Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Puruk Antas
Cahaya itu kembali menarik kesadarannya yang sedang berada di alam mimpi. Setelah mendekati cahaya tersebut Ipul pun terbangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya sudah berada di tempat yang berbeda. Bukan lagi desa kelahiran Bangkui, melainkan sedang berada di suatu tempat yang di sekelilingnya terlihat seperti sebuah hutan.
Hutan tersebut terlihat berada di antara dua tembok batu yang menjulang tinggi, Ia pun tak tahu sedang berada dimana sekarang. Dari tempat itu ia mulai berjalan menelusuri hutan yang juga di penuhi bebatuan besar agar dapat menemukan permukiman penduduk.
Sambil berjalan menyusuri hutan layaknya seseorang yang sudah mahir menjelajah, ia pun mulai mencari kesana kemari tempat yang dapat di gunakan untuk bermalam.
Sudah terasa sangat jauh ia menyusuri hutan tersebut, namun tidak juga menemukan tempat yang dapat digunakan untuknya beristirahat.
Karna hari semakin menjelang petang, ia pun terus berjalan ke depan untuk segera mencari tempat yang aman.
Ditengah perjalanannya ia tiba-tiba diserang oleh sosok yang tak terlihat karna bergerak begitu cepat, untungnya ia dapat menghindari serangan tersebut.
Namun serangan yang kedua tidak dapat ia hindari, karna ia diserang dari belakang oleh mahluk tadi. Ia pun terlempar akibat serangan itu, untungnya ia tidak terluka sedikit pun. Karna serangan tadi berhasil di tahan oleh Bangkui mengunakan tameng peti yang di bawanya kemanapun sekarang.
Karna dalam keadaan berbahaya terpaksa Bangkui menunjukan dirinya yang sedari tadi bersembunyi mengikuti tuannya dengan niat menjaganya.
Melihat Bangkui ada bersamanya, Ipul terlihat senang dan sedikit tenang. Rasa takut nya karna merasa hanya sendirian di tempat itu pun perlahan mulai hilang setelah ia melihat Bangkui.
Dengan secepat kilat Bangkui langsung menyerang musuh yang terlihat olehnya, pertempuran antara kedua mahluk gaib itu pun tidak dapat dielakkan lagi.
Mereka pun saling menyerang satu sama lain dengan kecepatan yang tidak bisa di lihat oleh mata. Musuh terus menyerang dengan menggunakan kukunya yang tajam kearah Bangkui, namun dapat di hindari dan di tangkis menggunakan peti sebagai tameng pelindungnya.
Karna merasa pertarungan kurang seimbang, Bangkui pun menarik Beliung dari peti dan menggunakannya sebagai senjata untuk menyerang lawan.
Bangkui terus menangkis serangan cakar musuh yang mengarah kepadanya, dan begitu dapat kesempatan untuk menyerang Bangkui pun dengan cepat menghantamkan Beliung nya ke arah musuh.
Alhasil hantaman Beliung itu merobek bahu musuh dan seketika itu juga musuh yang ada di hadapanya itu pun lenyap menghilang tak tau entah kemana.
Merasa sudah tidak ada lagi serangan dari musuh, Bangkui pun langsung menghampiri tuannya dan bertanya.
“Apakah kau terluka tuanku.?” Tanya Bangkui sembari melihat ke adaan tuannya.
“Aku tidak terluka sedikit pun teman ku, terma kasih sudah melindungi ku.!” Jawab Ipul sembari senang melihat Bangkui dapat mengalahkan musuhnya.
Setelah merasa di sekitar mereka sudah benar-benar aman, meraka pun mulai melanjutkan perjalanan mencari tempat untuk mereka bermalam.
Dan tidak begitu jauh mereka berjalan meninggalkan tempat bertarung tadi, mereka pun menemukan sebuah gua kecil yang dapat di gunakan untuk mereka beristirahat.
Karna hari sudah mulai gelap mereka pun bergegas mencapai gua yang di lihat mereka itu. Setelah memastikan tempat itu aman, mereka pun segera masuk dan mulai membuat api unggun untuk membakar makanan. Serta tidak lupa menghidupkan beberapa obor untuk menerangi tempat mereka beristirahat itu.
Setelah semua keperluan untuk tidur siap, saatnya mereka makan. Dan setelah selesai makan, mereka pun mulai berbincang mengenai kejadian di sepanjang perjalanan mereka. Dan juga tentang mahluk yang menyerang mereka tadi, dapat di simpulkan kemungkinan besarnya mahluk itu adalah sosok gaib penjaga hutan yang biasa memangsa manusia yang masuk ke hutan ini.
Keesokan harinya mereka pun mulai melakukan perjalanan meninggalkan gua tempat mereka bermalam untuk pergi menemukan permukiman penduduk.
Mereka pun terus bergegas bergerak menelusuri hutan tersebut. Dan belum jauh mereka berjalan, di tengah perjalanan mereka menemukan seorang pemuda yang tergeletak di tanah tengah meregang nyawa.
Terlihat ia menahan rasa sakit akibat luka-luka bekas tusukan benda tajam di tubuhnya yang menyebabkan ia hampir tewas.
Walaupun tubuhnya penuh dengan luka tusukan dan sayatan namun ia masih dapat bertahan hidup, hanya saja sudah tidak dapat bergerak dan hampir hilang kesadaran.
Dengan sigap Ipul segera membuat ramuan untuk menutup luka tusukan di tubuhnya menggunakan gelang yang di pakainya. Perlahan darah yang mengalir dari tubuhnya berangsur-angsur berhenti akibat tertutup ramuan itu.
Lalu kemudian Ipul membalut seluruh tubuh yang luka menggunakan kulit binatang yang sudah di keringkan kayaknya seperti perban. Setelah seluruh lukanya terbungkus rapi menggunakan perban yang ia buat tadi, Ipul pun membaringkan dan menunggu sampai kesadarannya kembali pulih.
Setelah pemuda itu sadarkan diri, Ipul langsung memberinya air minum yang di bawanya. Perlahan pemuda tersebut meneguk sedikit demi sedikit air yang di masukan ke mulutnya itu. Dan Setelah minum ia mulai bisa menggerakkan tangannya dan mulai sedikit mengeluarkan suara.
Walau kalimatnya tidak di mengerti oleh Ipul karna perbedaan bahasa, namun Bangkui mengerti apa yang ia katakan. Lalu Bangkui pun mulai menjelaskan permintaanya itu, dan Ipul pun hanya biasa menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Melihat ia sudah bisa bergerak dan berbicara Ipul segera mengeluarkan bekal makanannya untuk di berikan kepada pemuda yang terluka tadi. Dengan perlahan pemuda tersebut memakan potongan daging yang ada di tangannya itu, sampai tidak tersisa sedikit pun.
Setelah selesai makan pemuda itu pun tertidur sejenak untuk memulihkan tenaganya yang sudah hilang akibat kehilangan banyak darah. Sembari menunggu pemuda itu bangun dari tidurnya, Ipul berlatih bela diri bersama Bangkui.
Melihat pemuda tersebut telah bangun, Ipul pun segera berhenti berlatih dan langsung menghampiri untuk membantunya mencoba berusaha berdiri. Walau pun dia sudah mampu berdiri namun sepertinya dia masih belum sanggup untuk berjalan.
Melihat semangat serta kegigihannya untuk bisa secepatnya kembali ke desanya, Bangkui pun langsung simpati kepadanya. Setelah mendapat izin dari tuannya, Bangkui segera membantu dengan masuk ke tubuh pemuda itu agar ia dapat bergerak seperti biasanya.
Karena Bangkui sudah masuk ke dalam tubuh pemuda itu, ia pun merasa kekuatannya sudah kembali lagi. dan ia sama sekali tidak menyadari kalau di tubuhnya sekarang bersemayam roh Bangkui yang membantunya untuk bisa bergerak saat itu.
Bangkui pun membantu pemuda tersebut untuk bisa berbicara dengan tuannya di sepenjang perjalanan mereka itu, agar mereka bisa saling mengenal satu dengan yang lain. Dan tak terasa mereka sudah keluar dari hutan terlarang yang diberi nama oleh warga setempat dengan nama Hutan Puruk Antas.
Namun perjalanan mereka masih sangat jauh, perlu setengah hari lagi untuk mereka sampai ke desa dengan berlari. Berarti mereka baru bisa sampai ke desa tersebut selepas tengah malam nanti, itu pun kalau mereka terus berlari di gelapnya malam Itu.
Karna melihat semangat teman barunya itu, Ipul pun tidak keberatan jika harus menerobos hutan di malam itu demi bisa cepat sampai ke desa.