NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Perihal Ranjang

Nara bersandar di kepala ranjang, matanya menatap lekat layar ponsel yang menampilkan foto ijab kabulnya. Foto yang diambil seorang warga atas permintaan sang ibu, katanya sebagai kenangan. Tetapi untuk Nara, ini menjadi bukti bahwa statusnya benar-benar berubah. Tidak akan ada lagi seorang pun yang mengatainya perawan tua, tidak laku dan sebagainya.

Ijab kabulnya begitu sederhana tanpa pesta pernikahan yang dulu selalu ia khawatirkan akan membuat lelah, ijab kabul yang bahkan tidak ada dalam benaknya, bahkan bait-bait dalam tulisannya. Senyum keterpaksaan antara dirinya dan Sagara semakin membuat ijab kabul tersebut terasa miris. Entah akan seperti apa jalan kedepannya pernikahan ini.

Pintu berderit, seseorang masuk dan melepaskan pecinya. Ia berjalan menuju gantungan, melepaskan baju koko dan sarung, menyisakan kaos putih tipis dengan celana pendek yang nyaman. Kemudian menuju kasur dan rebah dengan nyaman di sana, mengabaikan seseorang yang sedang bersandar duduk menatap kosong.

Pergerakan kasur sedikit membuat usik sekaligus menyadarkan Nara dari lamunannya, kepalanya menoleh dan mendapati Sagara yang tengah tidur menutup kedua matanya dengan lengannya.

"Ngapai kamu di sini, ini kamar aku!" sentaknya, seraya menatap tajam pria itu.

Sagara sama sekali tidak menghiraukan, membuat gadis itu geram. Tidak mendapatkan tanggapan, Nara menggoyangkan bahu pria itu.

Terdengar decakan dari pria itu, ia merasa terusik juga. Sagara bangun dari tidurnya, duduk berhadapan dengan Nara. Kedua tangannya terlipat di dada, matanya menatap lurus pada manik coklat gelap itu.

"Ngapai tidur di sini, ini kamar aku!" ujar Nara kembali, menyampaikan ketidaksukaannya atas kehadiran pria itu di kamarnya.

Alis Sagara mengernyit. "Aku ini suamimu, jika kamu lupa. Kalau kita tidak tidur sekamar, apa nanti yang akan dikatakan Ibu. Kamu mau Ibu khawatir, berpikir yang tidak-tidak, atau tahu kalau hubungan kita ini hanya sebuah kebohongan?" kata pria itu, wajahnya sudah berada di dekat wajah Nara. Mengintimidasi sang gadis.

Nara mengedip beberapa kali. Iya juga, gumamnya dalam hati. Ia tentu tidak ingin membuat ibunya khawatir. Kemudian Nara balas menatap Sagara dan baru menyadari wajah pria itu begitu dekat dengannya. Bahkan hembusan napas satu sama lain terasa karena saking dekatnya.

Telunjuk Nara mendorong dahi Sagara agar menjauh, matanya mendelik. "Nggak usah terlalu dekat juga," gumamnya yang masih di dengar oleh Sagara. Pria itu pun kembali pada posisinya. "Tapi memang benar, hubungan kita ini memang sebuah kebohongan," lanjut Nara menjawab pria itu.

Salah satu alis Sagara naik. "Memang sebuah kebohongan, tapi tidak menggugurkan sahnya pernikahan kita. Yang berarti kamar kamu, kamar aku juga!" tekan pria itu pada kalimat terakhirnya.

Nara sampai ternganga dibuatnya. "Tapi bukan berarti ranjang ini, ranjang kamu juga," balasnya sengit. Tidak mau tidur satu ranjang dengan pria asing, walaupun dia adalah suaminya.

Alis Sagara kembali tertaut. Jangan bilang wanita ini akan membuatnya tidur di lantai. Sagara tentu tidak menerimanya. Tidur di spring bed kosan saja tubuhnya sakit-sakitan, apalagi tidur di lantai yang datar dan keras.

"Kenapa bukan? Bukankah kita sudah menikah!" kembali pria itu menekankan status pernikahan mereka. "Ranjang kamu, ranjang aku juga. Bahkan tubuh kamu, milik aku sekarang, begitupun sebaliknya. Kita sekarang sudah menyatu, saling memiliki," ujarnya bijak, angguk-angguk takzim. Sampai pikiran kotor menghinggap dan bersarang di kepalanya. Apalagi mengingat katanya sendiri barusan, 'saling menyatu'.

Kedua manik Nara sontak membulat. Menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Jangan cabul!" ujarnya spontan.

Seringai tercipta di bibir Sagara. "Cabul di istri sendiri pasti di ampuni Tuhan. Dan yeah ... ini malam pertama kita." Seringainya semakin melebar.

Tubuh Nara merosot, lemah, kerdil dan takut. Ia seakan berhadapan dengan pria tua mesum, om-om genit. Dirinya yang polos semakin ketakutan.

Sejarah berpacarannya hanya sampai tahap berpegangan tangan. Itupun mantan pacarnya hanya satu, saking sibuk dirinya pada pendidikan dan kerjaan.

Sagara mengigit bibir bawahnya, menahan tawa. Reaksi Nara begitu polos dan lucu. Membuatnya semakin gencar ingin mengerjai.

"Kenapa? Jangan bilang kamu menolak?" tubuh pria itu semakin maju, kedua lengannya yang besar nan kekar siap memerangkap tubuh Nara yang kecil. "Menolak suami itu dosa, kamu mau dosa, hm?" bibirnya meniup kelopak mata Nara yang tertutup secara refleks.

"J-jangan, a-aku belum siap. Aku mohon," suara Nara terdengar meringis, menahan tangis.

Bibir Sagara menyeringai, kemudian tertawa pelan. "Hahahaha ... jangan khawatir. Dadamu masih rata, aku tidak akan melakukanya sekarang," ujar pria itu menjauh dari tubuh Nara yang bergetar.

Mendengar dada rata. Nara sontak membuka matanya, menatap bengis pada pria itu. Tahu apa pria itu tentang dadanya yang berlindung di balik kaos kedodorannya. Jika pria itu tahu ukurannya, pasti akan menarik ucapannya kembali. Tapi siapa juga yang mau memberitahukannya, Nara tentu tidak. Apalagi mengingat perkataan terakhir pria itu.

"Kamu pilih, kita berbagi ranjang. Atau kamu yang tidur di lantai? Kalau aku tentu tidak, tubuhku harus fit saat bangun nanti." Sagara kembali merebahkan diri dengan kedua tangannya dijadikan bantal, wajahnya mengarah pada Nara, menunggu jawaban gadis itu.

Nara tampak berpikir, di kamarnya tidak memiliki sofa, lantainya juga tidak dialasi karpet. Jika tidur di sana, sudah pasti tubuhnya akan sakit-sakit dan kedinginan. Tetapi sepertinya itu lebih baik, ketimbang tidur satu ranjang dengan pria mesum ini.

Nara turun dari tempat tidur, menarik kasar bad cover di bawah kaki Sagara, dan membawa satu bantal. Bad cover dilipatnya menjadi dua, lalu membentangkannya di lantai untuk dijadikan alas tidur. Kemudian berjalan mendekati lemari untuk mengambil selimut. Gadis itu mendengus, merapikan bantal kemudian tidur di sana.

Sagara tidur menyamping ke arah Nara, menyandarkan kepalanya pada salah satu tangannya. "Itu pilihan yang baik, juga buruk," ujar pria itu, disambut delikan si gadis. "Baik karena aku merasa sangat leluasa di sini, uhh ... nyamannya." Pria itu terkekeh, mengusap-usap permukaan kasur. "Dan buruk karena tubuhmu akan sakit-sakitan besok pagi. Saat itu, jangan menyalahkanku. Karena itu pilihanmu sendiri." Sagara kembali pada posisinya, menutup mata dan tidur dengan nyaman.

Nara bergerak-gerak, mencari posisi nyaman. Namun, percuma saja. Ia tidak biasa tidur seperti ini. Matanya tertutup, tetapi sama sekali tidak bisa lelap. Mulutnya komat-kamit, mengutuk Sagara yang tidur lelap di kasurnya.

"Pindah saja kalau merasa tidak nyaman, kenapa harus memaksakan diri. Aku juga tidak masalah jika berbagi kasur," ujar Sagara yang ternyata juga belum tidur. Pergerakan Nara sejak tadi, sedikit mengusiknya.

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, itu kasurku!" balas Nara menahan kegeraman.

"Kasur kita berdua," bantah Sagara lagi.

Nara menghela napas, ia menyerah. Tidak bisa tidur di sana, dan berpindah ke atas kasur. Sagara menyambutnya dengan senyuman lebar, entah apa maksud senyuman pria itu.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!