NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

****

Langkah kaki Raden Mas Baskoro terdengar bagai gemuruh petir di selasar kayu yang sepi. Usai diusir secara dingin dari peraduan utama oleh Larasati, pria berusia tiga puluh lima tahun itu melangkah dengan dada yang sesak oleh gumpalan penyesalan, amarah, dan rasa malu yang meluap-luap. Tatapan matanya yang biasanya memancarkan aura penguasa kini memerah pekat, menyembunyikan kehancuran jiwa yang tak tertahankan.

Di ujung selasar belakang, Sentot sudah berdiri menunggu dengan wajah tegang. Di sampingnya, seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian pengawal kadipaten terkulai gemetar dengan tangan terikat rantai besi.

"Raden Mas," panggil Sentot seraya menunduk dalam. "Saya berhasil mencegat pengawal suruhan Nyai Gayatri ini di tapal batas barat. Dari dalam lipatan bajunya, kami menemukan cap stempel palsu yang digunakan untuk membuat surat fitnah itu."

Baskoro menghentikan langkahnya tepat di hadapan pengawal kadipaten tersebut. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tangan besar Baskoro mencengkeram kerah baju pengawal itu hingga tubuhnya terangkat ke udara.

"Katakan padaku..." suara Baskoro mengalun bariton rendah, begitu dingin hingga sanggup memotong nada napas siapa pun yang mendengarnya. "Siapa yang memerintahkanmu membuat kertas sampah itu?"

"A-Ampon, Raden Mas! Ampon!" ratap pengawal itu histeris, tubuhnya gemetar hebat laksana daun kering. "Nyai Gayatri! Nyai Gayatri yang menyuruh hamba! Beliau menyuap hamba dengan sepuluh keping emas untuk memalsukan stempel dan menuliskan nama Bagas di kertas itu! Beliau dendam karena telah diusir dari rumah joglo ini!"

Brak!

Baskoro menghempaskan pengawal itu ke lantai batu hingga mengerang kesakitan. Kenyataan yang menghantam telinganya membuat penyesalan di dada Baskoro kian menggerogoti jiwanya. Cemburu buta yang sempat membutakan nalarnya kini telah berubah menjadi badai murka yang menuntut pembalasan.

"Sentot!" bentak Baskoro, suaranya menggelegar memecah keheningan kompleks Joglo. "Siapkan seluruh pengawal berkuda perbukitan! Kita berangkat ke kota kadipaten sekarang juga!"

"Siap, Raden Mas!"

Sore belum sepenuhnya redup ketika derap langkah belasan kuda jantan menerabas gerbang kediaman mewah milik keluarga Gayatri di pusat kota kadipaten. Kehadiran Baskoro yang memimpin pasukan pengawal perbukitan seketika membuat gempar seluruh penghuni kediaman bangsawan tersebut.

Baskoro mendobrak pintu jati pendopo utama tanpa peringatan. Di dalam ruang tamu yang megah, Nyai Gayatri sedang duduk santai menikmati teh hangat bersama ayahnya—Kyai Demang Brata—serta beberapa tetua kota.

"Baskoro?!" pekik Gayatri terperanjat, berdiri seketika dengan wajah pucat saat melihat Baskoro melangkah masuk dengan aura membunuh yang teramat pekat. "Apa-apaan ini?! Berani sekali kau menerobos rumah keluargaku?!"

Kyai Demang Brata ikut berdiri, mengetukkan tongkat kayunya ke lantai. "Jaga tatakramamu, Raden Mas Baskoro! Kau sedang berada di rumah seorang Demang!"

Baskoro tidak memedulikan gertakan itu. Dengan gerakan kasar, ia melempar pengawal kadipaten yang terikat rantai tepat ke tengah ruangan, disusul dengan melemparkan stempel palsu dan kertas pengakuan yang telah ditandatangani.

"Buka matamu lebar-lebar, Demang Brata!" geram Baskoro, menunjuk wajah Gayatri dengan telunjuknya yang bergetar menahan amarah. "Lihat bagaimana putri kandungmu merancang fitnah keji untuk merusak kehormatan rumah tanggaku dan menghina rahim permaisuriku!"

Kyai Demang Brata terbelalak, membaca kertas pengakuan itu dengan tangan gemetar. Wajahnya seketika merah padam oleh rasa malu yang luar biasa saat menatap putrinya. "Gayatri... apakah ini benar perbuatanmu?!"

Gayatri gagap, langkah kakinya mundur ketakutan melihat binar mata Baskoro yang laksana singa terluka. "T-Tidak, Ayah! Itu bohong! Baskoro, aku melakukan ini karena aku mencintaimu! Wanita desa itu tidak pantas bersanding denganmu!"

"Tutup mulutmu, Gayatri!" bentak Baskoro, suaranya memecah ruangan laksana guntur. "Cintamu adalah racun murahan! Mulai hari ini, detik ini juga... seluruh kerja sama perdagangan kayu jati, pasokan bahan bangunan, dan akses pasar perbukitan Joglo dengan keluargamu KUHENTIKAN SEUTUHNYA!"

"Baskoro, tidak bisa begitu!" seru Demang Brata panik. "Pemutusan kerja sama ini akan memuputkan seluruh mata pencaharian dan memflitnah nama baik keluarga kami di kota ini!"

"Itu adalah harga yang harus kau bayar atas racun yang disebarkan putrimu!" tegas Baskoro tanpa sedikit pun nada kompromi. "Jika aku melihat Gayatri atau pengawalmu melangkah selangkah saja ke tanah perbukitan Joglo, aku pastikan nyawa kalian menjadi taruhannya!"

Baskoro memutar tubuhnya kaku, meninggalkan kediaman itu di tengah histeria tangis Gayatri dan keruntuhan finansial keluarga Demang Brata yang seketika hancur dalam sekejap mata.

**

Malam kembali jatuh melingkupi perbukitan Joglo. Udara dingin pegunungan menusuk hingga ke tulang, namun suasana di kompleks rumah besar itu terasa jauh lebih membeku.

Langkah pertama yang dilakukan Baskoro setibanya kembali di Joglo adalah menuju sel tahanan bawah tanah. Dengan tangannya sendiri, Baskoro membuka kuncian rantai besi yang melilit tubuh Bagas.

Bagas yang terkulai lemah di lantai batu mendongak perlahan, menatap sang penguasa tanah dengan mata bengkak dan bibir pecah-pecah.

"Kamu sudah bebas, Bagas," ucap Baskoro, suaranya bariton pelan, dipenuhi kerendahan hati yang belum pernah terdengar sebelumnya. Pria tiga puluh lima tahun itu membungkuk sedikit, menyerahkan selembar surat pengakuan fitnah Gayatri dan sebungkus kantung kain berisi uang emas. "Aku telah menemukan bukti bahwa surat itu adalah fitnah Gayatri. Aku meminta maaf... atas kejahatan dan cemburu butaku yang telah melukaimu."

Bagas menatap kantung emas itu, lalu menggeleng pelan menolaknya. Pemuda desa itu tersenyum tipis di antara rasa sakit di tubuhnya.

"Aku tidak membutuhkan emasmu, Juragan," bisik Bagas parau. "Aku menerima permohonan maafmu... tapi bukan untukku, melainkan demi Larasati. Pulanglah padanya. Obatilah luka batin wanita tulus itu sebelum kamu benar-benar kehilangannya."

Kata-kata Bagas kembali menancap dalam di dada Baskoro. Pria perkasa itu mengangguk kaku, memerintahkan Sentot mengantar Bagas pulang ke desanya dengan kereta kuda terbaik dan pengawasan tabib.

Dengan langkah lunglai dan dada yang hancur, Baskoro melangkah menuju kamar utama. Di tangannya, ia menggenggam surat bukti kebenaran fitnah Gayatri dan hasil sulaman kebaya bayi milik Larasati yang tadi sore sempat jatuh dan telah dibersihkan oleh Mbok Sum.

Baskoro memutar gerendel pintu kayu dengan teramat pelan. Cklek.

Lampu teplok menyala temaram di balik kelambu sutra. Larasati sedang duduk bersandar di kepala ranjang jati. Raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun tampak teramat ringkih dalam balutan kebaya katun putih yang longgar. Perut membuncitnya yang berusia delapan bulan tertutup kain jarik gading.

Mendengar pintu terbuka, Larasati tidak sedikit pun memalingkan wajahnya. Matanya yang redup dan sembap tetap tertuju lurus pada selasar jendela yang terbuka sedikit, menatap kegelapan malam.

Baskoro mengikis jarak dengan pelan, seolah takut langkah kakinya akan melukai permaisurinya lagi. Pria tiga puluh lima tahun itu merendahkan tubuhnya, berlutut di tepi ranjang jati tepat di hadapan Larasati.

"Laras..." bisik Baskoro, suaranya bergetar parau oleh rasa bersalah yang tak terobati. Ia meletakkan surat pengakuan dan sulaman kebaya bayi itu di atas kasur. "Aku sudah membongkar semuanya, Nduk... Gayatri sudah mengakui fitnah kejamnya. Bagas sudah kubebaskan secara terhormat dan kurawat lukanya... Ini bukti suratnya, Laras. Rahimmu suci, sayang... Anak kita adalah darah dagingku yang sah..."

Larasati menatap surat itu sekilas melalui sudut matanya, lalu kembali menatap kosong ke arah jendela. Tidak ada binar lega, tidak ada senyuman, bahkan tidak ada air mata yang menetes. Keheningan yang ditinggalkannya terasa jauh lebih menyiksa daripada makian.

"Saya sudah tahu sejak awal bahwa rahim ini suci, Mas Baskoro," ucap Larasati pelan. Suaranya mengalun sangat datar, dingin, dan hampa. "Penjelasan ini tidak ada gunanya lagi bagi saya. Karena yang meragukan kesucian saya... bukan Gayatri, melainkan suami saya sendiri."

Kata-kata Larasati menghantam dada Baskoro laksana tebasan keris. Pria perkasa itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menumpahkan air mata penyesalan yang menetes membasahi kain jarik di pangkuan Larasati.

"Maafkan aku, Laras..., maafkan suamimu yang bodoh ini..." rintih Baskoro parau, jemarinya yang gemetar mencoba menggapai dan mengelus lembut telapak kaki Larasati yang membengkak halus. "Hukum aku, Nduk. Marahi aku... tapi tolong, jangan tatap aku dengan pandangan sedingin ini..."

Larasati menarik pelan kakinya menjauh dari jangkauan jemari Baskoro. Ia mengelus lembut perut besarnya yang mendadak memberikan dorongan gerakan halus dari dalam.

"Saya butuh istirahat, Mas," potong Larasati tegas tanpa memandang wajah suaminya. "Tolong keluar dan kunci pintunya dari luar. Saya tidak ingin diganggu oleh siapa pun malam ini... termasuk Anda."

Baskoro mematung di atas lantai kayu. Penolakan dingin dari istri remajanya terasa bagaikan hukuman mati bagi jiwanya. Pria berusia tiga puluh lima tahun yang ditakuti seluruh perbukitan Joglo itu kini hanya bisa berdiri dengan dada hancur, menatap punggung Larasati yang memunggunginya kaku.

Dengan langkah lunglai dan hati yang dipenuhi rasa bersalah yang tak bertepi, Baskoro berbalik melangkah keluar kamar utama, membiarkan keheningan malam memeluk erat luka batin sang permaisuri di atas bukit Joglo.

Bersambung

1
partini
👍👍👍
Maya Audina
di awal baca juga 35 kak,Larasati 19...
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄
falea sezi
kapok😒 makanya uda tua sadar diri jangan cemburuan nuduh g jelas
Fauziah Daud
rasakan
Maya Audina
waah bikin masalah ini namanya nduk🤣
falea sezi
🤣🤣 tua bangka
partini
mampus Luh pak tua
Maya Audina
like&vote buatmu thor
Maya Audina
maaf Thor di awal Baskoro berusia 35, kok sekarang 40th
Maya Audina
Larasati gak jadi bersih2 dong yah, td katanya mau hapus riasan,eh nangis dan tau2 juragan masuk🤭
falea sezi
cerai aja laki tololl uda tua bangka g tau diri
Neni Abu Triana
udah dong jgn terus konflik please cape ,keren novel tp trs ajh konflik
partini
Laras maklum aja lah dia kan udah otw tuir jadi begitu
partini
randen mas kamu kan yg jebol tuh gawang apa ga ngerasain seyeeet busettt dah gitu aja udah kalap kata orang Jawa ngapak ada ini reden mas ledhoooooooooo 😂😂😂🤭
imel
masa gak bisa ngerasain waktu pertama kali main😏
partini
perasaan kemarin 40 th ko jadi 35 th Raden Baskoro
Fauziah Daud
trusemangattt
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!