NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Keluar dari geng

Ruang Kerja Daniel, Mansion Andrea’s, Pukul 22.20 WIB

Udara di dalam ruangan itu terasa tipis dan dingin. Bukan karena pendingin udara yang berembus pelan, melainkan karena kehadiran sosok yang duduk anggun di balik meja jati masif. Mr. Daniel. Kemeja putihnya rapi tanpa kerutan, dasi sutra abu-abu terikat sempurna, dan jam tangan mewahnya memantulkan kilau lampu kristal gantung.

Di hadapannya, layar ponsel berukuran besar menyala terang. Menampilkan foto resolusi tinggi: kemeja berlumuran darah kehitaman, sebilah pisau lipat yang ternoda, dan sebagian wajah Albert yang pucat terpejam dengan luka sabetan di leher.

Mr. Daniel menatap foto itu selama beberapa detik. Tak ada kejutan di wajahnya. Hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis, membentuk senyum dingin dan kalkulatif. Senyum yang tak pernah menyentuh mata abu-abu bajanya. Bagi pria itu, ini adalah investasi yang berhasil. Albert, tangan kanan Zander, telah binasa. Raven Claw kini pincang.

Jari telunjuknya yang lentik menekan tombol interkom hitam di atas meja. Suaranya tenang, tanpa riak emosi. “Transfer lima puluh ribu dolar Amerika ke rekening atas nama Altair Aldebaran. Sekarang.”

“Baik, Mr. Daniel. Segera dilaksanakan,” balas suara sekretarisnya profesional.

...

Kurang dari tiga puluh detik kemudian, di bawah remang lampu jalan dan rintik gerimis, sebuah ponsel bergetar.

Altair duduk di atas Ducati hitamnya, terparkir di bahu jalan tepat di seberang Mansion Andrea’s. Helm masih menutupi kepala, tetapi kaca pelindungnya terangkat. Dari balik visak, matanya menatap tajam ke jendela lantai dua, tempat Mr. Daniel merasa dirinya baru saja memenangkan pertarungan.

Altair merogoh ponselnya. Layar menyala menampilkan notifikasi transaksi:

Credit: $50,000.00 USD - From: Andrea’s Holding Corp.

Jemari Altair tak bergetar sedikit pun. Wajahnya tetap datar bak pahatan batu. Namun, di kedalaman matanya, ada bara dingin yang menyala. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang licik. Bukan senyum orang gila harta, melainkan senyum ahli strategi yang melihat musuhnya masuk ke perangkap. Senyum pria yang baru saja menjual "mayat" palsu seharga puluhan ribu dolar.

Mr. Daniel di atas sana mungkin sedang menyesap whisky sembari merencanakan penguasaan pelabuhan. Ia tak tahu Albert masih bernapas lega dan sedang melatih anak buah baru di kandang Raven Claw. Permainan baru saja dimulai, Mr. Daniel.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari *Steve*:

*“Bro, kapan mau ke sini? Anak-anak lagi ngumpul di basecamp. Kangen ketua.”

Altair menari cepat di atas layar: “Otw.” Ia mengantongi ponsel, menutup visak helm, lalu menarik gas. Ducati itu melesat membelah malam, meninggalkan kemegahan Mansion Andrea’s yang angkuh.

Basecamp “Black Hounds”, Gudang Tua Pelabuhan Barat, Pukul 23.05 WIB

Suara knalpot Ducati yang khas memecah heningnya kawasan dermaga. Seketika itu juga, dua puluh anggota geng motor yang semula bersantai langsung berdiri tegak. Mereka menatap lurus ke gerbang gudang.

Begitu Altair mematikan mesin dan melepas helmnya, seluruh anggota menundukkan kepala sedikit, sebuah bentuk penghormatan alami.

“Bos!” sapa mereka serempak, suaranya menggema di dinding gudang yang tinggi.

Altair mengangguk singkat. Wajahnya menyimpan topeng ketenangan seorang ketua yang disegani. Ia melangkah masuk ke tengah ruangan. Di sana, Steve sudah menunggu bersandar di meja kayu dengan rokok terselip di bibir.

Di sebelah Steve, berdiri Evan. Anak tunggal pemilik perusahaan logistik kaya. Motornya paling mahal, kemejanya selalu rapi, dan senyumnya lebar nan hangat. Topeng sahabat yang sempurna. Padahal Altair dan Steve tahu betul, di balik senyum itu ada belati yang siap ditancapkan ke punggung Altair. Hanya Evan yang merasa aktingnya masih mulus.

“Gila lo, Al. Baru nongol,” menyeringai Steve sambil menepuk bahu Altair dengan akrab. “Ada rapat penting apa, Bos?”

Altair menarik kursi kayu reyot lalu duduk. Gerakan sederhana itu membuat seluruh anggota otomatis melingkar dan duduk di lantai atau tumpukan ban. Mereka menunggu. Dialah yang mengubah geng balap liar ini menjadi penguasa jalur distribusi pelabuhan barat. Wibawa dan otaknya tak bisa dibeli dengan uang Evan.

“Gue mau ngomong,” suara Altair berat dan berwibawa. Udara ruangan mendadak rapat. “Gue keluar dari Black Hounds.”

Hening yang menyusul terasa begitu menyengat. Beberapa anggota saling pandang tak percaya.

“Lo becanda, Bos?” potong Rio, anggota senior berbadan tegap. Alisnya bertaut kencang. “Jangan, Bos. Kami butuh lo!”

“Gue serius,” tegas Altair, menatap satu per satu anak buahnya dengan sorot mata yang melunak namun bulat. “Gue mau fokus kuliah. Udah semester akhir. Kalian butuh ketua yang bisa full time di sini.”

Steve yang sudah paham naskah buatan Altair langsung memotong santai. “Kalau gitu gue juga keluar, Bro. Ngikut ketua. Mau fokus skripsi, bosen digantung dosen.” Ia terkekeh, mencairkan ketegangan.

Evan yang sedari tadi mengamati, memasang wajah penuh pengertian. “Wah, kalau gitu gue juga deh. Biar adil, masuk bareng keluar bareng.”

"Eum... Benar. Kita udah nggak cocok main geng-gengan lagi," respons Altair menanggapi. Matanya lalu mengarah ke sudut ruangan, melirik seorang pemuda SMA kelas dua bernama Rian. Anak itu cerdas, berani, dan amat loyal. “Rian, sini.”

Rian terkejut, namun langsung berdiri tegap. “Siap, Bos!”

“Mulai hari ini, lo ketua Black Hounds,” ucap Altair tanpa ragu. Ia berdiri, memancing seluruh ruangan ikut berdiri. “Semuanya, hormat sama ketua baru kalian!”

Tanpa bantahan, seluruh anggota menunduk pada Rian. “Siap, Bos Rian!”

Mata Rian membulat kaget. “Ha? Tapi Bos, gue masih SMA. Gue belum pantes—”

“Gue juga jadi ketua pas SMA,” potong Altair cepat seraya menepuk bahu Rian kencang. “Nyali sama otak lo yang gue butuh. Gue percaya lo.”

Rio maju selangkah, dadanya membusung. “Tenang aja, Bos Al. Siapa pun ketuanya, lo tetap Bos gede kami. Satu telepon dari lo, anak-anak Black Hounds siap turun taruhan nyawa!”

Altair tersenyum tipis. Ada satu pesan terakhir yang harus disampaikannya. Suaranya merendah namun amat jelas. “Satu lagi. Tolong jaga istri gue. Diam-diam. Jangan sampai dia kenapa-kenapa.”

Kata istri itu seperti bom yang meledak di tengah ruangan.

Satu detik... dua detik...

“HAH?! ISTRI?!” Rio berteriak paling kencang, matanya hampir melompat keluar. “Sejak kapan Bos nikah?! Sama siapa?!”

Ruangan yang tadinya hening berubah bising bak pasar malam.

“Buset, Bos nikah diem-diem!”

“Sama siapa, Bos? Kok nggak diundang!”

“Gue kira Bos jomblo abadi!”

Evan yang berdiri di samping Steve mendadak mengepalkan tangannya kencang di balik saku jaket. Rahangnya mengeras kaku. Bukannya selama ini dia menyukai Ruby?

Altair mengangkat satu tangannya, menyuruh ruangan kembali tenang. “Aquilla,” jawabnya datar.

“AQUILLA?!” teriak Rio makin melengking. “Anak angkat Mr. Daniel itu, Bos?! Yang tiap ketemu lo selalu debat mau jambak-jambakan?!”

Dari belakang, Beni menyambar sambil tertawa terbahak-bahak, “Anjir, bener kata orang! Di luar kayak Tom and Jerry, di dalam pasangan serasi! Pantesan lo betah ribut mulu, Bos!”

Gudang tua itu pecah oleh gelak tawa riuh. Altair hanya menyunggingkan senyum tipis—senyum palsu untuk menutupi kenyataan pahit bahwa pernikahan itu adalah rantai penjara dari Mr. Daniel. Hanya Steve yang menangkap kekosongan di mata sahabatnya itu.

Sementara Evan menatap Altair dengan tatapan penuh kebencian yang tersembunyi. Aquilla? Jadi selama ini dia mengincar Aquilla? Sialan gue nggak terima itu.

Altair kembali mengenakan helmnya. “Gue cabut. Jaga nama Black Hounds dan jaga pesan gue tadi.”

“Siap, Bos! Kak Aquilla aman sama kita!” seru mereka serempak.

Mesin Ducati Altair bergemuruh nyaring, melesat membelah kegelapan malam diikuti Steve. Meninggalkan Rian yang masih tertegun, serta Evan yang kini mengukir seringai iblis di wajahnya.

Evan berbisik penuh dendam pada dirinya sendiri, "Gue harus ngelakuin apa supaya lo ancur, Al. Gue muak dengan semua ini. Gue mau akhiri semuanya"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!