NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis yang Kulewati

Broto tidak datang sendiri. Ia tidak pernah melakukan apa pun sendiri—itu yang baru kupahami setelah malam itu.

Dua minggu setelah kejadian dengan Dulmatin, warung Bu Inah terbakar.

Aku mendengar kabarnya jam dua pagi, dibangunkan oleh Ujang yang menggedor pintu rumah sambil terengah-engah. Waktu aku sampai di lokasi, api sudah dipadamkan warga menggunakan ember dan air seadanya, tapi separuh warung sudah jadi arang. Bu Inah duduk di tanah di depan reruntuhan itu, tidak menangis, hanya diam dengan tatapan kosong—jenis diam yang kukenal, karena aku pernah melihatnya di wajah Ibu bertahun-tahun lalu.

"Katanya ada yang lihat orangnya kabur naik motor bebek knalpot bolong," bisik Ujang di sampingku.

Aku tidak perlu bertanya lagi siapa itu.

---

Yang membuatku benar-benar marah bukan kebakarannya. Karang Wetan sudah terbiasa dengan kehilangan—rumah, lapak, harta benda, itu semua bisa hilang kapan saja di sini. Yang membuatku marah adalah pesan yang dibawa kebakaran itu: *kalian bisa melindungi diri sendiri, tapi kalian tidak bisa melindungi semuanya. Aku bisa datang kapan saja aku mau.*

Malam itu aku duduk bersama Yanto, Salim, dan Ujang di gang buntu dekat bantaran kali—tempat yang sama tempat aku dulu bersembunyi waktu kecil. Untuk pertama kalinya sejak Lentera terbentuk, aku merasa tiga aturan yang kami sepakati mulai terasa seperti pagar yang terlalu pendek untuk ancaman sebesar ini.

"Kita balas," kata Salim, singkat.

"Balas gimana?" tanya Yanto. "Kita bukan cuma lawan Broto. Kita lawan orang yang bisa telepon kantor polisi dan bikin masalah kita hilang begitu aja."

Aku diam lama. Di kepalaku berputar semua kemungkinan—melapor lagi (percuma, sudah terbukti), diam saja (berarti membiarkan yang lain jadi korban berikutnya), atau melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan.

"Kita nggak bisa lawan dia pakai cara yang sama kayak dia," kataku akhirnya. "Tapi kita juga nggak bisa terus-terusan cuma jaga-jaga. Kita harus bikin dia takut kehilangan sesuatu, kayak kita takut kehilangan warung Bu Inah."

Malam itu aku menyusun rencana pertamaku yang benar-benar melewati batas yang selama ini kami jaga.

---

Aku tahu Broto menyimpan uang setoran dari seluruh wilayahnya di sebuah rumah kontrakan kosong dekat terminal, tempat yang selama ini dijaga longgar karena tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Ujang yang menemukan info itu, hasil dari dua hari mengintai tanpa tidur.

Rencananya sederhana: masuk saat rumah itu kosong, ambil uangnya, bagikan sebagian ke pedagang-pedagang yang selama ini paling tertekan oleh setoran Broto—termasuk untuk membangun ulang warung Bu Inah—dan sisanya jadi dana pertama Lentera.

Malam eksekusi, tanganku gemetar sepanjang jalan menuju rumah kontrakan itu. Bukan karena takut ketahuan. Aku takut pada diriku sendiri—pada fakta bahwa aku, anak tukang sol sepatu yang dulu diajari untuk memilih diam atau lari, sekarang berjalan menuju sesuatu yang jelas-jelas melanggar hukum.

Semua berjalan lebih mulus dari yang kubayangkan. Ujang membuka pintu belakang tanpa suara, Salim berjaga di depan, dan aku masuk bersama Yanto untuk mengambil uang yang tersimpan dalam beberapa kardus mi instan bekas—ironis, mengingat berapa banyak keluarga di Karang Wetan yang hidup dari mi instan karena uang mereka disedot orang ini.

Kami keluar tanpa insiden. Tidak ada kekerasan malam itu, hanya pencurian yang direncanakan matang. Tapi waktu aku duduk sendirian di gang buntu setelahnya, memandangi tumpukan uang yang baru saja mengubah kami dari "sekelompok orang yang saling jaga" menjadi sesuatu yang, kalau ditangkap hukum, akan disebut kriminal—aku sadar aku baru saja melewati garis yang tidak bisa kutarik mundur lagi.

---

Uang itu kami bagikan diam-diam dalam beberapa hari berikutnya. Bu Inah mendapat cukup untuk membangun ulang warungnya, ditambah sedikit lebih untuk menutup kerugian. Beberapa keluarga lain yang selama ini tercekik setoran bulanan tiba-tiba merasa sedikit lega, meski mereka tidak pernah tahu persis dari mana rezeki mendadak itu datang.

Broto murka, tentu saja. Kabar kehilangan uangnya menyebar cepat—bukan dari kami, tapi dari orang-orangnya sendiri yang panik. Untuk pertama kalinya, aku dengar namanya disebut bukan dengan nada takut, tapi dengan nada yang nyaris menertawakan: *Broto kecurian sama anak-anak kampung.*

Tapi aku tahu, di balik tawa itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya sedang bergerak. Karena kalau Broto marah, ia akan lapor ke atasannya. Dan atasannya bukan orang yang akan menganggap ini lucu.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memimpikan sebuah nama yang belum pernah kudengar langsung, tapi entah kenapa terasa seperti bayangan yang mulai mendekat dari kejauhan.

Komisaris Yusuf Baskoro.

---

*(Bersambung ke Bab 6)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!