NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Assalamu'alaikum!" jawab lelaki di seberang sana.

"Wa'alaikumussalam, Mas dimana?" tanyaku.

"Baru kelar kirim ini, kenapa? Kamu sakit lagi lagi? Masih di kantor?" tanya Mas Yunus.

"Nggak, Mas. Mas, bisa minta tolong jemput aku di taman kunang-kunang?"

"Iya!" jawabnya. "Kamu nggak papa, Ran? Kamu habis dari tempat pacarmu itu?"

"Aku tunggu ya, Mas!" ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.

Beberapa lama kemudian, aku melihat sebuah motor berhenti tak jauh dari tempatku duduk. Seorang lelaki dengan postur tinggi dan kulit bersih turun dari motor sambil membawa ransel. Dia berjalan ke arahku, lalu duduk di sampingku. Dia melihat tajam ke arahku.

"Kenapa?" tanyanya.

"Apa Mas tahu sesuatu yang aku tidak tahu selama ini?" tanyaku.

Dia hanya tersenyum tipis sambil mengulurkan sebotol air mineral yang sudah dia buka segel nya untukku.

"Kenapa nggak ngomong aja Mas?" aku kembali bertanya.

"Kalau aku cerita, kira-kira apa kamu bakal percaya? Apalagi, aku yang sudah beberapa kali menyatakan perasaanku sama kamu. Apa yang sudah kamu ketahui?"

Aku kembali menghela nafas, "Mereka lagi asik main kuda-kudaan pas aku datang tadi." jawabku. Sedangkan air mata masih saja setia menetes dari ujung mataku.

"What? Aku nggak nyangka kalau mereka sejauh itu. Aku cuma pernah lihat mereka makan bareng di cafe punya temen aku. Dan dari gestur mereka, aku bisa menyimpulkan kalau hubungan mereka bukan cuma teman biasa. Itu aja, makanya kemaren aku bilang sama kamu, hati-hati, jaga diri, jaga hati."

"Nangis aja sekarang sepuasnya, tapi kamu mesti janji ini terakhir kamu nangisin lelaki kadal buntung macam dia. Kalau mau pinjam bahu atau dada buat bersandar, nih.... siap dua puluh empat jam macam UGD rumah sakit!" ucapnya sambil menaikturunkan alisnya dan menepuk bagi juga dadanya.

"Apaan sih!" jawabku sambil tersenyum dan menghapus air mata.

"Kamu nggak jadi ikut sidak?" tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku. "Ntar habis bu bos pergi. Orang nya lupa kalau hari ini ada kondangan." jawabku.

"Mas mau kemana?" tanyaku saat melihat ada matras yang terselip di ransel yang dia bawa.

"Mau camping sama teman-temanku. Kenapa? Mau ikut?"

Aku diam sejenak. "Emang boleh?"

"Boleh aja kalau kamu mau. Ada ceweknya juga kok. Nggak cuma cowok aja!"

"Aku telpon Ibu dulu ya, ijin dulu sama Ibu."

Dia menganggukkan kepalanya.

Aku segera menelepon Ibu, meminta izin untuk ikut camping. Ibu mengizinkan, akupun berpesan untuk tidak mengatakan hal ini ke Mas Daniel jika dia datang mencariku. Aku berjanji akan menceritakan semua pada Ibu nanti setelah pulang camping.

"Let's Go! Kita have fun!"

"langsung ini? Kamu nggak pulang dulu?"

"Nggak usah, nih udah bawa baju ganti kok tadi. "

"Makan dulu tapi ya! Lapar, tadi nggak sempat makan aku!" ajak Mas Yunus.

"Boleh,"

*****

Minggu sore, aku baru pulang camping. Lumayan buat menyegarkan otak yang sempat stres karena pekerjaan, juga hati yang sakit karena ulah mantan. Mas Yunus mengantarku sampai rumah. Setelah istirahat beberapa lama, diapun pamit pulang.

"Mbak, sebenarnya ada apa?" tanya Ibu.

Aku terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu. Mengambil nafas beberapa kali lalu mulai bercerita.

"Hem, Sabtu kemaren harusnya jadwal kunjungan ke cabang sama tacik kan, Bu. Nah, ternyata nggak jadi soalnya tacik ada undangan nikahan kolega nya Pak Bos di luar kota juga. Terus, kemaren itu juga ulang tahun nya Mas Daniel. Jadi aku ada rencana mau datang bikin kejutan buat dia. Nyampe sana malah aku yang dapat kejutan, Bu!" aku mulai menceritakan semua kejadian yang aku alami saat itu.

"Alhamdulillah, semua ditunjukkan sebelum kalian masuk ke jenjang yang lebih serius lagi, mbak."

"Iya, Bu! Mereka ada datang ke rumah nggak Bu?"

"Nggak ada tuh, mbak.. Nggak tahu kalau nanti. Ponsel kamu masih belum kamu aktifkan?"

"Belum Bu, habis baterai. Habis ini baru mau aku charge."

"Ya sudah, nggak usah terlalu dipikir. Emang belum jodoh. Nanti juga bakal ketemu sama yang terbaik."

"Aamiin..... " jawabku. "Bu, aku istirahat dulu ya, nanti misal Mas Daniel apa Yunita kesini, Ibu bangunin aja nggak papa."

"Iya mbak, udah sana istirahat. Besok kerja kan?"

"Njeh Bu," jawabku lalu berdiri dan masuk kamar. Kurebahkan diri, sambil mendengar lantunan sholawat. Hingga akhirnya aku tertidur.

Setelah magrib, terdengar suara Ibu mengetuk pintu kamar. Segera kulepas mukena dan melipatnya lalu kuletakkan di atas rak.

"Njeh, Bu?" tanyaku setelah membuka pintu kamar.

"Ada Daniel di depan." jawab Ibu singkat.

"Njeh, Bu. Matur nuwun." jawabku lalu melangkah ke ruang tamu.

Kulihat seorang lelaki duduk di kursi di teras depan. Dia menunduk, entah apa yang dia pikirkan.

"Assalamu'alaikum," ucapku.

"Ran," ucapnya sambil berdiri mendekat.

Aku mengangkat tanganku, mengisyaratkan agar dia tetap di tempatnya. Setelah itu, aku melangkah duduk di kursi yang ada di sampingnya berbatas meja kecil. Aku diam, masih terasa enggan untuk memulai percakapan dengan Mas Daniel.

"Ran, Mas mau minta maaf soal yang kemaren." ucapnya lirih.

"Mulai kapan?" tanyaku dengan tatapan lurus ke depan melihat bunga-bunga milik Ibu yang ada di teras. Bayangan mereka di kamar kembali berputar dalam ingatanku, membuat aku enggan menatap wajah lelaki yang saat ini menatap sendu padaku.

"Hampir enam bulan ini," jawabnya lirih.

"Oke, boleh aku kasih saran?"

"Ran...?" pintanya

"Mas, sebelumya aku mau bilang terimakasih. Hampir dua tahun ini sudah menemani aku berjuang mewujudkan impianku. Kalau boleh aku kasih saran, segeralah kalian menikah. Jangan terlalu lama larut dalam zinah. Aku.. "

"Tapi Ran, aku sayang dan cintanya sama kamu! Aku minta maaf, aku khilaf Ran. Kita mulai lagi dari awal ya! Please!" ucapnya.

Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Oke, kita mulai dari awal!"

"Terimakasih, sayang!" ucapnya memotong sambil meraih tanganku.

Secara kutarik tanganku. Sungguh, aku sudah tidak ingin bersentuhan dengannya. "Tunggu Mas, yang ku maksud dari awal itu adalah benar-benar awal. Saat kita belum saling mengenal. Jadi, Mas paham kan, dengan apa yang aku maksudkan?"

"Ran... " ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.

"Mas, please! Sudah ya, aku capek! Besok aku kerja. Jadi maaf, aku mau masuk dulu. Kalau Mas masih mau duduk disini, monggo silahkan. Tapi Maaf, aku nggak bisa menemani. " jawabku lalu berdiri dan berlalu pergi.

Tidak mudah bagiku menerima kembali pengkhianatan mereka. Mungkin tidak akan terlalu sakit jika perempuan itu bukan Yunita, dikhianati oleh orang terdekat itu adalah sesuatu yang sangat amazing buatku. Tapi aku harus belajar ikhlas menerima. Mungkin memang bukan jodoh, sekuat apa aku menggenggam, pasti akan terlepas. Sekuat aku tak memandang, jika sudah jodoh dia pasti akan datang.

*****

"Bismillah," ucapku saat akan berangkat bekerja.

"Mbak," panggil Azka dari pintu teras. "Nebeng ya! Lagi males jalan, motor ku ada di kantor." ucapnya. Tempat kerja Azka memang terbilang tak terlalu jauh jika jalan lewat jalan kampung, tapi capek juga jika harus jalan kaki.

"Lah, emang kemaren pulang jam berapa dari luar kota?"

"Jam sebelas, kan bawa mobil. Aku minta langsung turun depan rumah aja."

"Iya, buruan gih!"

Azka lalu kembali masuk rumah mengambil tasnya.

Setelah mengantar Azka, segera ku pacu motor membelah jalan raya yang mulai ramai. Setelah kurang lebih dua puluh menitan akhirnya aku sampai juga. Tapi aku heran, saat sampai di meja yang biasa aku gunakan, aku menemukan dua batang coklat tergeletak di atas meja. Ada memo yang menempel di sana.

"Keep smile cantik, "

Aku tersenyum membaca memo itu. Siapa lagi, pasti Mas Yunus. Tumben sekali, belum jam delapan tapi dia sudah sampai kantor.

Kuambil ponsel, lalu aku cari kontak Mas Yunus.

"Assalamu'alaikum, Mas!" ucapku ketika telepon terhubung.

"Wa'alaikumussalam,"

"Mas, ada naruh coklat di meja?" tanyaku to the point.

"Hahahha.... bisa langsung ketebak ya?"

"Tulisan tanganmu kayak cakar ayam!" ucapku sambil terkekeh. Padahal tulisan tangannya terbilang rapi untuk ukuran cowok. "Lagi dimana?"

"Ngopi di bawah Cherry!" ucapnya.

"Nitip beliin sarapan ya!" ucapku malu.

"Iya, mau beli apa?"

"Somay di sebelah udah buka belum? Kalau udah itu aja. Kalau belum buka, apa aja deh terserah."

"Eh, nggak ada yang jual sarapan terserah disini ya!" ucapnya tertawa.

"Mas! Please deh, laper ini! Belum sarapan aku tadi di rumah."

"Ciyyyeee, yang patah hati jadi malas makan kayaknya! Awas ntar tambah ramping itu badan! Kayak triplek, nggak ada enak-enaknya kalau dipeluk!"

"Heh! Pagi-pagi udah mesum aja!"

Mas Yunus hanya tertawa menanggapi. "Ya, tunggu ya. Habis ini balik ke kantor kok!"

"Makasih Mas!"

"Sama-sama sayaang!" lalu dia mematikan  sambungan sepihak. Rupanya dia hapal aku pasti akan mengomel karena ulah jahilnya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!