saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 7.
Waktu terus berjalan seperti sungai yang mengalir tak pernah berhenti, membawa setiap orang melewati berbagai babak kehidupan yang kadang terduga, namun lebih sering tak terduga. Selama ini, Zahra dan Rendra berjalan di jalur yang terpisah jauh, seolah dua garis lurus yang tak akan pernah berpotongan. Namun takdir menyimpan satu benang penghubung yang selama ini tersembunyi rapat di balik layar, sesuatu yang jika terungkap nanti akan mengubah pandangan mereka terhadap seluruh kisah yang telah berjalan.
Di kota tempat Zahra menuntut ilmu, kehidupannya tetap berjalan mengikuti ritme yang sudah terbentuk. Ia masih sibuk menyusun skripsi, menghadapi hari-hari yang terasa berat namun tetap ia jalani dengan tekun. Di sampingnya, Raka selalu hadir sebagai sosok yang mendukung, memberikan semangat, dan membimbingnya seolah tahu persis apa yang terbaik untuk masa depan mereka. Bagi Zahra, Raka adalah orang yang paling ia percaya setelah kedua orang tuanya. Ia tak pernah menyangka bahwa lelaki yang menjadi sandaran hatinya ini ternyata memiliki masa lalu dan ikatan persahabatan yang erat dengan sosok yang dulu hanya menjadi bayangan jauh di pikirannya.
Hubungan persahabatan antara Raka dan Rendra sebenarnya telah terjalin jauh sebelum keduanya menempuh jalan hidup masing-masing. Mereka bertemu pertama kali saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan sejak saat itu, kedekatan mereka tumbuh menjadi persahabatan yang lebih dari sekadar teman sekelas. Di mata orang lain saat itu, keduanya terlihat sangat berbeda. Rendra adalah sosok yang populer, tampan, selalu dikelilingi perhatian, sementara Raka lebih tenang, tidak terlalu menonjol, dan lebih suka mengamati daripada menjadi pusat keramaian. Namun perbedaan itulah yang justru membuat mereka saling melengkapi.
Raka adalah satu-satunya teman yang tetap bertahan di sisi Rendra, bukan karena ketenaran atau kelebihan yang dimiliki lelaki itu, melainkan karena ia melihat jati diri Rendra yang sesungguhnya. Ia tahu betul bahwa di balik pesona dan perhatian yang datang dari banyak orang, ada sisi kesepian dan keraguan yang sering disembunyikan Rendra. Sebaliknya, Rendra pun sangat menghargai kejujuran dan ketenangan hati Raka, menjadikannya tempat berbagi cerita yang tak pernah ia ceritakan kepada wanita-wanita yang mendekatinya.
Persahabatan itu tetap terjaga meski mereka melanjutkan pendidikan ke tempat yang berbeda. Saat Rendra harus berhenti melanjutkan kuliah dan bekerja sebagai kuli bangunan, Raka sempat merasa sedih dan ingin membantu sebisa mungkin, namun Rendra menolak dengan tegas.
“Ka, terima kasih niat baikmu. Tapi biarkan aku berjuang dengan caraku sendiri. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menghidupi keluargaku tanpa harus meminta belas kasihan orang lain,” ujar Rendra saat itu dengan tatapan yang tegas namun tetap bersahabat.
Raka mengerti keputusan itu. Ia tetap menjalin komunikasi sebisa mungkin, sampai akhirnya Rendra memutuskan merantau ke Malaysia. Sejak saat itu, jarak dan kesibukan membuat komunikasi mereka menjadi jarang, namun ikatan persahabatan itu tidak pernah benar-benar putus. Di hati masing-masing, mereka tetap menganggap satu sama lain sebagai saudara yang tak terpisahkan oleh jarak.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Raka sudah membangun kehidupannya sendiri. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya, mendapatkan pekerjaan yang mapan, dan menjalin hubungan serius dengan Zahra. Ia sangat mencintai kekasihnya itu, menyukai kesederhanaan dan ketulusan hatinya yang jarang ditemukan pada wanita lain. Namun satu hal yang tak pernah ia ceritakan kepada Zahra adalah tentang persahabatannya dengan Rendra. Ia merasa belum ada waktu yang tepat untuk menceritakan masa lalu itu, dan juga menganggapnya sebagai dua babak kehidupan yang berbeda yang tak perlu disatukan.
“Zahra adalah dunianya sekarang, dan Rendra adalah bagian dari masa lalu yang sudah melangkah ke jalur lain,” pikirnya dalam hati, meyakinkan dirinya sendiri bahwa rahasia itu tak akan menimbulkan masalah apa pun.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di negeri Malaysia, Rendra juga sesekali teringat pada sahabat baiknya itu. Di tengah kesibukannya bekerja dan menjalin hubungan dengan Siti, nama Raka sering terlintas di pikirannya saat ia sedang beristirahat. Ia sempat mendengar kabar samar bahwa Raka berhasil melanjutkan kuliah dan bekerja di kota besar, namun ia tak tahu secara rinci bagaimana kehidupan sahabatnya itu sekarang, apakah sudah berkeluarga atau masih sendiri.
“Semoga dia baik-baik saja dan mendapatkan kebahagiaan yang layak,” gumam Rendra suatu malam sambil duduk di depan gubuk tempat tinggalnya, menatap langit malam yang terasa asing namun sudah mulai ia anggap akrab.
Namun, di tengah kedamaian yang ia rasakan, hubungan asmaranya dengan Siti perlahan mulai menunjukkan keretakan yang semakin nyata. Perbedaan pandangan tentang masa depan bukanlah satu-satunya hal yang menjadi penghalang. Seiring berjalannya waktu, sifat Siti yang awalnya terlihat ramah dan pengertian mulai berubah menjadi lebih menuntut dan posesif. Ia sering kali merasa cemburu tanpa alasan yang jelas, marah jika Rendra terlambat pulang bekerja, dan terus mendesak agar Rendra memutuskan untuk menetap selamanya di Malaysia tanpa memikirkan masa depan keluarganya di kampung halaman.
Suatu sore, saat Rendra baru saja pulang bekerja dengan tubuh yang penuh keringat dan lelah, Siti sudah menunggunya di depan pintu dengan raut wajah yang cemberut.
“Kau lama sekali pulang. Ada apa saja yang kau lakukan sampai begini sore?” tanyanya langsung tanpa menyapa terlebih dahulu.
Rendra menghela napas panjang, berusaha menahan rasa lelah sekaligus kekecewaan. “Ada pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan, Siti. Mandor menyuruh kami membereskan sisa bahan sebelum hari berganti. Itu demi kebaikan kita juga, agar aku bisa mendapatkan bonus lebih bulan ini.”
Namun penjelasan itu tak memuaskan hati Siti. Ia mengerutkan dahi dan melipat tangannya di dada. “Selalu saja ada alasan. Apa kau sudah bosan denganku? Atau ada wanita lain yang kau temui di tempat kerja?”
Pertanyaan itu menusuk hati Rendra. Selama ini ia selalu menjaga kesetiaannya dengan sungguh-sungguh, tak pernah sekalipun melirik wanita lain. Mendapatkan tuduhan semacam itu membuatnya merasa kepercayaannya perlahan terkikis.
“Sudahlah, Siti. Aku lelah. Mari kita bicarakan ini nanti saja ketika pikiran sudah lebih tenang,” jawabnya pelan, lalu berjalan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Namun pertengkaran itu tidak berhenti di situ. Malam itu, mereka kembali berselisih paham hingga larut malam. Siti terus mendesak agar Rendra berjanji tidak akan pernah pulang ke Indonesia lagi, dan jika ingin mengirim uang kepada orang tuanya, jumlahnya harus dibatasi agar tidak mengurangi kebutuhan hidup mereka berdua.
“Jika kau mencintaiku, kau akan memilih aku dan kehidupan kita di sini. Keluargamu di sana bisa hidup dengan apa adanya. Mengapa harus begitu memikirkan mereka sampai melupakan masa depan kita sendiri?” kata Siti dengan nada tinggi.
Mendengar kalimat itu, hati Rendra terasa seperti disayat pisau. Ia baru sadar bahwa perhatian dan kasih sayang yang ia kira tulus itu ternyata memiliki batas dan syarat yang tersembunyi. Siti mencintainya, namun ia ingin mengubahnya sepenuhnya sesuai keinginannya sendiri, bahkan sampai melupakan jati diri dan tanggung jawabnya sebagai anak. Malam itu, saat Siti sudah terlelap tidur, Rendra duduk di sudut ruangan dengan perasaan bimbang yang mendalam.
Dalam keheningan malam itu, pikirannya melayang jauh kembali ke masa lalu. Ia teringat pada masa sekolah, pada teman-temannya, dan terutama pada sahabat baiknya Raka. Di saat seperti ini, ia baru menyadari betapa berharganya persahabatan yang tulus tanpa syarat. Ia teringat bagaimana Raka selalu menerima dirinya apa adanya, baik saat ia sedang berada di puncak popularitas maupun saat ia jatuh ke posisi yang paling rendah.
“Seandainya Raka ada di sini, mungkin dia bisa memberiku pandangan yang lebih jernih,” gumamnya pelan.
Tanpa ia sadari, di tempat yang jauh lainnya, Raka pun sedang memikirkan masa depan dan merencanakan langkah selanjutnya. Malam itu, ia duduk bersama Zahra di ruang tamu rumah kos gadis itu, membahas perkembangan skripsinya.
“Dokumennya sudah semakin rapi, Zahra. Menurut perhitungan, jika kau terus konsisten seperti ini, sekitar setahun lagi kau pasti bisa menyelesaikannya dan menyandang gelar sarjana. ,” ujar Raka sambil menunjuk bagian tertentu pada berkas di meja.
Zahra tersenyum mendengar kata-kata penyemangat itu. “Terima kasih, Ka. Tanpa dukunganmu, aku rasa aku akan menyerah di tengah jalan. Kadang aku merasa tidak cukup pintar, tidak cukup pandai seperti teman-teman lain, tapi kau selalu meyakinkanku sebaliknya.”
Raka tersenyum lembut dan menggenggam tangan Zahra. “Kau salah mengira dirimu sendiri, Zahra. Justru ketulusan dan ketekunan mu itu yang menjadi kelebihan terbesarmu. Ingat, penampilan dan kepintaran bisa dipelajari, tapi hati yang baik itu anugerah yang tak ternilai.”
Saat itulah, tanpa sadar, nama sahabat lamanya terucap dari bibir Raka. “Sebenarnya, aku punya teman lama yang dulu sering berkata hal yang sama. Dia selalu bilang bahwa jangan menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di luar saja.”
Zahra mengangkat wajahnya dengan rasa penasaran. “Teman lama? Siapa dia, Ka? Mengapa aku belum pernah mendengarnya selama ini?”
Raka terdiam sejenak, seolah ragu apakah harus menceritakan atau tidak. Namun mengingat bahwa itu sudah masa lalu dan tak ada yang perlu disembunyikan selamanya, ia pun mulai membuka cerita itu sedikit demi sedikit.
“Namanya Rendra. Kami bersahabat sejak masih remaja, bahkan bisa dibilang seperti saudara sendiri. Dia adalah orang yang sangat baik, meski dulu kehidupannya terlihat berbeda dari kebanyakan orang.”
Begitu nama itu disebutkan, detak jantung Zahra seolah terhenti sekejap. Suara itu terasa asing namun sangat akrab, menggema di dalam ingatannya yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. Rendra. Nama yang dulu hanya ia sebut dalam hati, nama yang terhubung dengan sosok pria yang terlihat jauh dan mustahil untuk dijangkau saat masa sekolah.
“Rendra?” ulangnya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. “Apakah dia... Rendra yang dulu bersekolah di tempat yang sama denganku?”
Kini giliran Raka yang terkejut. Matanya melebar, dan ia menatap wajah kekasihnya dengan pandangan yang penuh tanya. “Kau mengenalnya juga? Memang benar, dia bersekolah di sana. Tapi bagaimana kau tahu dia?”
Zahra berusaha menenangkan diri, berusaha menjawab dengan tenang meski hatinya sedang bergemuruh. “Ya... aku mengenalnya sekilas. Kami satu sekolah, tapi tidak pernah saling berbicara atau mengenal lebih jauh. Dia adalah sosok yang sangat populer, sedangkan aku hanyalah gadis biasa yang tak terlihat.”
Raka mengangguk mengerti, lalu menghela napas panjang. “Begitu ya. Maka itu kau pasti tahu seperti apa dia dulu. Banyak orang hanya melihat sisi luarnya saja tampan, disukai banyak wanita, terlihat sempurna. Tapi hanya sedikit yang tahu perjuangan hidupnya setelah itu. Kehidupannya berubah drastis, dia harus berhenti kuliah dan bekerja keras demi keluarganya. Bahkan sekarang dia sudah merantau ke Malaysia, bekerja di sana untuk menghidupi ayah dan ibunya.”
Setiap kata yang keluar dari mulut Raka terasa seperti memutar balikkan ingatan lama Zahra. Selama ini ia mengira Rendra akan terus hidup dengan kemudahan dan kebahagiaan seperti yang terlihat di masa sekolah, namun kenyataannya justru sebaliknya. Pria yang dulu terlihat memiliki segalanya kini harus berjuang melewati jalan yang terjal dan berat, sama seperti dirinya yang juga berjuang mengubah nasib.
“Dia... bekerja keras di sana?” tanya Zahra lagi, tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya yang tiba-tiba meluap.
“Ya, dia adalah pria yang tangguh. Meskipun jalannya tak semulus yang diharapkan, dia tetap memilih jalan yang halal dan jujur. Kami jarang berkomunikasi belakangan ini karena jarak dan kesibukan, tapi persahabatan kami tetap terjaga. Kalau dia tahu aku sekarang memiliki kekasih sebaik dirimu, dia pasti akan senang,” jawab Raka sambil tersenyum, tanpa menyadari betapa besar dampak cerita ini pada perasaan Zahra.
Malam itu berlanjut dengan pembicaraan lain, namun pikiran Zahra tak lagi bisa fokus sepenuhnya. Di dalam hatinya, timbul rasa campur aduk antara keterkejutan, rasa ingin tahu, dan juga rasa haru. Ia baru menyadari bahwa takdir telah menjalin ikatan yang tak terlihat selama ini. Dua dunia yang ia kira terpisah selamanya ternyata terhubung erat melalui persahabatan antara Raka dan Rendra. Pria yang ia cintai sekarang adalah sahabat baik dari pria yang dulu hanya menjadi bayangan jauh di masa lalunya.
Di sisi lain, Rendra pun malam itu akhirnya mengambil keputusan yang berat namun ia yakini sebagai yang terbaik. Setelah berdiskusi panjang dengan dirinya sendiri, ia menyadari bahwa hubungan dengan Siti sudah tak lagi membawa kedamaian. Jika ia harus mengorbankan jati diri, keluarganya, dan prinsip hidupnya hanya untuk mempertahankan hubungan itu, maka itu bukanlah cinta sejati, melainkan penjara yang perlahan akan mematikannya.
Keesokan harinya, ia berbicara dengan tenang namun tegas kepada Siti. “Siti, aku menghargai segala perhatian yang pernah kau berikan padaku, tapi aku sadar kita memiliki jalan hidup yang berbeda. Aku tidak bisa melupakan tanah air dan keluargaku selamanya, sama seperti kau tidak mau meninggalkan tempat tinggalmu. Lebih baik kita mengakhiri ini sekarang dengan baik-baik daripada terus menyakiti satu sama lain nantinya.”
Mendengar keputusan itu, Siti marah dan mencoba membujuknya, namun keteguhan hati Rendra tak bisa diubah lagi. Akhirnya, hubungan yang telah berlangsung hampir tiga tahun itu pun berakhir dengan perpisahan yang pahit namun sudah menjadi keharusan.
Dengan hati yang terasa kosong namun lebih lega, Rendra mulai merencanakan langkah selanjutnya. Ia memutuskan untuk mengumpulkan sisa tabungannya, membereskan urusan pekerjaannya, dan bersiap pulang kembali ke Indonesia. Ia rindu kampung halamannya, rindu pada udara desa yang segar, dan rindu pada kedamaian yang hanya bisa ia temukan di tanah kelahirannya. Ia belum tahu kapan tepatnya akan tiba, namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tak lama lagi ia akan menginjakkan kaki kembali di tanah airnya.
Ia juga berniat menghubungi sahabat baiknya, Raka, begitu ia sudah sampai di kota. Ia ingin bertemu kembali, bercerita panjang lebar tentang apa yang telah ia alami selama merantau. Ia tak menyangka bahwa saat ia memutuskan untuk pulang, kehidupan sahabatnya sudah memiliki cerita baru, dan di dalam cerita itu tersembunyi sosok Zahra yang dulu sama sekali tak terlintas di pikirannya.