Namanya Aira, seorang ibu yang belum pernah menikah namun memiliki seorang putra yang sangat tampan dan cerdas.
Aira adalah seorang gadis kecil yang putus sekolah akibat hamil saat masih di bangku SMA, orang tuanya merasa malu dengan keadaan Aira dan mengusirnya. Aira bahkan tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak karena ijazah terakhirnya yang hanya lulusan SMP.
Hingga suatu hari, sebuah fitnah keji akhirnya menerpa hidup Aira. Warung kopi sederhana miliknya di bakar warga karena alasan Aira yang katanya sering melakukan hal tidak senonoh di warung itu, dan tempat itu di jadikan markas tempat perzinahan.
Hal itu membuat hati Aira hancur, tempat menopang hidupnya kini nampak sudah tidak tersisa. Namun bukan di situ saja Aira dan putra kecilnya bahkan di lempar batu dan menderita secara fisik dan fisikis.
"Siapa yang berani melukai putraku dan istriku di sini?" Seorang pria tiba tiba datang dengan wajah menahan amarah.
Tunggu! Siapakah pria itu? Bukankah Aira belum menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Cerdik VS Licik
'Sangat di luar dugaan, Aira sekarang juga ternyata bisa memasak.' Ucap Karel kagum dari hati kecilnya.
"Papa jadi penasaran, kita lihat Mama masak yu?" Ajak Karel pada Amza semangat, Amza mengangguk dan langsung menggenggam tangan sang Papa.
Karel dengan sangat jelas bisa memperhatikan bagaimana Aira kini nampak sangat lihai memainkan pisau di tangannya. Karel juga melihat bagaimana sosok Aira yang dulu manja dan tidak bisa berurusan dengan dapur, kini menjelma seperti koki profesional.
"Pa, Amza ngantuk." Amza menguap akibat lelah hari itu, bahkan menunggu Mamanya yang tengah memasakpun membuatnya sangat lelah.
"Amza tidur ya?" Karel menggandeng tangan putranya menuju sebuah kamar tamu, ya pada awalnya kamar itu di peruntukan bagi tamu, tapi sekarang sepertinya akan berpindah tangan.
Sebuah kasur besar dengan semua perlengkapan mewah membuat mata Amza tak berkedip, Karel tersenyum puas saat meluhat mata Amza yang nampak berbinar.
"Ini kamar Amza sekarang, besok Papa suruh orang untuk mendekor kamar Amza, Amza maunya kamar seperti apa?" Tanya Karel dengan senyum lebar.
"Pengen yang ada bintangnya Pa, terus ada pesawat luar angkasanya juga. Bisa Pa?" Amza bertanya untuk memastikan.
"Bisa sayang, sekarang tidur sana! Nanti kalo Mamanya udah selesai masak, Papa bakal bangunin Amza." Amza mengangguk patuh dan langsung meluncur menuju ke atas kasur.
Hanya beberapa hitungan detik saja, Amza sudah masuk ke dalam alam mimpi. Karel tersenyum simpul saat melihat putra kecilnya terlelap amat nyenyak.
'Maaf sayang, selam ini Papa tidak tahu tentang keberadaa kamu. Papa akan bayar waktu yang tidak bisa Papa lewati itu dengan kebahagiaan kita. Papa sayang Amza.' Karel mengecup kening putranya, dia merasa sangat bahagia karena bisa menemukan hal yang dulu sama sekali tidak dia sangka.
Karel meninggalkan Amza dan kembali melihat Aira dengan kesibukannya. Suasana hening yang ada dapat menciptakan sebuah suasana yang aneh saat kedua pasang mata mereka saling bertemu.
"Aku bantu?" Karel melihat rambut Aira yang lepas dari ikatannya dan cepat-cepat menahan rambut panjang itu sebelum menutupi wajah Aira.
Hening seketika, mata Aira dan Karel saling bersitatap. Ada sebuah rasa yang saling bergejolak di dua dada mereka. Mulut mereka seakan kelu tak dapat berucap apa-apa, hanya tatapan mereka yang mengatakan isi hati yang tidak bisa di jabarkan dengan kata.
Aira merasakan pipinya memanas, Karel mendekat seolah hendak memeluknya. Karel melepaskan ikatan rambut Aira dan mengikatnya kembali dengan baik. Aroma maskulin dari parfum Karel sudah membuat Aira menjadi salah tingkah di buatnya.
'Ayolah jantung, kamu bisa-bisa copot bila berdetak secepat ini.' Gumam Aira dalam hati kecilnya, Aira menekan dadanya yang berdetak sangat cepat itu dan menundukkan pandangannya saat Karel menatapnya dengan intens.
"Sangat cantik." Puji Karel tiba tiba saat matanya menangkap pesona Aira dengan pipi yang memerah.
"Hah?" Dengan bodohnya Aira mengangkat wajah hingga wajah keduanya nampak tanpa jarak.
"Istriku cantik." Puji lagi Karel menarik pinggang Aira hingga tubuh mereka kini saling bersentuhan, hanya dua kain yang memisahkan mereka yang melindungi kulit mereka satu sama lain.
"A...aku mau goreng ayam dulu." Aira berusaha menghindar, dengan gugup yang pastinya tidak dapat dia sembunyikan.
"Amza lagi tidur, kalo di goreng sekarang nanti dingin lagi. Amza suka ayam goreng buatan istriku ini ya?" Aira mengangguk, tubuhnya berusaha menyesuaikan agar terlepas dari pelukan Karel yang semakin erat.
"Mas, ini di dapur." Keluh Aira, Karel terkekeh dan memajukan wajahnya.
"Berarti kalo di kamar mau?" Blush, seketika wajah Aira memerah seperti tomat. Gemas sekali rasanya Karel menggoda istrinya itu.
"Ini masih siang." Aira kembali berdalih, Karel mengangkat alisnya nampak bingung yang di buat-buat.
"Berarti kalo malam mau?" Tanya lagi Karel dengan tatapan menggodanya yang sanggup membuat jantung Aira sekan mau lepas dari tempatnya.
"A...aku lapar." Bantah lagi Aira dengan gugup yang sangat luar biasa, Karel benar-benar ingin tertawa saat melihat wajah manis istrinya itu.
"Berarti kalo udah makan, kita ke kamar sambil nunggu malam ya?" Aira sudah kehabisan kata-katanya saat menghadapi Karel dengan kelicikannya itu.
"Terserah." Ungkap Aira dan langsung melanjutkan lagi memasak. Malam ini agaknya Aira harus mencari cara agar Karel tidak dapat melakukan apapun pada tubuhnya, mau bagaimanapun rasa kecewa Aira pada Karel belum mereda.
Kenapa kecewa? Karena Karel tidak memberinya penjelasan mengenai Luna di masa lalu, yang membuat Aira harus menjalani hidup sendiri dan berjuang sendirian.
"Terserah ya? Jangan menyesal!" Ungkap Karel kembali memperhatikan gerak-gerik Aira dari jarak aman.
Hingga akhirnya semua masakan yang di buat Aira sudah terhidang di atas meja, Aira membangunkan Amza dan merekapun makan bersama.
Dalam otak Karel kini sudah berseliweran gambaran apa yang akan terjadi malam itu. Sedangkan otak Aira kini harus berpikir keras agar dapat menghindari sergapan Karel.
'Gaya apa yang keren ya untuk malam ini?' Pikir Karel dalam otak mes*umnya.
'Aku harus kabur dari pria picik ini, dia harus di beri sedikit pelajaran.' Ucap Aira dalam hati kecilnya.
Entah rencana siapa yang kiranya akan berhasil, namun keduanya kini sama sama tengah berfikir keras. Berfikir untuk mewujudkan keinginan mereka masing-masing, Karel dengan otak licik dan Aira dengan otak yang cerdik.
Malam itu akhirnya tiba, waktu yang di nanti oleh keduanya. Karel malam itu sudah mandi kembang tujuh rupa dengan berbagai wewangian yang akan memikat Aira masuk ke dalam pelukannya.
Sedangkan Aira masih berada di dapur dan meneguk segelas air mineral demi bisa menjalankan aksinya, dia selama ini bertahan dengan kecerdikannya dan malam ini, dia juga akan bertahan dengan kecerdikannya itu.
"Tunggu aku Mas!" Ucap Aira tersenyum licik, sedangkan di kamar Karel. Pria itu kini nampak sudah memasang lilin aroma terapi, dia juga sudah menebarkan kelopak mawar di atas kasurnya.
"Ah, malam indah ku." Gumam Karel meenggosok kedua tangannya tak sabar, dia amat sangat merindukan desa*han Aira yang berada di bawah tubuhnya.
Aira menelan salivanya saat memutar gagang pintu menuju kamar Karel. Saat pertama masuk, Aira sudah bisa mengirup aroma nikmat dari lilin aromatik. Karel nampak tengah tidur dengan posisi yang memamerkan otot perutnya yang seperti roti sobek itu.
Karel tersenyum dengan tatapan menggoda ke arah Aira. Aira memang tergoda malam itu, tapi dia langsung sadar saat mengingat kembali tujuannya datang ke kamar Karel.
"Kenapa diam saja di sana? Ayo kemari sayang!" Ajak Karel turun dari ranjangnya, dengan lembut pria itu menarik lengan Aira masuk ke dalam dekapannya.