BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang Sama
Malam merayap semakin larut, membawa serta keheningan yang mencekam ke seluruh sudut kompleks perumahan Maheswara Residence. Di luar, angin berembus pelan, menggesek ranting-ranting pohon mangga di halaman rumah keluarga Mahendra hingga menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Di dalam rumah yang kini terasa terlalu luas itu, semua lampu telah dipadamkan, menyisakan kegelapan yang sunyi.
Ratna berbaring di atas ranjangnya. Selimut tebal membungkus tubuhnya yang ringkih, namun kehangatan kain itu tidak mampu mengusir rasa dingin yang seolah menempel di tulang-tulangnya sejak kepergian Rayyan. Matanya terpejam, tetapi tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak. Napasnya terdengar teratur, lambat, hingga perlahan-lahan kesadarannya terseret masuk ke dalam dunia yang berbeda.
Dalam tidurnya, Ratna melihat cahaya.
Itu bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan pendar keemasan yang hangat, mirip seperti suasana sore hari di rumah lamanya di pinggiran kota beberapa tahun silam. Ratna mendapati dirinya sedang berdiri di ruang tengah, dekat meja makan kayu kuno yang dulu sering menjadi tempat Rayyan mengerjakan tugas sekolahnya. Wangi aroma kue bolu pandan yang baru matang menguar di udara, sangat nyata hingga Ratna bisa merasakan kehangatan panggangan itu di ujung kulitnya.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu depan yang ringan terdengar. Ratna melangkah perlahan, tidak lagi merasakan nyeri di lututnya yang biasa menyiksa setiap kali ia berjalan. Ketika ia membuka pintu kayu bercat putih itu, matanya langsung melebar.
Rayyan berdiri di sana.
Cucunya mengenakan kaus putih bersih, tanpa noda tanah, tanpa luka, dan tanpa seragam sekolah yang kotor. Wajahnya bersih, matanya berbinar jenaka seperti biasa. Rayyan tidak melangkah masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Ratna dengan tatapan yang begitu teduh. Sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya senyum hangat yang selalu berhasil meluluhkan hati Ratna setiap kali cucunya itu pulang dengan membawa nilai ujian yang bagus atau sekadar ingin meminta pelukan hangat.
"Rayyan..." bisik Ratna dalam mimpi itu, tangannya terangkat ingin menyentuh pipi cucunya. "Kamu sudah pulang, Nak?"
Rayyan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, tersenyum semakin lebar seolah ingin meyakinkan neneknya bahwa segalanya baik-baik saja. Pendar cahaya di sekeliling tubuh Rayyan perlahan-lahan memudar, bersamaan dengan sosoknya yang mulai mengabur tertutup kabut putih yang lembut.
Ratna terbangun dengan sentakan pelan. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Pipinya terasa basah. Ketika ia menyentuhnya dengan ujung jari yang keriput, ia menyadari bahwa ia telah menangis dalam tidurnya. Namun, anehnya, dadanya tidak lagi terasa sesak seperti hari-hari sebelumnya. Ada kehangatan samar yang tertinggal di sana, seolah senyum Rayyan di ambang pintu tadi adalah sebuah pamitan yang tulus, sebuah cara agar sang nenek tahu bahwa ia kini berada di tempat yang jauh lebih tenang.
...****************...
Namun, kehangatan yang dirasakan Ratna sama sekali tidak singgah di rumah besar di seberang jalan.
Di kamarnya yang gelap, Revan bergulat dengan tidurnya yang gelisah. Kaus hitam yang dikenakannya basah oleh keringat, menempel ketat di dadanya yang naik turun dengan ritme yang kacau. Giginya bergemeletuk samar, dan jemarinya mencengkeram sprei kasur begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pikirannya yang kelelahan menyeretnya masuk ke dalam sebuah labirin mimpi buruk yang gelap dan berkabut.
Revan mendapati dirinya berdiri di tengah jalan raya yang sangat luas. Langit di atasnya berwarna abu-abu pekat, tanpa matahari maupun bulan. Aspal di bawah kakinya terasa sangat dingin dan lembap, persis seperti suasana setelah hujan deras menyapu kota Jakarta. Di sekelilingnya sunyi, tidak ada suara kendaraan lain, tidak ada suara angin. Hanya ada kesunyian yang menulikan telinga.
Beberapa puluh meter di depannya, seorang remaja laki-laki sedang berjalan sendirian.
Meskipun sosok itu membelakanginya, Revan langsung mengenali postur tubuh tersebut hanya dalam satu detik. Hodie abu-abu longgar, tas ransel yang menggantung di satu bahu, dan cara berjalan yang sedikit santai namun tegas.
Rayyan.
"Rayyan!" teriak Revan. Suaranya menggema di jalanan yang kosong itu, terdengar asing dan dipenuhi kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
Sosok di depannya tidak berhenti. Rayyan terus melangkah maju dengan ritme yang konstan, semakin lama semakin menjauh menuju kabut tebal yang menggantung di ujung persimpangan jalan.
Revan mulai berlari. Ia memaksakan kakinya yang terasa seberat timah untuk bergerak secepat mungkin. Ia ingin mengejar sosok itu, ingin mencengkeram bahunya, ingin menariknya kembali ke tempat yang aman dari bahaya apa pun. Namun, tidak peduli sekeras apa pun Revan berlari, tidak peduli seberapa cepat langkah kakinya menghantam aspal yang basah, jarak di antara mereka tidak pernah menyempit. Rayyan selalu berada beberapa puluh meter di depannya, tak terjangkau oleh tangannya.
"Rayyan, berhenti!" teriak Revan lagi, suaranya mulai serak karena keputusasaan yang membakar tenggorokannya. "Jangan jalan ke sana, bego! Berhenti!"
Langkah kaki Rayyan akhirnya terhenti. Ia berdiri diam di batas antara aspal kering dan kabut putih yang pekat di ujung jalan.
Jantung Revan berdegup kencang. Ia mencoba melangkah maju satu kali lagi untuk memangkas jarak, namun kakinya mendadak lumpuh, terpaku di atas aspal seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mengikat pergelangan kakinya dengan sangat kuat.
Rayyan perlahan-lahan memutar tubuhnya.
Revan menahan napas. Ia bersiap melihat wajah yang hancur, darah, atau tatapan penuh dendam yang biasa membayangi rasa bersalahnya akhir-akhir ini. Namun, dugaannya salah. Wajah Rayyan tampak sangat tenang, nyaris tanpa beban. Tidak ada kebencian di matanya yang indah. Ia hanya menatap Revan dengan pandangan yang datar, namun teramat sangat dalam.
"Gua bilang berhenti, Ray..." bisik Revan, suaranya melemah, tersedak oleh rasa takut yang luar biasa. "Pulang. Semua orang nungguin lu."
Rayyan menggelengkan kepalanya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, senyuman yang sangat asing bagi Revan yang terbiasa melihat wajah ketus dan cemberut cowok itu selama bertahun-tahun ini di sekolah.
"Belum waktunya," ucap Rayyan. Suaranya terdengar sangat jernih, bergema di kepala Revan bukan sebagai suara fisik, melainkan seperti bisikan dingin yang menembus langsung ke dalam jiwanya.
"Apa maksud lu? Belum waktunya apa?!" Revan berteriak frustrasi, mencoba meronta untuk melepaskan kakinya yang terkunci di atas aspal. "Jangan pergi, Ray! Gua bilang jangan pergi!"
Rayyan tidak menjawab lagi. Ia berbalik membelakangi Revan, lalu melangkah masuk ke dalam kabut putih yang tebal. Sosoknya perlahan-lahan memudar, menyatu dengan kegelapan, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandangan Revan.
Di saat yang sama, dari arah kabut itu, dua lampu sorot besar yang sangat menyilaukan mendadak menyala terang, membutakan mata Revan. Suara klakson truk yang teramat nyaring memekakkan telinga terdengar bergema, merobek keheningan mimpi itu dengan brutal.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIT!
...****************...
Revan tersentak bangun.
Tubuhnya mendadak terduduk tegak di atas ranjang yang luas. Napasnya memburu dengan sangat kacau, dadanya naik turun dengan cepat seperti seseorang yang baru saja kehabisan oksigen setelah tenggelam di dasar laut yang dalam. Keringat dingin mengalir deras dari pelipis melewati rahangnya yang tegang, membasahi leher dan kaus hitamnya hingga terasa lembap dan dingin.
Kamar tidurnya masih gelap gulita. Keheningan malam kembali menyelimuti ruangan itu, namun telinga Revan masih berdenging samar, sisa dari suara klakson truk di dalam mimpinya yang terasa begitu nyata.
Revan mencengkeram dadanya sendiri dengan tangan kanan yang gemetar hebat. Di bawah telapak tangannya, ia bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang dan tidak beraturan, memukul-mukul rongga dadanya seolah ingin menembus keluar.
Ia menatap sekeliling kamarnya yang sunyi dengan mata yang melebar penuh teror. Rasa takut yang sangat asing merayap naik dari ujung kakinya, membekukan seluruh saraf di tubuhnya.
Revan belum pernah merasakan ketakutan seperti ini seumur hidupnya. Bahkan saat ia harus berhadapan dengan belasan anggota geng lawan yang membawa senjata tajam di jalanan gelap, ia tidak pernah merasa segemetar ini. Rasa takut akan rasa sakit fisik atau kematian dirinya sendiri tidak pernah berhasil mengusik nyalinya yang sekeras batu.
Namun malam ini, di tengah kegelapan kamarnya yang sunyi, Revan menyadari satu hal yang teramat sangat menyiksa di dalam dadanya.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah rasa sakit fisik atau kegagalan. Ketakutan terbesarnya adalah kenyataan bahwa Rayyan benar-benar telah pergi dari hidupnya. Sosok yang selama ini mengisi setiap sudut pikirannya, entah itu lewat rasa benci, kemarahan, atau rasa posesif yang gila, kini telah menghilang ke dalam kegelapan yang tidak bisa ia tembus dengan cara apa pun.
Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, Revan merasakan ketakutan yang teramat sangat akan kehilangan seseorang sesuatu yang kini telah terlambat untuk ia cegah. Kehilangan Rayyan bukan hanya sekadar kehilangan seorang musuh atau teman masa kecil; itu adalah kehilangan belahan jiwanya sendiri, poros yang selama ini menjaga dunianya yang retak agar tidak sepenuhnya runtuh berantakan.
Revan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Di dalam kamar yang dingin dan gelap itu, bahu tegap sang preman sekolah berguncang hebat dalam keheningan, meratapi sebuah ketakutan dan penyesalan mendalam yang tidak akan pernah menemukan jalan pulang.