NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Malam perlahan turun menyelimuti ibu kota dengan hawa dingin yang mulai menusuk kulit.

Di dalam rumah mewah milik Clara, suasana terasa sangat mencekam dan tegang tidak seperti biasanya.

Clara duduk di sofa ruang tengah sambil terus meremas kedua tangannya yang berkeringat dingin.

Siska berjalan mondar-mandir di depan televisi dengan raut wajah panik yang tidak bisa disembunyikan.

Tap tap tap.

"Deni, apa kamu yakin kita tidak perlu menelepon polisi atau menyewa jasa pengawal tambahan malam ini."

Tanya Siska yang akhirnya berhenti mondar-mandir dan menatap pemuda berjaket oranye itu.

Deni justru sedang asyik duduk di lantai sambil mengunyah keripik kentang dari toples besar.

Kriuk kriuk.

"Buat apa panggil polisi Siska, nanti mereka malah jadi korban salah sasaran dari orang-orang jahat itu."

Jawab Deni santai tanpa menoleh dari layar ponsel bututnya yang sedang menampilkan permainan cacing.

"Lagi pula, kalian kan sudah punya kurir super yang siap sedia menjaga rumah ini gratis tanpa biaya tambahan."

Clara menghela nafas panjang mendengar jawaban Deni yang selalu saja terdengar meremehkan bahaya.

"Ini bukan lelucon Deni, musuh yang akan datang ini adalah pasukan khusus dari Serikat Bayangan Hitam."

Ucap Clara dengan suara sedikit bergetar karena rasa takut masih membayangi pikirannya.

"Telepon ancaman tadi siang itu sangat jelas mengatakan mereka akan memberikan kejutan besar malam ini."

Deni menutup aplikasi permainannya dan meletakkan ponsel itu ke atas meja kaca.

Trak.

"Nona bos tenang saja, aku sudah pernah bilang kan kalau aku sangat suka kejutan apalagi yang berhadiah ulasan."

Jawab Deni sambil memamerkan deretan giginya yang putih.

Rina dan Maya muncul dari arah dapur membawa beberapa gelas teh hangat untuk menenangkan suasana.

"Silakan diminum dulu Nona Clara dan Nona Siska teh chamomile ini agar perasaannya lebih rileks."

Ucap Rina sambil meletakkan nampan tersebut perlahan di atas meja.

Maya mengangguk setuju dan menatap Deni dengan pandangan penuh rasa hormat.

"Kami berdua sangat percaya pada kemampuan Tuan Deni, jadi Nona bos tidak perlu terlalu khawatir."

Deni langsung mengambil satu gelas teh itu dan meminumnya sampai setengah.

Glek glek.

"Nah, dengar sendiri kan apa kata Nona Rina dan Maya, kalian harus belajar santai sedikit seperti mereka."

Tegur Deni sambil bersendawa pelan yang langsung membuat Siska memutar bola matanya kesal.

Burp.

Waktu terus berjalan lambat dan jarum jam dinding raksasa di ruangan itu perlahan menunjuk angka sebelas malam.

Tik tok tik tok.

Suasana di luar rumah terdengar sangat sepi seolah seluruh serangga malam pun ikut bersembunyi ketakutan.

Tiba-tiba lampu di seluruh penjuru rumah itu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam total.

Pet.

Kegelapan yang pekat langsung menelan seluruh ruangan menyisakan hanya sedikit cahaya bulan dari celah jendela.

Kyaaa.

Siska dan Rina menjerit tertahan secara bersamaan karena kaget dengan matinya lampu yang tiba-tiba itu.

"Semuanya jangan panik dan tetap berkumpul di dekat sofa ruang tengah."

Perintah Deni dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan tegas.

Mata Deni yang sudah dialiri tenaga dalam langsung beradaptasi dengan kegelapan ruangan dalam hitungan detik.

Dia bisa melihat dengan jelas empat siluet wanita yang sedang berpegangan tangan dengan gemetar.

Prang prang prang.

Suara kaca jendela depan yang dipecahkan secara paksa terdengar sangat nyaring dan mengejutkan dari arah ruang tamu.

Terdengar banyak suara langkah kaki berat yang mulai memasuki area dalam rumah.

Tap tap tap.

"M-mereka sudah masuk Deni, apa yang harus kita lakukan sekarang."

Bisik Clara dengan suara yang sangat pelan karena takut terdengar oleh para penyusup tersebut.

"Nona bos duduk manis saja di sini dan tutup telinga, biarkan aku yang menyambut tamu-tamu tak diundang ini."

Jawab Deni sambil berjalan perlahan dan tanpa suara menuju arah ruang tamu.

Syuut.

Sebuah pisau lempar tiba-tiba melesat membelah kegelapan mengincar tepat ke arah leher Deni.

Deni hanya memiringkan kepalanya sedikit dan menangkap gagang pisau itu dengan dua jarinya.

Tap.

"Masuk rumah orang tanpa permisi lalu main lempar barang tajam, kalian ini benar-benar tidak pernah diajari sopan santun ya."

Ejek Deni sambil melemparkan kembali pisau itu ke arah datangnya serangan dengan tenaga berlipat ganda.

Jleb.

Terdengar suara pisau menancap dalam ke daging seseorang di dekat pintu utama.

Tapi anehnya sama sekali tidak ada suara rintihan atau teriakan kesakitan yang terdengar.

"Wah ternyata rumor soal pasukan mati itu memang benar adanya."

Batin Deni yang mulai merasa antusias dengan lawan barunya malam ini.

Tiga sosok pria berpakaian serba hitam berlari menerjang Deni dari arah depan secara bersamaan.

Wush wush.

Mereka mengayunkan parang panjang dengan membabi buta ke arah tubuh Deni tanpa mempedulikan pertahanan.

Deni menunduk menghindari sabetan pertama lalu melepaskan pukulan keras ke dada orang di tengah.

Bug.

Pria itu terpental ke belakang menabrak dinding kayu namun langsung berdiri lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kuat juga daya tahan kalian, pukulan tadi harusnya bisa meremukkan tulang rusuk orang normal."

Gumam Deni sambil melompat ke belakang menghindari sabetan parang dari dua orang lainnya.

Sring.

Melihat serangan fisik biasa tidak mempan, Deni segera mengubah strateginya.

"Kalau rasa sakit sudah hilang, berarti aku harus membongkar engsel tulang kalian agar tubuhnya tidak bisa digerakkan."

Deni melesat maju menembus jarak pertahanan musuh dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata telanjang.

Dia meraih pergelangan tangan pria pertama lalu memelintirnya dengan paksa ke arah luar.

Krak.

Suara tulang patah terdengar sangat nyaring dan ngilu memecah keheningan malam.

Parang panjang itu langsung jatuh ke lantai karena tangan pria itu sudah tertekuk ke arah yang salah.

Klang.

Meski tangannya patah parah, pria itu tidak berteriak dan malah mencoba menendang kaki Deni.

Deni merespons dengan cepat dan menyapu kaki penyerang itu dengan tendangan rendah yang sangat keras.

Krak.

Tulang kering kaki pria itu hancur dan dia langsung ambruk ke lantai tanpa bisa berdiri kembali.

Bruk.

Melihat temannya dilumpuhkan, sisa pasukan mati itu justru semakin beringas menyerbu Deni.

Waaaa.

Enam orang langsung mengepung Deni di ruang tamu yang gelap itu dan menyerang secara serentak.

Deni melompat tinggi ke udara membiarkan semua senjata tajam itu saling berbenturan di bawahnya.

Sring trang.

Saat tubuhnya melayang turun, Deni memutar badannya dan menendang dada dua orang sekaligus.

Bum bum.

Kedua orang itu terpental kuat menembus sisa kaca jendela dan jatuh ke halaman depan.

Prang.

Deni mendarat dengan mulus dan langsung bergerak cepat di antara sisa penyerang yang ada.

Dia mematahkan lengan dan lutut mereka satu per satu dengan gerakan yang sangat presisi dan tanpa ampun.

Krak krak krak.

Dalam waktu kurang dari lima menit, sepuluh orang pasukan elit yang ditakuti itu kini semuanya terkapar di lantai ruang tamu.

Mereka masih hidup tapi tubuh mereka sudah tidak bisa lagi digunakan untuk menyerang karena persendiannya telah dirusak total.

Nafas berat dari para penyerang itu terdengar bersahutan di tengah kegelapan ruangan.

Deni menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu yang menempel.

Plok plok.

"Yah acara pemanasan malam ini akhirnya selesai juga."

Ucap Deni santai lalu berjalan menuju kotak meteran listrik di dinding dekat pintu.

Dia menekan saklar utama ke atas untuk mengembalikan aliran listrik yang diputus musuh.

Klik.

Seketika seluruh lampu di rumah mewah itu menyala terang benderang kembali.

Benderang.

Clara dan para wanita lainnya yang masih berpelukan di ruang tengah langsung memicingkan mata karena silau.

"Sudah aman Nona-nona sekalian, kalian sudah boleh membuka mata sekarang."

Panggil Deni sambil bersandar di kusen pembatas ruang tamu.

Clara dan Siska berjalan perlahan ke arah ruang tamu dengan langkah yang masih ragu-ragu.

Betapa terkejutnya mereka saat melihat ruang tamu yang berantakan dengan sepuluh orang pria tergeletak cacat di lantai.

"Astaga Deni, apa yang sudah kamu lakukan pada mereka semua."

Tanya Siska menutup mulutnya karena ngeri melihat posisi tulang para penyerang yang bengkok mengerikan.

"Aku cuma membenarkan letak tulang mereka yang salah Siska, biar mereka tidak bisa pegang parang lagi."

Jawab Deni cengengesan tanpa merasa bersalah sedikit pun atas tindakan brutalnya barusan.

Clara menatap Deni dengan mata berkaca-kaca lalu berlari dan memeluk pengawalnya itu dengan sangat erat.

Grep.

"Terima kasih Deni, kamu benar-benar menyelamatkan nyawa kami lagi malam ini."

Bisik Clara dengan suara isakan pelan di dada pemuda itu.

Deni membalas menepuk punggung Clara dengan kaku namun lembut.

Puk puk.

"Itu sudah jadi tugasku Nona bos, tidak perlu menangis begitu nanti cantiknya hilang lho."

Canda Deni yang berhasil membuat Clara tersenyum kecil di sela-sela tangisannya.

Tiba-tiba suara notifikasi dari sistem yang sangat dinantikan berbunyi nyaring di dalam kepala Deni.

Ting.

[Sistem Raja Kurir Menyelesaikan Misi Bertahan Hidup Dari Pasukan Mati Serikat Bayangan]

[Hadiah lima belas ulasan bintang lima berhasil diklaim secara otomatis oleh sistem]

[Progres Tuan sekarang resmi meningkat menjadi empat puluh satu dari seribu ulasan bintang lima]

Mata Deni langsung melotot kegirangan membaca papan transparan biru yang melayang di udara itu.

"Wah dapat lima belas poin sekaligus, malam ini aku benar-benar panen besar kawan-kawan."

Batin Deni bersorak kegirangan seolah dia baru saja menang lotre miliaran rupiah.

Deni melepaskan pelukan Clara perlahan dan menatap wajah bosnya itu dengan serius.

"Nona Clara tolong hubungi polisi sekarang untuk mengangkut sampah-sampah yang ada di lantai ini."

Perintah Deni sambil menunjuk para penyerang itu menggunakan dagunya.

"Lalu kamu sendiri mau ke mana Deni, ini kan sudah tengah malam."

Tanya Clara bingung melihat Deni berbalik arah mengambil jaket oranyenya yang sempat dilepas.

Deni memberikan senyuman miring yang memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Mereka sudah berani mengotori rumah Nona bos, jadi aku harus membalas kunjungan mereka malam ini juga."

Jawab Deni sambil berjalan cepat menuju pintu depan.

"Aku akan pergi ke markas pusat mereka dan memberikan paket balasan langsung kepada Ketua Besar mereka."

Mendengar hal itu Maya langsung melangkah maju dengan wajah pucat pasi.

"Tuan Deni jangan gegabah, markas pusat mereka dijaga ratusan orang yang jauh lebih kuat dari pasukan mati ini."

Peringat Maya dengan nada yang sangat khawatir akan keselamatan pria yang dikaguminya itu.

Deni menaiki motor matic bututnya dan menghidupkan mesinnya yang bersuara kasar.

Brumm brumm.

"Semakin banyak musuhnya, berarti semakin banyak juga bonus poin ulasan yang menungguku di sana Maya."

Jawab Deni santai lalu melambaikan tangannya kepada keempat wanita tersebut.

"Tunggu aku pulang saat matahari terbit besok pagi Nona bos."

Motor matic itu langsung melesat kencang membelah kesunyian malam meninggalkan perumahan elit tersebut.

Syuuu.

Clara hanya bisa menatap kepergian Deni dengan doa yang terus dirapalkan tanpa henti di dalam hatinya.

Malam itu sejarah baru dunia bawah tanah akan segera ditulis dengan tinta darah oleh seorang kurir makanan yang sedang mengejar bintang lima.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!