NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015 - Nadira dan Dara

"Nadira."

Nama itu keluar dari mulut Arga seperti titik pada peta.

Kiara menatap kampus yang rusak di depan mereka. "Kamu yakin dia yang memimpin?"

"Dengarkan."

Ia menunjuk ke arah perpustakaan.

Dari sana terdengar benturan besi, jeritan tertahan, dan geraman Zombie yang semakin dekat. Tidak seperti kepanikan biasa, suara manusia di sana bergerak mengikuti pola. Ada yang mundur. Ada yang menahan koridor. Ada yang menyeret meja.

Di tengah kekacauan itu, satu suara perempuan terus memberi perintah.

"Kelompok dua, jangan berdesakan! Yang terluka masuk dulu! Dara, tahan kiri!"

Kiara mengenali nama kedua.

"Dara juga di sana."

"Ya."

Arga berjalan masuk.

Jalan menuju perpustakaan penuh jejak darah. Beberapa Zombie Tingkat 1 berkeliaran di halaman fakultas, tertarik oleh suara di dalam gedung. Arga tidak memperlambat langkah.

Pedang Hi-Tech keluar.

Satu Zombie menerkam dari balik motor yang terguling.

Kepalanya jatuh sebelum tubuhnya menyentuh Arga.

Kiara bergerak di sampingnya, lebih ringan daripada beberapa hari lalu. Serum Evolusi dan Kristal yang ia serap membuat tubuhnya tidak lagi seperti gadis kampus biasa. Belati Hi-Tech di tangannya menusuk mata Zombie kedua. Ia menariknya, mundur, lalu membiarkan Arga menyelesaikan yang ketiga.

"Jalur kiri," kata Arga.

Kiara tidak bertanya.

Mereka memasuki gedung dari pintu samping yang kacanya pecah. Bau keringat, darah, debu buku, dan ketakutan langsung menghantam.

Di koridor barat perpustakaan, enam Zombie mendorong tumpukan meja. Di belakang barikade itu, sekitar selusin mahasiswi menahan dengan bahu, kursi, dan pipa besi.

Seorang gadis tinggi berdiri di depan mereka.

Rambutnya diikat tinggi. Lengan bajunya digulung. Otot lengannya jelas, tidak seperti orang yang hanya pernah berolahraga di kelas. Di tangannya ada pipa besi yang ujungnya dibungkus lakban dan kain.

Ia menghantam lutut Zombie pertama.

KRAK.

Zombie itu jatuh.

Ia langsung memutar badan, menggunakan siku untuk menahan cakar Zombie kedua, lalu memukul rahangnya sampai kepala busuk itu menoleh ke arah yang salah.

Gerakannya kasar, tapi dasarnya kuat.

Pencak Silat.

Dara Anindita.

Di kehidupan sebelumnya, Dara menjadi salah satu tameng terkeras Tim Bintang Fajar. Ketangguhan tubuhnya, keberanian nekatnya, dan caranya berdiri di depan orang lain membuat banyak orang bertahan hidup.

Sekarang ia masih memakai pipa besi.

Tapi tulang punggungnya sudah sama.

"Mundur!" Dara membentak. "Jangan dorong aku dari belakang!"

Salah satu mahasiswi menangis. "Dara, mereka masuk!"

"Aku lihat!"

Zombie ketiga melompati meja.

Sebelum Dara bisa memukul, garis hitam lewat di udara.

Kepala Zombie itu terbelah.

Dara membeku.

Arga sudah berdiri di depannya.

Pedang Hi-Tech meneteskan cairan hitam.

"Mundur tiga langkah," katanya.

Dara menatapnya. "Siapa kamu?"

"Orang yang sedang membuka jalan."

Ia tidak menunggu izin.

Tubuh Tingkat 2 dengan dasar dua belas kali manusia biasa bergerak di koridor sempit seperti bayangan berat. Satu tebasan, satu Zombie. Gerakannya pendek, dingin, dan efisien.

Enam Zombie habis dalam kurang dari sepuluh detik.

Koridor sunyi.

Para mahasiswi di balik barikade menatap Arga seperti melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

Dara menggenggam pipa besinya lebih kuat.

Ia tidak takut.

Ia marah karena baru saja diselamatkan terlalu mudah.

Arga mendengar pikirannya.

Kuat sekali. Tapi jangan-jangan sama saja seperti laki-laki lain. Datang merasa jadi pemilik.

Arga menoleh.

"Kalau mau menguji, nanti."

Dara tersentak. "Apa?"

"Sekarang bawa orangmu masuk."

Mata Dara menyipit.

Di sisi lain koridor, seorang perempuan berkacamata muncul dari balik pintu ruang baca. Bajunya kotor, rambutnya diikat rendah, tapi cara berdirinya rapi. Di tangannya ada papan clipboard retak dan spidol. Bahkan di tengah kiamat, ia terlihat seperti orang yang sedang mengatur rapat darurat.

Nadira Kusumawardani.

Ia melihat Arga, Pedang Hi-Tech, Combat Suit, lalu gelang hitam di pergelangan tangannya.

Matanya bergerak cepat.

Mencatat.

Menimbang.

Menghitung.

Telepati menyentuh pikirannya.

Senjata bukan barang biasa. Combat Suit. Gelang itu kemungkinan Dimensi equipment. Perempuan di belakangnya memakai Combat Suit juga. Mereka punya suplai, rute, dan informasi. Bahaya tinggi, peluang juga tinggi.

Arga hampir tersenyum.

Nadira tetap Nadira.

Belum menjadi manajer Tim Bintang Fajar.

Tapi otaknya sudah berjalan seperti mesin.

"Kiara?" Nadira tiba-tiba melihat ke belakang Arga.

Kiara melangkah maju.

"Nadira. Dara."

Beberapa mahasiswi langsung berbisik.

"Kiara masih hidup?"

"Dia dari gedung olahraga waktu itu..."

"Ratna?"

Wajah Kiara menegang sesaat.

Arga melirik kerumunan.

Bisikan berhenti.

Nadira menangkap perubahan itu. Satu tatapan Arga bisa membuat tiga puluh orang diam.

"Kamu bersama dia?" tanya Nadira kepada Kiara.

"Ya."

"Dengan sukarela?"

Kiara mengangkat dagu. "Aku berdiri di sini, kan?"

Dara menatap Kiara dari kepala sampai kaki. "Kamu berubah."

"Kamu juga."

"Aku masih aku."

"Tidak. Kamu sudah membunuh Zombie."

Dara diam.

Itu benar.

Nadira mengangkat tangan, menghentikan pembicaraan pribadi.

"Terima kasih sudah membantu. Tapi kami masih punya dua pintu yang harus ditahan. Kalau Anda ingin bicara, tunggu setelah posisi aman."

Formal.

Terkendali.

Arga menyukai itu.

Orang yang bisa berkata "terima kasih" dan "tunggu" kepada pria bersenjata setelah baru diselamatkan adalah orang yang punya tulang.

"Peta posisi," kata Arga.

Nadira menatapnya.

"Cepat," tambah Arga. "Aku bunuh yang di luar. Kamu atur orangmu."

Nadira hanya ragu setengah detik.

Lalu ia menyerahkan clipboard.

Di kertas basah itu ada sketsa kasar perpustakaan: pintu barat, ruang baca utama, tangga belakang, gudang buku, toilet, dan jalur evakuasi. Ada angka kecil di setiap titik.

Jumlah orang.

Jumlah alat.

Status barikade.

Arga melihat sekilas.

"Bagus."

Satu kata itu membuat mata Nadira berubah sedikit.

Bukan bangga.

Waspada.

Orang ini mengerti nilai catatan itu.

Arga menunjuk tiga titik.

"Kiara bantu pintu belakang. Dara tahan koridor barat. Kamu pindahkan yang terluka ke ruang baca utama. Aku bersihkan halaman depan dan tangga."

Dara langsung menyahut, "Kamu yang atur kami sekarang?"

Arga menoleh padanya.

"Kalau kamu punya rencana lebih cepat, katakan."

Dara membuka mulut.

Tidak ada.

Nadira berkata dingin, "Ikuti dulu. Nanti kamu boleh marah."

Dara mendecakkan lidah. "Baik."

Lima menit berikutnya membuat seluruh perpustakaan berubah.

Arga keluar lewat pintu depan dan membantai Zombie yang menumpuk di tangga. Pedang Hi-Tech bergerak terlalu cepat untuk diikuti mata orang biasa. Dalam satu ayunan, dua kepala jatuh. Dalam satu tendangan, satu Zombie terlempar dari tangga dan menabrak tiga lainnya.

Para mahasiswi melihat dari balik jendela pecah.

Ketakutan mereka bergeser.

Bukan hilang.

Berubah arah.

Mereka mulai takut pada Arga lebih daripada Zombie.

Itu berguna.

Kiara di pintu belakang tidak lagi ragu menusuk mata Zombie yang terjebak di pagar. Ia tidak sekuat Arga, tidak seganas Dara, tapi gerakannya sunyi dan semakin tepat. Beberapa mahasiswi yang mengenalnya dulu sebagai gadis tari melihatnya dengan wajah tidak percaya.

Dara menahan koridor barat bersama empat orang. Ia memukul lutut, pergelangan, rahang. Tidak membuang tenaga untuk dada. Ia belajar cepat dari satu kalimat yang tadi diteriakkan Nadira.

Ketika semuanya selesai, tiga puluh dua mahasiswi berkumpul di ruang baca utama.

Mereka kurus, kotor, mata cekung. Tapi mereka hidup.

Nadira berdiri di depan mereka.

"Jumlah?"

Seorang gadis menjawab, "Tiga puluh dua termasuk aku, Nadira. Dua terluka ringan. Satu demam."

"Makanan?"

"Sisa dua bungkus biskuit, setengah galon air, sedikit gula."

Dara menyandarkan pipa besi di bahu. "Dengan kata lain, besok kita mulai makan rak buku."

Beberapa orang tertawa kecil.

Tawa itu patah, tapi hidup.

Arga masuk ke ruang baca.

Semua suara berhenti.

Nadira menatapnya. "Sekarang kita bicara."

"Ya."

"Apa tujuan Anda?"

"Mengambil kalian."

Ruangan langsung ribut.

Dara mengangkat pipa besi. "Bahasamu jelek sekali."

Kiara menatap Arga dengan ekspresi lelah. "Kamu memang bisa terdengar seperti penculik."

Arga tidak berubah.

"Aku membangun tim. Aku butuh orang yang bisa diatur, bisa dilatih, dan tidak hancur setelah melihat darah. Kalian bertahan sepuluh hari dengan hampir tanpa makanan. Itu cukup untuk membuatku datang."

Nadira mendorong kacamatanya.

"Jadi kami aset."

"Ya."

Jawaban itu terlalu jujur.

Beberapa mahasiswi terlihat tersinggung.

Nadira tidak.

Di kepalanya, Arga mendengar:

Lebih baik orang yang mengakui melihat nilai daripada orang yang berpura-pura menyelamatkan.

Ia berkata, "Apa yang Anda tawarkan?"

Arga mengangkat tangan.

Dari Gelang Dimensi, tujuh kotak makanan otomatis muncul di atas meja panjang. Lalu lima botol air otomatis. Setelah itu dus Indomie, beras instan, Sambal ABC, garam, pembalut, obat dasar, dan beberapa pisau dapur cadangan.

Ruangan membeku.

Salah satu mahasiswi menutup mulut dan menangis.

Dara menatap meja itu, lalu menatap gelang Arga.

"Dari mana..."

"Airdrop Box," kata Arga.

Nadira tidak menyentuh barang itu.

Ia justru bertanya, "Syarat?"

"Satu minggu masa uji."

Arga menunjuk barang di meja.

"Ini cukup untuk kalian bertahan dan berlatih. Kiara tinggal tiga hari untuk membantu dasar pembunuhan Zombie. Aku akan memberi aturan: makan terukur, air terukur, jaga malam bergilir, latihan senjata, catatan Kristal, catatan luka."

Nadira mendengarkan tanpa berkedip.

"Setelah seminggu, kalau kalian membuktikan nilai, kalian ikut ke tempatku."

"Kalau tidak?"

"Aku ambil kembali alat otomatis. Makanan yang sudah kalian makan tidak kuhitung."

Dara tertawa pendek. "Murah hati sekali."

"Tidak. Efisien."

Nadira menatap meja.

Tujuh kotak makanan otomatis berarti makanan hangat yang bisa keluar terus sesuai aturan alat. Lima botol air otomatis berarti air bersih. Dengan tambahan bahan makanan biasa, tiga puluh dua orang bisa melewati seminggu tanpa berburu makanan setiap hari.

Bantuan itu besar.

Itu kendali atas hidup.

"Saya punya syarat," kata Nadira.

"Katakan."

"Selama masa uji, Anda atau orang Anda tidak menyentuh siapa pun di sini tanpa izin. Tidak ada ancaman seksual. Tidak ada pemaksaan hubungan. Tidak ada 'bayaran' tersembunyi. Kalau ada satu orang yang dilukai oleh pihak Anda, kerja sama selesai."

Ruangan hening.

Dara tersenyum miring.

Kiara menatap Nadira lebih lama.

Arga tertawa pelan.

Bukan tawa mengejek.

Tawa puas.

Nadira benar-benar tidak berubah.

Bahkan saat hampir kelaparan, ia masih menawar dengan aturan.

"Setuju."

Nadira menahan ekspresi. "Semudah itu?"

"Aku tidak kekurangan perempuan yang harus kulindungi. Aku kekurangan orang yang bisa bekerja."

Beberapa mahasiswi memerah, sebagian lain menatap dengan bingung.

Kiara batuk kecil. "Cara bicaramu tetap buruk."

"Tapi jelas."

Dara memukul lantai dengan pipa.

"Aku juga punya syarat."

Nadira memejamkan mata sebentar. "Dara..."

"Aku mau bertarung dengannya."

Arga menatap Dara.

Dara berdiri tegak. "Kalau kamu mau memimpin, buktikan kamu bukan cuma punya pedang bagus."

Arga memasukkan Pedang Hi-Tech ke sarungnya.

"Satu serangan."

"Apa?"

"Kamu menyerang sekali. Kalau aku mundur satu langkah, kamu menang."

Wajah Dara langsung panas.

"Meremehkan aku?"

"Menghemat waktu."

Dara menggertakkan gigi.

Nadira tidak menghentikannya kali ini.

Ia juga ingin melihat.

Dara mengambil posisi. Kaki kiri maju, pipa besi dipegang dua tangan. Gerakannya bukan asal pukul. Ada dasar. Pencak Silat membuat pinggulnya rendah, bahunya rileks, pusat beratnya stabil.

Bagus.

Untuk manusia biasa.

Dara menyerang.

Pipa besi menyapu dari kanan, bukan ke kepala, tapi ke rusuk. Di tengah gerakan, ia mengubah arah ke lutut. Tipuan sederhana, efektif untuk orang yang tidak terbiasa bertarung.

Arga tidak menghindar.

Tangannya turun.

Ia menangkap pipa itu dengan dua jari dan ibu jari.

Gerakan Dara berhenti total.

Seolah pipa itu tertanam di beton.

Mata Dara membesar.

Ia mencoba menarik.

Tidak bergerak.

Arga memutar sedikit.

Pipa lepas dari tangannya, lalu ujungnya berhenti satu sentimeter dari tenggorokan Dara.

Ruangan sunyi.

"Kamu punya dasar bagus," kata Arga. "Tapi tenaga, kecepatan, dan pengalamanmu belum cukup."

Dara menatap ujung pipa di depan lehernya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pikirannya kosong.

Lalu satu kalimat muncul.

Sial. Dia monster.

Arga mengembalikan pipa itu.

"Latih yang lain. Kalau kamu berkembang cepat, aku beri kamu senjata lebih baik."

Dara menerima pipa dengan wajah kaku.

"Aku kalah."

"Jelas."

"Kamu tidak perlu menambahkan itu."

Kiara hampir tersenyum.

Nadira menarik napas pelan.

"Satu minggu," katanya. "Saya menerima masa uji. Tapi saya yang mengatur distribusi di sini."

"Itu alasan aku datang."

Mata Nadira bergerak.

"Anda sudah tahu saya bisa mengatur orang?"

"Aku melihat buktinya."

"Bukan cuma itu."

Arga menatapnya.

Nadira menahan tatapan itu tanpa mundur.

"Anda datang langsung ke sini. Anda tahu nama saya dan Dara sebelum kami memperkenalkan diri. Anda tahu kami masih hidup. Anda tahu kami punya kelompok. Anda tahu kami butuh makanan tapi belum runtuh. Informasi Anda terlalu spesifik."

Kiara diam.

Dara mengerutkan kening.

Ruangan yang baru saja lega kembali menegang.

Arga tidak menjawab beberapa detik.

Telepati menangkap pikiran Nadira.

Dia tidak akan menjawab. Tapi reaksinya akan memberi pola. Kalau dia berbohong, aku bisa lihat dari pilihan katanya. Kalau dia diam, berarti informasinya memang rahasia.

Arga tersenyum tipis.

"Cari tahu."

Nadira mendorong kacamatanya.

"Saya akan."

"Kalau sudah tahu, beri tahu aku."

Nadira terdiam.

Jawaban itu tidak masuk kategori mana pun yang ia siapkan.

Arga berbalik.

"Kiara tinggal tiga hari. Dara, mulai hari ini setiap orang belajar menusuk mata Zombie. Nadira, buat daftar nama, usia, luka, kemampuan, dan siapa yang bisa jaga malam. Besok pagi aku kembali."

Nadira langsung bertanya, "Ke mana Anda pergi?"

"Menyiapkan jalur."

"Untuk membawa kami keluar?"

"Kalau kalian lulus lebih cepat, ya."

Dara mendengus. "Kami akan lulus."

"Buktikan."

Arga berjalan ke pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti.

"Satu lagi. Jangan percaya Rina kalau dia muncul."

Kiara membeku.

Nadira menangkap perubahan itu. "Rina masih hidup?"

"Mungkin."

"Dia teman saya."

"Dulu."

Satu kata itu cukup.

Nadira tidak langsung membela.

Ia hanya mencatat.

Arga keluar dari ruang baca.

Di belakangnya, suara para mahasiswi mulai naik. Ada yang menangis karena makanan. Ada yang berdoa pelan. Ada yang menatap Kiara seperti ingin bertanya banyak hal tapi takut.

Nadira berdiri di depan meja penuh suplai.

Ia tidak menangis.

Ia mengambil spidol.

"Semua orang duduk berdasarkan kelompok lama. Tidak ada yang menyentuh makanan sebelum saya hitung. Dara, pilih enam orang paling kuat untuk latihan pertama. Kiara, saya perlu tahu aturan alat-alat ini."

Dara memutar pipa di bahu.

"Dan kalau ada yang curi makanan?"

Kiara menjawab lebih dulu.

"Aku yang potong tangannya."

Ruangan sunyi.

Nadira menatap Kiara.

Kiara menatap balik.

Gadis yang dulu ia kenal sudah tidak ada sepenuhnya.

Nadira mengangguk pelan.

"Baik. Kita mulai."

Di luar perpustakaan, Arga berjalan melewati halaman UNDIP yang penuh mayat Zombie.

Telepati masih menangkap satu pikiran tajam dari ruang baca.

Kamu tahu terlalu banyak, Arga.

Aku akan menemukan alasannya.

Arga menoleh sedikit, seolah bisa melihat Nadira melalui dinding.

Di kehidupan sebelumnya, Nadira adalah satu-satunya orang yang hampir menebak rahasia kelahirannya kembali.

Di kehidupan ini, instingnya datang lebih cepat.

Bagus.

Orang seperti itu memang pantas diambil lebih awal.

Arga melangkah menuju gerbang kampus.

Satu minggu?

Mungkin tidak perlu selama itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!