"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Sepupu Siska
Sebuah mobil sedan hitam mengilap telah terparkir rapi tepat di depan teras utama. Pak Joko, sopir pribadi keluarga itu, berdiri tegap di samping pintu penumpang belakang, menunggui sang majikan selesai bersiap untuk berangkat ke kantor.
Ardy baru saja melangkah keluar dari pintu utama. Di tangan kanannya terdapat sebuah map kulit berisi dokumen rapat dewan direksi yang harus dibahas pagi ini.
Baru saja ia menuruni dua anak tangga teras menuju mobil, sebuah suara lembut dan bernada manja menghentikan langkahnya.
"Mas Ardy! Tunggu sebentar, Mas."
Ardy menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
Siska berjalan perlahan menghampirinya. Wanita itu memegang perutnya yang belum terlihat membesar dengan sebelah tangan, sementara wajahnya memamerkan senyum manis.
"Ada apa, Siska?" tanya Ardy datar.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu. Boleh, kan?"
Ardy melirik arloji perak di pergelangan tangannya. "Apa hal ini harus benar-benar dibahas sekarang? Aku sebentar lagi ada rapat penting dengan investor."
"Nggak lama kok, Mas. Aku janji cuma sebentar," bujuk Siska meraih lengan kiri Ardy dan mengusapnya lembut.
Tanpa mereka sadari, di lantai dua, tepat di balik celah tirai sifon balkon kamar utama, Kirana berdiri mematung. Kedua tangannya terlipat rapat di depan dada, sementara sorot matanya yang dingin mengikuti setiap gerakan memuakkan di bawah sana.
"Apalagi sandiwara yang mau dimainkan wanita manipulatif itu pagi ini?" gumam Kirana lirih pada dirinya sendiri.
Ia sama sekali tidak berniat menguping. Namun, jarak balkon kamarnya dengan halaman depan cukup dekat, ditambah suasana pagi yang masih lengang, membuat beberapa potong percakapan mereka mengudara dan terdengar samar di telinganya.
Di bawah sana, Siska semakin mendekatkan tubuhnya kepada Ardy.
"Mas, sebenarnya, ada sepupuku mau datang ke Jakarta," ucap Siska hati-hati.
"Sepupu?" ulang Ardy sambil mengernyitkan dahi. "Selama kita kenal, kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya saudara sepupu."
Siska tersenyum tipis, matanya sengaja dikedipkan agar terlihat sendu. "Karena kami memang sudah sangat lama kehilangan kontak, Mas. Dia tinggal di kampung yang jauh bersama ibunya, bibiku."
Ardy mengangguk pelan, mulai termakan cerita itu.
"Lalu? Kenapa dia tiba-tiba ke Jakarta?"
"Dia sedang butuh pekerjaan, Mas." Wajah Siska langsung berubah memelas. "Kasihan sekali dia. Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut total beberapa bulan lalu. Dia dipecat secara sepihak tanpa pesangon sepeserpun."
Ardy masih diam mendengarkan, meski raut wajahnya mulai melunak.
"Namanya Tony, Mas," lanjut Siska cepat. Ia sengaja menghela napas panjang dan berat sebelum melanjutkan.
"Ibunya Tony sekarang juga sedang sakit keras. Biaya pengobatannya sangat besar. Tony benar-benar sudah putus asa cari pinjaman. Dia menghubungiku semalam. Aku nggak tega dengarnya, Mas. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa."
Ardy memang memiliki satu kelemahan fatal. Ia sangat sulit menolak permintaan tolong yang berhubungan dengan orang sakit atau orang tua.
Pria itu mengusap tengkuknya pelan, mulai goyah.
"Tony ini, sebelumnya pernah kerja di bidang apa?"
"Bagian administrasi keuangan, Mas. Di sebuah perusahaan ekspedisi kecil."
"Keuangan?" Ardy menatap Siska sedikit ragu.
Siska buru-buru mengangguk meyakinkan. "Iya, Mas! Keuangan. Dia itu orangnya sangat teliti, jujur, dan pekerja keras. Aku berani jamin itu."
Padahal, sederet kalimat pujian itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa dasar. Yang terpenting sekarang adalah Tony harus bisa masuk ke perusahaan Ardy dulu.
Ardy tampak berpikir keras selama beberapa saat.
"Kebetulan, memang ada satu posisi staf keuangan junior yang sedang kosong karena karyawan sebelumnya resign bulan lalu," ucap Ardy akhirnya.
Mata Siska langsung berbinar kegirangan. "Benarkah, Mas? Kamu mau menerimanya?"
"Tapi, jangan salah paham dulu, Siska." Ardy menatap tajam wanita di depannya. "Aku memberinya kesempatan ini bukan semata-mata karena dia sepupumu."
Senyum lebar Siska sedikit memudar. "M–maksudnya, Mas?"
"Aku akan mengujinya secara profesional, persis seperti pelamar lain. Kalau memang kemampuannya bagus dan tesnya lolos, dia boleh mulai bekerja di kantorku. Tapi, kalau dia tidak memenuhi standar perusahaanku, aku tetap akan menolaknya. Perusahaan ini bukan panti sosial."
Siska mengangguk cepat, menyembunyikan kelegaan di balik senyum tipisnya.
"Iya, Mas. Aku mengerti kok. Itu sudah lebih dari cukup."
"Suruh dia datang lusa pagi ke kantor," instruksi Ardy. "Nanti manajer HRD yang akan langsung melakukan tes tertulis dan wawancara. Kalau dia lolos tahap itu, baru dia bisa mulai masa percobaan."
"Ya ampun, terima kasih banyak, Mas!" Siska tampak begitu bahagia dan lega. Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih lengan Ardy, berjinjit, dan mengecup pipi pria itu di tempat terbuka. Ardy sedikit tersentak, namun hanya membalas dengan senyum tipis.
"Sama-sama. Sekarang kamu masuklah, jaga kesehatanmu."
Pria itu kemudian menurunkan tangannya dan mengusap perlahan perut Siska yang masih rata. "Dan tolong, jaga baik-baik bayi kita. Jangan terlalu banyak pikiran."
Kalimat lembut dari Ardy itu membuat senyum kemenangan yang angkuh muncul di wajah Siska.
"Pasti, Mas. Aku akan jaga anak kita."
Ardy bahkan menyempatkan diri membungkuk sedikit dan mengecup singkat perut wanita itu sebelum berbalik masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, deru mesin terdengar dan sedan hitam itu melaju keluar meninggalkan halaman rumah.
Siska berdiri di teras, melambaikan tangan dengan wajah berbinar bak istri idaman.
"Hati-hati di jalan, Mas!"
Mobil itu semakin menjauh dan berbelok di ujung jalan kompleks. Begitu tak lagi terlihat, senyum lembut dan penuh cinta di wajah Siska perlahan luntur, berubah menjadi seringai tipis yang mengerikan.
"Sebentar lagi, semuanya akan menjadi milikku seutuhnya," bisiknya licik. Ia tertawa kecil, memutar tubuhnya, lalu melangkah kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan menang.
Namun, Siska tak tahu. Di lantai dua, Kirana masih berdiri mematung di tempatnya. Sorot mata wanita itu tak lagi menyimpan kesedihan, melainkan berubah menjadi sangat tajam dan penuh selidik.
"Tony..."
Nama asing itu terus berputar-putar di dalam kepalanya, memancing kecurigaan yang kental.
"Sepupu? Benarkah?"
Entah kenapa, naluri tajam Kirana mengatakan ada sesuatu yang sangat janggal dari percakapan tadi. Selama tinggal serumah, sejak Siska pertama kali dibawa masuk oleh ibu mertuanya, Kirana sama sekali tidak pernah mendengar Siska memiliki keluarga lain selain mendiang kedua orang tuanya.
"Lalu tiba-tiba hari ini muncul seorang sepupu miskin dari kampung?" Kirana menyipitkan matanya, menatap kosong ke arah gerbang.
"Kenapa baru sekarang dia muncul? Dan kenapa harus spesifik di tempatkan di bagian keuangan perusahaannya Mas Ardy?"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kirana segera berbalik masuk ke kamar dan mengambil ponselnya di atas meja nakas. Jemarinya bergerak lincah mengetik sebuah pesan pada Tristan.
Kirana menatap layar ponselnya selama beberapa saat. Lalu perlahan, sudut bibir wanita itu terangkat membentuk senyuman.
"Aku harap firasatku kali ini salah," gumamnya.
"Tapi, kalau ternyata firasatku benar, maka Siska baru saja membuat kesalahan terbesar dan paling bodoh dalam hidupnya dengan membawa orang baru masuk ke dalam arena permainanku."