NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Gerbang Baru

Hari keenam belas sampai kedelapan belas berjalan seperti masa uji coba yang tidak pernah diumumkan.

Raka datang ke Satreskrim setiap pagi sebelum jam delapan. Ia duduk di meja kecil yang ditempatkan di dekat papan kasus, bukan di ruang khusus. Pilihan Yudha jelas: kalau Raka ingin menjadi bagian dari tim, ia harus mendengar telepon masuk, melihat anggota berdebat, mencium kopi basi, dan ikut merasakan kantor yang tidak pernah benar-benar diam.

Beberapa anggota masih memandangnya seperti tamu yang terlalu lama tinggal.

Tapi pandangan itu mulai berubah.

Pada hari pertama, Raka membaca ulang berkas pencurian gudang elektronik yang tiga bulan tidak bergerak. Ia tidak memakai siaran besar. Tidak membuka Buku Penghakiman. Hanya foto TKP, daftar jadwal satpam, dan Mata Dosa yang menyala samar saat ia melihat foto seorang petugas keamanan.

Angka 63/100.

Terlalu tinggi untuk pencurian kecil yang katanya dilakukan orang luar.

Raka menemukan jejak sepatu dengan pola sol pecah di foto debu gudang. Pola yang sama terlihat di sudut foto lain, dekat pos keamanan. Dua jam kemudian, ia menyusun catatan: pelaku kemungkinan orang dalam, punya akses kunci cadangan, dan sengaja mematikan kamera dari panel dekat pos.

Sore harinya, Dimas memeriksa ulang.

Besoknya, petugas keamanan itu mengaku.

Anggota yang kemarin menyebut Raka influencer tidak meminta maaf. Tapi ia berhenti menyebutnya influencer.

Pada hari berikutnya, orang yang sama menaruh map di meja Raka tanpa menatap matanya.

"Kalau sempat," katanya, "lihat laporan ini. Ada yang janggal."

Bukan permintaan maaf.

Tapi dalam kantor seperti Satreskrim, kepercayaan kadang datang dalam bentuk map kusut yang dilempar ke meja.

Itu cukup untuk awal.

Raka juga mulai menggunakan Mata Dosa secara diam-diam pada orang-orang yang datang melapor, tersangka yang dibawa masuk, bahkan anggota Satreskrim sendiri. Ia tidak menemukan angka tinggi di tim inti. Yudha 3/100. Dimas 5/100. Andi 2/100. Beberapa anggota lain berkisar 4 sampai 9.

Yudha memang memilih tim yang bersih.

Bukan sempurna.

Tapi bersih.

Kribo bekerja dari warnet dua ruko dari Polres. Ia menyebut tempat itu markas bayangan, padahal kursinya miring dan pendingin ruangannya lebih sering batuk daripada dingin. Dari sana, ia membantu Raka mencari informasi publik, memantau channel, dan sesekali mengirim pesan yang terlalu cepat untuk disebut kebetulan.

Andi Prasetyo mulai menyadari.

SSatu siang, saat Raka menerima data yang baru saja "ditemukan" Kribo, Andi melirik layar Raka dan berkata, "Temanmu cepat."

Raka berhenti mengetik.

Andi menyeruput kopi. "Tenang. Selama dia tidak masuk sistem internal tanpa izin, aku tidak peduli. Tapi kalau dia masuk, aku tahu."

"Saya akan bilang ke dia."

"Bilang juga, format datanya rapi. Aku menghargai orang yang rapi."

Itu mungkin pujian tertinggi yang bisa keluar dari mulut Andi.

Di luar kantor, Indonesia belum selesai mengejar Si Hakim.

Berita nasional menayangkan satuan tugas khusus yang dibentuk pemerintah. Pakar keamanan siber bicara dengan wajah serius. Seorang profesor komputer mengatakan pembajakan layar nasional itu memakai teknologi yang jauh melampaui sistem apa pun yang dikenal publik.

Raka menonton berita itu dari televisi kecil di sudut ruang istirahat.

Dimas berdiri di sebelahnya sambil memegang gelas teh.

"Menurutmu dia manusia?" tanya Dimas.

"Siapa?"

"Si Hakim."

Raka menatap layar. Logo Pengadilan Rakyat diputar ulang dalam grafis berita.

"Kalau bukan manusia, kita tidak punya pasal untuk menahannya," jawab Raka.

Dimas tertawa pendek. "Jawaban aman. Kamu cepat belajar jadi orang kantor."

Sore itu, Yudha memanggil Raka ke ruangannya.

Ruangan Yudha tidak banyak dekorasi. Map kasus, papan kecil, foto tim lama, dan satu cangkir kopi yang sepertinya tidak pernah habis.

"Kamu sudah dengar soal Pengadilan Rakyat," kata Yudha.

"Ya, Pak. Seluruh Indonesia sudah dengar."

"Menurutmu, siapa yang melakukannya?"

Pertanyaan itu datang tanpa suara keras, tapi membuat punggung Raka menegang.

Ia memilih napasnya dengan hati-hati.

"Saya tidak tahu, Pak. Tapi siapa pun dia, bukti yang ditampilkan benar. Wisnu memang bersalah."

Yudha menatapnya lama.

Terlalu lama.

"Kau benar," katanya akhirnya. "Buktinya benar. Tapi sSatu hari, Si Hakim ini bisa membuat negara panik lebih besar dari kasus Wisnu. Kalau dia salah, polisi yang harus bertindak. Kalau dia benar tapi melanggar terlalu jauh, polisi juga yang harus bertindak."

Raka mengangguk. "Saya mengerti."

"Belum," kata Yudha. "Tapi mungkin nanti."

Kalimat itu mengikuti Raka sampai ia keluar ruangan.

Malamnya di kamar kos, Buku Penghakiman menampilkan status yang membuat Kribo langsung menggaruk kepala.

【Poin Penghakiman: 0】

"Masih sakit lihatnya," kata Kribo.

"Lina dan Jono aman."

"Aku tahu. Tetap sakit. Nol itu seperti rekening tanggal tua."

Raka belum sempat menjawab ketika panel baru muncul.

【Deteksi kasus baru tersedia di area Kota Elang Biru.】

【Jenis: Pembunuhan.】

【Korban: Tidak diketahui.】

【Tingkat keparahan: Tinggi.】

【Apakah Tuan Rumah ingin menerima misi?】

Raka duduk tegak.

Kribo langsung kehilangan ekspresi main-main.

"Kasus baru?"

"Ya. Tapi belum ada detail."

Raka menatap pilihan itu. Dulu ia mungkin langsung menekan. Sekarang ia berada di dalam Satreskrim. Ada jalur resmi. Ada tim. Ada Yudha yang curiga pada Si Hakim. Ada nol poin yang membuat setiap keputusan harus lebih hemat.

"Tunggu," katanya.

Panel tetap mengambang di pikirannya, seperti pintu yang belum dibuka.

Keesokan sorenya, jawaban datang dari telepon kantor.

Dimas yang mengangkat. Awalnya wajahnya biasa. Lalu rahangnya mengeras.

"Baik. Jangan sentuh lokasi. Tim kami meluncur."

Ia menutup telepon dan menoleh ke ruang Yudha.

"Kompol. Ada laporan penemuan mayat di Jalan Pahlawan, Distrik Surya. Wanita muda. Identitas belum diketahui. Kondisi... brutal."

Ruangan Satreskrim berubah dalam satu tarikan napas.

Kursi bergeser. Jaket diambil. Radio menyala. Andi berdiri dari meja komputernya. Dimas mengambil map kosong dan sarung tangan. Anggota yang beberapa hari lalu meremehkan Raka kini melemparkan sepasang sarung tangan cadangan ke arahnya tanpa komentar.

Raka menangkapnya.

Gerakan kecil itu membuat sesSatu di dadanya menetap. Ia belum sepenuhnya diterima, tapi ketika mayat ditemukan, semua ego kecil harus minggir. Yang tersisa hanya pekerjaan.

Yudha keluar dari ruangannya dengan wajah yang membuat semua orang berhenti bercanda.

"Tim lapangan. Bergerak."

Lalu matanya berhenti pada Raka.

"Kau ikut."

Raka berdiri.

Pada saat yang sama, suara sistem menggema di kepalanya.

【Misi baru diterima secara otomatis.】

【Kasus #002 dimulai.】

【Batas waktu: 20 hari.】

【Poin Penghakiman saat ini: 0.】

【Selamat bekerja, Tuan Rumah.】

Kribo mengirim pesan ke ponselnya.

— Gue di warnet. Kirim lokasi kalau aman. Jangan mati di hari pertama kasus resmi.

Raka hampir tersenyum.

Ia berjalan keluar bersama tim Satreskrim menuju mobil. Angin sore Kota Elang Biru mengangkat ujung rambutnya. Sirene belum menyala, tapi udara sudah terasa seperti sebelum badai.

Dua puluh hari lalu, ia hanyalah anak panti yang diejek di livestream murah.

Sekarang ia adalah Konsultan Khusus Satreskrim.

Host Sistem Penghakiman.

Poinnya nol. Pengalamannya baru satu kasus. Identitas Hakim diburu satu negara. Yudha mulai menaruh pertanyaan yang terlalu tajam di atas meja.

Tapi Raka tetap masuk ke mobil.

Karena di luar sana, ada mayat yang menunggu keadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!