Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Brum brum brum.
Suara raungan knalpot motor yang gagah membelah kesunyian jalanan desa di sore hari itu.
Arga memacu motor Kawasaki KLX 150 barunya dengan kecepatan sedang melewati gapura masuk desa.
Motor sport jangkung berwarna paduan hitam dan hijau itu terlihat sangat mencolok dan mengkilap tertimpa cahaya matahari sore.
Beberapa anak kecil yang sedang bermain layangan di pinggir sawah sampai berhenti berlari dan menatap motor Arga dengan mulut menganga.
"Wah motor balap, keren banget motornya." Teriak salah satu anak kecil itu sambil menunjuk ke arah Arga.
Arga hanya tersenyum di balik helm full face miliknya dan membunyikan klakson pelan untuk menyapa anak-anak tersebut.
Tujuannya sekarang adalah melewati pos ronda dan warung kopi tempat biasanya warga desa berkumpul menghabiskan waktu sore.
Dia sengaja mengambil rute memutar yang melewati warung kopi itu untuk memberikan sedikit kejutan kepada para tetangga julidnya.
Benar saja dari kejauhan Arga sudah melihat kerumunan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang duduk santai di depan warung kopi Mak Ijah.
Di antara kerumunan itu terlihat sosok Bu Tejo yang sedang asyik memakan gorengan sambil mengobrol dengan suara keras.
Tidak jauh dari Bu Tejo duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kumis tebal melintang.
Pria itu adalah Pak Bowo si tengkulak pelit yang memonopoli seluruh hasil panen sayuran di desa ini.
Pak Bowo sedang menghisap rokok cerutunya dengan gaya sok bos besar sambil menyilangkan kaki di atas kursi kayu.
Brum brum.
Arga sengaja menurunkan kecepatan motornya dan menarik tuas kopling berkali-kali saat melewati warung tersebut.
Suara mesin yang menggelegar itu otomatis membuat semua orang di warung kopi menoleh serentak ke arah jalanan.
Mata Bu Tejo langsung membelalak lebar hingga hampir keluar dari kelopaknya melihat siapa yang menunggangi motor mahal tersebut.
itu kan si Arga cucunya Mbah Darmo." Bu Tejo berteriak histeris sampai gorengan bakwan di tangannya terjatuh ke tanah.
Pak Bowo yang tadinya duduk santai langsung tersedak asap cerutunya sendiri.
Dia terbatuk-batuk hebat sambil menatap motor jangkung yang melaju pelan di depannya itu dengan pandangan tidak percaya.
Arga menepi ke pinggir jalan tepat di depan warung kopi lalu membuka kaca helm full face miliknya.
"Sore semuanya, maaf numpang lewat ya jalanannya agak bergelombang jadi pelan-pelan." Arga menyapa kerumunan itu dengan nada suara yang sangat ramah namun penuh jebakan.
Keheningan seketika menyelimuti warung kopi Mak Ijah seolah ada malaikat pencabut nyawa yang baru saja lewat.
Semua mata tertuju pada bodi motor KLX yang masih dibungkus plastik pelindung di bagian jok dan spionnya itu.
"Ga, itu motor punya siapa yang kamu bawa pulang, jangan bilang kamu kerja jadi tukang kredit motor sekarang." Bu Tejo bertanya dengan suara gemetar mencoba mencari pembenaran di kepalanya.
"Ini motor saya sendiri Bu Tejo, baru saja saya tebus lunas dari showroom di kota siang tadi." Arga menjawab santai sambil menepuk tangki bensin motornya.
Mendengar kata tebus lunas wajah Pak Bowo langsung berubah merah padam menahan amarah dan rasa iri yang meledak-ledak.
Sebagai orang terkaya nomor dua di desa motor harian Pak Bowo hanyalah sebuah motor bebek keluaran lima tahun lalu.
Melihat pemuda gembel yang baru beberapa hari pulang kampung tiba-tiba menunggangi motor sport puluhan juta membuatnya merasa sangat terhina.
"Jangan ngawur kamu anak muda, dari mana pengangguran sepertimu dapat uang puluhan juta buat beli motor tunai." Pak Bowo berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Arga dengan wajah garang.
"Pasti kamu hasil mencuri atau ikut pesugihan babi ngepet di kota kan, ngaku saja kamu." Pak Bowo menunjuk wajah Arga dengan cerutunya yang masih menyala.
Arga mendengus geli mendengar tuduhan Pak Bowo yang sangat klasik dan tidak bermutu itu.
"Bapak ini usianya sudah tua tapi pikirannya masih terjebak di zaman batu ya." Arga membalas tatapan Pak Bowo tanpa rasa takut sedikit pun.
"Saya dapat uang ini dari hasil bertani Pak Bowo, murni dari keringat saya sendiri mencangkul tanah di kebun belakang rumah."
Pak Bowo tertawa keras namun tawanya terdengar sangat dipaksakan dan sumbang.
"Bertani katamu, kamu pikir aku ini anak kecil yang bisa kamu bodohi dengan cerita dongeng."
"Aku ini tengkulak paling besar di daerah sini, tidak ada petani yang bisa beli motor sport dari hasil panen sayur sepetak tanah." Pak Bowo membusungkan dadanya merasa paling tahu soal urusan pertanian.
"Itu karena bapak membelinya dengan harga mencekik leher, makanya petani desa ini tidak ada yang kaya." Arga membalas telak dengan fakta yang membuat para warga di warung saling berpandangan canggung.
Wajah Pak Bowo semakin merah seperti kepiting rebus karena rahasia umum bisnis liciknya dibongkar secara terang-terangan.
"Tutup mulutmu anak sombong, aku dengar kamu pakai guna-guna buat nipu Nona Siska dari kota itu kan."
"Kamu jual tomat sebiji seratus ribu, itu namanya penipuan berkedok jualan sayur dan aku bisa melaporkanmu ke polisi." Pak Bowo mulai mengeluarkan ancaman kotornya.
Arga hanya tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya merasa kasihan melihat betapa sempitnya wawasan tengkulak ini.
"Laporkan saja kalau bapak punya buktinya, Nona Siska itu orang pintar dari kota jadi dia tahu mana barang sampah dan mana barang emas."
"Dia berani bayar mahal karena kualitas tomat saya memang kelas dunia, bukan sayur layu yang biasa bapak timbun di gudang."
Ucapan Arga itu bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di kedua pipi Pak Bowo di depan umum.
Beberapa bapak-bapak di warung kopi bahkan sampai harus menutupi mulut mereka menahan tawa melihat Pak Bowo dipermalukan.
"Awas kamu ya Arga, jangan pikir kamu bisa hidup tenang di desa ini setelah berani mencari masalah denganku." Pak Bowo menggeram marah urat lehernya menonjol keluar.
"Aku akan buktikan kalau tidak akan ada lagi orang kota yang mau membeli sayuran anehmu itu."
"Silakan dicoba Pak Bowo, pintu kebun saya selalu terbuka untuk menyambut kekalahan bapak." Arga menutup kembali kaca helm full face miliknya dengan gaya keren.
Brum brum.
Dia memutar tuas gas membuat knalpot motornya memuntahkan suara raungan yang memekakkan telinga Pak Bowo.