NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Undangan Emas Balai Lelang

"Balai ini hanya untuk tamu undangan keluarga."

Penjaga gerbang Balai Lelang Pusaka Nusantara menahan Raka sebelum ia sempat menunjukkan undangan. Gedung tua itu berdiri di jalan rindang, pagar besinya tinggi, cat putihnya bersih, dan di balik kaca terlihat orang-orang yang berjalan pelan seolah waktu milik mereka.

Fajar menatap penjaga. "Undangan keluarga atau undangan emas? Karena bos saya bawa yang emas."

Penjaga tidak tersenyum. "Banyak orang mengaku membawa undangan. Nama keluarga?"

Raka mengambil amplop dari saku dalam. Sebelum ia menyerahkan, suara Hendra terdengar dari belakang.

"Dia tamu saya."

Hendra Salim datang dengan batik gelap dan wajah santai orang yang pernah ditolak cukup sering sampai hafal pintu mana yang pura-pura sopan. Ia menyerahkan undangan kedua kepada penjaga. Gerbang langsung dibuka.

Fajar berbisik, "Tempat ini auranya seperti uangnya lebih tua dari negara."

"Jaga mulut."

"Itu sudah versi sopan."

Di lobi, Ibu Kartini, manajer balai lelang, menyambut dengan dingin profesional. Ia memindai Raka dari jas sampai jam tangan, tidak meremehkan terang-terangan, tetapi tidak memberi hormat lebih dari standar.

"Pak Hendra, selamat datang. Dan ini?"

"Raka Surya Pratama. Partner saya hari ini."

Ibu Kartini mengangguk. "Untuk peserta baru, kami membutuhkan deposit Rp5.000.000.000 sebelum mendapat nomor lelang penuh."

Ia mengucapkan angka itu sambil menatap Raka, menunggu jeda, tanya ulang, atau keringat.

Raka membuka aplikasi bank.

[Mimpi: deposit sistem Rp5.000. Dana akan tercatat legal sebagai deposit lelang.]

Transaksi selesai dalam beberapa detik.

Notifikasi masuk ke tablet Ibu Kartini. Ekspresinya hanya berubah sedikit, tetapi cukup. Mata yang tadinya menilai kini mulai menghitung.

"Deposit diterima. Nomor Anda delapan belas."

"Terima kasih, Bu."

Mereka masuk ke ruang pamer. Barang antik tersusun di balik kaca: keris, cincin, lukisan, porselen, arca kecil, manuskrip, jam tua. Para tamu berbicara pelan. Beberapa wanita tua memakai bros besar, beberapa pria memegang tongkat warisan keluarga.

Raka duduk di baris belakang yang disebut Hendra sebagai area pemula.

"Mereka sengaja menaruh pendatang baru di belakang," kata Hendra. "Agar bisa dilihat tanpa mengganggu panggung mereka."

"Besok mereka semua tahu namamu, katanya?"

Hendra tersenyum. "Kalau kamu memilih barang yang tepat, hari ini saja cukup."

[Mimpi mengaktifkan mode Penilaian Antik.]

Lapisan informasi muncul di penglihatan Raka. Sebagian barang bersinar biasa: nilai sesuai katalog, restorasi berlebihan, asal-usul diragukan. Namun tiga nomor memancarkan warna yang berbeda.

[#12: Keris emas era Majapahit. Nilai katalog: Rp800.000.000. Nilai aktual: Rp80.000.000.000.]

[#27: Lukisan Jawa langka. Nilai katalog: Rp500.000.000. Nilai aktual: Rp60.000.000.000.]

[#41: Porselen salah kategori. Nilai aktual tidak dapat ditampilkan penuh pada tahap awal.]

Raka menahan napas.

Di baris depan, seorang pria tua berwajah keras berbicara cukup keras agar terdengar.

"Anak muda sekarang datang ke lelang karena viral. Mereka kira semua benda tua bisa dibeli seperti mobil sport."

Hendra mencondongkan badan. "Pak Darmawan. Keluarga lama, lidah lama, utang gengsi lama."

Fajar berbisik, "Aku boleh tidak suka dia dari sekarang?"

"Boleh, tapi diam."

Pak Darmawan menoleh sekilas kepada Raka. Matanya berkata menonton saja. Raka membalas dengan senyum kecil. Ia tidak datang untuk diterima. Ia datang untuk mengambil barang yang mereka salah lihat.

Ibu Kartini naik ke podium. Suara palu kecilnya membuat ruangan merapikan diri.

"Lelang pagi ini dimulai. Nomor dua belas akan masuk setelah sesi pembuka."

Mimpi berbisik di kepala Raka.

[Tuan, barang #12 memiliki selisih nilai seratus kali lipat. Disarankan masuk agresif setelah lawan menunjukkan minat.]

Raka memegang papan nomor delapan belas.

Sebelum sesi dimulai, Hendra mengajak Raka berkeliling ruang pamer. Ia menunjuk beberapa keluarga besar tanpa menyebut gosip berlebihan: keluarga tekstil dari Solo, keluarga pelayaran dari Makassar, keluarga perbankan tua yang jarang muncul di media. Semua orang tampak ramah dari jauh, tetapi tatapan mereka cepat mengukur siapa berdiri bersama siapa.

"Di sini, satu sapaan bisa berarti dukungan, bisa juga jebakan," kata Hendra. "Jangan buru-buru menerima ajakan makan malam. Jangan bicara angka aset pribadi. Dan kalau ada yang bertanya ayahmu siapa, jawab secukupnya."

Raka mengangguk. Pertanyaan tentang ayah selalu menyisakan ruang kosong, tetapi ia tidak membiarkan itu tampak. Bibi pernah berkata ada hal tentang orang tuanya yang belum waktunya diceritakan. Untuk saat ini, Raka tidak perlu mengisi kekosongan itu dengan nama palsu. Ia membawa namanya sendiri.

Fajar menerima kartu peserta cadangan dan membaca aturan lelang seperti membaca instruksi bom. Deposit hangus jika pemenang menolak bayar, barang harus diasuransikan setelah keluar, sengketa keaslian hanya bisa diajukan dalam batas tertentu. Ia menandai semuanya untuk Bayu.

"Jar, kamu kelihatan seperti mau ujian hukum."

"Aku trauma dengan Bayu. Kalau aku kelewat satu pasal, dia bisa menghina tujuh generasi imajinerku."

Hendra tertawa. Ketegangan berkurang sedikit, tetapi ruangan tetap menekan. Raka merasa semua kursi depan dibangun dari sejarah, sedangkan kursinya di belakang dibangun dari pertanyaan. Bagus. Pertanyaan selalu lebih mudah dibalik daripada keyakinan.

Ketika nomor peserta diberikan, Raka melihat Ibu Kartini mencatat namanya sendiri di daftar khusus. Kini ia berdiri dengan bobot namanya sendiri. Itu kecil, tetapi penting. Pintu pertama di dunia uang lama tidak terbuka karena ramah. Ia terbuka karena deposit masuk tanpa gemetar.

Di ruang tunggu, seorang wanita tua menyapa Hendra tetapi tidak menyapa Raka. Setelah Hendra memperkenalkan, ia hanya berkata, "Oh," lalu kembali melihat katalog. Fajar hampir tersinggung, tetapi Raka menahannya. Penghinaan kelas atas sering tidak berbentuk kata kasar. Ia berbentuk jeda, alis yang terangkat, dan nama yang sengaja tidak diingat.

Raka justru menikmati itu. Di restoran, hinaan datang keras. Di balai lelang, hinaan memakai sarung tangan. Hasil akhirnya sama: orang yang merasa pintunya terlalu tinggi untuk pendatang baru.

Ia membuka katalog dan menandai barang yang tidak disorot Mimpi sebagai latihan membaca tanpa bantuan. Sebagian tebakannya salah. Mimpi mengoreksi dengan angka. Raka tidak malu. Sistem memberi mata, tetapi kemampuan sejati tetap perlu dibangun agar ia tidak menjadi orang kaya yang hanya menekan tombol.

Sebelum duduk, Raka mengirim pesan singkat kepada Bibi bahwa ia sedang menghadiri acara lelang dan akan pulang malam. Bibi membalas dengan satu nasihat sederhana: jangan lupa makan. Di tengah ruangan yang dipenuhi sejarah keluarga orang lain, pesan itu membuat Raka ingat bahwa ia tidak datang untuk meminjam garis darah siapa pun. Ia datang membawa rumah yang membesarkannya, dan nama itu cukup.

Di ruangan yang menilai darah lebih dulu daripada kemampuan, ia akan membiarkan angka berbicara di depan semua orang malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!