Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Angin Berubah Arah
Pagi tiga hari kemudian, apartemen Bima akhirnya terlihat seperti tempat tinggal, bukan gudang orang pindahan.
Rak sudah berdiri. Panci sudah dicuci. Kabel terminal tidak lagi bergelantungan seperti jebakan ular. Di meja kecil dekat jendela, Bima meletakkan tiga map: Perkara 1317 lanjutan, Kasus Mimpi, dan Modus Parkiran Purwadi-Purwanto. Semua masih berjalan. Hari itu ia tidak perlu berada di kantor polisi.
Untuk pertama kalinya, ia membuat kopi tanpa terburu-buru.
Lalu panggilan video keluarga masuk.
Bu Sri muncul paling dulu. "Bima, wajahmu agak kurus. Kamu makan apa di sana?"
"Nasi, Bu. Bukan batu."
"Jangan pintar menjawab."
Pak Harto mengambil ponsel dari samping. Di belakangnya tampak Restoran Rejeki Makmur yang kini lebih ramai. Setelah Bima mengambil alih aset secara tersembunyi dan menata manajemen lewat jalur legal, restoran itu dikelola dengan wajah lama: Pak Harto dan Bu Sri tetap terlihat sebagai pengelola sederhana. Tidak ada pengumuman bahwa Bima pemilik sebenarnya.
"Omzet minggu ini naik," kata Pak Harto. "Banyak orang datang karena dengar keluarga kita menang kasus. Tapi Papa tetap pakai harga biasa. Jangan sampai orang bilang kita memanfaatkan perkara."
Bima tersenyum. "Bagus, Pak. Naikkan kualitas, bukan kesombongan."
Ratna muncul dari sisi layar, memakai kaus kampus. "Mas, aku punya kabar. Semester baru mulai dua minggu lagi. Aku dapat kos dekat UH Naga Kota."
Bima langsung duduk lebih tegak. "Alamatnya kirim."
"Belum selesai ngomong sudah mode satpam."
"Alamatnya."
Ratna memutar mata, tetapi mengirim lokasi. Bima membuka peta di laptop sambil tetap mendengar.
Kos itu berada di gang belakang kampus, dekat warung kopi dan fotokopi. Secara jarak bagus. Secara pola jalan, terlalu banyak titik buta.
"Lingkungannya bagaimana?" tanya Bima.
Ratna menggaruk pipi. "Lumayan. Ibu kosnya baik, Bu Tuti. Tapi dekat gerbang belakang ada tiga orang yang sering nongkrong. Mahasiswa baru bilang mereka suka minta uang keamanan. Ada yang manggil mereka Calvin, David, Purnomo."
Nama-nama itu muncul biasa saja dari mulut Ratna. Panel SBE langsung berkedip tipis.
[Potensi ancaman keluarga terdeteksi.]
[Target rentan: Ratna Liem]
Bima menjaga wajahnya tetap datar. "Kamu sudah pernah diganggu?"
"Belum. Cuma waktu survei kos, salah satu dari mereka lihat aku agak lama. Temanku, Koko, bilang jangan jalan sendiri malam-malam. Zahra juga pernah dimintai uang parkir padahal dia jalan kaki."
Bu Sri langsung panik. "Ratna, kenapa baru bilang?"
"Ma, kalau aku bilang kemarin, Mama pasti langsung suruh aku kuliah online dari dapur."
"Memang kalau perlu begitu!"
Pak Harto berdeham. "Bima?"
"Aku antar Ratna pindahan," kata Bima. "Aku cek kos, rute kampus, dan orang-orang itu."
Ratna menatap layar. "Mas, jangan langsung bikin mereka masuk penjara sebelum aku sempat punya teman."
"Kalau mereka cuma nongkrong, mereka tetap nongkrong. Kalau mereka memeras, mengancam, atau menyentuh mahasiswa, itu pilihan mereka."
Ratna diam. Ia tahu nada itu. Nada yang sama saat Bima melihat video Siska. Nada pelan yang membuat orang lain kehilangan ruang untuk bercanda.
Setelah panggilan selesai, Bima membuka pencarian lokal. Nama Calvin, David, dan Purnomo belum muncul di berita besar. Namun di beberapa forum mahasiswa, ada keluhan lama: uang keamanan, catcalling, motor ditahan, mahasiswa baru dipaksa traktir. Tidak ada laporan resmi. Semua berhenti pada kalimat yang paling dibenci Bima:
Sudahlah, jangan cari masalah. Mereka memang begitu.
Bima menyalin kalimat itu ke catatan.
"Mereka memang begitu" adalah cara masyarakat memberi izin kepada orang jahat untuk terus menjadi begitu.
Panel SBE muncul.
[Misi keluarga pra-aktif]
[Awasi perpindahan Ratna ke UH Naga Kota]
[Objektif: verifikasi ancaman, lindungi target, kumpulkan bukti tanpa memicu risiko tidak perlu]
Bima menutup laptop dan melihat berita online. Satu artikel lokal menyebutnya lagi: Pemuda Misterius yang Selalu Menang. Identitasnya masih samar. Fotonya dari belakang di Polres mulai beredar. Media mendekat pelan.
Dua ancaman dari dua arah.
Satu, orang luar mulai penasaran siapa dirinya.
Dua, adiknya akan masuk lingkungan yang terlalu lama membiarkan preman kecil merasa punya wilayah.
Bima mengambil kunci motor, bukan kunci mobil mewah. Ia mengirim pesan ke Ratna.
Besok Mas jemput. Jangan berangkat survei kos sendirian lagi.
Ratna membalas cepat.
Siap, Komandan Galak.
Bima tersenyum sebentar.
Lalu senyum itu hilang saat ia membuka peta gang belakang UH Naga Kota.
Bima tidak langsung menutup peta. Ia membuat tiga tanda: kos Ratna, gerbang belakang UH Naga Kota, dan warung tempat preman sering nongkrong. Lalu ia mencari rute terang, rute ramai, dan rute yang memiliki CCTV toko. Ia mengirim semuanya ke Ratna dengan pesan singkat.
Pakai rute biru kalau pagi. Rute hijau kalau sore. Jangan lewat gang merah kecuali Mas ada.
Ratna membalas dengan stiker hormat. Beberapa detik kemudian beberapa detik kemudian ia menulis lebih serius.
Makasih, Mas. Aku berani, tapi aku juga enggak mau sok kuat.
Bima membaca kalimat itu dua kali. Ia lebih suka Ratna yang jujur takut daripada Ratna yang pura-pura kebal.
Di sisi lain layar, artikel Pemuda Misterius mulai disalin akun-akun lokal. Beberapa menebak ia pengacara muda. Beberapa menyebut anak pejabat. Satu akun mengunggah foto belakang tubuhnya di Polres. Fotonya kabur, cukup untuk memulai perburuan.
Perisai Reputasi memberi notifikasi ringan.
[Risiko identitas: naik rendah-menengah.]
[Rekomendasi: kurangi pola kemunculan publik, gunakan kendaraan biasa, hindari komentar media tidak perlu.]
Bima mengambil jaket polos dari lemari. Besok ia berhenti sejenak dari perkara digital, aset tersembunyi, dan nama Pemuda Misterius. Besok ia menjadi kakak yang mengantar adiknya pindah kos.
Dan kadang, peran sederhana itu justru yang paling berbahaya bagi orang yang salah memilih adik untuk diganggu.
Bu Sri kemudian meminta alamat kos Ratna dikirim juga kepadanya. Bu Sri mungkin tidak akan bisa membaca peta detail. Bima tetap mengirim. Orang tua sering merasa lebih tenang jika punya sesuatu untuk dipegang, walau hanya titik lokasi.
Pak Harto berkata, "Papa bisa ikut pindahan kalau perlu."
Ratna langsung protes, "Papa nanti malah ngajak semua orang kenalan."
"Kenalan itu baik."
"Kalau kenalan sama preman?"
Pak Harto terdiam. Bima menjawab untuknya. "Kalau ada yang perlu dikenali, Mas yang kenalkan mereka ke polisi."
Bu Sri memukul lengan Ratna di layar. "Jangan bercanda soal preman."
Namun Bima tahu candaan itu menutupi kecemasan. Ia membuat daftar barang pindahan Ratna: dokumen, charger, obat pribadi, nomor darurat, salinan KTP, dan lokasi Polsek terdekat. Setelah kasus Siska, keluarga mereka belajar bahwa rasa aman lahir dari persiapan.
"Biar mereka penasaran," gumamnya. Ia menambahkan nomor Dodik dan Wisnu ke catatan darurat Ratna. Satu salinan ia kirim ke ponsel Pak Harto agar keluarga punya pegangan jika sinyal Ratna hilang.
"Yang penting Ratna aman."