NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Tarik Ulur Menu

Laras menjawab sebelum Parjo membuka mulut.

“Saya hanya membantu menjaga api, Pak. Resep dan pelaksanaannya milik dapur.”

Sudibyo memutar mangkuk minyak di tangannya. “Hanya menjaga api bisa menghasilkan warna sejernih ini?”

“Kalau apinya salah, bahan terbaik juga gosong.”

“Jawabanmu selalu rapi.”

Laras menahan pandangannya tetap tenang. “Karena pertanyaannya soal dapur.”

Parjo masuk di antara mereka dengan buku catatan. “Anak-anak sudah latihan tiga kali, Pak. Bu Laras memberi arahan sebagai pelatih teknis. Hasilnya kerja tim.”

Sudibyo akhirnya meletakkan mangkuk. “Bagus. Saya suka orang yang tidak rakus pujian.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi tatapannya membuat Laras ingin mundur.

“Undangan makan saya sudah disampaikan?” tanyanya.

“Sudah, Pak. Maaf, Satya tidak bisa saya tinggalkan malam.”

“Bawa saja anaknya.”

“Rutinitas tidurnya mudah terganggu. Kalau soal pelatihan, kita bisa bicara di dapur saat semua staf ada.”

Sudibyo tersenyum. “Kamu sangat menjaga batas.”

“Batas membuat semua orang aman.”

Beberapa detik berlalu sebelum Sudibyo mengangguk dan pergi. Bau minyak wangi pakaiannya tertinggal di antara aroma santan.

Parjo mengembuskan napas. “Saya kira tadi dia akan marah.”

“Orang yang marah lebih mudah dibaca.”

“Maksud Bu Guru?”

“Tidak apa-apa. Kita periksa menu.”

Di papan pengumuman, pembagian tugas syukuran telah ditempel. Nama Bu Ratna muncul hampir di setiap bagian: penerimaan tamu, dekorasi, meja keluarga, konsumsi tambahan, dokumentasi, bahkan koordinasi dapur.

Bu Titin mendecakkan lidah. “Dia mau berdiri di semua tempat sekaligus.”

“Biarkan,” kata Laras. “Yang penting siapa memegang uang dan bahan harus jelas.”

Bu Ratna muncul dari belakang mereka. “Ada yang keberatan?”

“Tidak,” jawab Laras. “Saya hanya membaca.”

“Bagian dapur tetap di bawah koordinasi saya.”

Parjo mengangkat lembar tugas resminya. “Dapur di bawah perbekalan, Bu. Persit membantu penyajian keluarga.”

Wajah Bu Ratna menegang. “Saya tidak bicara kepada Bapak.”

“Tapi dapur tanggung jawab saya.”

Laras menahan Parjo dengan pandangan sebelum perdebatan membesar. “Kami akan menyerahkan daftar menu dan waktu penyajian. Bu Ratna bisa mengatur meja berdasarkan itu.”

“Saya mau melihat menunya sekarang.”

Mereka kembali ke dapur. Laras membentangkan susunan hidangan: nasi tumpeng kuning sebagai pusat, ayam goreng kremes, rendang, urap, tempe tahu bacem, telur pindang, sambal dan lalapan.

Bu Ratna mengerutkan hidung. “Tempe untuk Kolonel?”

“Tempe untuk semua orang. Meja utama juga makan bahan yang sama, hanya penyajiannya lebih rapi.”

“Kelihatan murah.”

“Murah tidak sama dengan buruk.”

Parjo menyodorkan piring bacem hasil uji. Bu Ratna mencicipi sedikit, lalu mengambil potongan kedua tanpa sadar.

Bu Titin menutup senyum.

“Rendangnya jangan terlalu pedas,” kata Bu Ratna untuk menyelamatkan muka.

“Ada dua tingkat sambal. Rendang dibuat kaya bumbu, bukan sekadar pedas.”

Laras menunjukkan catatan pembelian. Kelapa, santan tambahan, gula jawa, rempah, dan daging semua melalui gudang. Sayur kebun dihitung sebagai penghematan, bukan bahan tanpa asal.

Bu Ratna mencari celah lain. “Siapa yang bertanggung jawab kalau anggarannya lebih?”

“Perbekalan mengesahkan, Parjo melaksanakan, saya memberi teknik. Tanda tangan sudah lengkap.”

Tidak ada tempat bagi Bu Ratna untuk menyelipkan namanya sebagai pemegang dapur.

Setelah ia pergi, Parjo tertawa pelan. “Tempe murahnya dimakan dua.”

“Jangan mengejek orang yang masih pegang meja tamu.”

Sebelum latihan dilanjutkan, petugas gudang datang membawa contoh daging dan kelapa dari pemasok. Laras memeriksa warna daging, jumlah lemak, dan aroma santan.

“Kelapanya terlalu tua untuk urap, tapi bagus untuk rendang,” katanya.

Petugas menulis catatan. “Mau pesan jenis berbeda?”

“Pisahkan. Kelapa urap harus lebih muda supaya tidak keras. Harga per butir dicatat masing-masing.”

Parjo mengangkat alis. “Selama ini saya ambil yang datang saja.”

“Karena itu urap Bapak seperti mengunyah sabut.”

Pemasok tertawa, tetapi Laras tidak sedang bercanda. Ia meminta timbangan diletakkan di depan semua orang. Daging yang datang kurang hampir dua kilogram dari lembar kirim.

“Mungkin timbangan kami berbeda,” kata pemasok.

“Pakai timbangan gudang. Kalau selisih, tulis sekarang. Jangan setelah acara.”

Petugas mengulang penimbangan dan mengoreksi jumlah. Parjo memandang Laras dengan kagum baru.

“Bu Guru juga bisa mengurus bahan.”

“Memasak dimulai saat membeli. Kalau bahannya hilang di jalan, bumbu tidak bisa menggantikan.”

Bu Ratna yang belum benar-benar pergi ternyata berdiri dekat jendela. “Mbak Laras curiga sekali kepada orang.”

“Saya percaya catatan yang ditimbang di depan saksi.”

“Semua harus pakai saksi?”

“Setelah ada sampah mendadak muncul di depan kamar saya, saya belajar bahwa saksi itu berguna.”

Wajah Bu Ratna kaku. Petugas gudang menunduk pada lembar kirim agar tidak terlibat.

Laras tidak memperpanjang. Ia menandatangani bagian teknik, Parjo bagian penerimaan, dan petugas gudang bagian anggaran. Tiga tanggung jawab tetap terpisah.

Ketika Satya mulai menangis dari gendongan Bu Titin, Laras berhenti bekerja. Ia membawa bayi itu ke ruang istirahat perempuan yang pintunya menghadap dapur. Setelah menyusui, ia mengganti popok dan kembali hanya ketika Satya sudah tenang.

Parjo menunggu tanpa menyentuh keputusan menu.

“Maaf lama,” kata Laras.

“Anak dulu, Bu Guru. Tumpeng tidak akan menangis kalau ditinggal.”

Kalimat sederhana itu membuat Laras merasa kedudukannya mulai diterima utuh. Ia bukan tangan masak yang harus melupakan tubuh dan anak. Ia seorang ibu yang juga memiliki keahlian.

Mereka lalu membagi tugas tertulis. Satu prajurit bertanggung jawab pada bumbu halus, satu pada santan dan kelapa, Parjo pada daging serta api, sementara Laras memeriksa titik kritis tanpa memegang kas dapur.

“Kalau saya tidak hadir, siapa cek rendang?” tanya Laras.

Prajurit pertama mengulang, “Minyak harus keluar, santan tidak pecah, daging tidak diaduk kasar setelah empuk.”

“Tumpeng?”

Prajurit kedua menjawab, “Cairan ditandai, cetakan dilapis daun, balik saat uap turun.”

Laras mengangguk. Kini menu tersebut tidak hanya hidup di kepalanya.

Sore itu mereka mencoba cetakan tumpeng. Nasi pertama retak ketika dibalik. Laras mengurangi kepadatan dan melapisi cetakan dengan daun pisang. Percobaan kedua berdiri tegak, ujungnya rapi.

“Menu sudah tetap,” kata Laras. “Daging diungkep lebih dulu. Rendang mulai malam sebelumnya. Urap dicampur menjelang penyajian. Kremes disimpan kering.”

Parjo mengulang urutan tersebut kepada dua prajurit sampai tidak ada yang salah.

Saat Laras pulang, Satya tertidur di gendongan. Ia melewati rumah Sudibyo dan melihat lampu teras menyala. Bayangan seorang laki-laki berdiri di balik tirai, lalu menghilang ketika Laras menoleh.

Bu Titin yang berjalan bersamanya merendahkan suara. “Bagus kamu menolak makan itu.”

“Saya juga merasa begitu.”

“Laporkan ke Bima kalau dia memaksa lagi.”

Laras mengusap punggung Satya. “Belum ada yang perlu dilaporkan.”

Namun ketika sampai di tepi lapangan, ia kembali melihat arah rumah Sudibyo.

Senyum laki-laki itu di dapur masih terbayang. Bukan kemarahan yang membuat Laras tidak tenang, melainkan kesabaran seseorang yang merasa selalu bisa menunggu kesempatan kedua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!