NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Ledakan

Langit sore di depan kendaraan berubah merah.

Awalnya Rangga mengira itu hanya pantulan matahari.

Lalu ketika mereka masuk kembali ke Kota Cakrawala, warna merah itu bergerak. Asap hitam naik dari arah Jalan Cahaya Bangsa, menggulung seperti tangan raksasa yang meremas langit.

Sirene terdengar dari segala arah.

Mobil pemadam kebakaran melintas, ambulans menyusul, polisi membuka jalur dengan suara peluit yang putus-putus. Kota yang beberapa jam lalu terasa jauh dari rumah Nenek Warsih kini berubah menjadi tubuh besar yang terluka.

Pak Bambang memperlambat kendaraan.

"Kita langsung ke rumah sakit dulu."

"Tidak, Pak. Ke lokasi."

"Rangga."

"Korban paling berat belum tentu sempat sampai rumah sakit."

Pak Bambang menatap jalan di depan. Rahangnya bergerak.

"Kamu baru pulang dari perjalanan malam, baru jaga Nenekmu, belum tidur benar."

"Orang di sana tidak menunggu saya tidur."

Pak Bambang ingin membantah. Namun di layar ponselnya, pesan dari Pak Hendra terus masuk: estimasi korban puluhan, ledakan lanjutan masih mungkin, UGD mulai penuh, butuh triase lapangan.

Akhirnya ia membelokkan kendaraan menuju RSUD Harapan Bangsa terlebih dahulu, tetapi hanya untuk menurunkan dirinya.

Di halaman rumah sakit, Pak Hendra sudah berdiri bersama tim UGD.

"Rangga, Pak Bambang, kita bagi tugas," kata Pak Hendra cepat. "Pak Bambang tetap di sini. Rumah sakit butuh komando operasi, ruang operasi, ICU, logistik darah. Rangga, kalau kamu ke lokasi, bawa dr. Yoga dan tim kecil. Jangan jadi korban tambahan."

Pak Bambang menatap Rangga lama.

"Aku tidak suka ini."

"Saya tahu."

"Tapi kalau aku ikut, belakang kacau."

"Karena itu Pak harus tinggal."

Untuk beberapa detik, guru dan murid itu saling menatap tanpa kata.

Lalu Pak Bambang meraih kerah jas Rangga, menariknya sedikit mendekat.

"Dengar. Kamu boleh nekat menyelamatkan orang. Tapi kamu tidak boleh mati bodoh."

"Saya mengerti, Pak."

"Tidak. Kamu dengar, tapi belum tentu mengerti."

Rangga mengangguk.

Pak Bambang melepaskannya.

"Yoga!" teriaknya.

dr. Yoga berlari dari pintu UGD, membawa tas emergensi besar.

"Bang Rangga, saya ikut."

Panggilan itu membuat Rangga menoleh singkat.

dr. Yoga tampak sadar sendiri, tetapi tidak menarik kata-katanya.

"Baik. Kita bergerak."

Ambulans melesat menuju Jalan Cahaya Bangsa.

Semakin dekat, udara semakin panas. Bau kimia menusuk hidung, bercampur asap, plastik terbakar, dan sesuatu yang membuat tenggorokan perih. Dari balik kaca, Rangga melihat orang-orang berlari dengan wajah hitam, pakaian robek, kulit melepuh.

Di titik barikade, polisi menghentikan ambulans.

Seorang perwira dengan rompi lapangan mendekat. Wajahnya keras, matanya merah terkena asap.

"Area depan belum aman. Tidak ada tenaga medis masuk ke zona merah."

Rangga turun.

"Saya dokter dari RSUD Harapan Bangsa. Korban di dalam?"

"Banyak. Tapi kalau dokter masuk dan ledakan lagi, saya kehilangan dokter sekaligus korban."

"Saya tidak masuk tanpa koordinasi. Tapi kalau triase hanya di belakang barikade, yang perdarahan besar mati sebelum ditarik keluar."

Perwira itu menatapnya.

"Nama?"

"Rangga."

Mata perwira itu berubah sedikit. Jelas ia mengenali nama itu.

"Komisaris Yusman," katanya singkat. "Saya pegang komando keamanan di sini. Anda patuhi perintah saya."

"Selama perintah itu tidak membiarkan pasien mati di depan mata saya."

dr. Yoga menahan napas.

Komisaris Yusman menatap Rangga selama dua detik, lalu menunjuk garis kuning di sisi kiri.

"Titik triase maju di sana. Lima belas meter dari zona panas. Kalau saya bilang mundur, Anda mundur."

"Setuju."

Rangga baru melangkah ketika dunia di kepalanya mendadak menjadi dingin.

[Terdeteksi bencana massal: ledakan pabrik kimia.]

[Risiko korban jiwa tinggi.]

[Aktifkan check-in?]

Asap, teriakan, sirene, semuanya seperti menjauh setengah langkah.

Rangga menjawab dalam hati.

Aktifkan.

[Check-in berhasil.]

[Hadiah: Teknik Penanganan Bencana Kelas Dunia.]

Pengetahuan itu terbuka dalam benaknya sebagai peta penanganan bencana: triase START, luka bakar inhalasi, trauma ledakan, crush injury, perdarahan masif, kontaminasi kimia, evakuasi bertahap, prioritas operasi, serta cara menjaga tenaga tim ketika korban datang lebih cepat daripada tangan yang tersedia.

Matanya kembali tajam.

"Yoga, pasang zona triase. Merah di kanan, kuning di tengah, hijau di belakang. Hitam terpisah, tutup dengan kain, jangan biarkan keluarga melihat langsung."

dr. Yoga langsung bergerak.

"Perawat! Tandu merah ke sini! Oksigen prioritas untuk luka bakar wajah dan sesak napas!"

Korban pertama yang diseret keluar adalah seorang petugas pemadam kebakaran.

Helmnya penyok, wajahnya penuh jelaga. Di paha kirinya, sepotong logam tajam menancap miring. Darah keluar setiap kali ia bergerak.

"Jangan cabut!" teriak seorang rekannya.

Rangga sudah berlutut.

"Tekanan darah?"

"Turun, Bang. Nadi cepat."

Rangga meraba sekitar luka. Logam itu menekan pembuluh besar tetapi belum memutus total. Kalau dibiarkan terlalu lama, jaringan mati. Kalau dicabut tanpa kontrol, ia bisa kehabisan darah.

"Saya cabut di sini."

Petugas pemadam yang terluka tertawa pahit. "Dok, kalau saya teriak, jangan direkam."

"Kalau kamu masih bisa bercanda, kamu masih boleh hidup."

Rangga meminta klem, kasa tekan, cairan, dan alat jahit lapangan. Tangannya bergerak cepat. Ia menekan titik proksimal, memotong kain di sekitar paha, lalu menarik logam itu dalam satu garis bersih.

Darah menyembur.

Kasa tekan turun.

Klem masuk.

Jahitan sementara menutup robekan pembuluh dan jaringan.

Tidak rapi seperti ruang operasi.

Tetapi cukup untuk membeli waktu.

"Evakuasi ke merah. Operasi lanjut di RSUD Harapan Bangsa," kata Rangga.

Petugas pemadam itu menggenggam pergelangan tangannya.

"Terima kasih, Dok."

"Ucapkan setelah jalan lagi."

Belum sempat ia berdiri, dr. Yoga memanggil.

"Bang Rangga! Amputasi traumatik!"

Seorang pekerja pabrik terbaring di atas tandu. Lengan kirinya hilang di bawah siku, bagian ujungnya dibalut kain seadanya. Wajahnya putih, bibirnya biru.

Rangga menekan perdarahan, memasang torniket lebih tepat, memeriksa jalan napas, lalu menatap dr. Yoga.

"Catat waktu torniket. Jangan lebih dari batas tanpa evaluasi. Bagian lengan yang ditemukan simpan steril dingin, jangan kena es langsung."

"Siap."

Pekerja itu memandang Rangga dengan mata kosong.

"Tangan saya... masih ada?"

Rangga tidak berbohong.

"Kami akan simpan semua kemungkinan. Sekarang tugasmu hidup dulu."

Di belakang mereka, Komisaris Yusman memberi instruksi kepada polisi untuk membuka jalur ambulans. Beberapa menit lalu ia membatasi Rangga. Sekarang ia justru memindahkan barikade agar titik triase maju mendapat ruang.

"Ikuti instruksi dokter!" teriaknya. "Korban merah langsung jalur kiri!"

Ledakan kecil terdengar dari dalam kompleks pabrik.

Tanah bergetar.

Semua orang menunduk.

Asap tebal menyapu jalan seperti gelombang.

Seorang petugas pemadam berlari keluar sambil berteriak, "Ada yang tertusuk besi! Di dekat pipa utama! Kami butuh medis!"

Komisaris Yusman langsung menghalangi.

"Tidak. Zona itu belum aman."

Rangga melihat ke arah dalam.

Di sela asap, beberapa orang mengangkat tubuh seorang pekerja. Sebatang besi panjang menembus dada kirinya. Mereka tidak bisa membawanya melewati puing sempit tanpa memotong besi.

"Memindahkannya sekarang akan membunuhnya," kata Rangga.

"Masuk ke sana juga dapat membunuh Anda."

"Menunggu di luar memastikan dia mati."

Komisaris Yusman mengumpat pelan.

"Tiga menit. Saya kirim dua polisi dan dua pemadam kawal. Kalau ada perintah mundur, Anda mundur."

Rangga tidak menjawab. Ia sudah bergerak.

Panas menghantam wajah seperti dinding.

Di dalam zona pabrik, suara dunia berubah kasar: besi melengking, api mendesis, air dari selang pemadam menghantam permukaan panas, orang batuk-batuk, dan alarm pabrik yang belum mati menjerit tanpa henti.

Pekerja itu terjepit di antara rangka logam. Besi menembus dada dari samping, bergerak setiap kali ia bernapas. Bibirnya berbusa merah.

dr. Yoga tiba di belakang Rangga, napasnya berat.

"Bang, ini..."

"Jangan lihat besinya. Lihat napasnya."

Rangga memeriksa cepat. Cedera dada tembus, kemungkinan pembuluh besar tergores, paru-paru tertekan, perdarahan internal. Mereka tidak punya ruang operasi. Mereka hanya punya tiga menit, alat terbatas, dan api yang masih hidup.

"Potong besi bagian luar. Jangan tarik."

Petugas pemadam menyalakan alat pemotong.

Percikan api beterbangan.

Saat besi terpotong, tubuh pekerja itu bergeser sedikit.

Darah langsung menyembur dari sela luka.

dr. Yoga berseru, "Perdarahan masif!"

Rangga tidak berpikir.

Ia memasukkan tangannya, dengan sarung tangan tebal penuh darah, ke sela luka dada untuk menekan sumber perdarahan dari dalam.

Tubuh pekerja itu mengejang.

"Tahan dia!" teriak Rangga.

Suara di sekelilingnya hilang.

Yang ada hanya denyut darah di bawah jarinya.

Satu tekanan salah, pasien mati.

Satu detik ragu, pasien mati.

Ia menemukan titik itu.

Menekan.

Darah berkurang.

dr. Yoga menatapnya seperti melihat sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia waras.

"Bang..."

"Jangan bengong. Balut dada terbuka, siapkan evakuasi. Tangan saya tetap di sini sampai ambulans."

Di luar garis barikade, seorang wartawan yang awalnya hanya merekam asap menurunkan ponselnya sedikit, lalu mengangkatnya lagi dengan tangan gemetar.

Lensa kecil itu menangkap seorang dokter muda berjas putih, setengah tubuhnya tertutup darah dan abu, memasukkan tangan ke luka dada seorang pekerja demi menahan perdarahan.

Komisaris Yusman melihat rekaman itu dari sudut mata, tetapi tidak sempat memerintah apa pun.

Karena dari arah tangki besar di sisi timur, suara logam melengking panjang.

Seorang petugas pemadam berteriak dari radio.

"Tangki nomor tiga tidak stabil! Semua mundur!"

Rangga mengangkat kepala.

Jaraknya terlalu dekat.

"Evakuasi sekarang!" teriak Komisaris Yusman.

Mereka mengangkat pekerja itu dengan hati-hati. Tangan Rangga tetap berada di luka, menekan sumber perdarahan sepanjang jalan. Setiap langkah membuat darah mencoba lolos dari bawah jarinya.

Mereka baru melewati separuh jalan ketika ledakan kedua terjadi.

Tangki nomor tiga meledak.

Cahaya oranye menyapu langit.

Gelombang panas mendorong semua orang menunduk. Kaca di bangunan samping pecah berhamburan. Suara ledakan menghantam dada seperti palu raksasa.

dr. Yoga terjatuh ke satu lutut.

Petugas pemadam menutupi kepala korban.

Rangga hampir terlempar, tetapi tangannya tetap menekan luka.

Beberapa detik kemudian, teriakan baru terdengar dari sisi dalam pabrik.

"Masih ada orang di dalam!"

Komisaris Yusman berteriak, "Mundur dulu! Semua mundur!"

Rangga menyerahkan pekerja tertusuk besi ke tim ambulans begitu mereka mencapai zona triase.

"Bawa ke RSUD Harapan Bangsa. Operasi toraks darurat. Katakan Pak Bambang siapkan ruang operasi."

"Bang Rangga, kamu berdarah," kata dr. Yoga.

Rangga melihat lengannya. Ada goresan kaca di lengan bawah. Tidak dalam.

Ia mengambil kasa, menekan sebentar, lalu menatap api yang masih menyala.

Di balik asap, bayangan seseorang bergerak lemah di dekat pintu samping pabrik.

Komisaris Yusman melihat arah pandangnya.

"Dokter! Jangan!"

Rangga sudah berlari.

Api dari tangki nomor tiga memantulkan warna merah ke jas putihnya yang basah darah.

Ia tidak menoleh.

Di belakangnya, wartawan itu mengangkat ponsel dengan tangan gemetar, dan lensa kecil itu menangkap semuanya.

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!