NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu

Tidak semua pemburu mengejar mangsa dengan berlari. Sebagian memilih berdiri diam, membiarkan mangsanya meninggalkan jejak sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak memiliki jalan untuk kembali. Pada pagi itu, Indonesia baru saja menerima pemburu semacam itu, seseorang yang lebih mengandalkan kesabaran daripada kecepatan, dan lebih percaya pada pola daripada keberuntungan.

Kabut tipis masih menyelimuti kawasan industri di pinggiran Jakarta ketika seorang pria bermantel gelap berdiri di depan gudang kosong yang beberapa hari lalu kehilangan seluruh isi berharganya tanpa meninggalkan bekas. Ia tidak menyentuh garis polisi, tidak memeriksa sidik jari, bahkan tidak melirik kamera pengawas yang sejak awal gagal merekam pelaku. Tatapannya justru menyapu keseluruhan bangunan dengan tenang, seolah sedang mendengarkan kisah yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang tertentu.

Pria itu dikenal di dalam Organisasi Hitam dengan satu julukan.

Raven.

Ia berjongkok perlahan di lantai beton yang masih menyimpan goresan roda forklift. Jemarinya menyentuh permukaan lantai hanya beberapa detik sebelum kembali berdiri, sementara sorot matanya tetap tenang tanpa menunjukkan sedikit pun rasa kecewa. Tidak ada residu energi yang cukup kuat untuk dilacak, tetapi baginya bekas jejak fisik tidak pernah menjadi petunjuk utama.

"Kau tidak mencuri karena rakus," gumam Raven lirih sambil menatap rak-rak logistik yang kini kosong. "Kau mengambil apa yang benar-benar kau perlukan."

Angin pagi berembus perlahan melewati gudang yang telah kehilangan seluruh isinya. Seorang anggota intelijen Organisasi Hitam menghampiri sambil membawa tablet berisi seluruh rekaman CCTV yang telah dipelajari berkali-kali. Dengan nada frustrasi ia melaporkan bahwa tidak ada satu pun temuan baru karena semua barang seolah menghilang begitu saja.

Raven hanya menggeleng tipis tanpa sedikit pun tertarik menerima tablet tersebut. "Kamera hanya merekam apa yang terjadi," katanya datar sambil tetap memandang gudang yang kosong. "Aku lebih tertarik pada alasan seseorang memilih melakukannya."

Beberapa jam kemudian, ia telah berada di Bandung. Gudang yang pernah dijarah, laboratorium yang sebagian dihancurkan, hingga lorong tempat proto-Awakener pertama kali berhadapan dengan Ghost Collector ia telusuri satu demi satu. Setiap lokasi memberinya potongan teka-teki baru yang perlahan membentuk gambaran utuh tentang lawan yang bahkan belum pernah ia lihat secara langsung.

Tap. Tap.

Langkah Raven akhirnya berhenti di depan pintu laboratorium yang rusak. Ia mengamati bekas ledakan kecil di sisi dinding, lalu memandang ruang penyimpanan yang kini hanya menyisakan pecahan tabung eksperimen. Ghost Collector tidak menghancurkan seluruh fasilitas. Ia hanya merusak bagian yang mampu memperlambat perkembangan penelitian, lalu membawa pergi data yang benar-benar bernilai.

"Sangat efisien..." bisiknya pelan.

Menjelang sore, Raven melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Jalur distribusi bawah tanah yang kini dipenuhi teknisi dan petugas investigasi masih menjadi bahan pembicaraan seluruh cabang Organisasi Hitam. Namun sekali lagi, ia sama sekali tidak memedulikan laporan kehilangan ataupun jumlah kerugian yang terus dibacakan para penyidik.

Hal pertama yang ia minta justru denah lengkap jalur distribusi.

Selama hampir satu jam Raven berdiri memandangi peta lorong bawah tanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Garis-garis merah yang menunjukkan rute logistik perlahan membentuk pola di dalam pikirannya, hingga akhirnya senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Senyum itu begitu tipis, tetapi cukup membuat beberapa petugas saling berpandangan dengan gugup.

"Dia tidak pernah menyerang tempat yang paling dijaga," ujar Raven akhirnya sambil tetap menatap denah di tangannya. "Dia menyerang titik yang membuat seluruh sistem kehilangan fungsi."

Seorang komandan keamanan mengernyit kebingungan. "Maksud Anda?"

Raven melipat peta itu dengan tenang sebelum menyerahkannya kembali kepada petugas.

"Dia bukan pencuri."

Tatapannya perlahan berubah semakin tajam.

"Dia seorang ahli strategi."

Ucapan itu membuat ruangan mendadak sunyi. Selama ini semua orang sibuk mencari bagaimana Ghost Collector mencuri, menghitung jalur masuk, dan menganalisis metode pelariannya. Tidak seorang pun mencoba memahami alasan di balik pemilihan setiap target yang ia serang.

Raven mulai berjalan meninggalkan ruang analisis sambil terus menyusun gambaran lawannya di dalam kepala. Ghost Collector selalu menghindari pertarungan yang tidak perlu, bergerak hanya ketika peluang keberhasilan hampir sempurna, dan selalu membawa pulang sesuatu yang mampu mengubah keseimbangan kekuatan. Orang seperti itu tidak akan kembali mencuri gudang hanya demi logistik biasa.

"Target berikutnya..." gumamnya pelan.

Tatapannya perlahan mengeras.

"...adalah informasi."

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya, Arga telah kembali ke kamar kos sederhana yang selama beberapa minggu terakhir menjadi tempatnya menyusun setiap langkah. Ruangan itu masih tampak sama seperti sebelum dirinya menjadi Awakener. Tempat tidur sempit, meja belajar tua, dan jendela yang menghadap gang kecil tidak menunjukkan bahwa pemiliknya tengah memainkan permainan yang dapat mengubah masa depan dunia.

Ia mengeluarkan seluruh isi brankas yang diperoleh dari Surabaya lalu menyusunnya memenuhi meja. Peta fasilitas, daftar nama ilmuwan, jalur distribusi logistik, hingga laporan perpindahan personel mulai membentuk jaringan informasi yang rumit. Beberapa lembar bahkan ia tempelkan di dinding menggunakan pin berwarna berbeda agar hubungan antar data lebih mudah dipahami.

Krekk.

Spidol hitam bergerak cepat di atas peta Indonesia. Arga menghubungkan satu kota dengan kota lain, lalu mencoret beberapa jalur yang menurutnya hanya berfungsi sebagai pengalih perhatian. Semakin lama ia mengamati seluruh data itu, semakin jelas pula pola yang sebelumnya tampak tidak masuk akal.

Beberapa ilmuwan senior Project Genesis tercatat rutin menghilang selama dua hingga tiga hari setiap bulan. Anehnya, tidak ada satu pun catatan keberangkatan menuju laboratorium resmi Organisasi Hitam. Nama mereka seolah lenyap dari seluruh sistem sebelum akhirnya muncul kembali tanpa penjelasan sedikit pun.

"Itu mustahil..." gumam Arga lirih.

Ia segera membuka laporan lain, lalu membandingkannya dengan jadwal distribusi logistik dan manifest kendaraan. Hasilnya tetap sama. Selalu ada celah waktu yang sengaja dihapus dari seluruh dokumen, seolah seseorang membersihkan setiap jejak dengan ketelitian yang nyaris sempurna.

Arga menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap langit-langit kamar. Seluruh pengetahuan yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya kembali berputar di dalam kepalanya. Bahkan ketika dunia telah hancur dan para penyintas menjelajahi hampir seluruh wilayah Indonesia, tidak pernah ada satu pun informasi mengenai Kompleks Omega.

Kesimpulan itu akhirnya mulai terbentuk.

"Kompleks Omega bukan laboratorium biasa."

Ia kembali memandang peta yang terbentang di depannya.

"Kalau lokasinya tetap, seseorang pasti pernah menemukannya."

Tangannya mulai menelusuri beberapa jalur perpindahan ilmuwan yang telah diberi tanda. Seluruh perjalanan memang selalu berakhir di lokasi yang berbeda, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: titik akhirnya berada di kawasan yang memiliki akses militer, pegunungan terpencil, atau fasilitas industri tertutup.

Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya menyimpulkan sesuatu yang membuat ekspresinya semakin serius.

"Berarti fasilitasnya berpindah... atau akses masuknya yang selalu berubah."

Kesadaran itu membuat kewaspadaannya meningkat tajam. Musuh yang selama ini ia hadapi ternyata memiliki lapisan pertahanan yang bahkan tidak pernah diketahui oleh dunia di masa depan. Jika dugaan itu benar, maka seluruh operasi yang telah ia lakukan selama ini baru menyentuh permukaan dari organisasi yang jauh lebih besar.

Pada saat yang sama, Organisasi Hitam mulai mengubah strategi mereka secara menyeluruh. Perburuan tidak lagi dilakukan hanya oleh pasukan bersenjata atau Awakener elit. Kali ini, jaringan sipil mereka mulai bergerak diam-diam, menyusup ke tempat-tempat yang selama ini tidak pernah dicurigai siapa pun.

Di berbagai rumah sakit, beberapa petugas administrasi diam-diam menerima daftar nama pasien dengan gejala yang tidak biasa. Di universitas, sejumlah dosen tamu ternyata merupakan agen intelijen yang mengawasi penelitian mengenai energi dan biologi. Perusahaan logistik, pelabuhan, terminal bus, hingga jaringan penyewaan kendaraan mulai dimasuki orang-orang Organisasi Hitam tanpa menarik perhatian sedikit pun.

Mereka tidak mencari Ghost Collector secara langsung. Mereka mencari pola hidupnya.

Di Surabaya, seorang pegawai perusahaan rental mobil yang sebenarnya merupakan agen lapangan menerima kunjungan Raven. Tanpa banyak bicara, pria itu menyerahkan arsip kendaraan yang sempat disewa beberapa hari terakhir. Sebagian besar data tampak biasa, tetapi satu mobil segera menarik perhatian karena disewa menggunakan identitas yang ternyata tidak pernah tercatat dalam sistem kependudukan.

Raven mengamati salinan dokumen itu selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Identitas palsu," katanya tenang.

Agen tersebut mengangguk membenarkan. "Kami sudah memeriksanya."

"Bagaimana dengan wajah penyewa?"

"Topi, masker, dan kacamata. Kamera hanya menangkap sebagian."

Raven sama sekali tidak tampak kecewa. Sebaliknya, sudut bibirnya justru sedikit terangkat karena baginya kegagalan kamera merupakan petunjuk baru yang jauh lebih berharga daripada gambar yang jelas.

"Dia berpindah kota menggunakan jalur sipil."

Ia menutup map itu perlahan.

"Bukan jalur rahasia."

Petunjuk tersebut memang sangat kecil, tetapi cukup untuk mempersempit kemungkinan. Ghost Collector ternyata masih memanfaatkan kehidupan normal sebagai kamuflase. Ia hidup di antara jutaan manusia biasa, berpindah menggunakan kendaraan umum, hotel, dan jalan tol sebagaimana warga lainnya.

Malam mulai turun ketika Arga meninggalkan kamar kos menuju vila di kawasan perbukitan. Proyek pembangunan berlangsung jauh lebih cepat daripada jadwal semula. Lampu sorot menerangi area konstruksi yang masih dipenuhi suara mesin, sementara para pekerja bergantian memasuki sif malam untuk mengejar penyelesaian benteng sebelum waktu yang ia tentukan.

Dengung generator memenuhi udara.

Brrrr...

Arga berjalan perlahan memasuki bunker yang kini hampir selesai dibangun. Dinding beton telah mengering, sistem ventilasi mulai dipasang, dan beberapa ruang penyimpanan sudah dapat digunakan. Ia kembali membuka Ruang Dimensi, lalu memindahkan tambahan logistik berupa obat-obatan, bahan bakar, makanan, serta beberapa peralatan laboratorium ke dalam gudang bawah tanah.

Seluruh pekerjaan itu berlangsung cepat dan nyaris tanpa suara. Setelah memastikan semua barang tersusun rapi, Arga kembali keluar menuju halaman depan vila. Angin malam berembus membawa aroma tanah basah, membuat suasana perbukitan terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk Jakarta.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika Sensor Dimensi berdenyut pelan. Denyut itu tidak sekeras saat mendeteksi zombie, juga tidak setajam ketika berhadapan dengan Awakener bertopeng di Bandung. Yang ia rasakan hanyalah riak halus, nyaris seperti bisikan yang menyentuh kesadarannya sesaat sebelum menghilang.

Arga perlahan menoleh ke arah lereng bukit yang gelap. Tidak ada cahaya senter, tidak ada kendaraan, bahkan tidak terdengar suara langkah kaki. Hanya pepohonan yang bergoyang perlahan diterpa angin malam, tetapi instingnya terus berteriak bahwa seseorang baru saja berada di sana.

Ia tidak gegabah mengejar. Sebaliknya, Arga memejamkan mata selama beberapa detik sambil memperluas jangkauan Sensor Dimensi hingga batas maksimal yang mampu ia capai. Hasilnya tetap sama. Jejak samar itu telah menghilang seolah tidak pernah ada sejak awal.

"Siapa pun kau..." gumamnya pelan. "Kau pandai menyembunyikan diri."

Beberapa ratus meter dari lokasi vila, di puncak bukit lain yang tertutup rimbunnya pepohonan, Raven perlahan menurunkan teropong dari matanya. Dari tempat itu ia dapat mengamati seluruh area proyek tanpa terlihat oleh siapa pun. Ia memang belum mengetahui identitas pria yang baru saja keluar dari bunker, tetapi satu hal segera menarik perhatiannya.

Pria itu datang sendirian. Datang tanpa pengawal. Dan menghabiskan waktu cukup lama di tempat yang bahkan belum selesai dibangun.

Raven terus memandang vila tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik meninggalkan puncak bukit. Ia tidak mengikuti pria itu, juga tidak mengirim pasukan untuk melakukan penyelidikan. Nalurinya mengatakan bahwa tempat tersebut belum memberikan seluruh jawaban, tetapi suatu hari nanti akan menjadi bagian penting dari teka-teki yang sedang ia susun.

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya ketika ia melangkah menghilang ke dalam kegelapan.

"Akhirnya..." bisiknya pelan.

"...aku menemukan titik yang akan kau datangi lagi."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!