Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Cahaya keemasan yang menyelimuti Pedang Penjaga Langit berpendar semakin terang, mengusir kepekatan malam. Namun, Guru Tian segera berseru memperingatkan dari dalam liontin.
"Jangan terlena, Muridku! Kekuatan yang terkandung di dalam pedang itu masih jauh melampaui batas kemampuan tubuhmu yang sekarang. Jika kau memaksakan diri menyerap energinya secara berlebihan, seluruh meridianmu bisa hancur berantakan!"
Arga mengangguk dalam hati. Ia sendiri sudah bisa merasakan aliran Qi di dalam pembuluh darahnya mulai bergejolak tidak stabil. Rasa panas menjalar di setiap jengkal tubuhnya.
Hanya saja, ia tidak memiliki pilihan lain. Di belakangnya ada Nara yang terluka, dan di belakang gadis itu ada seluruh penduduk desa yang tidak berdaya. Ia adalah satu-satunya benteng yang tersisa.
Pria berjubah hitam itu menyeringai kejam melihat kepulan energi emas tersebut. "Kalau begitu... mari kita lihat seberapa hebat pedang legendaris yang kau agung-agungkan itu!"
Boom!
Sang necromancer kembali menerjang maju. Qi hitam pekat dari tubuhnya memadat, membentuk sepasang cakar raksasa yang tampak siap mencabik-cabik udara beserta tubuh Arga.
Arga menarik napas panjang. Ia perlahan memejamkan mata. Tindakan itu bukan karena ia menyerah pada keadaan, tetapi untuk mengingat kembali seluruh wejangan dan dasar bertarung yang pernah diajarkan oleh Guru Tian.
"Amati napas dan pergerakan lawan. Jangan benturkan kekuatanmu secara langsung. Gunakan akal sebelum mengerahkan tenaga."
Saat sepasang matanya kembali terbuka, Arga melihat sebuah celah. Celah itu tidak terletak pada kelemahan tubuh fisik lawannya, tetapi berada tepat pada titik simpul aliran Qi yang menggerakkan teknik cakar hitam tersebut.
"Di sana!"
Arga menghentakkan kakinya. Satu langkah, dua langkah. Tubuhnya mendadak bergerak begitu ringan dan cepat, melesat melewati sela-sela tekanan angin hingga pria berjubah hitam itu seketika kehilangan jejaknya.
"Siall"
Sebelum lawan sempat menyadari apa yang terjadi, Arga sudah muncul tepat di sisi kanan tubuhnya. Pedang Penjaga Langit berkilau memantulkan cahaya bulan.
"Tebasan Penjaga!"
Sreeet!
Bilah pedang itu menebas lurus secara melintang. Serangan ini tidak menghasilkan ledakan energi yang menggelegar ataupun kilatan cahaya yang membelah langit. Itu hanya sebuah tebasan sederhana.
Anehnya, cakar hitam raksasa milik musuh langsung pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam batu. Akibatnya, aliran Qi di dalam tubuh pria berjubah hitam itu kacau seketika, berbalik menyerang organ dalamnya sendiri.
Pria itu terhuyung ke belakang dan memuntahkan darah segar. "Mustahil... Kau... bagaimana bisa kau memotong jalur aliran Qi-ku?!"
Arga sendiri terpaku menatap pedangnya, tidak kalah terkejut. "Aku... aku tidak sengaja melakukannya..."
Guru Tian tertawa puas melihat hasil tersebut. "Itu bukan sekadar teknik pedang biasa, Arga. Itu adalah nalurimu yang mulai bangkit. Kau tidak menyerang fisiknya, tetapi kau langsung menghancurkan titik kelemahan dari teknik bela dirinya!"
Pria berjubah hitam itu mundur beberapa langkah dengan tubuh bergetar. Wajah pucatnya kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa ketakutan yang mendalam. Ia akhirnya menyadari sebuah kenyataan pahit; hal yang berbahaya di tempat ini bukan hanya keberadaan Pedang Penjaga Langit, tetapi pemuda yang memegang senjata tersebut.
"Belum... Aku belum kalah!" raungnya kalap.
Ia mencoba mengerahkan sisa energinya untuk memicu Teknik Pembakaran Darah sekali lagi. Namun, belum sempat mantra itu selesai, batuk keras langsung keluar dari tenggorokannya. Darah hitam pekat mengalir deras melewati dagunya.
Teknik terlarang itu kini mulai memakan balik kekuatan hidup dari tubuhnya sendiri karena durasi penggunaannya yang terlalu dipaksakan.
Guru Tian menggelengkan kepala melihat pemandangan tersebut. "Setiap kekuatan besar yang diperoleh melalui jalan pintas yang sesat selalu menuntut harga yang sangat mahal sebagai bayarannya."
Pria berjubah hitam itu menatap Arga dengan pandangan yang sarat akan kebencian murni. Tiba-tiba, tanpa diduga oleh siapa pun, ia merobek sebuah bola hitam kecil dari sakunya lalu melemparkannya keras-keras ke atas tanah.
Boom!
Asap hitam yang sangat pekat dan berbau menyengat langsung menyebar, memenuhi seluruh area desa dan menghalangi jarak pandang.
"Dia mencoba kabur!" teriak Nara dari kejauhan.
Benar saja, saat embusan angin perlahan menyapu bersih asap tersebut, sosok pria berjubah hitam itu sudah menghilang dari tempatnya. Hal yang tertinggal di sana hanya ceceran darah segar dan jejak langkah kaki tergesa-gesa yang mengarah lurus menuju ke utara.
Arga berniat mengayunkan kakinya untuk mengejar. Namun, baru saja ia melangkah dua tindak, kesadarannya mendadak berputar hebat. Pandangan matanya mengabur. Cahaya keemasan yang menyelimuti Pedang Penjaga Langit langsung padam seketika, dan tubuh pemuda itu limbung ke depan.
"Arga!"
Nara dengan sigap berlari dan langsung menangkap tubuh Arga tepat sebelum pemuda itu ambruk menghantam tanah.
Guru Tian segera memeriksa kondisi meridian di dalam tubuh muridnya. Setelah memastikan semuanya, ia mengembuskan napas lega. "Syukurlah... beruntung meridiannya hanya mengalami retak ringan akibat tekanan energi pedang tadi. Hanya saja, tubuhnya benar-benar kelelahan dan ia harus beristirahat total selama beberapa hari ke depan."
Di saat yang sama, pintu rumah-rumah kayu perlahan mulai terbuka. Para penduduk desa berjalan keluar satu per satu dengan wajah yang dipenuhi rasa tidak percaya. Monster yang selama bertahun-tahun lamanya meneror dan menindas kehidupan desa mereka, malam ini akhirnya berhasil diusir pergi.
Seorang anak kecil yang tadi hampir saja menjadi korban berjalan perlahan menghampiri Arga yang kini terbaring pingsan. Dengan tangan mungilnya yang gemetar, ia meletakkan seikat bunga liar di samping tubuh pemuda itu.
"Terima kasih banyak, Kak..." bisiknya tulus.