cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20_Angkot tengah malam part4
"Kalian jangan mencari tahu tentang itu." Pak Wiryo berbicara pelan. Wajahnya terlihat ketakutan, sementara tangannya menggenggam tongkat dengan erat.
"Kenapa, Pak?" tanya Raka. Wajahnya penasaran, meski matanya masih menyimpan rasa takut.
Pak Wiryo menarik napas panjang.
"Karena angkot itu bukan kendaraan." jelas Pak Wiryo dengan datar
Raka dan Dimas saling berpandangan.
"Maksud Bapak?" tanya Mereka bersamaan.
Pak Wiryo menatap mereka serius.
"Angkot itu adalah jebakan." katanya pelan. Wajahnya semakin muram.
"Puluhan tahun lalu... ada seorang sopir bernama Jatmiko." lanjutnya pelan. "Dia adalah sopir angkot terakhir yang beroperasi di jalur itu."
Pak Wiryo berhenti sejenak.
"Lalu suatu malam..." ucapnya terpotong. "Dia membawa tujuh penumpang melewati jalan lama dekat jurang."
Suaranya mengecil.
"Angkot itu jatuh." katanya lagi.
Raka menahan napas.
"Semua meninggal?" tanya mereka bersamaan
Pak Wiryo mengangguk perlahan.
"Tidak." jawab Pak Wiryo datar. Wajahnya berubah pucat.
"Yang ditemukan hanya enam mayat. Mayat sopirnya tidak pernah ditemukan." lanjutnya
Suasana menjadi hening.
"Lalu siapa yang mengendarai angkot itu sekarang?" tanya Dimas. Wajahnya tegang, sementara matanya menatap Pak Wiryo penuh rasa takut.
Pak Wiryo tidak langsung menjawab. Ia hanya berbisik...
"Jatmiko." bisiknya pelan.
Raka membeku.
"Tapi... kalau dia meninggal..." ucapannya tertahan
Pak Wiryo menatap mereka.
"Itulah masalahnya." balas Pak Wiryo.
"Sopir itu..." ucapnya pelan "Bukan manusia sejak awal."
Malam semakin larut.
Raka dan Dimas kembali ke halte lama. Mereka ingin melihat sendiri angkot itu.
Pukul 23.58 WIB. Terdengar suara mesin.
Kreek...
Kreek...
Kreek...
Angkot hijau muncul dari balik kabut. Lampunya berkedip. Pintu terbuka perlahan.
Ciiit...
Sopir itu duduk di depan. Namun kali ini...Raka melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Di bawah topi lusuhnya... Tidak ada wajah. Hanya kulit kosong. Seperti manusia yang belum selesai dibuat.
Dimas mundur ketakutan.
"Itu bukan sopir..." bisiknya. Wajahnya pucat pasi, sementara tubuhnya gemetar hebat.
Raka menatap ke arah kursi pengemudi. Lalu suara berat terdengar.
"Selamat datang kembali..." ucap Sopir itu tersenyum.
Padahal... Ia tidak memiliki mulut.
"Raka..." ucapnya pelan. "Sudah waktunya kamu mengetahui kebenaran."
Angkot itu bergetar. Semua kaca dipenuhi wajah-wajah penumpang lama. Mereka tersenyum. Salah satu penumpang menunjuk ke arah sopir.
"Lihat wajahnya..." ucap penumpang itu menunjuk ke arah sopir. "Lihat siapa dia sebenarnya..."
Perlahan...
Kulit kosong sopir itu mulai retak.
Krak...
Krak...
Dari balik wajah palsu itu muncul sesuatu. Bukan manusia. Bukan roh biasa.
Melainkan...
Ratusan wajah manusia yang menyatu menjadi satu tubuh.
Raka menutup mulutnya.
"Si...siapa kamu sebenarnya?" tanya Raka terbata.
Sopir itu tertawa.
"Hahaha..." Suaranya terdengar seperti banyak orang berbicara bersamaan.
"Aku bukan sopir angkot. Aku adalah perjalanan terakhir mereka." jawab Sopir itu dengan senyum yang mengerikan.
Angkot mulai bergerak sendiri. Pintu tertutup.
Dimas berteriak.
"Raka! Jangan sampai dia mengambil kursimu!" teriak salah satu penumpang didalam Angkot.
Wajah Raka berubah panik. Karena di dalam angkot... Kini hanya tersisa satu kursi kosong.
Dan kursi itu... Bertuliskan namanya.
RAKA.
Mesin angkot meraung.
Kreek... Kreek... Kreek...
Lalu suara sopir tanpa wajah terdengar pelan.
"Tujuan berikutnya..." ucapnya tertahan. "Alam Penantian."
Dan untuk pertama kalinya... Raka menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Angkot itu tidak sedang menjemput penumpang.
Angkot itu... Sedang mencari pengganti sopirnya. Dan nama yang dipilih...
Adalah Raka.