Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUBUR SEBENTAR,MALAH DIBIKIN REPOT TETANGGA
Hari itu aku dan Ojak dapat jatah pulang lebih awal. Berkas-berkas kemarin sudah selesai semua, tanda tangan juga aman, jadi Pak Harun bilang kami boleh istirahat sebentar sampai besok pagi.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa bernapas lega juga. Hari ini gak ada tugas, gak ada kambing,” kataku sambil melambaikan tangan pada Ojak di depan rumah.
“Benar juga. Besok baru kita ketemu lagi. Kalau butuh apa-apa teriak saja!” jawab Ojak sambil melajukan motornya pulang.
Begitu masuk ke halaman rumah, aku baru saja mau duduk santai di beranda sambil minum air es, tiba-tiba suara orang memanggil dari pagar.
“Bima! Bima ada di rumah gak?”
Yang datang adalah Sari, tetanggaku yang rumahnya persis di sebelah. Di belakangnya ada Rara, sepupunya yang memang sering main ke rumah Sari kalau hari senggang.
“Wah, ada kalian berdua. Ada apa kok kayak buru-buru?” tanyaku sambil membukakan pintu pagar.
Sari langsung masuk sambil mengelap keringat di dahi. “Kebetulan sekali kamu ada di rumah. Kami lagi butuh bantuan nih.”
Rara ikut menimpali sambil nyengir, matanya berbinar seolah dapat ide seru: “Iya nih Bim, jangan bilang gak bisa ya. Cuma sebentar aja kok, gak sampai satu jam.”
Aku menghela napas panjang. Baru saja mau santai, eh sudah ada urusan lagi, pikirku dalam hati.
“Oke, oke. Mau bantu apa? Jangan-jangan suruh antar barang ke ujung desa lagi kayak tugas kantor?” tanyaku sambil bercanda.
“Bukan, bukan. Ini lebih gampang tapi butuh tenaga dan ketelitian,” jawab Sari sambil menarik tanganku ke arah rumahnya.
Ternyata di halaman belakang rumah Sari ada setumpuk pot bunga dan bibit tanaman yang baru dibeli dari pasar pagi. Katanya mereka mau memindahkan dan menyusunnya supaya rapi, tapi berdua saja rasanya berat dan takut pecah potnya.
“Lihat deh, ini bawaannya lumayan banyak. Kalau jatuh atau pecah, kami yang rugi. Makanya ingat kamu, kan biasa bawa barang berat ke mana-mana,” kata Rara sambil menunjuk tumpukan pot yang berwarna-warni.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dasar kalian berdua, giliran butuh bantuan baru ingat tetangga. Sudah ayo, jangan ditunda lagi nanti makin terik mataharinya.”
Kami mulai bekerja. Awalnya berjalan lancar. Aku angkat pot besar, Sari bantu pegang sisi, Rara yang menunjuk tempat mana saja yang cocok ditaruh. Tapi lama-lama mulai muncul kejadian konyolnya.
Begitu aku mengangkat satu pot bunga mawar yang agak tinggi, tiba-tiba seekor kucing liar yang sedang tidur di balik tumpukan itu melompat kaget. Dia melesat lewat di kakiku sampai aku terhuyung-huyung dan hampir menjatuhkan potnya!
“Hati-hati Bim! Jangan sampai bunganya jadi korban!” teriak Sari sambil langsung menahan pinggang pot itu supaya tetap seimbang.
“Wah, kucing ini ganggu kita berkebun rupanya. Kalau jatuh, namanya bukan bunga lagi, tapi bunga yang jadi pupuk,” kata Rara sambil ketawa melihat wajahku yang kaget.
Belum selesai mengatur pot mawar, Rara malah salah ambil air. Dia pikir air di ember itu bersih buat menyiram, ternyata itu air bekas cucian pakaian yang belum dibuang! Begitu disiram sedikit ke tanaman, daunnya langsung layu seolah protes.
“Aduh, salah air dong! Maaf-maaf, aku kira itu air bersih,” kata Rara sambil menutup mulutnya, malu sendiri.
Sari langsung memarahinya pelan sambil ketawa: “Dasar ceroboh! Sudah dibilang tadi ember sebelah kanan yang air bersih, yang kiri bekas cucian. Lihat aja nanti tanamannya marah dan gak mau tumbuh!”
Aku yang melihat kejadian itu sampai terbahak-bahak sampai perut sakit. “Wah, di kantor aku hadapi kambing, di rumah malah hadapi kucing yang lari dan air cucian yang salah sasaran. Dunia ini memang gak pernah kasih istirahat penuh ya!”
Setelah hampir satu jam bekerja, akhirnya semua pot tersusun rapi, air yang salah sudah diganti, dan halaman belakang jadi terlihat lebih segar dan asri. Walaupun bajuku sedikit kotor kena tanah dan keringat membasahi punggung, tapi hasilnya lumayan bagus.
“Syukurlah sudah beres! Makasih banyak ya Bima, kalau gak ada kamu bisa sampai sore kami beresinnya,” kata Sari sambil tersenyum lebar.
“Iya nih, kamu memang andalan. Nanti kalau ada tanaman yang tumbuh bagus, aku kasih kamu bunga yang paling cantik deh,” tambah Rara sambil tertawa.
Kami duduk sebentar di beranda rumah Sari sambil minum es teh manis yang segar. Angin sore mulai berhembus sejuk, menyejukkan badan yang lelah.
Rara tiba-tiba menoleh padaku dengan tatapan iseng. “Ngomong-ngomong, hari ini ceritanya juga bisa aku catat lho. Dari hampir jatuh karena kucing, sampai tanaman kena air cucian. Lumayan, gak kalah heboh sama kejadianmu di kantor!”
Aku cuma mengangkat tangan tanda pasrah sambil tertawa. “Silakan saja catat. Ternyata di rumah pun gak luput dari kekonyolan ya. Yang penting semuanya selesai dan gak ada yang rusak parah.”
Dalam hati aku berpikir:
Selama ini aku kira kekacauan cuma ada di kantor. Ternyata di rumah, di tempat tetangga, di mana saja bisa saja muncul kejadian yang tak terduga. Kalau hanya diam menunggu hari yang mulus terus, rasanya hidup akan terasa hambar. Tapi kalau bisa menikmati setiap kejadiannya, entah itu lucu, sedikit repot, atau konyol sekalipun hari libur pun terasa lebih berwarna dan penuh cerita.
Setelah cukup istirahat, aku pamit pulang. Badan terasa lelah, tapi hati terasa ringan dan senang. Ternyata bergantian tempat cerita memang lebih asyik kadang di kantor, kadang di rumah, kadang juga di mana saja yang tak terduga.