"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003: Sang Pembunuh Ada di Lobi
Sekarang ruangan ini juga sudah mendengarnya.
Adira Larasati langsung mengambil alih.
"Segel ruangan ini. Semua foto temuan masuk berkas. Jangan ada barang keluar tanpa catatan rantai bukti." Ia menoleh ke dr. Suherman. "Dokter Suherman, VeR awal direvisi menjadi dugaan pembunuhan. Kesimpulan final menyusul setelah pemeriksaan lengkap."
dr. Suherman membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Baik, Bu Iptu."
Itu pertama kalinya Arka mendengar suara senior itu tanpa tekanan.
Adira menatap Arka. "Anda ikut saya."
Arka mengira ia akan dimarahi di kantor polisi. Namun ketika Adira berjalan keluar, ia memberi ruang di sisi kirinya.
Arka berjalan sejajar dengannya.
Di koridor, dua teknisi melihat perubahan itu dengan jelas. Satu jam lalu Arka memegang botol spesimen. Sekarang Kanit Reskrim membawanya sebagai orang yang perlu didengar.
dr. Suherman mengikuti beberapa langkah di belakang.
Di lift, suara sistem kembali muncul di kepala Arka.
[Misi darurat selesai.]
[Kesalahan klasifikasi kematian berhasil dicegah.]
[Hadiah diberikan: Injeksi Pengetahuan Forensik Dasar.]
Arka menahan napas.
Informasi mengalir cepat: pola asfiksia, perdarahan jaringan lunak, fraktur laring, perubahan postmortem, struktur dasar Visum et Repertum. Rasanya seperti banyak pintu dibuka sekaligus di kepalanya.
[Modul pendukung terbuka: Modul Penguatan Visual.]
Dunia menajam.
Goresan di dinding lift terlihat jelas. Debu di bahu rompi Adira tampak satu per satu. Bahkan jari dr. Suherman yang menekan telapak tangan sendiri terlihat dari pantulan logam.
"Dok?"
Arka mengerjap. "Saya baik-baik saja, Bu Iptu."
"Saya belum bilang Anda aman," kata Adira. "Tindakan Anda melanggar prosedur. Tapi temuan Anda menyelamatkan perkara. Jadi sampai saya tahu Anda ini masalah atau saksi penting, jangan jauh dari saya."
"Baik, Bu Iptu."
Pintu lift terbuka ke lobi utama Polrestabes Surabaya.
Keluarga korban duduk di bangku panjang. Petugas piket berbicara lewat telepon. Di dekat pilar, seorang pria muda menangis dengan kedua tangan menutup wajah.
"Itu pelapor," kata Adira rendah. "Hendra Wijaya. Tunangan korban. Dia yang menemukan jenazah bersama penjaga kos."
Arka melihat ke arah pria itu.
Hendra memakai kemeja biru muda kusut. Bahunya bergetar. Suaranya pecah. Dari jauh, ia tampak seperti laki-laki yang kehilangan calon istri.
Lalu label merah muncul di atas kepalanya.
[Pelaku]
Arka membeku.
Sang pembunuh ada di lobi.
Hendra menurunkan tangan dari wajahnya dan mengusap pipi. Namun ujung jarinya kering. Tidak ada air mata. Setiap sekitar tiga puluh detik, matanya menyapu ruangan, mengukur reaksi polisi. Bahunya hanya bergetar ketika ada petugas lewat.
Duka tidak terlihat di sana.
Itu panggung.
Seorang polisi berusia empat puluhan menghampiri Adira. Tubuhnya kokoh, wajahnya keras, matanya terbiasa membaca orang.
"Bu Adira. Ada perkembangan?"
"Ada, Pak Bambang. Kesimpulan bunuh diri runtuh. Dugaan kuat pembunuhan."
Bambang Wicaksono melirik Hendra. "Saya sudah merasa TKP itu terlalu rapi. Tapi pintu terkunci dari dalam membuat anggota ragu."
"Inafis kembali ke TKP. Cari tali kecil, kabel, atau serat tipis."
"Siap." Bambang menatap Arka. "Ini anak IKF yang bikin ribut?"
Adira menjawab datar, "Ini Dokter Muda yang menemukan tiga bukti kita hampir lewatkan. Arka Pratama."
Bambang mengangkat alis. "Dokter Muda? Hari pertama sudah bikin orang tua sakit jantung. Hebat juga, Dok."
Arka menunduk sopan. "Saya hanya mengikuti temuan, Pak Bambang."
"Temuan kadang lebih jujur daripada orang hidup." Bambang menyipitkan mata. "Dari tadi kau lihat pelapor. Ada apa?"
Arka tidak bisa mengatakan ada label [Pelaku] di atas kepala Hendra.
Sistem tidak bisa masuk berkas.
Maka ia memakai hal yang bisa dilihat.
"Tangisnya tidak konsisten," kata Arka. "Dia menutup wajah, tapi jari yang dipakai mengusap pipi kering. Getaran bahunya muncul saat petugas lewat. Matanya terus mengecek reaksi polisi. Orang yang benar-benar hancur biasanya tidak mengatur duka serapi itu."
Bambang dan Adira sama-sama melihat Hendra.
Seolah sadar diperhatikan, Hendra menangis lebih keras. "Pak Polisi... kapan saya boleh melihat Sari? Saya cuma mau lihat dia sekali lagi. Saya tidak kuat begini..."
Beberapa keluarga korban ikut terisak.
Arka justru makin yakin.
Nada sedih itu naik terlalu cepat.
Terlalu tepat waktu.
Bambang mengembuskan napas. "Baru keluar dari ruang mayat, sudah baca orang hidup?"
"Saya hanya mengamati, Pak."
"Tipis bedanya. Tapi kalau berguna, saya suka yang tipis-tipis."
Adira membuat keputusan cepat. "Pak Bambang, bawa Hendra ke ruang pemeriksaan. Alasan resmi: tambahan keterangan pelapor karena status perkara berubah. Jangan sebut tersangka dulu."
"Siap."
Bambang memberi isyarat kepada petugas piket untuk menutup akses lorong, cukup halus agar keluarga korban tidak panik.
Bambang berjalan mendekati Hendra bersama dua petugas.
"Mas Hendra," katanya ramah. "Kami perlu tambahan keterangan. Sebentar saja."
Hendra mengangkat wajah. "Tambahan? Saya sudah cerita semua, Pak. Saya yang lapor. Saya juga korban di sini."
"Karena Mas pelapor pertama, keterangan Mas penting. Mari."
Hendra berdiri.
"Saya harus ikut sekarang?" tanyanya. "Keluarga Sari masih di sini. Saya harus menemani mereka."
Adira menjawab sebelum Bambang. "Justru karena status perkara berubah, kami perlu memastikan urutan kejadian dari orang pertama yang menemukan korban. Kalau keterangan Mas Hendra bersih, prosesnya cepat."
Kata bersih membuat rahang Hendra bergerak.
"Saya tidak menyembunyikan apa pun, Bu."
"Bagus," kata Adira. "Maka pemeriksaan tambahan tidak akan lama."
Tangan kirinya masuk ke saku celana.
Arka menangkap gerakan itu.
Terlalu cepat. Terlalu melindungi.
Dengan Modul Penguatan Visual, ia melihat punggung tangan kiri Hendra sekilas keluar dari saku. Ada garis kemerahan kasar di sisi luar.
Seperti gesekan tali.
Atau kabel.
Adira melihat perubahan wajah Arka. "Apa lagi?"
Arka mendekat setengah langkah. "Bu Iptu, perhatikan tangan kirinya. Jangan biarkan dia mencuci atau menyentuh apa pun."
"Luka?"
"Kemungkinan gesekan. Belum bisa saya sebut apa sebelum dilihat langsung. Tapi kalau dia pelapor pertama dan benar mencoba membuka pintu, luka seperti itu harus bisa dijelaskan. Kalau tidak, itu jalan masuk kita."
Adira tidak bertanya dari mana Arka melihatnya secepat itu. Ia hanya memakai informasi yang berguna.
Adira menatap Hendra yang mulai berjalan ke lorong pemeriksaan.
Matanya berubah dingin.
"Pak Bambang."
Bambang berhenti.
"Pastikan kedua tangannya terlihat di atas meja saat pemeriksaan."
Hendra menoleh terlalu cepat.
Terlalu takut untuk seorang pelapor biasa.
Label merah di atas kepalanya berdenyut lebih kuat.
[Pelaku]
Arka berdiri di lobi dan menoleh ke belakang.
dr. Suherman masih di dekat lift, jauh dari percakapan, seperti tidak yakin apakah ia masih punya tempat di sana.
Tatapan mereka bertemu.
Kali ini Arka tidak menunduk.
Ia hanya berkata cukup pelan agar didengar Adira, "Bawa dia masuk, Bu Iptu. Kalau saya benar, pembunuhnya tidak pernah meninggalkan gedung ini."