Sarah menghapus sisa air matanya menggunakan ujung celemeknya, mencoba menstabilkan kembali degup jantungnya yang sempat berpacu liar. "Mungkin... kekuatan es ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan stabilitas emosi batinnya, Lucas. Semalam, saat suhunya merosot dan ujung selimutnya membeku, aku langsung memeluknya dengan penuh ketenangan. Anehnya, setelah itu suhu tubuh dan ruangannya perlahan kembali bergerak normal."

Lucas menatap wajah istrinya dengan ekspresi yang sangat serius, mencoba mencerna informasi klinis tersebut. "Jika analisismu benar, berarti tugas utama kita adalah memastikan anak perempuan ini selalu merasa aman, bahagia, dan tidak pernah didera rasa takut yang berlebih. Dan ada satu hal lagi yang jauh lebih krusial, Sarah... kita harus segera mencari tahu siapa identitas asli dari White sebenarnya. Aku... aku teringat dulu saat masih remaja pernah mendengar sebaris dongeng tua dari para tetua di kota Luminara tentang makhluk-makhluk mistis yang bisa jatuh dari langit dimensi atas. Dulu aku selalu menganggap cerita itu hanyalah bualan konyol pengantar tidur, tapi sekarang..."

Lucas menggantung kalimatnya di udara, tatapannya terpaku pada helaian rambut putih White yang berkilau indah memantulkan cahaya fajar dari balik kaca jendela yang membeku.

Kukuruyuk!

Suara lengkingan ayam jantan mulai bersahut-sahutan dari kejauhan bukit, menandakan fajar telah menyingsing sepenuhnya dan para penduduk desa Arcania akan segera memulai aktivitas harian mereka di ladang-ladang sekitar.

Suara kokok ayam itu seketika membuat Lucas terlonjak kaget penuh kepanikan. Itu adalah alarm bahaya; para petani tetangga akan segera berjalan melintasi jalur setapak di depan bukit rumah mereka. Dengan gerakan panik yang tergesa-gesa, Lucas langsung menyambar selembar kain seprai tua sewarna gandum dan beberapa helai tirai beludru tebal dari dalam lemari kayu kuno mereka.

"Bantu aku cepat, Sarah! Jangan sampai ada seberkas cahaya matahari pun yang memantulkan kilau bunga es ini keluar rumah! Kalau ada satu saja petani tetangga yang lewat dan tidak sengaja melihat adanya ornamen es sedahsyat ini di jendela kamar kita di tengah musim panas, tamatlah riwayat kita semua!" bisik Lucas setengah panik sembari dengan tergesa-gesa memanjat sebuah kursi kayu di depan bingkai jendela.

Sarah segera membaringkan kembali tubuh White ke dalam boks bayinya secara perlahan, lalu bergerak cepat membantu suaminya membentangkan kain seprai tua tersebut.

Telapak tangan Lucas tampak bergetar hebat saat bersentuhan langsung dengan bingkai kayu jendela yang sudah dilapisi es padat. Suara gesekan kasar antara kain seprai dan lapisan kristal es itu memunculkan bunyi gemerincing halus yang menenangkan namun sekaligus mematikan bagi kewarasan mereka.

"Cepat lakukan, Lucas! Sial, aku sepertinya mulai mendengar samar-samar suara langkah kaki orang berjalan di jalan setapak depan rumah kita!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!