Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ba 14
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.47 dini hari. Rumah bertingkat itu tenggelam dalam kesunyian.
Lampu-lampu sebagian besar sudah dipadamkan, hanya menyisakan cahaya remang-remang di sudut ruangan yang menciptakan bayangan panjang yang tenang.
Hanan Arkan terbangun perlahan. Ia sempat terdiam sejenak, menatap istrinya, Kanza Arumi, yang tertidur pulas di sampingnya dengan posisi yang luar biasa "ajaib".
Bantalnya entah bagaimana sudah bermigrasi ke ujung kasur, dan selimut tebal itu hanya sukses menutupi sebelah lututnya saja.
Dengan senyum tipis yang penuh pemakluman, Hanan bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Air dingin yang menyentuh kulitnya seketika mengusir sisa kantuk. Ia kemudian menggelar sajadah di bawah lampu temaram sudut kamar.
Bismillah...
Ia pun mengangkat takbir, memulai komunikasi sunyinya dengan Sang Pencipta.
Namun, belum sempat ia masuk ke rakaat kedua...
“MAS! Mas sedang apa sih!?” terdengar suara parau khas orang bangun tidur dari arah kasur.
Hanan tetap tenang, mencoba menjaga kekhusyukannya meski telinganya menangkap suara grasak-grusuk. Ia terus melanjutkan gerakan rukuknya dengan tertib.
“Mas? Halo? Ini Mas Hanan atau robot yang sedang lowbat?” Kanza kini duduk tegak sambil memicingkan mata, berusaha mengumpulkan nyawa.
Lalu tanpa basa-basi, dia merayap turun dari kasur dengan gerakan pelan namun pasti, persis seperti zombie yang sedang lapar boba.
Kanza berdiri tepat di belakang Hanan, memeluk bantal gulingnya erat-erat, dan mulai "berpidato" tengah malam.
“Mas, kenapa tengah malam begini malah shalat? Kan bisa besok pagi saja sekalian Subuh...”
Hanan tak menjawab. Fokusnya masih pada bacaan shalat.
Kanza makin mendekat, kini ia berdiri tepat di samping sajadah, menghalangi pandangan Hanan.
“Kanza mimpi dikejar ulekan sambal raksasa, tahu tidak! Itu seram sekali! Mas malah tega meninggalkan Kanza sendirian di alam mimpi yang tidak beradab itu...”
Hanan menyelesaikan rakaatnya, lalu duduk tasyahud akhir. Begitu ia mengucap salam, Kanza langsung menjatuhkan diri, duduk bersila di samping Hanan dengan wajah cemberut.
“Mas, dengarkan Kanza. Kanza mau curhat soal ulekan itu... dia seolah hidup dan punya kaki. Sumpah... seramnya melebihi denda telat bayar UKT!”
Hanan menoleh, menatap wajah istrinya yang terlihat berantakan namun tetap menggemaskan di bawah cahaya lampu tidur.
“Kanza, ini Mas baru selesai shalat...”
“YA KAN Kanza juga sedang shalat... Shalat hati namanya,” celetuknya polos, sambil memejamkan mata dan meletakkan tangan di dada dengan gaya dramatis.
Hanan menahan tawa agar tidak merusak suasana syahdu sepertiga malam itu.
“Shalat hati itu maksudnya apa?”
“Shalat untuk hati yang... yang sepertinya mulai sedikit mencair karena dipanaskan oleh kebaikan Mas,” jawab Kanza lirih namun jujur.
Hanan terdiam. Tatapannya berubah menjadi jauh lebih lembut, menembus langsung ke mata Kanza.
“Hati siapa yang mencair?”
“Rahasia negara! Kanza tidak mau membuat Mas Hanan jadi besar kepala dan merasa menang,” jawab Kanza cepat sambil melirik dengan gaya sok jual mahal, meskipun semburat merah di pipinya tak bisa disembunyikan.
Hanan tersenyum, lalu hendak bangkit berdiri untuk melanjutkan beberapa rakaat sunnah lainnya. Namun, Kanza dengan cepat menahan ujung sarung Hanan.
“Mas... Kanza masih mengantuk sekali... peluk dong... biar ulekan di mimpi tadi tidak berani datang lagi.”
“Peluk? Katanya tidak mau membuat Mas besar kepala? Memangnya tidak malu?” goda Hanan dengan nada rendah yang menenangkan.
“MASSS! Kanza itu cuma gengsian, bukannya tidak punya perasaan!” bentaknya manja, lalu tanpa permisi ia langsung rebahan di pangkuan Hanan sambil tetap memeluk bantalnya erat-erat.
Hanan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang sekeras batu tapi selembut kapas ini.
“Aduh, ya sudah. Tidur di sini sebentar... tapi Mas mau lanjut berdoa dulu.”
Kanza manggut-manggut dalam dekapan Hanan, namun sebelum benar-benar terlelap, ia sempat bergumam sangat pelan.
“Istri siapa coba, yang punya suami shalatnya cakep amat begini... duh, dosa Kanza sepertinya sudah menumpuk setinggi gunung kalau begini terus...”
Hanan hanya bisa tertawa pelan tanpa suara sambil melanjutkan zikirnya.
Di tengah keheningan malam itu, Kanza akhirnya tertidur kembali dengan senyum kecil yang menghiasi sudut bibirnya.
Pelan-pelan, benteng pertahanannya mulai runtuh oleh ketulusan suaminya.
Meskipun begitu, Hanan tahu betul besok pagi saat matahari terbit, gadis ini pasti akan kembali menjadi Kanza yang gengsian dan penuh sindiran pedas lagi. Tapi baginya, itulah seni mencintai seorang Kanza Arumi.
Hujan gerimis kian menderu, membasahi jendela kaca kamar Zahira dengan irama yang menyayat hati.
Di dalam ruangan, hanya lampu meja kecil yang menyala temaram, membiarkan sudut-sudut kamar lainnya tenggelam dalam kegelapan.
Zahira terduduk diam di pojok ranjang, mukena putih bersihnya masih melekat di tubuh, namun hatinya terasa kotor oleh rasa tidak rela yang membuncah.
Sejak pulang dari supermarket dan menyaksikan pemandangan menyesakkan tadi, ia kehilangan kata-kata.
Bahkan doa-doanya malam ini tersendat di kerongkongan ia bingung harus memohon apa lagi, ketika takdir seolah sedang menertawakan kesetiaannya selama ini.
Tangannya bergetar hebat, wajahnya basah kuyup. Bukan lagi oleh sisa air wudhu, melainkan air mata yang terus mengalir deras membasahi kain mukenanya.
Isak tangisnya ia redam di balik bantal, namun bahunya yang terguncang hebat menunjukkan betapa ledakan emosi di dalam dadanya sudah tidak bisa lagi dibendung.
“Ya Allah... kenapa harus dia? Kenapa bukan aku?” rintihnya pedih.
Hanan Arkan. Sosok yang diam-diam selalu ia ikuti dengan pandangan penuh kekaguman sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di pondok.
Hanan yang ramah namun tetap menjaga wibawa, santun, alim, dan selalu menundukkan pandangan.
Zahira telah mencintai Hanan dalam diam yang paling sunyi, dalam doa yang paling panjang, dan dalam ketaatan yang paling murni.
Semua orang di pesantren tahu betapa dekatnya ia dengan keluarga. Umah sering kali mengelus kepalanya sambil berkata, “Zahira itu sudah seperti anak kandung Umah sendiri.” Aisya pun selalu menggandeng tangannya seperti saudara sekandung.
Bahkan Abah sering menunjukkan raut bangga setiap kali Zahira memberikan ceramah yang memukau di majelis ibu-ibu.
“Selama ini aku sudah berusaha menjadi sempurna. Aku menjaga sikap, aku memperdalam ilmu, aku mengabdi pada keluarga... Kalau bukan aku, lalu siapa lagi yang lebih pantas?” gumamnya dengan nada yang pecah oleh luka.
Namun kini, seluruh istana harapan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh berkeping-keping hanya karena kehadiran satu perempuan.
Kanza Arumi. Gadis yang menurutnya sangat absurd, bertingkah barbar, dan bersikap seenaknya sendiri.
Gadis yang tidak pernah merasakan dinginnya ubin pesantren, tidak mengerti tata krama, bahkan terlihat asing dengan dunia mereka.
Tapi justru dia perempuan yang melempar mangga dan memanggil suaminya "Pakde" itulah yang dipilih Hanan untuk menjadi pendamping hidupnya.
Zahira melempar bantalnya ke lantai dengan perasaan frustrasi. Amarah dan cemburu kini berkelindan menjadi satu racun yang menyesakkan paru-parunya.
“Kenapa bukan aku?! Kenapa pengabdianku selama ini tidak pernah dianggap cukup?”
Suara teriakannya yang parau tenggelam di balik gemuruh hujan di luar sana. Tak ada yang mendengar, tak ada yang tahu.
Hanya dinding-dinding sunyi dan Allah yang menjadi saksi bisu atas retaknya hati seorang Zahira.
Tangannya mencengkram dadanya dengan kuat, seolah ingin mencabut rasa cinta itu secara paksa agar perihnya berhenti.
Namun nihil, perasaan itu sudah mengakar terlalu dalam, dan kini akar itu perlahan mulai berubah menjadi duri yang menyakiti dirinya sendiri.
Ibunya mengetuk pintu kamar Zahira dengan pelan, suaranya terdengar lembut namun membawa beban kecemasan.
“Nduk, kamu tidak berangkat mengaji pagi ini? Ibu lihat kitab-kitabmu masih tertumpuk rapi di atas meja.”
Tak ada jawaban. Di balik pintu yang terkunci itu, Zahira hanya bisa menarik selimut tebalnya sampai ke atas kepala, berusaha menciptakan ruang gelap yang bisa menyembunyikan wajah sembabnya.
Suasana kamar yang biasanya tenang dengan lantunan zikir, kini terasa pengap oleh aroma kesedihan yang pekat.
“Zahira? Kamu sakit, Nduk?” suara ibunya mulai terdengar lebih khawatir, jemarinya kembali mengetuk kayu pintu dengan irama yang lebih cepat.
Zahira menahan napas sekuat tenaga, membiarkan dadanya sesak oleh isak tangis yang tertahan.
Matanya yang biasanya jernih dan penuh keteduhan, kini bengkak dan memerah akibat air mata yang tumpah sepanjang malam.
Ia ingin sekali menjawab, ingin keluar dan memeluk ibunya untuk menumpahkan segala luka tentang Hanan Arkan dan Kanza Arumi.
Namun, kakinya seolah telah kehilangan kekuatan untuk sekadar berdiri, terpaku pada dinginnya lantai kamar.
Lidahnya terasa kelu, terkunci oleh kenyataan pahit bahwa sekeras apa pun ia berusaha menjadi sempurna di mata keluarga ndalem, takdir tetap memilih gadis lain sebagai pelengkap hidup pria yang ia cintai.
Ia merasa separuh jiwanya telah lumpuh dalam kecewa yang tak bertepi.
Pagi itu, Kanza Arumi kembali "dititipkan" di pesantren. Hanan Arkan sudah berangkat ke kampus sejak subuh buta untuk mengejar jadwal kelas pagi, dan seperti biasa, Umah menyambut Kanza dengan senyum lembut yang menenangkan.
Di ruang tengah, Aisah sedang menyapu lantai kayu yang mengilap sambil menyenandungkan lagu nasyid pelan-pelan, menciptakan suasana pagi yang syahdu.
“Assalamu’alaikum, Mbak Aisah,” sapa Kanza sambil nyelonong masuk dengan tote bag besar berisi amunisi camilan.
“Wa’alaikumussalam, Mbak Kanza,” balas Aisah sambil nyengir lebar.
“Bawa apa lagi tuh? Stok camilanmu itu sudah seperti persiapan logistik menghadapi perang dunia ketiga.”
“Hehe, ini bekal darurat buat menghadapi hari-hari berat sebagai istri dosen yang hobi ceramah,” sahut Kanza dengan gaya lebay yang menjadi ciri khasnya.
Mereka berdua tertawa, suasana terasa santai dan penuh keakraban.
Namun, tawa itu mendadak surut saat terdengar deru halus mesin mobil yang berhenti tepat di depan gerbang. Sosok mobil yang sangat dikenali oleh penghuni pondok.
Umah keluar untuk menyambut tamu tersebut.
“Lho, itu sepertinya mobilnya Ustadzah Zahira…”
Aisah dan Kanza pun ikut melongok penasaran dari balik jendela jati.
“Siapa, Mbak?” bisik Kanza pelan, perasaannya tiba-tiba tidak enak.
“Ustadzah Zahira. Mantan santriwati teladan di pondok sini. Beliau dekat sekali dengan keluarga kita, sudah dianggap anak sendiri oleh Abah dan Umah. Sekarang dia kuliah juga di kampus tempat Mas Hanan mengajar,” jelas Aisah panjang lebar.
Kanza menelan ludah dengan susah payah.
“Wah… saingan berat sepertinya nih…” gumamnya lirih.
Zahira melangkah masuk dengan keanggunan yang sempurna.
Jilbab syar’inya menjuntai rapi tanpa cela, gerak-geriknya sangat lembut, dan senyumnya memancarkan kesopanan yang hakiki. Umah langsung memeluknya dengan hangat.
“Assalamu’alaikum, Nduk… sehat?”
“Wa’alaikumussalam, Umah. Alhamdulillah, Zahira sehat,” jawabnya dengan suara yang sangat merdu.
Matanya mulai menyapu seisi ruangan lalu tatapannya berhenti mendadak. Tepat pada sosok Kanza.
Kanza yang berdiri kikuk di balik punggung Aisah, nyaris menjatuhkan toples keripik pedasnya.
“Eh… assalamu’alaikum…” ucapnya kaku, berusaha memasang wajah ramah tapi malah terlihat seperti sedang menahan bersin.
“Saya… Kanza. Istrinya Paklek Hanan—eh, maksudnya Mas Hanan Arkan. Ya, begitulah kelihatannya.”
Zahira tetap tersenyum, meski binar matanya tidak sampai ke sana.
“Wa’alaikumussalam, Mbak Kanza. Saya Zahira.”
Tatapan itu. Meski hanya sekejap, Kanza bisa merasakan ada sesuatu yang tajam dan menusuk di balik keramahan yang ditampilkan.
Seolah-olah ada ribuan kata yang tertahan di balik senyum tipis itu.
Kanza merasa seolah-olah sedang berdiri di kursi pesakitan. Ia menoleh ke arah Aisah dan berbisik dengan nada panik.
“Mbak… tatapannya horor banget. Kayak dosen killer yang mendadak muncul saat kita belum bikin tugas makalah…”
Aisah pura-pura tidak mendengar karena tidak enak hati, tapi ekspresi wajah Kanza semakin pucat pasi.
“Dia… sepertinya tahu kalau aku sering memanggil Mas Hanan ‘Paklek’ di rumah. Atau mungkin dia tahu aku pernah menangis bombay hanya karena gagal mengupas kentang? Mbak, aku merasa terancam…”
Aisah berusaha sekuat tenaga menahan tawa melihat tingkah kakak iparnya yang ajaib ini.
Sementara itu, Zahira tetap terlihat kalem, tetap menebar senyum, dan tetap bertutur kata lembut.
Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, hatinya berteriak pedih.
"Jadi, perempuan seperti ini yang Mas Hanan pilih? Perempuan yang seenaknya, tidak punya adab pesantren, dan tanpa bekal ilmu agama yang mumpuni? Dia datang begitu saja dan langsung bertahta menjadi istri. Sementara aku… bertahun-tahun aku menunggu di sudut pondok ini, menjaga kehormatan diri, dan menyimpan doa-doa panjang yang ternyata tak pernah sampai di hatinya."
Salam Hangat Dari Penulisss....