7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Seminggu kini telah berlalu, dari sejak pertemuan mereka dengan Siska dan Marisa di restoran itu Mia belum juga bisa membicarakan rencananya yang ingin segera memiliki momongan pada Sendy karena setelah pertemuannya malam itu esok harinya Sendy dikirim ke Malaysia oleh Azka menggantikan dirinya selama satu Minggu
Awalnya Mia merasa keberatan tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena jika Azka yang sudah memerintahkan Sendy tidak mungkin suaminya itu bisa menolak
Kini hari yang dinanti-nanti pun tiba, Sendy mengirim kabar akan pulang hari dari Malaysia, tentu saja Mia begitu senang mendengar kabar kepulangan sang suami dia pun berencana untuk menyambut kepulangannya
Mia sudah berdandan cantik dan juga menyiapkan makan malam spesial untuk sang suami, dia ingin menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan tentunya untuk suaminya
Wanita itu pun sudah tidak sabar menunggu kedatangan suaminya karena selain merindukannya Mia juga ingin segera membahas tentang Marisa pada suaminya itu
" Sayang, akhirnya kamu pulang juga!" Mia memeluk Sendy yang baru saja masuk ke dalam rumah
" Bagaimana kabarmu selama aku pergi hem, apa kamu merindukan ku?" Tanya Sendy merangkul pinggang Mia dan membawanya menuju kamar mereka
" Tentu saja aku merindukan mu mas!" Mia bergelayut manja di lengan Sendy
Setelah berada di dalam kamar, Mia membantu suaminya bmembuka jasnya lalu menyiapkan air mandi dan juga baju ganti
Setelah selesai mandi Sendy menyusul Mia yang kini sudah berada di meja makan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua
"Wahh .. rasanya aku sudah kangen sekali makan masakan isteriku" Ucap Sendy dengan sangat antusias mengambil sendiri makanan yang sudah tersaji di atas meja makan
" Ini pasti sangat enak" ucapnya lagi
" Ini makanan kesukaan ku semuanya sayang?" Sendy nampak berbinar melihat menu masakan kesukaannya semua tersaji diatas meja
" Iya mas, aku sengaja masak masakan kesukaan kamu semoga kamu suka ya mas!" sahut Mia
" Tentu saja sayang, apapun yang kamu masak aku suka apalagi ini, wahhh.... bisa gendut aku kalau begini ceritanya yang!" seloroh Sendy sambil terkekeh
" Makannya pelan-pelan saja mas!" tegur Mia yang melihat Sendy makan dengan sangat lahapnya
" Iya sayang, ini sangat enak"
" Dan aku rasanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menghabiskan makanan ku ini sebelum aku memakan mu tentunya sayang!" ucap Sendy seraya mengerlingkan matanya
Glek
Mia nampak tersipu diperlakukan seperti itu oleh Sendy, hatinya menghangat dan tiba-tiba kata-kata yang sejak kemarin ia sudah rangkai untuk membicarakan tentang Marisa seketika menguap begitu saja dengan perlakuan manis sang suami
Selesai makan malam keduanya kini tengah berada di dalam kamar, sedikit berbincang-bincang kecil menceritakan kesibukan Sendy selama di Malaysia
Dan pada saat Mia hendak membicarakan tentang Marisa dengan cepat Sendy mengalihkan pembicaraannya dengan gerakan-gerakan yang seketika membuat Mia melayang bak di awang-awang
Mulut Mia terkunci begitu saja setelah mendapatkan serangan mematikan dari sang suami yang begitu liarnya membuatnya Mia tidak lagi bisa berkutik dan hanya bisa pasrah dan menikmati kelembutan yang diberikan Sendy kepadanya sampai-sampai yang tadinya di otaknya sudah banyak kata-kata tentang Marisa benar-benar lebur begitu saja
Keduanya pun kini telah larut dalam kelembutan yang mereka ciptakan berdua sampai pagi menyapa keduanya baru menyudahi kegiatan mereka yang cukup melelahkan dan juga menguras tenaga
" Hoaammmm!" Mia menggeliat lalu perlahan membuka kedua matanya
" Mas Sendy!" gumamnya pelan menatap pria yang masih terlelap di sampingnya seraya tersenyum
" Aku sangat mencintaimu mas, sangat-sangat mencintaimu" ucap Mia lirih sambil menatap wajah tampan suaminya yang masih memejamkan mata
" Maafkan aku mas Sendy, jujur saja sebenarnya aku juga tidak rela mas berbagi suami dengan wanita lain, rasanya sungguh sangat menyakitkan dan_!" Mia menjeda kata-katanya
" Disini!" Mia memegang dadanya sendiri " Di sini terasa sangat sesak mas, membayangkannya saja rasanya begitu menyesakkan dada"
Mia menghapus kasar air matanya yang tiba-tiba sudah meluncur tanpa diminta
" Tapi hanya ini satu-satunya cara yang belum kita coba mas, walaupun ini sangat menyakitkan aku harus rela dan ikhlas mas agar kita bisa memiliki anak"
" Mungkin semua orang akan berkata aku ini isteri yang paling bodoh, tapi demi memiliki anak darimu aku rela mas meskipun harus berbagi dengan wanita lain karena aku yakin mas meskipun dibibir kamu selalu bilang tidak masalah kita tidak mempunyai anak tapi dihati kecil kamu aku yakin kamu juga pasti merindukan suara tangis anak kecil dirumah ini iyakan mas!" ungkapnya lagi
Mia lagi-lagi menghapus dengan kasar air matanya yang kembali menetes
" Aku melakukan ini selain karena ingin kamu memiliki penerus keluarga meskipun bukan dari rahimku sendiri aku juga melakukan ini agar suatu hari nanti kamu tidak bermain di belakang ku mas, lebih baik dengan cara seperti ini mas walaupun jujur sangat sakit tapi akan lebih sakit lagi jika dikhiati, iya kan mas?" Mia berusaha menahan isakan tangisnya
Sendy yang sebagian sudah terbangun dari tidurnya memilih diam dan berpura-pura tidur dan membiarkan sang isteri mencurahkan seluruh isi hatinya
" Maafkan aku ya mas" lirih Mia menatap wajah damai Sendy yang masih setia memejamkan mata
Dengan gerakan perlahan Mia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan dengan sangat perlahan menuju kamar mandi
Sendy langsung membuka matanya setelah mendengar suara pintu kamar mandi ditutup
Mata Sendy langsung tertuju ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat
" Aku akan berusaha mengabulkan keinginan mu sayang, aku yakin dengan kesabaran, Allah pasti akan mengabulkan doa-doa kita selama ini, Insyaallah semoga apa yang kita lakukan semalam membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan jika pun belum aku yakin renca Allah jauh lebih indah dari apa yang kita rencanakan!" gumam Sendy penuh harap dengan pandangan mata menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan menyembulah Mia dari balik pintu dengan handuk yang melilit di tubuhnya
" Kamu sudah bangun mas?" tanya Mia yang melihat Sendy sedang duduk di tepi kasur sambil memegang ponselnya
Sendy menoleh ke arah isterinya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya, lalu pria itu beranjak berdiri dan menghampiri sang isteri
" Aku mandi dulu ya!" ucapnya lembut dengan senyum yang masih merekah di wajahnya
" Biar aku siapkan dulu airnya mas"
Sendy mengecup kening Mia " Tidak perlu sayang, biar mas sendiri aja " ucapnya lembut setelah itu masuk ke dalam kamar mandi
Mia nampak diam membeku menatap pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup, perlakuan manis Sendy sungguh membuatnya menghangat dan tersipu malu
Mia jadi gamang, pikiran dan hatinya kini seperti tidak lagi sejalan
" Apa aku sanggup mas?" gumamnya
🤎
Selesai menggunakan pakaiannya Mia pun turun ke lantai bawah untuk membuat sarapan
Mia berkutat dengan dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya
Sementara di dalam kamar Sendy sudah selesai mandi bahkan kini dia pun sudah rapih dengan pakaian yang nampak begitu pas ditubuh atletis nya
Karena tidak melihat keberadaan sang isteri di dalam kamar pria itupun berencana menyusulnya yang pasti sedang berada di dapur
Dan benar saja saat sampai di lantai bawah ia sudah mencium aroma masakan yang sungguh menggoda
" Masak apa sayang, aromanya sungguh menggugah selera?" tanya Sendy seraya menarik salah satu kursi
" Loh mas kamu enggak kerja?" bukan menjawab Mia justru malah balik bertanya melihat Sendy yang tidak menggunakan pakaian kantornya
" Hari ini mas berangkat agak siang" jawab Sendy sambil mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berjejer di meja makan
Mia menghampiri sang suami lalu mengambil piringnya dan diisi dengan nasi beserta lauk Pauknya
" Sudah cukup!" ucap Sendy ketika Mia hendak menyendok sayur kembali mengisi piringnya
" Terimakasih" ucapnya sebelum menikmati sarapan hasil masakan sang isteri tercinta
Sendy begitu menikmati sarapan paginya, apalagi masakan sang isteri yang memang sangat cocok dilidahnya membuat pria itupun makan dengan sangat lahapnya
" Mas!" panggil Mia disela sarapan mereka
" Aku sudah katakan, jangan bicara disaat kita sedang makan karena hal itu bisa membuat kita tersedak atau bisa juga kita kehilangan selera makan" ucap Sendy cepat agar Mia tidak melanjutkan kata-katanya
Jlep
Mia langsung terdiam, ucapan Sendy seakan menampar dirinya yang lagi-lagi mengingatkan kesalahannya apalagi Sendy berbicara tanpa menoleh ke arahnya dan tetap fokus dengan sarapannya
Usai sarapan, Sendy memilih masuk ke dalam ruang kerjanya sementara Mia sedang sibuk mencuci piring kotor bekas sarapan mereka
Bukannya tidak memiki art, sebenarnya mereka juga mempekerjakan seorang art tapi untuk urusan masak dan piring kotor yang masih bisa dikerjakan sendiri maka Mia lebih memilih mengerjakannya sendiri dan art yang bekerja di rumah itu hanya bertugas bersih-bersih saja kecuali jika dalam keadaan mendesak maka bibi yang bekerja dengannya pun terkadang membantunya memasak
Tok
Tok
Tok
Mia mengetuk pintu ruang kerja suaminya dengan membawa secangkir kopi ditangannya
" Masuk sayang!" teriak Sendy dari dalam ruangan tersebut
Ceklek
Mia membuka pintu tersebut lalu netranya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang kini sedang berdiri di dekat jendela sambil menerima telpon dari seseorang yang nampak begitu serius
Mia perlahan berjalan menuju meja kerja suaminya dan meletakkan secangkir kopi yang dibawanya ke atas meja tersebut
" Mas kopinya!" ucap Mia pelan
Sendy hanya merespon dengan senyuman dan sedikit menganggukkan kepalanya
Sendy nampak begitu serius berbicara dengan orang yang berada di sambungan telponnya
Mia yang melihat kesibukan sang suami memilih untuk menunggunya sambil duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut
" Maaf ya sayang!" ucap Sendy yang sudah menyelesaikan pembicaraan dengan seseorang melalui sambungan teleponnya
" Iya mas enggak apa-apa, sepertinya serius sekali mas apa terjadi sesuatu?" tanya Mia yang sedikit merasa penasaran
Sendy tersenyum lalu meraih cangkir kopi yang ada di atas meja kerjanya, lalu menyeruputnya dengan penuh kenikmatan
" Iya, sedikit ada masalah di kantor cabang dan Azka sudah meminta Mario yang kebetulan sedang berada di kota itu untuk mengurusnya jika tidak sudah pasti mas lagi yang akan dikirimnya kesana" jawab Sendy
" Syukurlah, semoga aja Mario bisa segera menyelesaikannya ya mas" ucap Mia
" Amin, semoga aja sayang" ucapnya Sendy
Sendy lalu memeriksa file-file yang berada di atas mejanya, ia nampak fokus dengan pekerjaannya sampai tidak memperhatikan gerak-gerik sang isteri yang nampak begitu gelisah karena ingin sekali berbicara dengan suaminya tentang Marisa
Karena sebelum masuk ke dalam ruang kerja sang suami, Mia baru saja menerima panggilan telepon dari Siska
Dan seperti biasanya Siska selalu menanyakan tentang kesediaan Sendy menerima Marisa sebagai calon ibu dari anak mereka nanti
Mia pun hanya bisa akan usahakan berbicara dengan Sendy dan hal itu membuat Siska nampak geram karena sikap lamban Mia yang masih belum juga mendapat jawaban dari sang suami
" Aku tidak mau tahu hari ini juga kamu sudah harus mendapatkan jawabannya jika tidak aku tidak mau lagi membantu mu dan soal Marisa kau bisa cari sendiri wanita lain yang bersedia mengandung anak suamimu" ucap Siska sebelum mematikan sambungan teleponnya
Dan hal itulah yang membuat Mia nampak bingung sendiri, dia tidak tahu harus bagaimana jika bicara takut suaminya marah jika tidak bicara Siska sudah tidak mau peduli lagi dengannya dan Marisa juga sudah tentu tidak akan mau lagi menjadi calon ibu dari anak suaminya dan jika hal itu terjadi Mia takut tidak akan bisa menemukan wanita lain yang bersedia begitu saja meminjamkan rahimnya
" Kamu kenapa?" tanya Sendy yang melihat kegelisahan di wajah isterinya
" A..aku enggak kenapa-napa kok mas" sahut Mia terbata dan sedikit salah tingkah
" Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan!" titah Sendy tegas
Mia langsung mendongak setelah mendengar perkataan Sendy
" A..aku!" Mia merasa gugup
Sungguh berat rasanya menanyakan tentang hal yang justru membuat dadanya sesak sendiri
" Bicaralah, kalau tidak aku tidak akan memberi kesempatan untuk kamu berbicara lagi" tegasnya
Mia meremas ujung bajunya sendiri, tangannya pun mulai keringat dingin
" Aku ingin kita membicarakan tentang Marisa mas!" ucap Mia dengan cepat secepat degup jantungnya
Sendy mengernyitkan dahinya menatap Mia dengan intens
" Apa kamu yakin ingin kita membahasnya?" tanya Sendy dan Mia menganggukkan kepalanya
" Iya mas" jawab Mia
" Memangnya kamu ingin membahas apa tentang Marisa... Marisa itu?" Sendy kembali melempar pertanyaannya kepada Mia
" Ya... aku hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang dia" jawab Mia dengan jantung yang sudah berdegup sangat kencang
Rasanya sungguh tidak sanggup jika mendengar langsung suaminya memuji wanita lain dihadapannya
" Pendapat ku soal apa?" lagi-lagi Sendy melontarkan pertanyaannya
" Ya aku hanya ingin tahu pandangan mu tentang Marisa bagaimana? apa kamu bersedia menerima dia sebagai calon ibu dari anak kita nanti?" tanya Mia dengan menahan rasa sakit dihatinya ketika menanyakan hal itu kepada suaminya
Sendy tersenyum miring lalu menatap mata Mia dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Mia tidak sanggup menatap netra suaminya hingga memilih untuk menundukkan pandangannya
" Apa kamu bersedia?" bukan menjawab tapi Sendy malah balik bertanya
Mia menghela napas berat lalu menatap suaminya dengan lekat " Aku yang bertanya mas kenapa kamu malah menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan lagi" kesal Mia
" Karena aku tidak memiliki jawabannya, semua pertanyaan yang ada di sini" Sendy menunjuk-nunjuk dada Mia " Hanya kamu sendiri yang bisa menjawabnya" tutur Sendy
Glek
Mia terdiam, sungguh tidak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dari bibirnya. ucapan sang suami seketika mampu membungkam mulutnya