Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Keinginan terakhir papa
“A-ku akan kembali ke kamarku sekarang,” pamit Ana pada Hugo yang masih duduk diam di tempatnya dengan kedua tangan terkepal dan kepala setengah menunduk.
Ana menghela napas, ia ragu pria itu akan menjawab ucapannya. Apalagi keheningan tercipta di antara mereka setelah kepergian dua pengacara Mayapada. Ana tak tahan, hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Ia segera bangkit berdiri dan melangkah pergi.
“Tolong tutup kembali pintunya.”
Ana menghentikan langkahnya dan menolehkan wajah. Suara Hugo terdengar aneh, tidak biasanya. Tatap matanya juga tak segarang tadi.
“Pergilah, bukankah Kau ingin kembali ke kamarmu?”
Ana terpaku diam, suara itu terdengar begitu lembut. Ana mencoba mengingat, kapan terakhir kali ia pernah mendengarnya. Detik berikutnya Ana terpekik ketika lengannya disentuh tangan Hugo. Lelaki itu memutar tubuhnya dan mendorongnya keluar, lalu menutup pintu di belakangnya tanpa bicara lagi.
“Ada apa dengannya, kenapa sikapnya jadi tampak aneh seperti itu?” gumam Ana dalam hati, keningnya berkerut dalam. Ia masih berdiri diam di depan pintu ruang kerja Hugo.
“Non,” panggil bik Ani yang datang dengan nampan di tangan, membuat Ana mengalihkan pandangannya. “Kenapa malah berdiri bengong di situ? Kenapa gak masuk saja, bukannya tuan Hugo ada di ruang kerjanya? Barusan minta dibawakan kopi.”
Ana menggeleng, “Aku balik kamar dulu, Bik.” Sahutnya kemudian tanpa menjawab pertanyaan bibi padanya, ia melenggang pergi menuju kamarnya.
“Eh, si Non?” Bik Ani menatap heran. “Ada apa lagi, sih. Kok non Ana kelihatan kayak orang bingung, apa barusan mereka bertengkar lagi?”
Malam itu langit tampak cerah, banyak bintang di atas sana. Ana duduk di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar, menekuk lutut serta menyilangkan kedua tangan lalu menaruh wajahnya di sana.
Ia baru saja menghubungi Kila, mengabarkan keadaannya pada sahabatnya itu. Tak bisa lama-lama berbicara, karena Kila sepertinya sedang sibuk melayani pelanggan kafe yang datang. Ia bahkan bisa mendengar teriakan gusar pelanggan yang meminta pesanannya segera diantar.
“Cepat pulang! Aku bisa mati berdiri kalau Kau tinggal lama sendirian.”
Ana terkekeh mendengarnya, ia menutup teleponnya setelah sebelumnya berjanji pada sahabatnya itu akan segera pulang begitu semua urusannya selesai.
Ana mengesah pelan, tak pernah menyangka papa akan memberinya warisan. Jujur Ana terkejut sekaligus senang, terlepas dari semua persyaratan yang akan ia hadapi. Ia bukan siapa-siapa dalam keluarga itu, hanya seorang mantan istri dari putranya. Tapi papa selalu menganggap dirinya bagian dari keluarganya, itu sebabnya Ana begitu menghormatinya. Hingga ia tak bisa menolak keinginan papa sebelumnya.
Angin sepoi perlahan membuat mata Ana terpejam, ia hampir tertidur di kursinya ketika ia tiba-tiba merasakan hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Ana bergegas menutup jendela kamar lalu naik ke atas ranjang. Tidak butuh waktu lama, Ana langsung terlelap.
Tengah malam Ana terbangun setelah mendengar gemuruh bersahut-sahutan di langit, cahaya putih tampak berkilat mengenai kaca jendela kamarnya. Lalu hujan turun deras. Ana meringkuk di atas ranjang, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga hanya wajahnya saja yang terlihat.
Ana merasakan tenggorokannya kering, ia haus tapi takut beranjak dari tempatnya. Harusnya tadi ia membawa cawan air seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya, jadi tak perlu repot seperti ini. Terburu-buru naik ke kamar membuatnya lupa.
“Ekhmm!” Ana terbatuk, ia menoleh ke jendela. Gemuruh sudah mereda, tapi hujan semakin deras. Ana memberanikan diri, bangun dan turun ke dapur rumah.
Ana menarik napas lega begitu tenggorokannya tersentuh air dingin dari kulkas. Matanya melihat jejeran roti di dalam sana. Perutnya mendadak lapar. Ana mencomot salah satu roti coklat yang terbungkus plastik, lalu duduk di lantai marmer dapur yang dingin dan mulai menyantapnya. Hanya berselang lima menit, lampu di ruangan itu tiba-tiba saja padam.
“Aaagk!” Ana menjerit kencang saat mulutnya masih penuh makanan, bibirnya terasa nyeri karena tanpa sengaja tergigit. Napasnya tiba-tiba sesak, Ana takut gelap. Ia menggeser tubuhnya lebih merapat ke tembok, sambil menekuk lutut seperti tengah bersembunyi. Ana berdoa dalam hati sambil menggigit rotinya sesekali, mencoba mengusir ketegangan yang tengah menguasai dirinya kini.
Lalu terdengar suara benda jatuh, disusul cahaya terang berbentuk bulatan besar berasal dari senter yang dibawa seseorang. Ana menunggu dengan tegang, lalu ia melihat bayangan tubuh tegap laki-laki yang ia kenal.
“Hugo!” teriak Ana dan langsung melompat masuk ke dalam pelukan laki-laki itu. Ia benar-benar takut, lengannya memeluk erat leher Hugo sementara kedua kakinya melingkar di pinggang Hugo. “A-ku ta-kut.”
“Apa yang Kamu lakukan di sini?” Senter di tangan Hugo terlepas, ganti menahan pinggang Ana. Ia melangkah tertatih mencari tempat duduk karena Ana tak mau melepaskan pelukannya. Cahaya lampu dari senter yang terjatuh membantunya, ia menarik salah satu kursi dan mendudukkan Ana di sana.
“Aku haus, makanya Aku turun ke dapur.” Sahut Ana sambil mengacungkan roti di tangannya.
“Haus?” Hugo memicingkan mata.
“Iya, haus. Eh, lapar juga.” Wajah Ana memerah, beruntung lampu di sana padam jadi Hugo tak bisa melihat perubahan wajahnya.
“Aku mau periksa sekering lampu, Kau mau ikut apa tetap di sini.”
“Ikut!” jawab Ana cepat, ia langsung berdiri dan memeluk lengan Hugo. “Aku ikut,” ulang Ana lagi dengan suara pelan.
Hugo tersenyum samar, ia mengambil senter di bawahnya lalu mengajak Ana menuju ruang tamu di mana terdapat box sekering di bagian sudut atas dinding rumahnya.
“Apa Kamu setakut itu sama gelap?”
Ana tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan semakin mengetatkan pelukan tangannya.
Hugo meringis merasakan tangan Ana mencengkeram kuat lengannya, tubuh wanita itu bahkan menempel ketat padanya. Hugo menahan napas, tiba-tiba saja ia merasa gerah padahal cuaca di dalam rumah dingin dan di luar sedang hujan deras.
“Lepaskan tanganmu, Aku tidak bisa bekerja kalau Kamu terus menempel seperti itu padaku.”
Ana mencebik, ia melepaskan pelukan tangannya ganti menarik ujung kemeja Hugo dan mengikutinya berdiri di belakangnya.
Tak berapa lama lampu di rumah itu menyala kembali. Ana tersenyum dan menarik napas lega. Ia menatap Hugo yang masih berdiri membelakanginya dan tersadar kalau laki-laki itu bahkan belum berganti pakaian. Ia masih mengenakan baju yang sama saat bertemu dengan pengacara Mayapada.
“Aku tertidur di ruang kerjaku dan belum sempat ganti pakaian,” kata Hugo seolah mengerti arti tatapan Ana padanya.
“Mau Aku buatkan kopi?”
Hugo mengangguk, “Kau taruh saja di meja makan, Aku mau ganti pakaian dulu.”
Ana bergegas ke dapur, membuatkan kopi untuk Hugo. Kopi yang biasa ia buat untuk papa Fitra, ia tahu laki-laki itu juga menyukainya. Setelah selesai ia letakkan di meja seperti yang dikatakan Hugo padanya.
Jam setengah satu malam, Ana melirik jam di dinding. Ia menghabiskan sisa rotinya tadi sambil menunggu Hugo selesai berganti pakaian. Cukup lama hingga Ana berpikir laki-laki itu ketiduran.
“Terima kasih.” Hugo muncul dengan penampilan segar. Rambut gelapnya masih tampak lembap seperti habis mandi, dan tubuhnya menguar aroma yang menyegarkan. Ia duduk lalu menyesap kopinya.
Ana terdiam menatapnya, jantungnya berdebar kencang. Ia takut Hugo mendengarnya, laki-laki di hadapannya itu tampak memesona.
“Duaar!” Hugo iseng berteriak, ia tahu Ana sedari tadi memperhatikannya.
“Aargk!” Ana terkejut dan spontan mengeplak lengan Hugo kuat. Lelaki itu tertawa, sambil mengusap-usap lengannya.
Dan Ana kembali terdiam. Pemandangan langka pikirnya, melihat Hugo tertawa lepas karena berhasil menjailinya.
“Ish, masih belum puas ngeliatinnya?”
“Hhah?”
Hugo tertawa lagi, hanya sebentar lalu ia memasang wajah serius. Ia balas menatap Ana. “Apa Kau betah tinggal di rumah ini, Ana?”
Sejenak Ana terdiam, lalu mengangguk perlahan. “Aku suka suasana di rumah ini karena terus mengingatkanku pada almarhum papa. Aku betah karena ada bik Ani yang menemaniku di sini.”
“Bagaimana kalau Kau menetap lagi dan tinggal selamanya di rumah ini?”
Ana menggeleng. “Aku punya kehidupan dan pekerjaan di kota lain. Aku tak mungkin tinggal selamanya di rumah ini.”
“Bagaimana kalau bunyi wasiat papa menyebutkan bahwa Kau adalah pemilik rumah ini dan harus tinggal bersamaku di sini? Apa Kau bersedia melakukannya, memenuhi keinginan terakhir papa untuk kita?”
Ana terperangah. Kalau memang benar seperti itu, artinya mereka akan hidup bersama lagi. Tapi itu tak mungkin terjadi, mereka sudah lama berpisah dan papa tahu benar soal itu.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹