Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
Fajar baru saja merekah di ufuk timur, namun udara di dalam kamar tamu lantai bawah rumah besar keluarga Pratama terasa begitu pengap bagi Kirana.
Gadis itu terbangun dengan gelombang rasa mual yang luar biasa menghantam lambungnya tanpa peringatan. Dengan langkah tergesa-gesa, Kirana melompat turun dari ranjang, berlari kecil menuju kamar mandi, dan langsung membungkuk di depan mangkuk porselen kloset. Ia memuntahkan cairan lambung yang terasa pahit, sementara keringat dingin langsung membasahi pelipis dan tengkuknya.
Begitu rasa mualnya sedikit mereda, Kirana terduduk lemas di lantai keramik kamar mandi yang dingin. Ia memegang perut ratanya dengan tangan yang sedikit bergetar. Gejala aneh ini sebenarnya sudah dirasakannya sejak beberapa hari terakhir—kepala yang terasa pusing setiap kali bangun pagi, tubuh yang mendadak lemas tanpa sebab, serta kepekaan yang berlebihan terhadap bau-bau tertentu, seperti aroma kopi hitam yang biasa diseduh pelayan untuk Arka di dapur.
Awalnya, Kirana mengira itu hanya efek dari kelelahan fisik atau gejala maag kambuhan akibat stres berkepanjangan pasca insiden badai dan hari-hari dingin yang dilewatinya. Namun, ketika ia mencoba mengingat-mengingat kembali siklus bulanannya yang telah terlambat hampir tiga minggu dari jadwal normal, sebuah kemungkinan besar mendadak melintas di kepalanya.
Apakah mungkin...? batin Kirana, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan oleh kejutaan emosi yang sulit dijelaskan.
Kehamilan itu... buah dari malam pernikahan mereka yang hampa dan dingin. Meskipun Arka langsung pergi meninggalkannya ke ruang kerja pada malam pertama, mereka sempat berbagi satu atap dan ikatan suci sebagai suami istri dalam sisa malam-malam berikutnya sebelum akhirnya hidup terisolasi di kamar terpisah. Di tengah kepedihan dan pengabaian yang ia terima, takdir rupanya menitipkan satu percikan kehidupan di dalam rahimnya.
Kirana menarik napas dalam-dalam, menepis segala keraguan. Ia harus memastikan kebenarannya secara medis sebelum mengambil langkah apa pun.
Pukul sembilan pagi, Kirana keluar dari rumah tanpa meminta izin atau memberi tahu siapa pun. Ia tidak lagi memedulikan aturan kaku Arka tentang larangan keluar tanpa pengawalan atau persetujuan. Dengan mengenakan mantel rajut panjang berwarna krem dan masker penutup wajah untuk menyamarkan identitasnya, Kirana menaiki angkutan umum menuju sebuah klinik obstetri dan ginekologi swasta yang tenang di kawasan pinggiran kota—jauh dari pusat keramaian dan sorotan sosialita yang mungkin mengenalnya.
Di ruang tunggu klinik yang beraroma antiseptik khas rumah sakit, Kirana duduk di sudut kursi tunggu. Jantungnya bergemuruh hebat di dalam dadanya. Ia memeluk tas kecilnya erat-erat, meremas jari-jemarinya sendiri dalam balutan rasa cemas yang bercampur aduk.
"Nyonya Kirana Hartono?" panggil seorang perawat berseragam putih dari balik pintu ruang pemeriksaan dokter.
Kirana berdiri, menarik napas panjang untuk menstabilkan debaran jantungnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan periksa yang bersih dan terang.
Seorang dokter wanita paruh baya berambut sebahu menyambutnya dengan senyuman ramah. Setelah mendengarkan keluhan singkat mengenai gejala pusing, mual, dan keterlambatan siklus menstruasi yang dialami Kirana, sang dokter langsung mempersiapkannya untuk menjalani pemeriksaan USG transabdominal.
Kirana berbaring di atas ranjang medis. Dinginnya gel transparan yang dioleskan dokter ke permukaan perut bawahnya membuat kulitnya sedikit meremang. Sang dokter mulai menggerakkan alat pemindai kecil di atas perut Kirana, sementara mata mereka berdua tertuju pada layar monitor USG hitam-putih di samping tempat tidur.
Untuk beberapa detik, ruangan itu begitu senyap, hanya diisi oleh suara dengungan pelan mesin medis.
"Nah, coba lihat ke layar, Bu Kirana," ucap dokter itu tiba-tiba, suaranya terdengar lembut dan sarat akan kehangatan. "Di sini... kantung kehamilannya sudah terbentuk dengan sangat baik di dalam rahim."
Kirana membelalakkan matanya. Ia menatap layar monitor dengan tatapan tak percaya. Di sana, di tengah lingkaran abu-abu monitor, tampak sebuah titik kecil berbentuk bulatan mungil yang berkedip-kedip lemah, memancarkan denyut kehidupan yang nyata.
"Usia kandungannya sudah memasuki minggu kesepuluh," lanjut sang dokter sambil tersenyum lebar. "Semuanya tampak sehat, perkembangannya normal. Selamat ya, Bu. Anda akan menjadi seorang ibu."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Kirana. Air mata hangat mendadak tumpah begitu saja dari sudut matanya, mengalir membasahi pipinya tanpa bisa ia bendung. Bukan lagi air mata kesedihan atau kepedihan karena diabaikan oleh suaminya, melainkan air mata keharuan yang teramat sangat. Di tengah kesendiriannya, di tengah rumah besar yang dingin dan membekukan jiwa, Tuhan ternyata mengirimkan malaikat kecilnya untuk menjadi alasan baru bagi Kirana untuk tetap bertahan hidup.
Ia mengangkat tangan kanannya, menutup mulutnya yang bergetar hebat saat isak tangis kecil lolos dari bibirnya.
"Terima kasih, Dok..." bisik Kirana terbata-bata di sela air matanya.
Setelah sesi konsultasi selesai, dokter memberikan berbagai resep vitamin penguat kandungan serta saran-saran kesehatan yang harus diperhatikan oleh Kirana. Dengan langkah ringan namun penuh kehati-hatian, Kirana keluar dari ruang praktik dokter tersebut, menggenggam amplop hasil USG di dalam tasnya bagaikan harta paling berharga di dunia.
Sepanjang perjalanan pulang menaiki taksi daring, Kirana memandang ke luar jendela mobil. Rintik hujan tipis mulai membasahi jalanan ibu kota, namun kali ini, suasana hati Kirana tidak lagi suram. Ia meraba perut ratanya yang masih datar, membayangkan ada nyawa kecil yang tumbuh di sana—darah dagingnya sendiri, darah daging dari pria yang paling dicintainya meskipun pria itu telah mencampakkan hatinya.
Setibanya kembali di rumah besar keluarga Pratama menjelang sore hari, suasana rumah tampak sepi seperti biasa. Bi Inah sedang sibuk membersihkan area dapur belakang, sementara Arka tentu saja masih berada di kantornya, tenggelam dalam urusan bisnis dan dunianya yang megah.
Kirana melangkah masuk ke kamarnya di lantai bawah. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, lalu mengeluarkan selembar foto USG hitam-putih dari dalam tasnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap bulatan kecil berkedip di kertas tersebut dengan senyuman tulus pertama yang berhasil terukir di bibirnya setelah sekian bulan lamanya penuh duka.
Sebuah keputusan besar mulai terbentuk di dalam benaknya.
Melihat bagaimana sikap Arka selama ini—pria yang terang-terangan mengatakan tidak menginginkan pernikahan ini, yang membenci kelemahan, dan yang menganggap dirinya sebagai beban manja—Kirana tahu persis apa yang akan terjadi jika ia langsung memberitahu Arka tentang kehamilan ini sekarang. Arka mungkin akan curiga, menganggapnya sebagai trik murahan untuk mengikat pria itu, atau lebih buruk lagi, meminta kehamilan itu disembunyikan atau diabaikan demi menjaga batasan dingin di antara mereka.
Kirana menggeleng perlahan. Tidak. Ia tidak akan membiarkan bayinya menjadi objek perdebatan atau beban emosional bagi suaminya yang keras kepala itu.
"Sayang..." bisik Kirana lembut pada perutnya sendiri, air matanya kembali menetes perlahan namun dengan senyuman di bibirnya. "Ibu akan jaga kamu. Kita akan bertahan berdua, sampai nanti saatnya tiba... sampai kamu cukup kuat untuk melihat dunia."
Malam itu, di kamar yang sunyi, Kirana memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya rapat-rapat. Ia bertekad menjaga malaikat kecilnya seorang diri, menjadikan rahasia itu sebagai benteng kekuatan baru di tengah sangkar emas yang membeku.