NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 20: Ambang

Namun Kirana mulai bertanya apakah selisih delapan tahun akan menjadi pintu yang tidak semudah itu dibuka.

Pertanyaan itu mengikutinya sampai akhir minggu keenam.

Di mata Winda, petugas lobi, dan beberapa teman dekat, Arya sudah menjadi pacarnya. Lelaki itu mengantar makanan, menunggu Kirana pulang, dan berdiri di sisi yang sama setiap kali ada masalah.

Hanya Kirana yang belum pernah mengatakan iya secara resmi.

Kondisi itu menciptakan situasi-situasi aneh. Ketika petugas lobi menerima paket atas nama Kirana, mereka menitipkannya kepada Arya tanpa bertanya. Ketika Winda pulang terlambat, ia mengirim pesan kepada keduanya dalam satu grup bernama Orang Tua Kira. Bahkan ibu penjual bubur di dekat jogging track selalu memberi dua sendok sambal terpisah karena “yang perempuan tidak kuat pedas”.

“Semua orang sudah memasangkan kita,” kata Kirana suatu pagi.

Arya membayar sarapan. “Mereka observan.”

“Mas sengaja membiarkan.”

“Saya tidak akan membantah sesuatu yang saya inginkan.”

“Tapi saya belum setuju.”

Arya menyerahkan bubur tanpa sambal. “Karena itu saya tidak mengumumkan apa pun. Saya hanya tidak berbohong ketika ditanya apakah saya mengejarmu.”

Di kampus, sikap mereka lebih rumit. Arya tetap menjaga jarak saat mengajar, tetapi tatapan satu detik terlalu lama cukup membuat beberapa mahasiswa berbisik. Kirana memaksa dirinya tidak bereaksi. Seusai kelas, ia selalu menunggu lima belas menit sebelum masuk ke mobil Arya di jalan belakang.

Kehati-hatian tersebut kadang terasa seperti permainan, kadang seperti beban.

Pada Jumat malam, Winda mengajaknya menonton film di ruang tengah. Arya mengirim dua kotak martabak dan pesan singkat tanpa datang masuk.

Selamat malam perempuan. Saya tidak mengganggu.

“Dia kasih ruang,” kata Winda sambil mengambil potongan cokelat. “Bagus.”

“Feby bilang saya harus lihat konsistensinya.”

“Gue setuju sama Feby. Tapi konsisten bukan berarti sempurna.” Winda menunjuk dinding sebelah. “Prof itu posesif, suka mengambil alih, dan jelas menyimpan banyak rahasia. Pertanyaannya, waktu lo bilang stop, dia benar-benar stop nggak?”

Kirana mengingat mobil yang diganti, pakaian yang dibatalkan, serta pengawal yang jumlahnya dinegosiasikan. “Sejauh ini, iya.”

“Terus apa yang paling bikin lo takut?”

“Kalau saya mengatakan iya, semuanya jadi nyata.”

Winda mengunyah pelan. “Mungkin bukan iya yang perlu sekarang. Mungkin lo perlu tahu apa yang masih bikin lo bilang belum.”

Pertanyaan itu membawa Kirana ke balkon 805 keesokan harinya.

Sabtu sore, ia belajar di balkon 805 sementara Arya memasak makan malam. Ponselnya menampilkan pesan suara dari Feby.

Jangan abaikan rahasia, perbedaan kuasa, dan usia.

Kirana mematikan layar. Arya datang membawa dua cangkir teh dan duduk di seberangnya.

“Kamu menghindari saya sejak kemarin.”

“Nggak.”

“Kamu sarapan lebih cepat agar tidak bertemu, pulang bersama Winda, dan sekarang duduk sejauh mungkin.”

“Mas mengamati lagi.”

“Kebiasaan.”

Kirana menatap lampu kota. “Mas pernah merasa kita terlalu berbeda?”

“Dalam hal apa?”

“Usia. Pekerjaan. Cara hidup.”

Arya tidak langsung menyangkal. “Kita memang berbeda.”

Jawaban jujur itu membuat Kirana menoleh.

“Saat saya delapan belas, kamu baru sepuluh. Tapi kita tidak bertemu saat itu. Kita bertemu ketika sama-sama dewasa dan bisa memilih.”

“Mas sudah punya hidup yang selesai dibangun. Saya bahkan belum lulus.”

“Hidup saya tidak selesai. Dan saya tidak meminta kamu mengejar langkah saya.”

“Kalau nanti saya berubah?”

“Saya mengenalmu lagi.”

“Kalau saya ingin sekolah lebih tinggi, kerja, atau pergi ke luar kota?”

“Kita bicarakan. Bukan saya putuskan.”

Kirana mengusap bibir cangkir. “Mas selalu punya jawaban.”

“Tidak. Saya hanya tahu saya tidak ingin membuatmu lebih kecil agar muat di hidup saya.”

Kalimat itu masuk ke tempat paling rapuh dalam dirinya.

“Saya tetap belum bisa bilang iya sekarang.”

Arya mengangguk. “Jangan bilang kalau belum yakin.”

“Mas nggak marah?”

“Saya sudah menunggu hampir dua puluh tahun untuk bisa merasa nyaman menyentuh seseorang.”

Kirana menatapnya tajam. “Maksudnya?”

Arya berhenti, sadar telah membuka terlalu banyak. “Nanti saya jelaskan.”

Rahasia itu lagi.

Namun kali ini Kirana juga melihat sesuatu yang mirip ketakutan di mata Arya. Ia tidak mendesak.

“Saya butuh waktu,” katanya.

“Ambil.”

Arya berdiri membawa cangkir kosong, tidak mencium, tidak memaksa, bahkan tidak meminta kepastian kapan. Ruang yang diberikannya justru membuat Kirana ingin meraih punggung lelaki itu.

***

Senin pagi, kampus dipenuhi poster warna biru tua.

FESTIVAL TEATER UN

AUDISI HUJAN TERAKHIR

Kirana berhenti di depan papan kegiatan. Poster menampilkan siluet dua orang di bawah hujan, berdiri berlawanan arah tetapi tangan mereka nyaris bersentuhan.

“Bagus, kan?” Winda muncul membawa setumpuk formulir. “Desainnya gue yang pilih.”

“Lo jadi panitia?”

“Bukan panitia. Sutradara mahasiswa.” Winda mengangkat dagu bangga. “Dan gue butuh pemeran utama perempuan.”

Kirana langsung mundur. “Jangan lihat saya.”

“Justru muka lo yang paling cocok.”

“Saya nggak bisa akting.”

“Lo bisa menatap orang kayak mau membekukan darah. Itu sudah setengah kemampuan pemeran utama.”

Winda menyerahkan naskah. Judul Hujan Terakhir tercetak di sampul.

“Feby bantu revisi dari luar negeri,” katanya. “Cerita dua orang yang saling cinta tapi terus salah waktu. Nggak ada cerita aneh. Fokusnya emosi dan chemistry.”

“Makin nggak mau.”

“Audisi saja. Kalau jelek, gue sendiri yang coret.”

Arya lewat di ujung koridor bersama Rian. Ia tidak berhenti, hanya melirik naskah di tangan Kirana.

Pesan masuk beberapa detik kemudian.

Cobalah. Saya ingin melihatmu di panggung.

Kirana menatap punggungnya, lalu sampul naskah.

Di meja pendaftaran, lembar nama peserta masih kosong pada baris pemeran perempuan.

Winda sudah menarik pena dan menyelipkannya ke jari Kirana.

“Ayo. Satu tanda tangan.”

Kirana berdiri di ambang panggung baru, sementara ujung pena hampir menyentuh formulir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!